
...***...
Siang berganti sore. Langit berubah menjadi gelap. Menandakan hujan sebentar lagi akan turun.
Di cuaca yang cukup dingin ini, Alea ingin membuatkan segelas susu hangat untuk Iqbal. Sekalian Alea juga akan menyiapkan cemilan supaya Iqbal tidak merasa boring saat bermain.
Saat bergegas ke dapur, Alea mendapati seorang wanita paruh baya tengah memotong beberapa sayuran. Lantas Alea memicingkan matanya, merasa asing dengan wanita paruh baya itu.
"Maaf, Ibu siapa, ya?" tanya Alea seraya melangkah menghampiri wanita paruh baya itu.
Wanita itu menghentikan aktivitas memotongnya, lalu ia memandangi Alea dengan senyuman. "Eh, Non Alea, ya?"
Alea mengernyitkan dahinya merasa bingung. Bagaimana wanita paruh baya itu bisa tau namanya. "Iya. Ibu kok tau nama saya?" tanya Alea to the point.
Wanita itu kembali tersenyum, kemudian ia menghampiri Alea dan memperkenalkan dirinya di depan Alea. "Sebelumnya perkenalkan nama Bibi ... Bi Minah. Bibi di sini bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarganya Pak Galih. Kebetulan Bibi tau nama Non dari Nyonya besar."
Alea mengangguk paham. Itu berarti para pekerja di rumah Ny. Indah sudah kembali dari kampung halaman masing-masing. Buktinya Pak Ujang yang bekerja sebagai supir sudah kembali dari kampungnya saat tadi subuh.
"Kalau boleh Alea tau, sudah berapa lama Bibi bekerja di sini?" Alea bertanya kembali.
"Sudah lama, Non. Kalau tidak salah Bibi bekerja di sini semenjak Nyonya menikah dengan Tuan."
"Berarti Bibi tau dong keseharian Iqbal sejak kecil seperti apa?"
"Ya tau dong, Non. Kan sejak kecil, Bibi yang selalu nemenin Den Iqbal main," jawab Bi Minah seraya tersenyum.
Alea berpikir, mungkin ini kesempatannya untuk tau lebih banyak tentang Iqbal. Pasalnya yang Alea dengar mengenai Iqbal dari Ny. Indah hanya sebagian saja.
"Hmm, Bi, kalau Bibi nanti ada waktu luang, tolong ceritakan tentang masa kecilnya Iqbal ke Alea, ya. Alea pengen denger," pinta Alea.
"Siap, Non." Bi Minah menyetujui.
Alea kemudian bergegas membuatkan segelas susu hangat untuk Iqbal. Sementara Bi Minah telah selesai memotong beberapa sayuran yang akan ia masak hari ini khusus untuk Iqbal.
Saat ingin memasukan beberapa sayuran yang sudah dipotong ke dalam wajan, Bi Minah mendapati Alea tengah senyum-senyum sendiri. Ia tidak tau apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Alea.
__ADS_1
"Kenapa, Non? Kok, Non, senyum-senyum sendiri? Pasti mikirin Den Iqbal, ya?" tebak Bi Minah, sengaja ingin menggoda gadis cantik itu.
Alea tersadar. Ia pun segera bersikap normal seolah tidak terjadi apa-apa. "Haishh, apaan sih, Bi. Enggak kok, tadi Alea cuma mikirin Ibu aja," timpal Alea ngeles.
"Ibu apa Den Iqbal, Non? Kayaknya Den Iqbal, deh. Non suka ya sama Den Iqbal?"
Sontak Alea terkejut mendengar hal itu. "Suka? Enggak kok, Bi. Masa iya Alea suka sama Iqbal. Kan gak mungkin." Alea menyangkal perkataan Bi Minah.
"Ah, Bibi gak percaya. Non pasti suka sama Den Iqbal. Secara Den Iqbal itu tampan, baik lagi. Nanti kalau Den Iqbal sudah sembuh, pasti Den Iqbal akan bersikap romantis ke Non. Bibi jamin itu."
Alea ternganga. Apa Bi Minah sedang menggodanya sekarang? Oh, ayolah, kenapa orang-orang di rumah ini selalu menggodanya? Kemarin Ny. Indah, sekarang Bi Minah.
Besok siapa lagi coba? Iqbal? Gak mungkin, dia kan sedang sakit.
"Good afternoon, semua!"
Seseorang dari balik dapur tiba-tiba muncul menghampiri Alea dan Bi Minah. Lantas Alea langsung memutar bola matanya malas saat melihat orang itu adalah Tasya.
"Eh, Non Tasya," sebut Bi Minah dengan senyuman.
"Keliatannya?" Alea bersuara tanpa menoleh pada Tasya. Sebenarnya ia malas mengobrol dengan pacar dari Rio itu. Ya ... semenjak Tasya tidak suka dirinya merawat Iqbal, di saat itulah Alea jadi malas bertemu dengan Tasya.
"Ohh ... lagi buatin susu. Pasti untuk Iqbal, ya? Biar aku aja ya yang nganterin susu ini ke Iqbal." Tasya menawarkan diri dengan nada lembut.
Alea melototkan matanya ke arah Tasya. Apa ia tidak salah dengar? Tasya yang nganterin? Enak saja.
"Enggak usah, biar aku aja. Lagian ini sudah tugas aku untuk merawat Iqbal. Dan kamu sendiri juga sudah tau kalau Iqbal memiliki penyakit gangguan mental. Jadi kamu jangan menemui Iqbal terlebih dulu, karena dia gak suka jika ada orang asing yang menemuinya," jelas Alea memperingatkan.
Tasya tersenyum. "Aku tau itu, tadi aku cuma bercanda aja. Oya, tadi Tante Indah nyuruh kamu untuk menemuinya sebentar di kamar. Jadi mendingan kamu temui Tante Indah dulu, gih."
Alea terdiam mencermati perkataan Tasya. Khawatir gadis yang ada sampingnya saat ini berkata bohong.
"Non Alea, lebih baik Non temui dulu Nyonya. Nanti urusan susu dan cemilan biar Bibi aja yang nganterin ke Den Iqbal," ucap Bi Minah menawarkan diri.
Alea mengangguk setuju. Ia percayakan semuanya pada Bi Minah, secara Bi Minah adalah orang terdekat Iqbal sejak kecil.
__ADS_1
"Baiklah. Tolong anterin ya, Bi. Bilangin ke Iqbal, suster Alea-nya lagi ada urusan sebentar dengan Mamanya," pinta Alea, yang disetujui oleh Bi Minah.
Sekilas Alea menatap Tasya dengan tatapan tajam, dan yang ditatap hanya bersikap biasa saja. Alea hanya ingin memastikan gadis itu tidak mempunyai rencana licik apapun. Ya ... mulai sekarang Alea akan berjaga-jaga, khawatir Tasya tiba-tiba berkeinginan menjadi susternya Iqbal.
Setelah Alea pergi, Bi Minah mengangkat nampan yang berisi susu dan cemilan untuk ia bawa ke kamar Iqbal. Namun, saat ingin melangkah, Tasya mencegahnya.
"Eh, wait dulu, Bi."
"Ada apa, Non?"
"Susu dan cemilannya biar aku aja yang antar ke kamar Iqbal, oke. Aku ingin sekali bertemu dengan Iqbal."
"Jangan, Non. Nanti Non Tasya dilukai Den Iqbal, karena Den Iqbal tidak suka jika ada orang asing yang menemuinya," jelas Bi Minah.
"Oke, aku bisa pahami itu. Tapi Bi, pasti ada cara supaya hati Iqbal bisa luluh saat orang asing menemuinya. Sama seperti Alea, dia awalnya orang asing. Buktinya sekarang dia bisa sedekat itu dengan Iqbal. Pasti ada cara untuk meluluhkan hatinya. Apa Bibi bisa beritau apa hal yang membuat Iqbal senang?"
Bi Minah terdiam. Entah kenapa hatinya tiba-tiba tak ingin memberitau hal yang membuat Iqbal senang kepada Tasya.
Maaf, Non. Bibi kurang tau soal itu," ucap Bi Minah terpaksa bohong. Ia terlanjur mengikuti kata hatinya untuk tidak memberitau hal yang membuat Iqbal senang kepada Tasya.
Alhasil Tasya menatap Bi Minah dengan tatapan curiga. Ia tak percaya jika Bi Minah tidak tau mengenai hal yang bisa buat hati Iqbal luluh. "Really? Bibi yakin Bibi kurang tau?" tanya Tasya dengan tatapan curiganya.
Bi Minah mengangguk seraya menunjukkan senyum penuh keyakinan. Bi Minah tidak ingin terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu di depan Tasya. Bi Minah harus tersenyum.
"Permisi, Non. Bibi mau antar dulu susu dan cemilan ini ke kamar Den Iqbal," ucap Bi Minah sopan.
Bi Minah hendak saja pergi, namun, tiba-tiba saja Tasya merebut nampan dari tangan Bi Minah. "Biar aku aja ya, Bi," ucap Tasya. Ia tetap bersikeras ingin mengantarkan cemilan dan segelas susu hangat ke kamar Iqbal.
"Eh, tapi, Non. Nanti Non dilukai Den Iqbal. Jangan, Non. Biar Bibi saja."
Tasya tidak menghiraukan perkataan Bi Minah. Ia terus melangkah menuju kamar Iqbal, diikuti oleh Bi Minah dari belakang yang tak berhenti meminta Tasya untuk mengembalikan nampan itu kepadanya.
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...
__ADS_1