Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Ekspektasi


__ADS_3

"Nis... ayo mandi dulu! Sudah adzan, biar kita sholat bareng-bareng." Ajak Farhan yang sudah selesai dari mandi besarnya.


"Abang duluan! Nisa masih ngantuk." Nisa malah menenggelamkan wajahnya kembali ke bantal.


"Abang abis magrib mau ke rumah sakit. Nisa mau ikut?" Ajak Farhan agar Nisa cepat bangun dari tidurnya karena shalat magrib waktunya memang sebentar.


"Mmmm... Nisa agak cape bang. Salam aja buat umi." Nisa masih saja meringkuk di kasur.


Farhan menggelengkan kepalanya agak kecewa melihat tingkah Nisa. Padahal baru saja mereka mengucapkan akad nikah, tapi Nisa susah keliatan seperti itu.


Ah.. mungkin Nisa masih mau bermanja.


Farhan mengambil cara yang lain.


Cup


Farhan mengecup bagian kening Nisa lalu berbisik di telinganya.


"Nis.. waktu magrib sebentar. Masi dulu ya!" Farhan tak putus harap menyuruh Nisa mandi besar dan melakukan shalat magrib tepat waktu.


"Mmm.. abang... " Nisa bangkit dari ranjang lalu mengambil handuknya pergi ke kamar mandi.


Farhan shalat duluan karena setelah shalat dia berniat akan pergi ke rumah sakit, meski tadi Reza sudah bersedia akan menginap malam ini di rumah sakit.


Begitu salam, Nisa sudah selesai mandi dan memakai baju piyama. Dia membawa mukena menyusul shalat magrib.


Keduanya saling berhadapan setelah shalat. Nisa mengambil tangan Farhan mencium punggung tangannya. Dibalas Farhan dengan mencium kening Nisa meski dia belum bisa menerima Nisa seutuhnya tapi karena Farhan sudah melakukan ijab qobul, mau tak mau dia harus melakukan kewajibannya sebagai suami istri.


"Nis.. seperti abang akan kembali ke Singapura secepatnya. Ada beberapa pekerjaan abang di sana yang membutuhkan kehadiran abang di sana. Bagaimana menurut Nisa?" Tanya Farhan pada Nisa. Dia ingin berdiskusi untuk kesepakatan mereka.


"Mmm.. apa abang tak bisa bulan madu dulu? Kok langsung kerja." Nisa agak kecewa karena Farhan akan segera kerja.


"Iya.. kalau Nisa mau, kita bisa bulan madu di sana. Sekalian abang kerja." Ucap Farhan tak mau Nisa kecewa.


"Ya... tapi kan pastinya abang bekerja bukannya libur." Nisa mengerucutkan bibirnya.


"Iya.. nanti kalau pekerjaan abang selesai kita bisa jalan-jalan di sana. Itung-itung kita bulan madu. Bagaimana?" Nathan menunggu jawaban Nisa.


"Ya terserah abang." Nisa yang sadari awal menginginkan pernikahan dengan Farhan tidak mungkin tidak mengikuti kemauan suaminya.

__ADS_1


"Ya baiklah.. Kalau begitu abang akan urus bisa sama paspor Nisa bareng Sani." Ucap Farhan yang berniat membawa Sani ke Singapura.


"Kok.. sama Sani sih bang?" Nisa terlihat tidak setuju.


"Iya. Abang justru akan mengantarkan Sani ke sana. Karena bos abang membutuhkan pendonor yang mempunyai golongan darah yang sama dengannya." Terang Farhan menjelaskan maksudnya.


"Memang di sana tidak ada yang sama bang? Sampai abang harus membawa Sani segala."


"Kalau sudah ada... tidak mungkin abang membawa Sani."


Keduanya terdiam.


'Nis... kayanya abang mau berangkat sekarang." Farhan berdiri lalu membereskan sajadah bekas shalatnya.


Nisa pun melipat mukena menyudahi shalatnya.


Keduanya keluar dari kamar setelah Farhan mengganti bajunya dengan baju yang pantas, kemeja juga celana levi's nya.


"Eh.. bang Farhan. Mau kemana sudah rapih?" Ucap Jeng Reni yang melihat Farhan sudah rapih.


"Mau ke rumah sakit dulu ma.. " Ucap Farhan.


"Hayu bang makan dulu!" Ajak Nisa pada Farhan. Nisa sebenarnya sedang menghindari acara makan, karena ketika mencium bau-bau bumbu perutnya akan terasa mual.


"Terimakasih ma!" Ucap Farhan sopan pada mertuanya.


"Iya. Sama-sama." Farhan mengikuti langkah Nisa ke ruang makan Farhan masih agak sungkan berada di rumah Nisa. Karena ini kaki pertama dia menginjakkan kakinya di rumah Nisa.


Keduanya duduk di meja makan. Nisa mengambil piring lalu menyusul nasi sekedarnya lalu memilih menu yang kira-kira bisa ditelannya.


Farhan menunggu Nisa selesai menyiduk nasi dan lauk pauk. Matanya tidak terlepas dari gerak-gerik istrinya.


Nisa lalu mengambil sendok dan garpu, lalu mulai mengaduk nasi dan lauk pauk yang ada dalam piring. Farhan hanya melongo melihat sikap istrinya.


"Kenapa abang melihat Nisa seperti itu?" Heran Nisa yang melihat Farhan yang bengong.


"Mmm... ga pa-pa." Farhan menelan ludahnya agak kecewa. Ternyata espektasi Farhan melenceng.


"Abang bukan mau makan? Kok belum mengambil nasi?" Nisa dengan wajah tanpa berdosa malah mengatakan hal itu bukannya melayani suaminya dengan menyidukka nasi buat Farhan.

__ADS_1


"Mmm.. " Farhan membawa piring lalu menyiduk nasi dan mengambil beberapa lauk dengan agak malas.


Baru saja Farhan mau menyuapkan sendoknya, dia melihat Nisa membekap mulutnya lalu berlari ke wastafel memuntahkan apa yang ada dalam mulutnya.


Ooo.. Ooo..


Farhan langsung mengikuti langkah Nisa lalu menekan-nekan pundaknya agar Nisa bisa merasa lega.


Nisa terlihat kepayahan. Farhan langsung menyodorkan tisu pada Nisa, kebetulan ada tempat tisu tidak jauh dari wastafel.


"Kamu sakit Nis? Kita sekarang ke rumah sakit saja ya!" Ucap Farhan dengan wajah khawatir.


"Tidak bang.. Nisa mau tidur aja! Nanti juga baikan kok!' Tolak Nisa dengan wajah memucat.


Farhan menatap lekat wajah istrinya karena mengkhawatirkannya. Ini kali kedua Nisa muntah di depannya.


"Tapi Nis.. abang khawatir kamu kenapa-kenapa. Soalnya abang sudah dua kali melihat kamu muntah-muntah begitu." Farhan ingin memeriksa keadaan istrinya, khawatir Nisa mengidap penyakit satu penyakit yang mungkin saja membahayakan.


"Gak pa-pa bang.. abang kalau mau berangkat ya berangkat aja. Nisa mau di rumah saja sambil. tiduran." Tolak Nisa.


"Ya udah.. abang gosok dulu kalau Nisa mau tiduran, takutnya masuk angin dan lambung." Farhan menuntun Nisa ke menuju kamar.


"Makannya sudah?" Jeng Reni agak heran, baru saja keduanya ke ruang makan tapi sudah mau ke kamar lagi.


"Ini ma.. Nisa muntah lagi. Farhan mau membawanya ke rumah sakit tapi Nisa tidak mau." Terang Farhan pada mertuanya.


"Kamu beneran sakit Nis?" Jeng Reni melihat Nisa yang wajahnya sudah pucat.


"Sedikit.. " Jawab Nisa pendek.


"Kamu mending diperiksa biar lambung kamu diobati!" Jeng Reni menyarankan anaknya untuk memeriksakan penyakitnya.


"Gak usah ma.. nanti biar bibi Esih buatkan teh manis saja sama kue mari. Nanti baikan sendiri." Ucap Nisa. Karena tak mau bicara panjang Nisa meninggalkan ibunya lalu masuk kamar dibarengi Farhan.


"Kamu coba tengkurap, biar badan kamu saya gosok dulu!" Farhan yang membatalkan makanannya, sekarang malah menggosok badan Nisa yang terlihat lemah.


Nisa menurut saja. Badannya agak terasa nyaman ketika Farhan menggosok punggung juga bagian perutnya dengan kayu putih.


"Bagaimana baikan?" Tanya Farhan setelah menggosoknya.

__ADS_1


__ADS_2