Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Dia Tidak Mengenaliku


__ADS_3

...***...


Kedua bola mata Alea membulat sempurna dan mulutnya menganga tak percaya saat melihat sosok lelaki sempurna sedang berjalan ke tengah lobi dengan gaya yang sangat keren dan penuh karismatik, serta disoroti oleh beberapa kamera.


Apakah dia Iqbal?


Sungguh, Alea hampir tidak bisa mengenalinya karena penampilan lelaki itu benar-benar sangat luar biasa. Aura serta pesona yang dimiliki oleh seorang Iqbal mampu membuat sekumpulan para wanita berteriak penuh kekaguman.


Bahkan para pengunjung yang ada di sana pun dibuat kagum juga oleh pesona yang dimiliki Iqbal, sampai-sampai di antara mereka langsung mengeluarkan handphone untuk memotret Iqbal.


"Astaga, kenapa dia sangat tampan?!"


"Kayaknya dia seorang pangeran yang baru keluar dari negeri dongeng."


"Kenapa senyumnya sangat manis sekali? Rasa-rasanya aku ingin pingsan sekarang juga."


"Cowok itu, Iqbal Riandra Keanny, 'kan? Perenang handal sekaligus model di Kanada."


"Iya, kamu benar. Dia memang orangnya."


"Aku gak tau harus ngomong apa lagi. Dia memang beneran seorang pangeran tampan."


Begitulah gosipan-gosipan dari para pengunjung usai melihat kedatangan Iqbal yang langsung disoroti oleh kamera dan dikerumuni juga oleh para wanita.


Sementara itu, Alea masih diam mematung di tempatnya seraya memandangi sosok Iqbal dari kejauhan.


Memakai sweater hoodie berwarna hijau, celana levis berwarna biru, kaki yang dibaluti sepatu sneakers, kedua mata yang dihiasi dengan kacamata hitam model aviation, jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangannya, serta rambut yang ditata seperti ala-ala idol pria korea. Oh, Tuhan, kenapa setelah sembuh, visual Iqbal malah semakin sempurna.


"Ya ampun, Iqbal. Ternyata begitu ya kerennya kamu setelah kamu sembuh," ucap Alea sambil tersenyum haru. Dan pandangannya saat ini tak pernah lepas dari Iqbal. Ia terus menatap lelaki itu dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca.


"I miss you," lirih Alea, mulai meneteskan air mata karena tak kuasa lagi 'tuk ditahan.


Baru saja Alea ingin melangkah untuk menghampiri Iqbal, tiba-tiba Lisa berlari ke arahnya sambil berteriak-teriak.


"OMG, Ya ...."


"Astaga, Lis. Bisa gak sih gak usah teriak," kesal Alea, sesekali mengusap pipinya yang basah.


Lisa hanya cengengesan. "Hehe, maaf, Ya. Habisnya gue syok lihat cogan yang ada di sana." Lisa menunjuk ke arah Iqbal yang sedang dikerumuni oleh wartawan dan para wanita, juga para pengunjung.


"Eh, bentar ... bentar. Gue kayak pernah lihat deh tuh cogan. Tapi di mana, ya?" Lisa berusaha untuk mengingat-ngingat kejadian di masa lalu. Alea yang melihat hal itu, hanya memutar bola mata malas. Sejujurnya ia sudah ingin menghampiri Iqbal.


Beberapa menit kemudian, mulut Lisa membulat. "Ohh, iya. Gue inget. Dia Iqbal, 'kan? Cowok yang pernah lo rawat?" tanya Lisa memastikan. Cepat-cepat Alea segera menjawab dengan anggukan.


"Astaga. Jadi dia Iqbal? Tapi kenapa aura dia malah bikin ambyar semua cewek, sih?" ucap Lisa jadi greget sendiri melihat ketampanan yang terpancar di wajah Iqbal dari kejauhan.


"Oke ... kalau gitu kita samperin Iqbal. Pasti dia udah rindu sama lo, secara lo 'kan susternya," ajak Lisa, yang langsung menarik tangan Alea menuju tengah kerumunan.


Alea tersenyum bahagia. Sedari tadi ia sudah ingin menemui Iqbal, tapi Lisa malah menghentikannya.


"Permisi!" Alea dan Lisa berusaha menerobos masuk ke dalam kerumunan. Namun, usaha mereka sia-sia, karena kebanyakan para wanita di sana saling berebut ingin berfoto dengan Iqbal.


"Etdahh, nih cewek-cewek gak bisa gitu beri kita jalan. Kita 'kan kepengen juga bertemu dengan Iqbal secara langsung. Terutama lo nih." Lisa beralih memandang ke arah Alea, membuat yang dipandang hanya cengengesan.


"Terus gimana? Gue udah gak sabar pengen cepet-cepet ketemu sama Iqbal," ujar Alea yang tidak bisa menahan diri lagi ingin memeluk Iqbal.

__ADS_1


"Cieee ... ada yang kangen berat nih," goda Lisa, membuat Alea tersipu malu.


"Udah ah, mending kita samperin Iqbal. Mumpung dia nya masih di sana," ajak Alea.


Lisa mengangguk setuju. Ia pun menyelinap terlebih dulu masuk ke dalam kerumunan. "Permisi! Cewek cantik mau lewat," ucap Lisa dengan percaya diri.


Tak ingin tinggal diam, Alea bergegas menyelinap untuk menyusul jejak Lisa yang sudah berhasil masuk ke dalam kerumunan. Namun ....


Bugh!


Alea mendadak jatuh ke lantai akibat desakan yang tak sengaja dilakukan oleh para penggemar Iqbal. Lisa yang baru saja sampai di barisan depan, langsung menyadari Alea tidak ada di belakangnya.


"Loh, Ya ... lo di mana?" Lisa kembali menyelinap masuk ke dalam kerumunan untuk memeriksa keadaan sahabatnya yang tertinggal.


Sementara itu, Alea mulai menarik napas dalam-dalam lalu perlahan menunjukan senyum manisnya. Berusaha untuk sabar saat menghadapi kegaduhan yang terjadi.


"Untung aja gue orangnya sabar," ujar Alea seraya menepuk-nepuk kedua tangannya yang terkena debu.


Baru saja Alea hendak ingin berdiri, tiba-tiba saja sebuah tangan terulur di hadapannya yang membuat Alea melototkan mata karena terkejut.


"Are you okay?"


Suara itu. Sedikit mirip dengan suara Iqbal. Namun, bedanya suara ini agak berat dan khas. Apa mungkin pemilik tangannya adalah Iqbal?


Tanpa berpikir panjang lagi, Alea mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang tengah mengulurkan tangan padanya. Lantas Alea kembali melototkan mata, merasa kaget ketika melihat pemilik tangannya adalah Iqbal.


"I--Iqbal ...," lirih Alea dengan terbata-bata. Bahkan, kedua matanya sudah mulai berair begitu menatap sosok laki-laki yang sangat ia rindukan sejak tiga tahun lamanya.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Iqbal, di akhiri dengan tersenyum simpul.


"Ayo, aku bantu kamu berdiri!" seru Iqbal, di mana telapak tangannya masih terulur di hadapan Alea.


Sementara itu, para pengunjung dan para penggemar Iqbal yang melihat idola mereka menawarkan bantuan pada gadis asing, jadi merasa iri. Harusnya mereka yang ada di posisi gadis asing itu.


"Siapa tuh cewek? Apa dia penggemar Iqbal juga?"


"Tapi kenapa dia menangis?"


"Wajar dia nangis, mungkin baru pertama kali bertemu dengan Iqbal."


"Gila ... beruntung banget tuh cewek dibantuin berdiri sama Iqbal."


"Kenapa enggak gue aja yang jatuh? Gue 'kan mau juga ditolongin sama Iqbal. Mendingan gue jatuh sekarang aja deh."


Lisa yang berdiri di tengah-tengah para penggemarnya Iqbal, merasa terganggu dengan gosipan-gosipan al*y dari mereka. Bahkan, beberapa pasang kamera pun tak berhenti memotret yang sedang Iqbal lakukan. Oh, Tuhan, tidak bisakah mereka membiarkan momen romantis yang akan terjadi di antara Iqbal dan Alea tanpa adanya kebisingan.


Ya, sudahlah. Kini Lisa memilih fokus menyaksikan apa yang akan terjadi nanti. Ia berharap akan terjadi kiss scene di antara Iqbal dan Alea setelah tidak lama bertemu, layaknya drakor yang ia tonton.


Di sisi lain, Alea yang sedari tadi hanya diam, kini mulai mengangkat tangannya untuk diletakkan di atas telapak tangan Iqbal. Tanpa berpikir panjang lagi, Iqbal langsung membantu Alea berdiri.


Usai berdiri, Alea mengulurkan tangannya untuk menyentuh setiap inci wajah tampan milik lelaki itu. Ya ... wajah yang sudah sangat Alea rindukan dan Alea ingin pandangi setiap hari.


Bahkan, saking merindukan Iqbal, Alea tak berhenti meneteskan air mata saat menatap wajah Iqbal.


"I miss you, Iqbal. Suster kangen banget sama Iqbal. Udah lama kita gak ketemu," lirih Alea, lalu bergegas memeluk Iqbal dengan sangat erat.

__ADS_1


"Suster kangen. Kenapa Iqbal gak kabarin suster kalau Iqbal sudah sembuh?"


Para penggemar Iqbal sekaligus para pengunjung dan wartawan saling terheran-heran, mengapa gadis asing itu tiba-tiba memeluk Iqbal dan menangis. Apa ada hubungan khusus di antara mereka?


Alea melepas pelukannya dengan Iqbal. Sesaat ia mengernyitkan dahi ketika netranya menangkap raut wajah yang ditunjukan Iqbal. Yakni raut wajah bingung.


"Ada apa? Apa Iqbal gak seneng ketemu sama suster?" tanya Alea.


"Maaf ... tapi, kamu siapa, ya? Apa sebelumnya kita pernah saling mengenal?"


Deg!


Seketika jantung Alea ingin berhenti. Tubuhnya membeku. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Perkataan Iqbal sukses membuat Alea terkejut hebat sampai tak bisa berkutik sedikitpun.


"Hey." Iqbal mengibas-ngibaskan tangannya, tepat di depan wajah Alea. Lantas Alea langsung tersadar dan sekilas tertawa kecil.


"Ck, Iqbal bercanda, 'kan? Mana mungkin Iqbal gak kenal sama suster. Pasti Iqbal sedang bercanda. Udah ah, jangan bikin suster panik gak karuan," pinta Alea seraya menatap Iqbal penuh pengharapan.


"Bercanda? Aku serius loh. Aku gak kenal sama kamu. Baru kali ini aku ketemu sama kamu," ujar Iqbal, tetap pada pendiriannya.


Alea kembali diam. Kali ini tatapannya pada Iqbal berubah menjadi sendu. Bahkan, kedua bola mata Alea mulai berair karena saking tak percayanya Iqbal akan melupakan dirinya setelah tiga tahun lamanya.


"K--kamu beneran gak kenal sama aku?" tanya Alea seraya meneteskan air mata. Ia berusaha tegar walau kenyataannya sangat berat untuk menanyakan hal itu pada Iqbal.


Iqbal menjawab dengan anggukan singkat. Membuat tubuh Alea lemas seketika. Bagaimana bisa lelaki yang ia tunggu-tunggu malah tidak mengenalnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Alea benar-benar tidak mengerti semua ini.


"Apa cewek itu sudah gila? Kenapa dia memeluk Iqbal dan ngaku-ngaku jadi orang terdekatnya?"


"Gue rasa dia terobsesi pada sesuatu. Makannya dia lampiaskan pada idola tampan kita, Iqbal."


Lisa yang sempat merasa bingung dan sedih karena Iqbal tidak mengenali Alea, kini berubah menjadi rasa kesal usai mendengar gosipan pedas yang ditunjukan pada Alea.


Saking merasa kesal, Lisa mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia jambak rambut orang-orang yang berani menggosipi Alea detik itu juga. Namun, sebisa mungkin Lisa tahan amarahnya itu. Banyak kamera yang saat ini sedang menyoroti Iqbal dan Alea.


Sementara itu, seorang laki-laki seusia Iqbal yang berpakaian kekinian muncul di tengah-tengah suasana dramatis. Sekilas ia memandang Alea dengan tatapan penuh keheranan.


"Halo, Mbak. Perkenalkan sebelumnya saya adalah managernya Iqbal. Saya tidak tau apa permasalahan Mbak dalam hal ini sampai-sampai melampiaskannya pada Iqbal. Kalau memang benar Mbak punya masalah, lebih baik Mbak selesaikan di rumah. Jangan sampai sikap Mbak ini malah merusak image artis kami."


Perlahan Alea melangkah mundur seraya menatap Iqbal dengan tatapan kosong. Bahkan, air matanya terus menetes karena sekarang Iqbal telah melupakannya.


Apa yang harus Alea lakukan sekarang? Melupakan Iqbal juga? Tidak semudah itu. Alea terlanjur nyaman berada di dekat Iqbal. Ia tidak ingin melupakannya, apalagi menjauh darinya.


"Apa kamu mengenalnya?" tanya manager Iqbal pada Iqbal.


Iqbal menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengenalnya. Baru kali ini aku bertemu dengannya."


"Mbak sudah dengar sendiri 'kan, artis kami tidak mengenali Mbak. Lebih baik Mbak pergi dari sini," titah manager Iqbal pada Alea.


Sejenak Alea menunduk, lalu memejamkan mata membiarkan buliran air matanya menetes bersamaan dengan rasa sakit di hatinya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Alea perlahan melangkah meninggalkan lobi sambil menyeka air matanya.


Tiga tahun lamanya aku menunggumu Iqbal. Tapi apa balasanmu kali ini? Kamu melupakanku, bahkan tidak mengenaliku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku ingin tau itu. Tapi sepertinya kamu tidak mau lagi berbagi cerita denganku.


• Bersambung •

__ADS_1


__ADS_2