Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Iqbal Hilang Lagi


__ADS_3

...***...


"Non."


Bi Minah berhasil mencekal pergelangan tangan Tasya, tepat sebelum gadis itu membuka pintu kamar Iqbal.


"Apa lagi, sih, Bi? Udahlah, biar aku aja yang nganterin cemilan dan susu hangatnya ke Iqbal. Sekalian aku juga ingin kenalan dengan dia."


Bi Minah jadi bingung bagaimana cara menghadapi keras kepala Tasya. Bi Minah tidak ingin Iqbal nantinya melukai Tasya hanya gara-gara Tasya adalah orang asing.


Sementara itu, Tasya merasa jenuh karena sedari tadi Bi Minah hanya diam. Tanpa mau membuang waktu lagi, Tasya segera masuk ke dalam untuk menemui Iqbal. Namun ....


Grap!


Seseorang dengan cepat menahan tangan Tasya saat ingin membuka pintu. Lantas Tasya mengalihkan pandangannya pada orang itu dan ternyata dia adalah Alea. Awalnya Tasya mengira Alea akan mengobrol lama dengan Ny. Indah, tapi nyatanya tidak.


"Mau apa? Mau masuk? Kan udah dibilangin, jangan temui Iqbal dulu karena saat ini dia sedang sakit. Apa perlu aku buatin spanduk supaya kamu bisa mengerti?" Alea kini beralih menghalangi pintu kamar Iqbal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Perkataan Alea sukses membuat mulut Tasya jadi bungkam. Gadis berambut pirang itu nampak gugup dan bingung harus mencari alasan apa.


Berbeda dengan Alea, ia sangat puas telah mengintimidasi Tasya. Siapa suruh gadis itu nekat ingin masuk.


"Oh, ya ampun." Alea berekspresi pura-pura kaget saat netranya mendapati nampan ada di tangan Tasya.


"Apa ini? Kamu 'kan tamu di rumah ini, jadi gak baik seorang tamu membawa makanan untuk Tuan rumah. Lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Pasti pacar kamu, Kak Rio, sudah menunggu kabar dari kamu," ucap Alea sopan seraya mengambil nampan dari tangan Tasya.


"T--ta---"


"Sttt." Alea mengisyaratkan Tasya untuk jangan mengatakan apa-apa lagi. "Mbak Tasya, pacar sedang menanti. Apa Mbak Tasya gak kangen sama Mas pacar?" tanya Alea seraya menaik-naikkan kedua alisnya.


Wajah Tasya berubah masam. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Saat ini Tasya benar-benar kehilangan kata-katanya. Karena tak ingin ada perdebatan, akhirnya Tasya memilih untuk pergi dari sana, hingga menyisakan Alea dan Bi Minah.


"Huh, syukurlah dia pergi." Alea mulai menghela napas lega.


"Oya, Bi, Alea minta Bibi tolong awasi Tasya ya. Jangan sampai cewek sok manis itu ngedeketin Iqbal. Pokoknya Bibi harus awasi dia. Kalau dia nanya tentang hal yang membuat hati Iqbal luluh, Bibi jawab gak tau aja. Oke?"


"Oke, siap, Non." Bi Minah menyetujui.


Alea melangkah memasuki kamar Iqbal. Sedangkan Bi Minah kembali ke dapur, sesekali ia juga akan mengawasi gerak-gerik Tasya.


***


Alea tersenyum saat sudah tiba di dalam. Ia mendapati Iqbal masih asik bermain dengan puzzle-puzzle-nya. Perlahan Alea menghampiri Iqbal, lalu ia mendudukkan dirinya di samping lelaki itu.


"Iqbal, minum dulu susunya," pinta Alea sekilas menepuk bahu Iqbal.


Iqbal mengangguk. Tangannya kini terulur untuk mengambil gelas yang berisi susu, lalu meneguknya sampai habis. Setelah itu, Iqbal kembali melanjutkan permainannya.


Sementara Alea, ia mulai memandangi Iqbal dengan seksama diiringi senyuman. Entah kenapa wajah tampan milik Iqbal tidak pernah bosan untuk Alea pandang.


Iqbal yang menyadari akan tatapan Alea padanya, langsung terkekeh. Ia pun sedikit beringsut untuk duduk berdekatan dengan Alea. Tanpa basa-basi lagi, Iqbal mendekatkan wajahnya pada wajah Alea.


Iqbal mengira sedang ada lomba tatap-tatapan. Jadinya Iqbal memilih untuk memandang wajah cantik milik Alea dari jarak yang sangat dekat.


Alea yang masih terhanyut dalam khayalannya, belum menyadari kalau saat ini ia sedang ditatap juga oleh Iqbal. Bahkan dengan senyuman.


"Wajah suster ngegemesin ya kalau dari deket."


Mendengar Iqbal bersuara, Alea langsung terhentak. Sontak kedua mata Alea membulat sempurna ketika menyadari wajah Iqbal begitu sangat dekat dengan wajahnya. Cepat-cepat Alea pun segera menarik wajahnya.


"Iqbal, Maafin suster. Tadi suster cuma---"

__ADS_1


"Gak papa, suster. Justru Iqbal sangat suka dengan lomba tatap-tatapan. Lain kali kita lakuin lomba kayak tadi ya, Sus. Pasti akan menyenangkan deh," potong Iqbal seraya beringsut untuk kembali pada tempat duduknya. Lalu ia menunjukkan sederet giginya yang putih pada Alea.


Alea hanya membalas dengan senyuman, sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Alea tidak tau ia sekarang harus berekspresi heran, kaget, atau senang.


Namun, yang pasti Alea sempat salting saat wajah Iqbal sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan jantungnya berdetak tak karuan. Apa ini, Ya Tuhan?


'Apa mungkin aku mulai menyukai Iqbal?' batin Alea, sekilas tersenyum seraya memandangi Iqbal.


Lagi. Iqbal pun melakukan hal yang sama. Ia membalas senyuman Alea dengan senyum yang menggemaskan.


***


Malam telah tiba. Saat ini Alea berada di dapur, tentunya ia ingin menyiapkan makan malam untuk Iqbal. Alea sengaja memasak karena ia ingin tau reaksi Iqbal seperti apa ketika mencicipi masakannya.


"Non."


Alea mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Ternyata Bi Minah yang memanggilnya.


"Ada apa, Bi?"


"Non, Bibi dapat info dari Pak Ujang, katanya malam ini Non Tasya mau pergi keluar."


"Ya, bagus kalau gitu, Bi. Sekalian aja Tasya gak usah kembali ke rumah ini," ucap Alea, di akhiri dengan tertawa kecil. Bi Minah yang mendengarnya juga ikut tertawa.


"Oya, Bi. Malam ini 'kan Tante Indah lagi ada keperluan di luar, dan kemungkinan pulangnya larut malam. Nah, Alea kepengen Bibi bantuin Alea masak makanan kesukaannya Iqbal," ucap Alea.


"Ohh, oke siap, Non. Bibi siap sedia bantuin Non Alea. Ngomong-ngomong nih, Non, ini buat pdkt sama Den Iqbal 'kan?" tanya Bi Minah, sengaja ingin menggoda Alea.


Alea ternganga. "Pdkt? Kok, Bibi tau pdkt?"


"Ya ampun, Non. Masa Bibi gak tau kata-kata anak muda zaman sekarang. Bibi 'kan orangnya ingin selalu update, gak mau ketinggalan zaman, hehe," jawab Bi Minah sambil cengengesan.


Alea menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum kecil. Wanita paruh baya yang ada di sampingnya benar-benar sangat menghibur. Dan bukan hanya menghibur, tapi Bi Minah juga selalu menggoda dirinya. Apalagi jika disangkut pautkan dengan Iqbal. Ah, bikin jantung dag dig dug gak karuan tau gak.


"Baik, Non."


***


Alea bergegas membuka kunci pintu kamar Iqbal. Namun, Alea merasa ada yang ganjal. Pintu kamar Iqbal nyatanya tidak terkunci. Kok, bisa? Seingat Alea, ia sudah mengunci pintu kamar Iqbal rapat-rapat.


Alea melototkan matanya. Apa sudah terjadi sesuatu pada Iqbal? Khawatir lelaki itu kenapa-napa, Alea langsung masuk ke dalam dan mengecek keadaan Iqbal.


"Iqbal."


Hasilnya tidak ada sosok Iqbal di dalam kamar. Lantas hal itu membuat Alea mulai merasa cemas. Ia pun segera memeriksa ke kamar mandi, dan hasilnya tetap sama. Iqbal tidak ada di sana.


"Iqbal, kamu di mana?" teriak Alea.


Mata Alea mulai berair. Sekarang ini ia benar-benar khawatir dan juga takut Iqbal hilang lagi sama seperti waktu lalu.


Tak mau menyerah, akhirnya Alea langsung berlari ke setiap kamar yang ada di rumah untuk mencari Iqbal. Namun, tetap. Iqbal tidak ada di mana-mana.


"Iqbal, sebenarnya kamu ada di mana?" Alea berteriak kembali. Ia benar-benar panik saat ini.


Lantas teriakan Alea tadi membuat Bi Minah menghampirinya. "Ada apa, Non?" tanya Bi Minah, to the point.


"Iqbal, Bi. Iqbal gak ada dikamar. Alea sudah cari Iqbal ke setiap ruangan dan kamar yang ada di rumah ini, tapi Iqbal tetep gak ada. Alea takut, Bi. Alea takut Iqbal hilang lagi," lirih Alea, kemudian berjongkok dan memeluk kedua lulutnya sambil menangis.


Alea benar-benar merasa menyerah sekarang. Perasaan sedih dan takut ini sama seperti yang pernah ia rasakan waktu lalu. Alea tidak tau apa yang akan dilakukan Ny. Indah jika mengetahui Iqbal menghilang lagi.


Sementara Bi Minah, ia merasakan hal yang sama seperti Alea setelah mendengar Iqbal menghilang. Panik. Bahkah kedua mata Bi Minah pun mulai berair saat melihat Alea menangis.

__ADS_1


"Non, jangan menangis. Den Iqbal pasti ada di sekitar sini." Bi Minah berjongkok di sebelah Alea, berusaha menguatkan gadis itu.


Alea menggeleng. "Enggak, Bi. Alea sudah cari di setiap sudut rumah ini, tapi Iqbal tetep gak ada," lirih Alea dengan isak tangisnya.


Bi Minah mengusap-usap punggung Alea, berusaha menguatkan gadis itu kembali. "Non Alea gak boleh menyerah, Den Iqbal pasti ada di sekitar sini. Bibi akan bantu Non Alea cari Den Iqbal."


"Ada apa ini teh?"


Alhasil mata Alea dan Bi Minah langsung tertuju ke arah sumber suara. Ternyata orang yang datang menghampiri mereka adalah Pak Ujang.


"Ini, Den Iqbal hilang," jawab Bi Minah.


Sontak Pak Ujang terkejut. "Astagfirullah. Hilang? Kok, bisa?" tanya Pak Ujang, langsung ikutan jongkok untuk mengetahui kenapa Iqbal bisa menghilang.


"Mana saya tau atuh, Pak," ujar Bi Minah.


"Eh, kirain teh tau."


Alea mulai berhenti menangis. Pasalnya ia teringat akan sesuatu mengenai info dari Pak Ujang yang mengatakan Tasya sedang pergi keluar. Alea berpikir mungkin hilangnya Iqbal, ada sangkut pautnya dengan Tasya.


"Hmm, Pak Ujang ... apa Pak Ujang tau apa hal yang membuat Iqbal senang?" tanya Alea seraya mengusap air matanya.


"Ya, tau lah, Non. Den Iqbal kan sangat menyukai bunga melati. Makannya kalau Pak Ujang ingin menemui Den Iqbal, harus bawa dulu bunga melati biar dia seneng," jawab Pak Ujang.


"Apa Tasya pernah bertanya ke Pak Ujang mengenai hal yang bisa membuat Iqbal senang?"


Pak Ujang mulai berpikir. "Kayaknya pernah deh, Non. Tadi pas Pak Ujang sholat magrib, Non Tasya nyamperin Pak Ujang buat nanyain itu."


Lantas Alea membulatkan matanya. "Terus Pak Ujang jawab?"


"Di jawab atuh, Non. Di mana-mana orang bertanya, harus dijawab. Terus tadi tuh Non Tasya minta kunci cadangan kamar Den Iqbal ke Pak Ujang, katanya disuruh sama Non Alea. Ya udah, Pak Ujang kasih aja kunci cadangannya," ungkap Pak Ujang.


Alea menepuk dahinya. Pantas saja Iqbal tidak ada di kamar. Karena sudah pastikan Iqbal menghilang karena dibawa pergi oleh Tasya.


"Ahh, dasar Pak Ujang. Harusnya Pak Ujang jangan kasih tau atuh ke Non Tasya tentang hal yang bisa membuat Den Iqbal senang, apalagi kasih kunci. Secara nih, ya, Non Alea gak nyuruh apa-apa ke Non Tasya mengenai kunci cadangan." Bi Minah mengomeli Pak Ujang karena sudah bersikap ceroboh.


"Loh, berarti saya sudah dibohongi?"


"Ya iyalah, Pak. Harusnya Pak Ujang tanya dulu ke saya, bukannya sembarangan ngasih tau. Lihat apa jadinya? Sekarang Den Iqbal menghilang karena dibawa pergi Non Tasya," timpal Bi Minah agak ketus karena saking kesalnya.


"Lah, saya 'kan gak tau Non Tasya bakalan bawa pergi Den Iqbal."


Alea yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan Bi Minah dan Pak Ujang pun mulai merasa jenuh. "Sudah ... sudah ... ini bukan kesalahan Pak Ujang sepenuhnya. Tapi ini salah Tasya, dia yang keras kepala ingin bertemu dengan Iqbal sampai-sampai dibawa pergi," ujar Alea mulai membuka suara.


"Nah, bener tuh, Non. Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Bi Minah sama Pak Ujang diam aja di sini, jaga rumah. Biar Alea aja yang cari Iqbal keluar," timpal Alea.


"Sendirian gitu, Non?" tanya Bi Minah.


Alea sekilas menggeleng. "Enggak kok, Bi. Nanti Alea akan minta bantuan teman-teman Alea supaya cepet nyarinya."


"Ya sudah atuh, Non. Hati-hati, ya. Maafin kecerobohan Pak Ujang," ucap Pak Ujang merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Pak. Ini bukan kesalahan Pak Ujang, kok. Ya sudah, kalau gitu Alea pergi dulu. Alea minta do'anya aja dari kalian," ucap Alea seraya tersenyum.


"Itu udah pasti, Non. Bibi sama Pak Ujang akan selalu do'akan Non Alea," ujar Bi Minah.


Alea pun bergegas pergi keluar rumah. Sementara Bi Minah dan Pak Ujang saling memandang satu sama lain dengan tatapan judes.


"Ini semua gara-gara Pak Ujang."

__ADS_1


"Lah, kok nyalahin saya? Situ juga salah gak kasih tau saya dulu."


Bersambung ....


__ADS_2