
Drttt!
Tiba-tiba handphone milik Iqbal sekilas bergetar. Setelah Iqbal cek ternyata Managernya, Ari, mengirim pesan whatsapp padanya.
[Cepat kembali ... ada sesuatu yang ingin gue sampein ke elo.]
"Al, aku harus pulang sekarang," ucap Iqbal.
"Ya udah, pulang gih."
Iqbal tak kunjung beranjak dari tempat berdirinya. Dia memilih diam mematung, memandangi wanita kesayangannya dengan tatapan sendu.
"Ada apa?" tanya Alea.
Iqbal menggeleng. Lalu menunduk lesu. "Gak tau kenapa rasanya berat banget ninggalin suster. Padahal aku pengen ngabisin banyak waktu lagi sama suster," jawab Iqbal dengan suara lirih.
Alea sekilas tersenyum. Setelah itu kedua tangannya mulai terangkat untuk menangkup pipi Iqbal.
"Iqbal, itu kan cuma sementara. Nanti juga kamu bakal balik lagi ke Indonesia. Tapi awas aja ya, saat kamu pulang nanti jangan coba-coba nge-prank aku lagi. Aku gak suka itu." pinta Alea sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.
"Kamu tau gak sih waktu itu aku udah parno duluan. Aku kira kamu beneran gak inget sama aku, eh tau-taunya cuma prank. Bener-bener nyebelin banget tau gak." sambung Alea.
Iqbal terkekeh. Entah kenapa dia begitu suka dengan ekspresi wajah Alea yang ini. Wajah cemberut. "Ya gak papa. Kali-kali ngisengin suster lah biar ada bahan buat koleksian aku nanti." ujar Iqbal di akhiri dengan menaik-naikan kedua alisnya.
"Iqbal, kamu tuh ya ... euhh. Udah pulang sana!"
Saking kesalnya, Alea mendorong-mendorong tubuh Iqbal agar cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Namun, sekuat tenaga Iqbal menahan diri.
"Ngusir ceritanya?"
"Iya, mau buang kamu jauh-jauh." Alea kemudian berbalik badan dan hendak masuk ke dalam rumah. Namun, buru-buru Iqbal mencekal pergelangan tangan Alea.
"Al."
Mendadak Iqbal memeluk erat leher Alea dari arah belakang. Lantas hal itu membuat Alea terkejut hingga diam di tempat.
"Besok kamu harus anterin aku ke Bandara. Nanti aku WA-in waktunya. Pokoknya jangan sampe kamu gak dateng ya Al," ucap Iqbal agak sedikit berbisik di telinga Alea.
Entah kenapa hati Alea menjadi merasa sedih setelah mendengar hal itu dari mulut Iqbal. Rasa-rasanya dia tidak ingin melepaskan lelaki itu untuk pergi.
Tapi apalah buat. Iqbal harus mengejar karirnya demi membuktikan pada orang-orang yang dulu pernah menyakitinya bahwa dirinya bukanlah seorang yang lemah.
"Iya, pasti aku bakal dateng." timpal Alea disertai dengan anggukan kepala.
Perlahan Alea berbalik badan berhadapan dengan Iqbal. Terlihat lelaki itu tengah menatapnya dengan bola mata berkaca-kaca. Alea mengerti hati Iqbal saat ini sedang gundah.
Namun, Alea juga tidak boleh ikut rapuh. Dia harus tetap tegar dan menyemangati Iqbal.
"Iqbal gak boleh sedih. Pokoknya Iqbal harus selalu tersenyum. Oke?"
__ADS_1
Iqbal mengangguk. Lalu perlahan bibirnya mulai mengukir sebuah senyuman. Senyuman tulus untuk wanita kesayangannya.
"Ya udah kalau gitu kamu cepetan masuk ke dalam. Gak baik kalau lama-lama di luar!" titah Iqbal sekilas mengusap puncak kepala Alea dengan lembut.
"Kamu duluan aja, Bal!"
"Enggak, kamu aja yang duluan. Aku masih pengen di sini buat mastiin kamu bener-bener masuk ke dalam rumah."
"Yakin, mau aku duluan masuk nih?" tanya Alea sekali lagi.
"Iya, yakin. Udah cepetan masuk!"
Mau tak mau, Alea menuruti keinginan Iqbal. Padahal Alea sendiri ingin memastikan Iqbal pulang dengan selamat. Tapi ya, sudahlah.
"Kamu hati-hati di jalannya ya, Bal. Jangan ngebut pokoknya. Awas aja kalau ngebut!" peringat Alea, dan langsung dibalas anggukan kecil dari Iqbal.
Alea berjalan memasuki rumah sambil melirik-lirik ke arah belakang, lebih tepatnya pada Iqbal. Bahkan setelah berada di ambang pintu, Alea masih menatap Iqbal.
Mungkin karena besok mereka akan berpisah, makannya pandangan Alea sulit untuk dialihkan. Ya, wajah tampan yang selama ini Alea rindu-rindukan akan pergi lagi bersama sebuah kenangan sang fajar.
Terlihat dari sebrang sana pun, Iqbal tersenyum lebar memandangi wanita kesayangannya.
I Love You ....
Iqbal memberi Alea lambang cinta tersebut lewat gerakan tangan. Jujur, Alea merasa terhibur dengan hal itu. Sesegera mungkin Alea pun membalas kode dari Iqbal.
Iqbal kembali memberi Alea sebuah kode.
Mengerti. Alea perlahan mulai menutup pintu rumah seraya menunjukan senyum termanisnya. Dia tidak ingin terlihat sedih di depan lelaki itu.
Dan kini setelah pintu rumah tertutup, barulah Alea meneteskan air mata. Perasaannya sekarang benar-benar campur aduk. Alea tidak tau harus menghibur dirinya dengan cara apa.
Tring!
Handphone Alea sekilas berbunyi. Dan setelah dilihat, ternyata Iqbal mengirim pesan whatsapp padanya.
[Besok penerbangan ke Kanada-nya jam 7.00 pagi. Jangan lupa dateng ya, Al. Love You!]
Sejenak Alea memejamkan mata, membiarkan buliran air matanya mengalir. Jam 7.00 pagi, benar-benar waktu yang begitu sempit untuk pertemuan yang singkat.
Tuhan, kenapa Engkau memberikan jalan seperti ini. Apakah ini sebuah ujian? Ujian cinta?!
***
Pagi telah tiba. Menyapa penghuni bumi untuk selalu semangat dalam menjalankan aktivitas di hari yang cerah ini. Tampak Alea masih tertidur pulas di ranjang tidurnya, Padahal hari ini adalah jadwalnya untuk mengantar Iqbal ke Bandara.
"WOY AL, BANGUN!" teriak seseorang sambil membuka gorden jendela supaya cahaya matahari membangunkan sosok putri tidur.
"Udah pagi, lo masih ngorok jam segini?"
__ADS_1
Ya, siapa lagi kalau bukan Lisa. Sahabat Alea yang selalu ada untuk Alea baik suka maupun duka.
"BANGUN, ALEA!" Kali ini Lisa mengeluarkan suara oktav-nya. Membuat sang putri tidur merasa jadi terganggu.
"Berisik! Jangan ganggu gue 'napa. Gue masih pengen tidur." kesal Alea dengan suara seraknya.
"Busyet, lo tidur udah kayak kebo. Woy, ini udah jam 7. Bangun gak? Gak baik anak peraw*n tidur berlebihan!" Lisa kembali berteriak. Tak peduli suaranya berisik seperti toa atau tidak, yang penting Alea bisa bangun.
"Ngarang lo."
Lisa malah mendapat timpukan bantal dari Alea. Res* emang.
"Nona Alea Salsha Queenza yang cantik dan baik hati, ini udah jam 7 pagi. Ayo bangun, Nak." Kali ini Lisa sengaja melembutkan suaranya agar Alea terbangun.
Hah? Jam 7 pagi?!
Bola mata Alea langsung terbuka lebar setelah mendengar jam 7 pagi. Cepat-cepat ia pun mengambil handphone-nya dan memeriksa pesan dari Iqbal.
Tampak layar handphone Alea menampilkan 50 panggilan tak terjawab, 50 panggilan whatsaap tak terjawab dan 100 spam chat dari Iqbal yang tak terbalas dengan isi yang berbeda-beda.
"Mati gue!"
Tubuh Alea langsung merasa lemas setelah melihat kekacauan yang terjadi di pagi hari. Bahkan sekarang waktu menunjukan pukul 7.05 pagi.
"Lo masih hidup, belum mati. Cepetan bangun!" seru Lisa sambil membantu Alea membereskan bantal-bantal yang berserakan di lantai.
"Gue harus ke Bandara sekarang. Siapa tau aja belum terlambat." final Alea dan berlari menuju lemari untuk mengambil beberapa lembar uang.
"Lah, lo mau kemana?" tanya Lisa merasa heran.
"Mau ke Bandara," jawab Alea.
Sontak Lisa terkejut. "Hah? Ke Bandara? Mau ngapain? Eh, Ya ...."
Alea langsung berlari keluar kamar dengan keadaan yang benar-benar kurang menarik.
"Busyet, tuh anak malu-maluin gue banget. Masa ke Bandara pakek baju tidur, terus gak dandan lagi. Parahnya malah gak cuci muka. Hadehh, Alea-Alea."
Akhirnya Lisa memutuskan untuk menyusul Alea terlebih dahulu. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di Bandara.
• Bersambung •
Halo Semua 🤗
Maafkan author dimana belakangan ini jarang update. Alasan utamanya ya karena author sibuk kerja, jadi kadang gak sempet luangin waktu buat nulis.
Tapi insyaAllah author usahakan buat next secepatnya. Do'akan author supaya tetap semangat menghibur kalian lewat karya author. 🤗❤🙏
Sayang kalian semua! ❤
__ADS_1