Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Masa Lalu Iqbal | Part 1 |


__ADS_3

...***...


Dua puluh dua tahun yang lalu, di sebuah rumah besar nan mewah, seorang wanita yang berusia 30 tahun tengah menantikan kabar kehamilannya. Sebut saja namanya Indah.


Sebelumnya Indah telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini usianya sudah menginjak 5 tahun, dan nama putra pertamanya itu adalah Rio Diandra Keanny.


Di sisi lain, suami Indah yang bernama Galih Ziandra Keanny tampak sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa istrinya hamil lagi. Ini berarti putra keduanya akan segera hadir untuk melengkapi kebahagiaan keluarganya.


Namun ....


"Rio."


Seorang wanita menghampiri putra pertama keluarga Keanny yang saat itu tengah menggambar sesuatu di taman rumah. Rio yang tadinya hanya fokus menggambar, kini beralih memandang ke arah si pemanggil nama.


"Tante Sagita," sebut Rio disertai dengan senyum lebarnya usai melihat sosok wanita yang kini duduk di sampingnya.


Ya ... wanita itu adalah Sagita Fitria, temannya Indah sekaligus sekretaris di perusahaan milik Galih. Usia Sagita tidak jauh berbeda dengan usia Indah. Karena kebaikan Sagita yang telah membantu perkembangan perusahaan Galih, akhirnya Indah menganggap Sagita sebagai keluarganya sendiri.


"Kamu lagi gambar apa, Rio?" tanya Sagita, sesekali membelai puncak kepala Rio.


"Rio lagi gambar papa, mama, sama calon adik Rio. Bagus kan, tante?" Rio menunjukan gambarnya pada Sagita.


Sagita tersenyum setelah melihat gambar yang dibuat Rio dengan seksama. "Tentu saja bagus, Rio. Oya, ngomong-ngomong apa Rio sangat menantikan calon adik Rio?" tanya Sagita membuat Rio langsung tertawa.


"Kalau itu gak usah ditanya, tante. Rio sangat menantikan calon adik Rio, nanti kalau adik Rio sudah lahir, Rio gak bakal kesepian lagi."


"Hmm, gimana kalau papa sama mama Rio nanti malah lebih sayang ke adik Rio daripada Rio?"


"Ya enggak mungkin lah tante, kasih sayang papa sama mamah ke Rio dan adik Rio itu bakal seimbang."


Sagita mengangguk-angguk mengerti. Setelah itu, ia rangkul bahu Rio untuk memeluknya dari samping.


***


Selang sembilan bulan lamanya, akhirnya putra kedua dari keluarga Keanny telah lahir ke dunia ini. Mereka begitu bahagia saat menyambut kehadiran buah hati Indah dan Galih.


Ditambah putra kedua Galih dan Indah memiliki wajah paras tampan, yang membuat satu keluarga gemas sendiri.


Galih memberi nama putra keduanya dengan nama Iqbal Riandra Keanny. Entah kenapa Galih begitu ingin menamai putra keduanya dengan nama Iqbal, karena menurutnya nama itu sangat bagus untuk putra bungsunya.


***


"Rio."


Sagita menghampiri Rio yang sedang bermain game di ruang tamu.


"Akhir-akhir ini tante perhatiin kamu sering main game. Kenapa kamu gak temenin adik kamu, Iqbal?" tanya Sagita dengan nada lembut.


"Rio lagi males nemenin Iqbal. Sejak ada Iqbal, papa sama mama malah lebih perhatian ke Iqbal. Kemarin Rio minta papa untuk beliin robot, tapi papa malah jawabnya nanti. Nyatanya nanti itu malah gak jadi dibeliin. Terus mama ... Rio minta dibuatin susu, tapi mama malah jawabnya minta dibuatin aja ke bibi. Gimana Rio gak kesel coba." Rio terus bercerita sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tuh kan apa tante bilang, papa sama mama kamu lebih sayang ke Iqbal daripada kamu."


"Terus apa yang harus Rio lakuin biar papa sama mama sayang lagi ke Rio?" tanya Rio.


"Hmm, nanti tante akan pikirkan. Sekarang Rio hanya perlu duduk manis. Lihat saja apa yang nanti akan tante lakukan. Karena permainan baru saja akan dimulai," jawab Sagita di akhiri dengan senyum liciknya.


"Permainan apa yang kamu maksud, Mbak?"


Indah muncul dari balik dapur seraya membawa segelas susu untuk Rio.


"Eh, Mbak Indah. Ini, Mbak, Rio bosan dengan permainan basket, makannya Rio minta saran saya mengenai permainan baru apa yang harus dia lakukan," jawab Sagita ngeles.


Indah mengangguk-angguk mengerti seraya tersenyum. Kemudian ia duduk di sebelah Rio.


"Sayang, ini minum dulu susunya. Maaf ya, mama telat bawainnya karena tadi mama harus kasih dulu Iqbal ASI biar sehat. Nih!" Indah menyodorkan gelas berisi susu tersebut pada Rio.


Prang ....


Gelas tersebut jatuh ke lantai hingga pecah, dan hal itu dilakukan oleh tangan Rio sendiri. Indah yang menyaksikannya, tentu saja sangat terkejut. Berbeda dengan Sagita, ia tersenyum puas melihatnya.


"Rio gak mau susu," ketus Rio lalu beranjak pergi menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Indah masih terkejut di tempat dengan perlakuan Rio. Ia tidak tau apa yang sebenarnya Rio pikirkan sampai-sampai bersikap seperti itu. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Indah harus bertanya langsung kepada Rio.


"Sebentar ya, Mbak. Saya mau ngomong dulu sama Rio," ucap Indah seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu bergegas pergi.


Namun, Sagita terlebih dulu menahannya. "Eh, Mbak gak perlu ke kamarnya Rio. Biar saya aja yang tanya kenapa Rio tiba-tiba kesal. Kalaupun memang ada sesuatu yang membuatnya kesal, saya akan memberinya pengertian."


"Tapi, Mbak--"


"Mbak, lebih baik Mbak ke kamarnya Iqbal. Pasti dia lagi butuhin Mbak sekarang." Sagita memberikan saran kepada Indah.


Setelah berpikir lama, Indah akhirnya menyejutui saran dari Sagita. Ada benarnya juga ucapan Sagita, karena Iqbal baru saja lahir, jadi pastinya untuk sekarang Iqbal lebih membutuhkannya.


"Ya sudah, Mbak. Tapi kalau memang Rio ada masalah, tolong beritau saya secepatnya. Saya khawatir Rio punya masalah tapi dipendam sendiri," ucap Indah.


"Mbak tenang saja, kan ada saya yang akan bantu Mbak."


Indah tersenyum, kemudian ia bergegas memeluk Sagita. "Sebelumnya makasih ya, Mbak. Kamu memang teman saya yang paling baik dan paling pengertian."


"Iya, Mbak, sama-sama." Sagita membalas pelukan Indah seraya menyelipkan senyum evil.


***


Lima bulan kemudian, sikap Galih kepada putra keduanya perlahan-lahan mulai berubah. Hal itu dikarenakan Galih mulai berpikir bahwa Iqbal adalah anak pembawa si*l.


Semenjak Galih selalu membawa Iqbal ke perusahaan, ada saja karyawan yang mengeluh mengenai perusahaan mengalami utang lah, mengalami kendala ini lah, itu lah, dan sebagainya yang membuat Galih percaya itu semua karena ia membawa Iqbal ke perusahaan.


Sebelumnya saat Galih tidak membawa Iqbal, keadaan perusahaan semuanya baik-baik saja. Tidak ada kendala sedikitpun.


Namun, Sagita terus meyakinkan Galih bahwa Iqbal penyebab perusahaan hampir bangkrut.


***


"Indah, lebih baik kita titipkan Iqbal ke panti asuhan."


Plak ....


Indah langsung menampar pipi Galih setelah mengatakan hal yang membuat amarahnya keluar. "Apa kamu sudah kehilangan akal, Mas? Menitipkan Iqbal ke panti asuhan? Memangnya Iqbal anak siapa, hah? Iqbal itu anak kita juga ... anak kandung kita. Tapi kamu dengan seenaknya berbicara seperti itu."


Plak ....


Satu tamparan kembali mendarat di pipi Galih. Kali ini kamarahan Indah sudah memuncak. Indah tidak menyangka Galih akan mengatakan hal buruk seperti itu mengenai Iqbal.


"Bener-bener gila kamu ya, Mas. Istigfar, Mas. ISTIGFAR. Iqbal bukanlah anak pembawa s**l, tapi dia membawa kebahagiaan di keluarga kita. Dan bisa-bisanya kamu berpikir Iqbal anak seperti itu, di mana rasa malumu, Mas? DI MANA?" teriak Indah penuh kemarahan.


"Masalah perusahaan itu sudah nasib. Nasib yang telah ditentukan oleh Tuhan. Jika perusahaan mengalami masalah, pasti ada jalan keluar untuk mengatasinya. Tapi jangan seenaknya kamu bilang penyebab semua itu adalah Iqbal. Aku enggak suka itu."


Indah langsung keluar dari kamar dengan membawa kemarahan. Ia benar-benar benci cara bicara Galih yang mengatakan hal buruk tentang Iqbal.


***


Lima tahun kemudian, Iqbal tumbuh dengan ketampanan yang tak pernah pudar dari wajahnya. Ia menjalani hari-harinya dengan rasa senang dan juga sedih. Senang karena memiliki seorang Ibu yang begitu sangat menyayanginya. Sedih karena sang Ayah dan Kakaknya selalu menjauhinya tanpa alasan yang pasti.


Sehingga Iqbal sering bertanya pada dirinya sendiri? Apa kekurangannya? Apa kesalahannya sampai-sampai Ayah dan Kakaknya menjauhinya?


Namun, Indah selalu menguatkan Iqbal bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Meski begitu, Iqbal tetap merasa bahwa sikap Ayah dan Kakaknya tidak akan pernah berubah padanya.


***


"Iqbal, main yuk!" ajak Rio pada Iqbal.


Bibir Iqbal seketika membentuk sebuah senyum karena baru kali ini Rio, Kakaknya, mengajaknya bermain seperti ini.


"Ayo, Kak."


"Kita main peran antara tuan dan pembantu. Aku tuannya, dan kamu pembantunya. Setuju?"


Iqbal langsung mengangguk setuju. "Iya, Iqbal setuju."


Rio tersenyum licik. Kemudian ia duduk di atas sofa dengan gaya seorang tuan rumah. "Iqbal, tuanmu menyuruhmu untuk ambilkan minum di dapur."

__ADS_1


"Baik, tuan."


Iqbal langsung bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air. Setelah diambil, Iqbal menemui Rio kembali lalu memberikan gelas tersebut pada Rio.


Namun, Rio dengan sengaja menjatuhkan gelas tersebut hingga jatuh. "Opsss."


"Kak Rio, kenapa kakak malah menjatuhkan gelasnya?" tanya Iqbal.


"Enggak sengaja." Rio kemudian turun dari sofa dan mengambil robot milik Iqbal yang tergeletak di dekat meja.


"Ini robot punya kamu dari mama, ya? Buat aku aja ya."


Iqbal tidak setuju, lalu ia menghampiri Rio untuk mengambil robotnya. "Enggak, Kak. Ini robot pemberian mama buat aku, bukan kakak."


"Ihh, pokoknya buat aku." Rio merebut robot itu dari tangan Iqbal.


"Ini punya aku, Kak." Tak mau kalah, Iqbal kembali merebut robotnya dari tangan Rio.


Lalu terjadilah saling rebut merebut antara kakak beradik, hingga membuat salah satu dari mereka terjatuh.


"Awww," ringis Rio.


"Ya ampun, kakak gak papa?" Iqbal hendak menghampiri Rio untuk membantu kakaknya berdiri. Namun, Sagita terlebih dulu datang dari arah luar rumah dan terkejut mendapati Rio terjatuh.


"Astaga, Rio."


Sagita langsung menghampiri Rio dan membantunya untuk duduk.


"Kamu gak papa?" tanya Sagita.


"Sakit, tante. Iqbal tadi dorong Rio sampai terjatuh," jawab Rio berkata bohong.


Iqbal menggeleng, menyangkal perkataan Rio. "Enggak, tante. Itu gak bener. Iqbal--"


"Pembohong kamu."


Sagita bergegas menghampiri Iqbal, lalu menjewer telinga Iqbal cukup ke**s, hingga membuat Iqbal sendiri meringis kesakitan.


"Ahh, sakit, tante."


Sagita tak menggubris, ia terus menjewer telinga Iqbal. Sedangkan Rio, ia hanya tertawa melihat Iqbal kesakitan.


"Sakit, tante." Iqbal tak henti-hentinya meringis kesakitan.


Selang beberapa lama, Sagita mendengar suara klakson mobil. Ia merasa bahwa itu Galih. Dengan segera Sagita melepas jewerannya, lalu menghampiri Rio dan memposisikan tubuh Rio saat terjatuh.


Sagita kemudian memungut pecahan gelas. Setelah itu, pecahan tersebut ia goreskan sedikit pada tangannya hingga mengeluarkan darah. Lalu darah itu, Sagita oleskan pada dahi Rio dan juga lantai yang ada di dekat Rio.


Tentu saja Rio merasa heran dengan apa yang dilakukan Sagita.


"Ada apa ini?" tanya Galih, setelah tiba berada di dalam.


Refleks Sagita melempar pecahan gelas itu secara diam-diam. Kemudian ia menghampiri Galih dengan menangis dibuat-buat.


"Pak Galih, lihatlah perlakuan anak bungsumu itu. Dia telah membuat Rio terjatuh dan terluka."


Kedua mata Galih langsung melotot usai melihat ada darah di dahi Rio. Sementara Iqbal, menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis. Tubuhnya mulai gemetar ketika Galih beralih menatapnya sangat tajam.


"Dasar anak tak tau diri," umpat Galih seraya berjalan menghampiri Iqbal dengan kemarahannya yang sudah memuncak.


"Ahh, sakit, pah."


Iqbal kembali meringis kesakitan saat telinganya yang memerah karena perlakuan Sagita, kini dijewer ke**s oleh Galih. Iqbal terus menangis untuk minta dilepaskan, namun, Galih tak menggubris.


"Papa, sakit. Lepasin, pa!" pinta Iqbal disertai tangisannya yang semakin pecah menggema seisi rumah.


"Sini, kamu." Kali ini Galih menarik tangan Iqbal sangat k**ar menuju kamar yang tak terpakai yang letaknya ada di pojok rumah.


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...

__ADS_1


__ADS_2