
Farhan pergi ke rumah sakit setelah membantu Nisa menggosok badannya.
"Far.. bukannya abang tadi sudah bilang, biar abang sama Sarah menunggu umi di rumah sakit. Biar kalian menikmati malam pengantin dengan tenang." Ucap Reza yang melihat Farhan di ruangan.
"Iya bang. Farhan pengen melihat umi dulu. Habis ini Farhan mau kembali ke rumah dulu mau menyelesaikan beberapa pekerjaan. Soalnya Farhan akan kembali ke Singapura bang. Saya akan membawa Sani juga Nisa. Farhan mau bikin paspor sama pengajuan Bisa buat ke sana." Ucap Farhan pada Reza mengungkapkan niatnya.
"Ohh... begitu ya?" Reza agak mengerutkan dahi.
"Saya akan mengantarkan mereka kalau umi sudah baikan. Saya juga tidak tenang meninggalkan umi dalam keadaan sakit. Ya nanti Farhan juga akan meminta cuti jika Farhan harus menemani umi disini." Pikiran Farhan kini terbagi-bagi. Antara pekerjaan dan merawat kedua orang tuanya apalagi sekarang sudah menikah.
"Tenang aja Far.. biar abang dan Sarah nanti pindah ke rumah abah untuk sementara agar umi ada yang merawat." Reza mengerti tentang kesulitan yang dipikirkan adiknya Farhan.
"Terima kasih bang." Farhan tertunduk.
Setelah melihat bu Haji Zenal tertidur pulas Farhan pun pulang. Dia tidak kembali ke rumah Annisa melainkan ke rumah orang tuanya. Ada beberapa pekerjaan yang mesti dikerjakan malam ini. Dia sudah izin pada Nisa bahwa malam ini dia akan kembali ke rumahnya. Nisa mengizinkannya begitu saja dengan mudah.
Farhan memarkirkan mobilnya di depan rumah kedua orang tuanya. Lalu masuk ke dalam rumah melalui jalan tengah tepatnya di ruang makan.
Sama-sama dia mendengar seseorang membaca Al-Quran walaupun suaranya tidak keras tapi Farhan masih mendengar.
Semula Farhan ingin naik ke lantai dua yaitu dimana kamarnya berada. Tapi niatnya diurungkan. Dia duduk di meja makan sambil mendengarkan suara merdu yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
"MasyaAllah... suara kamu merdu banget. Rasanya hati ini menjadi tenang setelah mendengarkannya.
Farhan hanya bergumam dalam hati. Sayangnya kini dia sudah berjodoh dengan Nisa. Padahal waktu itu dia berniat menunda pernikahan agar bisa mengenal Sani lebih jauh. Namun karena kesehatan bu Haji Farhan terpaksa menuruti keinginan ibunya untuk segera menikah.
"Farhan.. " Pak Haji Zenal yang kurang sehat, tidak menginap di rumah sakit. Dia keluar dari kamarnya setelah tadi mendengar suara mobil terparkir.
"Eh.. abah.. apa abah sudah baikan?" Farhan menoleh ke arah ayahnya yang baru saja kelua kamar dan mendekatinya, lalu duduk di seberang Farhan.
__ADS_1
"Tidak tahu Far.. mungkin abah juga sudah waktunya pensiun dari bisnis. Semenjak umi di rumah sakit... abah jadi kepikiran mati." Sorot mata pak Haji Zenal menyimpan banyak beban.
"Ish.. abah.. abah tidak boleh begitu. Umur sudah ada di tangan Allah Subahana wata'ala. Kita tidak boleh berputus asa." Farhan melihat abahnya kini berbeda tidak seperti dulu. Raut wajah lelahnya begitu kentara, dan keningnya seperti mengerut lebih banyak.
"Iya abah juga tahu.. abah seperti kehilangan semangat melihat umi seperti itu." Yah ada pepatah bahwa sepasang suami istri yang saling mencintai ibarat satu jiwa. Jika jiwa yang satu sakit maka yang lainnya ikut sakit. Farhan kagum dengan keduanya yang saling setia dan mencintai.
"Abah harus semangat, biar umi cepat sembuh. Kalau abah seperti itu, kasihan umi nya. Tidak ada penyemangat buat umi.
"Iya.. doakan abah yah... agar abha kuat. Selama ini abah selalu mendapatkan semangat karena umi orangnya kuat. Dia jarang mengeluh bahkan jarang sekali terlihat sedih." Dari helaan nafas abah, terasa sekali dia sedang memikirkan istrinya yang selama ini telah mendampinginya dan menyemangatinya.
"Abah sudah makan?" Farhan melihat ayahnya terlihat lemas.
Pak Haji Zenal menggelengkan kepala, menandakan dia belum makan.
"Astaghfirullah... abah tidak boleh begitu! Nanti abah sakit beneran. Ya sudah Farhan temani sekarang ya!" Farhan langsung berdiri hendak memanggil Bi Inah.
"Oh.. iya mas Farhan... " Bi Inah keluar dari kamarnya.
"Bi... tolong siapkan makan! Saya mau menemani abah makan." Ucap Farhan.
"Oh iya baik mas Farhan." Bi Inah langsung membuka kulkas dan menghangatkan beberapa masakan untuk dihidangkan.
"Sani kemana bi, sudah tidur?" Farhan yang masih berdiri di dekat bi Inah, penasaran karena tidak melihat Sani.
"Ada mas. Mau dipanggilkan?" Bi inah menoleh melihat Farhan yang sedang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mmm.. boleh. Tolong buatkan saya mi pakai telur. Saya sudah makan sih.. cuman kasihan abah belum makan. Jadi kalau makan nasi terlalu kenyang, saya ingin menemani abah agar dia mau makan." Jawab Farhan mencari alasan.
"Oh.. baik mas Farhan. Saya panggilkan ya!" Bi Inah ke kamarnya dan berbisik ke Sani yang sedang duduk sambil menonton televisi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Sani dan bi Inah sudah selesai menyiapkan makan dan menghidangkannya di meja makan.
"Duduklah di sini San, bi Inah! Biar meja ini lebih hangat tidak hanya abah dan saya saja yang makan." Ucap Farhan mengajak bi Inah dan Sani untuk duduk bersama menikmati makan malam.
"Tapi mas... kita tadi sore sudah makan. Silahkan pak Haji bersama mas Farhan saja yang makan." Bi Inah tidak enak hati kalau harus satu meja dengan majikannya.
"Tidak apa-apa kan itu tadi sore. Kalian boleh makan nasi atau mi kalau mau. Yang penting duduk satu meja di sini." Ucap Farhan agar mereka mau makan bersama.
Sani dan Bi Inah saling memandang bingung.
"Duduklah bi! Biasanya bibi juga suka menemani bu Haji kan?" Pak Haji menoleh pada bi Inah yang masih berdiri kebingungan.
Bi Inah mengangguk semu ragu. Dia perlahan menarik kursi lalu diikuti Sani.
Keduanya membawa piring dan mengisi asal agar majikannya senang.
Sani dan bi Inah tertunduk malu.
"Bah..Farhan mau izin, kan Sani mau dibawa ke Singapura bah. Tapi pembuatan paspor dan KTP nya harus ada data kartu keluarga. Bagaimana menurut abah kalau Sani dimasukkan dalam kartu keluarga kita?" Farhan melihat pak Haji serius.
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Sani terbatuk-batuk mendengarkan penuturan Farhan.
"Sani.. akan tinggal di sana lama?" Tanya Pak Haji Zenal.
"Untuk sementara Sani ikut ke Singapura karena bos Farhan membutuhkan pendonor. Tapi kalau Sani rencana ke depannya mau bagaimana?" Farhan sebenarnya merasa kasihan hanya memanfaatkan Sani untuk bos nya.
"Sani belum tahu mas Farhan. Karena Sani berniat ingin mencari pekerjaan saja." Ucap Sani yang memang tidak tahu harus bagaimana. Dirinya tak mungkin kembali. Berharap mencari kerja untuk menyambung hidupnya kelak.
__ADS_1