Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Iqbal Bukan Cowok Bodoh


__ADS_3

...***...


Di sisi lain, Lisa sedang menyodorkan beberapa lembaran uang pada tukang gojek. Saat ini ia berada di depan restoran karena mengikuti jejak kepergian Alea dan Adit.


Meski sebelumnya sempat tertinggal jauh, namun untungnya Lisa hafal mengenai jalan kemana Adit membawa Alea pergi dinner.


"Untung aja gue tau nih alamat restoran," ucap Lisa seraya memandangi restoran Cloud Lounge & Dining.


"Tapi ngomong-ngomong Alea masih di dalam gak ya?" pikir Lisa.


Tanpa berpikir panjang lagi, Lisa memutuskan untuk masuk ke dalam. Namun, belum sempat ia melangkah, ia terlebih dulu melihat sosok Alea yang tiba-tiba keluar dari restoran sambil menangis.


"Yahhh ... yahhh ... itu Alea kenapa nangis? Wah, gak salah lagi ini mah. Pasti gara-gara si Adit. Dasar bener-bener tuh cowok."


Kini Lisa memilih untuk mengikuti kemana Alea pergi. Namun, Alea terlebih dulu menaiki taksi saat Lisa ingin mengejarnya dan meneriaki namanya.


"Yaelahh, keburu naik taksi lagi. Gue harus susulin Alea."


***


Alea sudah sampai di rumahnya. Tak lupa ia mengucapkan salam saat melangkah masuk ke dalam. Tampak ibu dan neneknya sedang menonton televisi, Alea pun segera memberikan senyuman pada mereka meski suasana hati berbeda.


"Alea, kamu baru pulang, Nak?"


"Iya, Nek."


Ibu Alea bergegas menghampiri putrinya setelah melihat kedua bola mata putrinya merah seperti habis menangis. "Kamu kenapa, Alea? Kok kayak habis nangis? Kamu nggak papa kan?"


Alea menggeleng sambil menunjukkan senyum palsunya. "Enggak papa, Bu. Alea baik-baik aja. Tadi Alea cuman kelilipan doang." Alea terpaksa bohong karena ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.


"Ya sudah, kalau gitu kamu pergi istirahat ya!" seru sang Ibu seraya membelai lembut rambut Alea.


Alea mengangguk, ia pun segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Setelah tiba di kamar, Alea langsung mengunci pintu dari dalam. Lalu ia hempaskan tubuhnya di atas ranjang tidur dan meluapkan segala kesedihannya dengan memeluk boneka beruang yang sempat ia beli untuk Iqbal.


"Kenapa harus seperti ini, sih? Kenapa? Kenapa Adit tega khianatin gue?" Alea memukul-mukul sprey kasur dengan penuh emosi.


"Apa salah gue, sampai-sampai seperti ini balasannya ke gue?" lirih Alea dengan tangisnya yang semakin pecah.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Alea, ini gue. Bukain pintunya dong, gue pengen masuk ngehibur lo."


Alea mendengar suara Lisa dari luar. Namun, Alea tidak menggubrisnya. Saat ini ia hanya ingin sendiri tanpa ada siapapun.


"Mungkin Alea lagi tidur. Kamu pulang aja, nak."


"Tapi, Tante--"


"Lisa, ini sudah malam. Lebih baik kamu pulang aja ya."


"Ya sudah, Tante. Lisa akan pulang sekarang."


Begitulah pembicaraan antara Ibunya dan Lisa yang sempat Alea dengar.


Alea mengerti Lisa ingin menghiburnya, tapi untuk malam ini Alea benar-benar tidak ingin bicara dengan siapapun.


***


Pagi telah tiba. Terasa setetes embun pagi sangat menyejukan hati. Suara kicauan burung mulai terdengar riang di telinga. Hampir semua penduduk di berbagai pelosok kota akan melakukan aktivitas positif di pagi hari.


Namun, cerahnya pagi ini tak secerah suasana hati Alea. Kejadian buruk kemarin masih terlintas di pikirannya hingga menjadi beban dalam hatinya.


Meski begitu, Alea berusaha untuk melupakan segalanya yang bersangkut paut dengan Adit. Ia tidak ingin mengingat lagi lelaki yang sudah menyakiti hatinya.


Alea harus bangkit dari rasa sedihnya itu. Lagi pula masih banyak laki-laki di luar sana yang jauh lebih baik dari Adit.


Tapi mungkin untuk saat ini Alea tidak ingin menjalin hubungan asmara lagi dengan lelaki. Ia masih trauma. Ia takut diberi harapan palsu lagi oleh si cowok.


Lebih baik Alea bersabar menunggu seseorang yang tepat untuknya. Seseorang yang berjanji akan membahagiakannya, bukan mengkhianatinya.


"Ibu ...," panggil Alea saat tiba di ruang tengah.


Tak lama kemudian, sang Ibu datang menghampiri putrinya. Ia tersenyum melihat Alea sudah berpenampilan rapi sambil membawa boneka beruang yang cukup besar.


"Eh, pagi-pagi gini putri ibu sudah rapi. Pasti kamu mau ke rumahnya Nyonya Indah, ya?" tanya Ibu Alea menebak.

__ADS_1


Alea mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bu. Hari ini Alea harus bekerja lagi sebagai susternya anak tante Indah. Sekalian Alea bawa boneka ini untuk Iqbal karena Alea sudah berjanji akan membawakan boneka beruang untuknya," jawab Alea.


"Ya sudah, pergilah, Nak. Jika ada apa-apa, hubungi ibu."


Alea mengangguk, kemudian ia bergegas memeluk Ibunya sebelum pergi berangkat.


***


Tingnong


Alea langsung menekan bel rumah Ny. Indah setelah tiba di sana. Namun, si pemilik rumah belum juga membukanya. Hal itu membuat Alea merasa heran.


Alea pun kembali menekan bel. Namun, hasilnya tetap nihil. Sudah berulang kali ia tekan belnya, tapi belum juga ada yang membukanya. Apa Ny. Indah sedang ada urusan?


Tak punya pilihan, akhirnya Alea akan menghubungi Ny. Indah. Ia pun mengambil handphone dari dalam tas selempangnya, kemudian Alea menyalakan layar HP.


Tring


Sebuah pesan whatsapp muncul di handphone Alea. Setelah dilihat, ternyata dari Ny. Indah. Alea segerea membuka isi pesan tersebut.


[Nak Alea, jika kamu sudah sampai di rumah tante, kamu tinggal masuk aja ya. Gerbangnya tidak dikunci, kok. Kebetulan saat ini tante lagi ada di taman rumah bersama Iqbal. Kalau tante pergi membuka gerbangnya, tante khawatir Iqbal akan kabur lagi.]


Setelah mendapat kepastian dari Ny. Indah sendiri, Alea perlahan membuka gerbang rumah, lalu melangkah masuk ke dalam.


Saat tiba di taman, Alea melihat Ny. Indah tengah duduk bersama Iqbal. Kala itu Iqbal sedang fokus menggambar. Mungkin Iqbal butuh refreshing, makannya Ny. Indah membawanya ke taman.


Belum sempat Alea ingin menyapa Ny. Indah, Ny. Indah terlebih dulu memandanginya. Menyadari akan kehadiran Alea, Ny. Indah langsung menghampirinya.


"Alea, bagaimana kabarmu?" tanya Ny. Indah seraya memegang pipi Alea.


"Alhamdulillah baik, tante," jawab Alea dengan tersenyum.


Dahi Ny. Indah mulai berkerut setelah melihat bengkak pada kedua bola mata Alea.


"Mata kamu kenapa? Kamu habis nangis, ya? Kalau kamu lagi ada masalah, cerita aja sama tante. Siapa tau aja tante bisa bantu kamu," ujar Ny. Indah dengan nada lembut.


Alea terdiam. Ini bukan masalah keluarga ataupun yang lain. Tapi ini adalah masalah hati. Hati yang terluka mencoba untuk bahagia. Hati yang rapuh mencoba untuk dikokohkan kembali.


Mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan hatinya yang terluka. Alea sendiri juga tidak tau kapan hatinya akan kembali ceria.


Sekilas Alea menggeleng. "Tidak ada, tante. Hanya saja semalam Alea kurang tidung, makannya mata Alea bengkak," timpal Alea.


Alea mengangguk sambil menunjukan senyum palsunya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan Ny. Indah, terutama Iqbal.


"Ya sudah, kalau gitu kamu temani Iqbal, ya. Tante mau ke dapur dulu," ucap Ny. Indah, yang dibalas anggukan kepala dari Alea.


Ny. Indah bergegas pergi meninggalkan area taman rumah. Sementara Alea, ia masih berdiri memandangi Iqbal yang terlihat sangat sibuk dengan gambarnya.


Bibir Alea seketika tersenyum lepas. Entah kenapa dengan memandangi sosok Iqbal, hati Alea sedikit lebih tenang.


Alea merasa Iqbal mempunyai daya tarik sendiri, yang mungkin di mata orang-orang Iqbal adalah orang gila. Tapi di mata Alea, Iqbal tetaplah Iqbal yang memiliki keistimewaan tersendiri.


Tersadar dirinya terus melamun, Alea pun segera menghampiri Iqbal. Kemudian ia merebut buku gambar yang ada di tangan lelaki itu.


Iqbal yang sedang asik menggambar, lalu tiba-tiba bukunya direbut oleh seseorang, seketika langsung memasang ekspresi wajah marah.


Awalnya Iqbal ingin membentak Alea. Namun, setelah melihat ada sebuah boneka beruang ditunjukan di depan wajahnya, kemarahan Iqbal langsung mereda.


"Yeayyy ... ada big baby bear," ucap Iqbal antusias. Dengan gerak cepat, Iqbal mengambil boneka tersebut, lalu dipeluknya sangat erat.


Alea yang melihat hal itu hanya tersenyum. Kemudian ia memilih duduk di samping Iqbal.


"Makasih suster sudah nepatin janjinya," ucap Iqbal yang kini beralih memandangi Alea.


"Iya, sama-sama, Iqbal," balas Alea dengan senyuman.


Iqbal meraih boneka beruang kecil yang ada di samping Alea. Setelah itu, ia sandingkan dengan boneka beruang besar yang ada di tangan satunya lagi.


Kini Iqbal mulai berdialog dengan suara anak kecil sambil memainkan kedua boneka beruang tersebut.


"Hello, nama aku big baby bear."


"Hello juga, nama aku baby bear. Salam kenal, ya."


"Salam kenal juga. Apa kamu mau main sama aku?"


"Hmm, gimana, ya?"

__ADS_1


Alea terkekeh melihat cara Iqbal memerankan dua boneka beruang sekaligus. Sangat lucu dan menarik. Begitulah pendapat yang tersirat dalam hati Alea.


Meski permainan Iqbal seperti anak kecil, namun, hal itu sangat menghibur hati Alea yang tengah dilanda kegundahan.


Lalu, di tengah-tengah suasana, wajah Alea kembali murung. Ia sempat mendengar ada kata pengkhianatan dari mulut Iqbal saat lelaki itu bermain dengan dua boneka beruang.


"Tuan Iqbal jahat. Kenapa tuan Iqbal malah memilih teman yang baru daripada aku?"


"Maafin Iqbal. Tapi Iqbal memilih big baby bear, karena big baby bear lebih bagus daripada kamu."


"Tuan Iqbal berkhianat. Katanya tuan Iqbal berjanji akan setia sama baby bear. Tapi nyatanya tuan Iqbal ...."


Iqbal kemudian meniru tangisan seorang anak kecil. Sedangkan Alea diam di tempat sambil menatap lurus boneka beruang yang tengah dipegang oleh Iqbal.


Cara Iqbal memerankan pengkhianatan di antara boneka beruang, membuat Alea teringat akan Adit kembali. Apa yang diperankan Iqbal tadi hampir sama dengan apa yang pernah ia alami.


Diibaratkan peran Iqbal di sini sebagai Adit, baby bear sebagai Alea, dan big baby bear sebagai tunangan Adit.


Alea tau Iqbal hanya asal bicara mengenai perannya tadi. Tapi bagaimanapun juga hal itu membuat Alea jadi flashback akan kejadian kemarin hingga membuatnya kembali bersedih.


"Suster, kenapa? Apa suster ada masalah?" tanya Iqbal, ketika menyadari raut kesedihan terpancar di wajah Alea.


Alea sekilas menggeleng. "Tidak ada, Iqbal. Suster baik-baik saja, lebih baik kamu lanjutkan permainannya," ujar Alea sambil menunjukan senyum palsunya.


"Permainan sudah berakhir, suster. Sekarang Iqbal pengen tau suster kenapa," sahut Iqbal dengan meletakkan dua boneka beruang di bawah bangku.


"Suster gak kenapa-napa, Iqbal." Alea mencoba meyakinkan Iqbal.


"Suster jangan bohong. Terus kenapa mata suster berair? Suster mau nangis, kan?"


Alea menggeleng, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di depan Iqbal.


"Suster jangan nangis, ya. Kalau suster nangis, nanti Iqbal bakal ikutan sedih. Tapi ... boong." Di akhir kalimat, Iqbal meledeki Alea.


Namun, Alea tidak mempermasalahkan hal itu. Alea tau mental Iqbal saat ini masih terganggu, jadi mungkin sulit untuknya memahami kenapa orang bisa sedih.


Sementara Iqbal, ia bangkit dari tempat duduknya dan meloncat-loncat kegirangan di tengah-tengah taman. Bersamaan dengan itu, air mata Alea mulai menetes membasahi pipi. Ia tak kuasa lagi untuk menahannya.


'Andai saja Iqbal enggak sakit, mungkin dia akan bisa memahami kesedihanku dan berusaha untuk menghiburku. Tapi rasanya itu tidak mungkin.'


Sekilas Alea memejamkan matanya, merasakan buliran air matanya terus berjatuhan.


'Alea, kamu cewek kuat. Kamu gak boleh cengeng.'


Alea perlahan membuka matanya kembali. Sontak ia terkejut melihat Iqbal berjongkok di hadapannya dengan tangan yang terulur di bawah dagunya.


Apa mungkin tangan Iqbal sedang menahan air mata Alea yang terus berjatuhan.


"Iqbal, kamu ...." Alea tidak tau apa yang harus dikatakan setelah melihat kejadian mengejutkan ini.


"Kata mama, kalau ada orang terlihat meneteskan air mata, itu tandanya mereka sedang sedih. Tapi kenapa Iqbal gak bisa memahami kesedihan orang itu. Apa Iqbal terlalu bodoh?" tanya Iqbal dengan menatap sendu wajah Alea.


Alea menggeleng. "Enggak, Iqbal gak bodoh. Iqbal--"


"Iqbal memang bodoh ... Iqbal bodoh ...," potong Iqbal dengan beralih memukul kepalanya berulang kali.


Alea menggelengkan kepala. Sesegera mungkin ia harus menenangkan Iqbal yang terlihat terus menerus mengumpat dirinya sendiri.


Kini Alea melingkarkan kedua tangannya di leher Iqbal untuk memeluk lelaki itu.


"Iqbal, tenang ya. Jangan bilang seperti itu. Iqbal gak bodoh, justru Iqbal laki-laki yang pintar," ucap Alea dengan memberanikan diri membelai lembut rambut lelaki itu.


"Iqbal, bodoh ...." Iqbal tak henti-hentinya mengumpat dirinya sendiri. Meski begitu, Alea berusaha untuk menenangkan Iqbal.


"Sttt ... Iqbal, jangan bilang seperti itu. Iqbal laki-laki yang pintar, bukan bodoh."


Selang beberapa detik, Iqbal mulai berhenti mengumpat. Hal itu membuat Alea menghela napas lega. Bahkan kini Alea merasakan tangan Iqbal perlahan melingkari pinggangnya.


Alea yakin sekarang Iqbal sudah lebih tenang, buktinya Iqbal begitu erat memeluk pinggangnya.


Di sisi lain, Ny. Indah berdiri di balik tembok seraya tersenyum haru melihat kedekatan Iqbal dengan Alea. Ny. Indah tak menyangka dalam waktu singkat Alea mampu meluluhkan hati Iqbal.


Ny. Indah berharap Alea tidak akan pernah meninggalkan Iqbal. Ia juga berharap agar Tuhan tidak sampai memisahkan mereka.


...***...


...TBC .......

__ADS_1


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...


__ADS_2