Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Adit Berkhianat


__ADS_3

...***...


Malam telah tiba. Terlihat Alea tengah stay di depan cermin untuk memeriksa kembali penampilannya.


Pasalnya malam ini ia akan pergi dinner bersama Adit, jadi semaksimal mungkin Alea harus memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.


"Perfect," gumam Alea, diakhiri dengan mengolesi bibirnya dengan lip balm peach.


Drttt ....


Handphone milik Alea sekilas bergetar. Alea yakin pasti pesan whatsapp dari Adit. Ia pun bergegas mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas ranjang tidur.


Setelah dilihat, ternyata benar dugaannya.


[Malam kesayangan, aku udah ada di luar, nih. Cepat keluar ya.]


Alea tersenyum. Ia segera membalas pesan dari Adit.


[Malam juga, Adit. Oke, sebentar lagi aku ke sana.]


Send.


Alea segera mengambil tas selempangnya. Setelah itu, ia beranjak keluar dari kamar, lalu meminta izin terlebih dulu pada Ibunya.


Setelah mendapat izin dari Ibunya, Alea bergegas menemui Adit yang sudah menunggunya di luar rumah.


"Adit." Alea memanggil nama pacarnya itu saat tiba di luar rumah. Lantas si pemilik nama langsung mengalihkan pandangannya pada Alea.


Sejenak Adit tertegun. Lalu ia perlahan tersenyum melihat penampilan Alea yang sangat sempurna meski hanya memakai dress simple.


Adit pun segera menghampiri Alea dengan tak henti-hentinya tersenyum.


"Kamu cantik, Alea. Tadi aku hampir gak ngenalin kamu karena kamu saking cantiknya," puji Adit, yang membuat Alea jadi salah tingkah.


Cepat-cepat Alea mengajak Adit untuk segera pergi sebelum Adit menggombalinya lagi. Adit menyetujui meski dalam hati ia belum puas ingin membuat Alea semakin salting karena gombalannya.


Sementara di sisi lain, seseorang yang kini berada di balik tembok rumah berniat ingin membuntuti kemana Alea dan Adit akan pergi dinner. Ya ... dia adalah Lisa.


Lisa sudah memutuskan ingin mengikuti jejak Alea dan Adit secara diam-diam.


***


Adit dan Alea memasuki area restoran Cloud Lounge & Dining. Tampak kebahagiaan mulai terpancar di wajah Alea karena tak menyangka Adit akan memilih restoran yang romantis untuk dinner-nya kali ini.


Tak sampai disitu, Alea juga dibuat takjub dengan pemandangan city lights dari lantai tiga puluh. Sungguh, ini baru pertama kalinya Alea akan dinner di restoran yang mewah.


Mungkin ini akan menjadi dinner yang romantis dan berkelas dalam hidup Alea.


"Alea, apa kamu suka aku ajak dinner ke sini?" tanya Adit seraya melirik ke arah Alea untuk memastikan.


Alea mengangguk sambil tersenyum haru. "Tentu saja aku suka. Makasih ya kamu udah ajak aku ke sini," timpal Alea.


Adit hanya membalas dengan senyuman. Kemudian ia menarik lembut tangan Alea menuju meja makan dengan pencahayaan klasik, lalu mempersilahkan Alea untuk segera duduk di sofa rooftop.


"Kamu mau makan apa?" tanya Adit.


"Terserah. Aku ngikutin kamu aja," jawab Alea, dengan dibalas anggukan kepala dari Adit.


Adit segera memilih menu paket dinner yang memiliki kombinasi western. Setelah itu, ia berikan pada pelayan yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah mereka.


"Udah lama ya kita gak dinner bareng. Waktu itu aku dan kamu sama-sama sibuk, jadi kita gak punya waktu untuk pergi dinner. Tapi sekarang kita punya kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan dinner romantis di tempat ini," ungkap Alea sesekali mengalihkan pandangannya pada pemandangan city lights.


"Iya, Sayang. Aku seneng loh karena kamu bisa ngeluangin waktu untukku," ujar Adit seraya meraih tangan Alea lalu menggenggamnya sangat erat.


Alea tersenyum manis. Nyaman rasanya jika tangan sudah digenggam oleh Adit. Alea yakin Adit orangnya setia, Adit tak mungkin mengkhianatinya.


Untuk apa yang pernah Lisa katakan mengenai Adit, Alea tidak akan terlalu memikirkannya. Alea tidak ingin salah paham pada pacarnya sendiri hanya gara-gara ucapan Lisa yang tanpa adanya pembuktian.


"Oya, Sayang ... aku punya sesuatu untuk kamu," ujar Adit, yang membuat Alea mulai penasaran.


"Apa itu?"

__ADS_1


Adit mulai mengoreh sesuatu dari dalam saku jaketnya. Setelah didapat, ia langsung memperlihatkannya pada Alea. Alea heran karena sesuatu yang ditunjukkan oleh Adit adalah sebuah kotak kecil berwarna biru tua.


"Ngomong-ngomong apa isinya?" tanya Alea yang semakin dibuat penasaran mengenai kotak kecil tersebut.


"Sebelum aku tunjukkan, aku ingin tanya sama kamu. Apa kamu sayang ke aku?"


Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja Alea sayang ke Adit, lalu kenapa lelaki itu malah bertanya.


"Ya iyalah Adit, aku sayang sama kamu."


Adit pun tersenyum. "Aku senang dengernya, karena sudah lama juga aku gak dengar kalimat itu dari mulut kamu secara langsung. Makannya tadi aku tanya."


Lah, kirain apa.


"Hmm, Ya ...." perlahan Adit turun dari sofa, lalu berlutut di hadapan Alea.


"Sebenarnya kotak ini isinya ...." Adit langsung membuka kotak kecil tersebut. Sontak Alea terkejut karena isinya adalah sebuah cincin.


"Cincin?" Alea beralih menatap Adit dengan tatapan tanda tanya.


Adit kembali tersenyum, setelah itu ia meraih tangan kanan Alea seraya menghujani gadis itu dengan tatapan penuh arti.


"Iya, Alea. Aku persembahkan cincin ini untuk kamu. Cincin ini sebagai tanda bukti kalau aku serius sama kamu. Aku sangat sayang sama kamu, Alea," ujar Adit terus terang.


Alea terdiam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca karena menahan haru. Ia tak menyangka jika dirinya akan diperlakukan lebih romantis seperti ini.


"Adit, kamu ...." Alea tak kuasa melanjutkan ucapannya karena saking terharunya.


"Kamu mau 'kan terima cincin ini? Kalau kamu terima, berarti kamu percaya kalau aku serius sama kamu." Kali ini Adit bertanya.


Tanpa perlu berpikir panjang, Alea mengiyakan keinginan Adit. Tidak ada kata menolak, karena Alea percaya Adit bisa membahagiakannya. Bagi Alea juga, keseriusan dalam diri Adit tak perlu diragukan lagi.


"Iya, aku terima."


Adit tersenyum girang mendengarnya. Tanpa menunggu lama lagi, ia segera memasangkan cincin tersebut di jari manis milik Alea.


Namun ....


Tring


Terlebih Alea. Sebab yang menyingkirkan cincin itu adalah seorang wanita muda yang usianya seumuran dengan Alea. Tentu saja Alea merasa tidak terima kalau ada gadis asing yang tiba-tiba mengganggu acara dinner-nya.


"Maaf, Mbaknya siapa ya? Kok datang-datang ganggu acara saya?" tanya Alea seraya berdiri berhadapan dengan gadis itu.


"Harusnya saya yang nanya sama Mbak. Mbak siapa? Beraninya Mbak nempel-nempel dengan tunangan saya." Gadis itu balik bertanya seraya menghampiri Adit yang terlihat gelisah di tempat.


Sontak Alea terkejut hebat. Tunangan? Adit tunangannya cewek lain? Yang benar saja?


"Apa? Tunangan?" lirih Alea dengan pandangan kosong.


"Kamu lagi Adit. Kamu ngapain di sini, hah? Sama cewek lain lagi? Kamu selingkuh ya dari aku? Pantes aja kamu nolak dinner bersamaku, ternyata kamu di sini sama cewek lain. Untung aja aku dinner ke sini sama keluarga aku, kalau enggak, kamu bakal keenakan mesra-mesraan sama cewek lain." Gadis itu tak berhenti mengoceh.


Sementara Alea, ia masih menatap ke arah lain dengan pandangan kosong. Pernyataan gadis itu mengenai Adit adalah tunangannya masih membuat Alea syok.


"Dan untuk kamu, Mbak. Jauhi tunangan saya," titah gadis itu seraya menggandeng tangan Adit sangat erat. "Saya tidak tau ya sejak kapan kamu datang ke kehidupan Adit sebagai pelakor. Yang jelas kita berdua sudah bertunangan sejak 4 bulan yang lalu. Dan ini buktinya."


Gadis itu mengangkat jarinya dan juga jari Adit ke atas, tentunya untuk menunjukkan kepada Alea. Netra Alea yang semula memandang ke arah lain, kini beralih memandang ke arah jemari tangan milik Adit dan juga gadis itu.


Terlihat sebuah cincin yang sama dan indah melingkar di jari manis keduanya. Tubuh Alea seketika lemas saat melihat hal itu. Bola matanya langsung berkaca-kaca, tak menyangka akan ada pengkhianatan seperti ini dari Adit.


Adit telah menipunya. Menipu cinta tulus Alea dengan cara yang benar-benar salah. Bertunangan dengan gadis lain tanpa sepengetahuannya, hati mana yang tidak sakit ketika mengetahui hal itu.


Apalagi saat Alea disebut-sebut sebagai pelakor, membuat harga dirinya merasa direndahkan.


Kini pertahanan Alea mulai runtuh. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah seketika. Sungguh, malam ini hati Alea benar-benar hancur. Adit telah membuat jurang luka di hatinya.


"Alea," sebut Adit dengan berjalan menghampiri Alea saat melihat Alea menangis tersedu-sedu.


"Aku bisa jelasin semua ini sama kamu. Aku--"


Plakkk ....

__ADS_1


Sebuah tamparan telah mendarat di pipi Adit. Dan itu dilakukan oleh tangan Alea sendiri.


"Cukup! Gak ada yang perlu dijelasin lagi. Semuanya sudah sangat jelas. Gue gak nyangka ya lo lakuin ini di bekakang gue. Gue kira lo bakal setia, tapi nyatanya lo permainin hati gue." Alea mulai meluapkan segala amarahnya yang sempat ditahan.


Adit ingin membuka mulut. Namun, Alea mendahului pembicaraannya.


"Lo jahat tau gak, Dit. Lo jahat. Bisa-bisanya lo mengkhianati gue. Emangnya salah gue sama lo apa, hah, sampai-sampai lo berani ngekhianatin gue?" teriak Alea diiringi tangisan.


"Kamu gak salah, Alea. Aku bisa jelasin semua ini. Aku dan dia--"


"Apa? Jangan bilang kalau dia bukan tunangan lo, udah jelas buktinya di jari lo dan dia ada cincin yang sama. Apa itu semua kurang jelas. Oke ... sekarang gue nanya sama lo, tapi lo harus jawab dengan sejujurnya-jujurya. Cewek itu tunangan lo kan?" Alea menunjuk ke arah gadis yang berdiri di belakang Adit.


Raut wajah Adit berubah menjadi bimbang. Tatapannya sesekali mengarah ke arah Alea dan gadis itu secara bergantian. Adit seolah bingung harus mengatakan apa.


"Adit, gue tanya ... cewek itu tunangan lo atau bukan? Lo hanya perlu menjawab iya atau bukan, apa susahnya sih." Alea jadi greget sendiri karena sedari tadi Adit hanya diam.


"Heh, Mbak." Gadis itu berjalan mendekati Alea.


"Kok Mbaknya malah nanya gitu ke Adit. Ya jelaslah Adit itu tunangan saya. Apa Mbak perlu bukti lagi? Oke, saya akan tunjukkan foto pertunangan kita berdua."


Belum sempat gadis itu ingin mengambil ponsel dari dalam tasnya, Alea terlebih dulu menahan tangannya.


"Mbak tidak perlu ngambil bukti lagi. Di sini saya hanya ingin mendengar jawaban langsung dari mulut dia," ucap Alea seraya menatap tajam wajah Adit.


"Apa lo gak ngakuin dia sebagai tunangan lo? Cowok macam apa lo ini, hah? Setelah lo hianatin gue, lo gak mau ngaku dia tunangan lo? Cih. Dasar br*ngs*k," umpat Alea sesekali tersenyum miris.


Lagi-lagi Adit diam meski Alea sempat mengumpatinya.


"Adit, gue tanya sekali lagi. Cewek ini tunangan lo 'kan? Iya atau bukan?" tanya Alea dengan menekan setiap perkataannya.


"Iya." Adit menjawab singkat sambil memejamkan matanya.


Tubuh Alea kembali lemas. Namun, sebisa mungkin ia akan berusaha untuk tegar. Air mata yang jatuh membasahi pipinya Alea hapus secara perlahan.


Kini Alea sudah dapatkan jawabannya. Jawaban yang membuat hati teramat sakit meski hanya singkat.


"Kalau aja gue tau hal ini dari awal, mungkin gue udah mutusin lo saat itu juga. Sekarang gue gak sudi lagi ngelanjutin hubungan ini sama cowok br*ngs*k kayak lo." Alea kembali mengumpat, lalu mendorong tubuh Adit agar menjauh dari hadapannya.


"Mulai sekarang gue dan lo gak punya hubungan apa-apa lagi. Lupain kalau gue pernah hadir dalam hidup lo. Lupain kalau kita pernah pacaran selama hampir dua tahun, dan lupain juga gue. Anggap kita gak pernah saling bertemu ataupun saling mencintai."


Bola mata Adit membulat. Ia mungkin terkejut dengan perkataan Alea.


"Untuk seterusnya, jangan hubungin gue lagi, jangan temuin gue lagi, dan jangan tunjukkin wajah lo di hadapan gue lagi. Gue muak sama lo."


"Alea ... Alea, jangan berkata seperti itu. Aku--"


"Aku apa? Hargai tunangan lo, bukan gue. Gue bukan siapa-siapanya lo lagi," potong Alea.


Adit mencekal pergelangan tangan Alea saat Alea bergegas akan pergi. Namun, dengan kasar Alea menampik cekalan itu lalu mendorong Adit kembali agar menjauh darinya.


"Jangan sentuh gue!" peringat Alea, menatap tajam wajah Adit yang terlihat memerah karena menahan tangis.


Alea mengambil tasnya di sofa rooftop. Saat ingin berbalik, ia berpapasan dengan pelayan yang tengah membawa nampan berisi beberapa menu makanan dinner.


"Nona mau pergi kemana? Makanannya sudah jadi."


"Maaf, saya gak pernah pesan itu," jawab Alea dingin. Setelah itu, ia melangkah pergi dengan membawa air mata, emosi, bahkan sakit hati yang teramat dalam.


"Alea. Tunggu."


"Ihh, Adit. Kamu mau kemana? Udah tetep di sini aja, jangan kabur."


Begitulah ucapan-ucapan yang sempat Alea dengar. Namun, Alea sama sekali tidak menggubrisnya.


Saat ini Alea sedang merasakan hatinya benar-benar hancur. Hubungan yang sudah terjalin selama hampir dua tahun telah berakhir sampai malam ini.


Alea teringat akan ucapan Lisa mengenai Adit jalan romantis dengan wanita lain. Ternyata benar, Lisa tidak salah lihat, wanita yang dilihat oleh Lisa saat itu pasti tunangan Adit sendiri.


Sekarang Alea menyesal telah menjalin hubungan asmara dengan pengkhianat seperti Adit.


...***...

__ADS_1


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...


__ADS_2