Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Rekayasa


__ADS_3

Farhan yang awalnya akan pergi ke kantor imigrasi pun mengurungkan niatnya. Setelah pertemuan dengan keluarga Nisa, Farhan malah duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Beberapa chanel terus berganti-ganti tanpa tahu apa yang sedang dicari Farhan di layar kotak itu.


"Bi.. kenapa dengan bang Farhan? Katanya mau pergi, tapi kok malah dari tadi nonton tv." Ucap Sani yang dari tadi mencuri-curi pandang ke arah ruang tengah.


"Jelasnya bibi gak tahu neng. Kayak nya stress setelah kedatangan tamu keluarga neng Nisa." Jawab bi Inah asal tebak.


"Memangnya kenapa dengan keluarga kak Nisa bi? Kok bang Farhan stress? Kan mereka masih pengantin baru?" Sani yang masih polos, tak tahu dengan masalah yang sedang dialami Farhan saat ini.


"Gak tahu ah neng. Bibi belum jelas mendengarkan pembicaraan mereka. Waktu bibi menyodorkan air minum sih, denger kata cerai gitu. Masa iya ya bang Farhan mau bercerai? Kan mereka baru saja menikah?" Bi Inah pun sama bingung nya dengan apa yang didengar nya sewaktu menyuguhkan air dan juga camilan ke ruang depan.


"Mudah-mudahan mereka baik-baik saja ya bi." Ucap Sani berharap keluarga pak Haji Zenal semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Apalagi mereka semuanya adalah orang baik. Sani yang belum lama ini tinggal di sana pun telah merasakan kebaikan mereka.


"Aamiin neng. Bibi juga berharap seperti itu. Kasihan bang Farhan dan pak Haji, mereka masih berduka masa iya harus diuji dengan perceraian. Tapi yang bibi lihat sih, sewaktu mereka meninggalkan rumah ini tadi, kaya yang tidak harmonis gitu. Apalagi besan pak Haji yang kelihatan judes, kayanya sih ada masalah neng. Kita berdoa saja ya neng, meski mereka diuji masalah, mereka bisa menyelesaikan nya dengan baik." Ucap Bi Inah mendoakan kebaikan untuk majikan nya.


"Iya bi aamiin." Sani masih menatap Farhan dengan rasa kasihan. Dan tak lama kemudian dia pun pergi ke dapur untuk membantu pekerjaan bi Inah beres-beres dan membersihkan rumah pak Haji Zenal.


"Far.. " Panggil pak Haji mengagetkan Farhan yang sedang menonton TV tanpa tahu apa yang sedang dilihat nya. Pandangannya memang kosong sejak tadi.


"Iya bah." Farhan mendongak melihat ke atas. Kebetulan pak Haji berdiri tak jauh dari Farhan yang sedang duduk.

__ADS_1


"Mmm... bisa antar abah ke pusara umi tidak? Abah ingin mengunjungi nya." Pinta pak Haji Zenal pada Farhan agar menemani dirinya untuk berkunjung ke pusara istrinya.


"Mmm.. baik bah." Farhan pun mematikan televisi lalu berdiri dan melangkah mengambil kunci mobil untuk mengantarkan pak Haji ke tempat pusara ibunya.


"Bi.. " Panggil pak Haji Zenal pada bi Inah.


"Iya pak Haji.. " Bi Inah tergopoh-gopoh menghampiri majikannya setelah dirinya tadi dipanggil.


"Nanti kalau ada yang menanyakan saya, bilang saya lagi ke makam bu Haji bersama Farhan." Ucap pak Haji Zenal menitipkan amanah nya pada bi Inah.


"Baik pak Haji. Hati-hati di jalan!" Jawab bi Inah patuh.


Bi Inah melanjutkan pekerjaannya dibantu Sani. Tapi pikiran Sani seperti tidak fokus. Dia malah memikirkan pernikahan Farhan.


"Benarkah bang Farhan akan bercerai? Tapi kenapa? Apa diantara mereka ada masalah? Kalau mereka bercerai lalu bagaimana nanti bang Farhan?" Tatapan Sani kosong, isinya hanya memikirkan Farhan dan nasibnya. Padahal nasib dirinya pun tak jelas. Apakah hari ke depannya akan bagaimana, Sani pun tidak tahu menahu.


"Eh.. neng Sani kaya yang melamun gitu!" Bi Inah memperhatikan Sani menegur agar Sani tidak kelamaan melamun.


"Eh.. bi." Sani langsung kembali pada pekerjaannya setelah bi Inah menegur Sani.

__ADS_1


"Kenapa neng Sani melamun? Ada masalah? Ayo cerita ke bibi! Apa masalah di kampung? Atau kangen sama orang tua neng Sani?" Bi Inah mengelus bahu Sani lembut. Orang tua gempal itu begitu perhatian. Rasa sayangnya tumbuh seiring kedekatannya selama ini. Sani yang baik juga nasibnya yang mengkhawatirkan membuat bi Inah menyayangi Sani seperti anaknya sendiri.


"Eh.. enggak bi. Kalau cerita di kampung sih belum jelas. Kemarin sewaktu pulang hanya bang Farhan saja yang bertemu dengan guru saya. Saya belum bisa bertemu dengan mama." Sani yang belum menceritakan tentang kepulangannya kemarin bercerita sedikit pada bi Inah.


"Mmm... sabar ya neng Sani. Pastinya kerinduan sama ibu sangat neng Sani rindukan. Semoga ada kabar sebelum neng Sani berangkat ke Singapura ya." Bi Inah memberikan semangat pada Sani agar bersabar. Sani hanya mengangguk dan tersenyum.


Ya dalam setiap shalat nya Sani selalu berdoa untuk ibunya. Dia berharap di manapun ibunya berasal selalu dilindungi oleh Allah Subahana wataala. Karena dia tahu kehidupan di kampung nya seperti apa. Apalagi Sani yang pergi meninggalkan pelanggan dan pastinya ibunya pun akan kesusahan.


Di lain tempat Farhan dan pak Haji Zenal sudah sampai di pusara. Mereka berdua duduk sambil berdoa. Rasa rindu pada perempuan yang kini sudah tenang di alam bawah itu terlihat jelas di wajah pak Haji Zenal juga Farhan.


"Mi... abah pamit ya! Semoga umi bahagia di sana. Abah tidak lupa mendoakan umi setiap sehabis shalat. Tapi rindu abah sekarang sepertinya tak cukup dengan doa, abah ingin mengunjungi umi bersama Farhan. Maafkan abah ya mi.. " Pak Haji Zenal pamit setelah selesai berdoa.


Farhan menoleh ke arah pak Haji Zenal. Dia tahu laki-laki yang sudah berumur itu bukan hanya rindu, tapi masalah yang mendera Farhan tentu sedikit banyak mempengaruhi kejiwaan pak Haji Zenal. Apalagi pernikahannya adalah perjodohan dari ibunya sendiri.


Farhan kembali menatap ke depan pusara melihat gundukan tanah yang kini sudah ditumbuhi rerumputan itu. Diusapnya pusara ibunya tercinta dengan sejuta rasa yang sedang membelenggu dirinya. Ada rasa yang berat untuk melepaskan amanah ibunya itu. Tapi... rasa itu tak mungkin Farhan simpan, karena hatinya sudah tak berpihak lagi. Dia tidak mau dikhianati untuk kedua kalinya. Hidup bersama mereka rasanya tidak mungkin. Dengan perbuatan mereka yang sepertinya nekad berbohong saja, Farhan sudah merasa ketakutan. Bisa jadi ke depannya dia akan lebih menderita lagi karena mereka mempunyai watak tidak jujur.


"Mi.. maafkan Farhan ya.. Sepertinya Farhan tudak bisa melanjutkan amanah umi. Bukan Farhan tidak sayang pada umi. Tapi Farhan tak mau kemaksiatan akan datang terus-menerus di hadapan Farhan. Farhan ingin keluarga yang sakinah seperti umi dan abah. Biarlah nanti Farhan akan mencari istri yang sholehah yang mampu mendampingi Farhan sampai tua seperti abah dan umi. Untuk sekarang Farhan tak bisa melanjutkan amanah umi. Maafkan Farhan ya mi.. semoga umi di sana bahagia selalu." Farhan meneteskan air mata mengungkapkan segala unek-unek nya pada pusara yang berada di depannya. Rasanya dia sudah tidak mampu lagi melanjutkan pernikahannya.


Pak Haji Zenal mengelus lembut punggung Farhan. Menguatkan anak laki-laki nya yang sedang dilanda masalah. Apapun yang akan diambil Farhan pak Haji Zenal tidak bisa mencegahnya.

__ADS_1


__ADS_2