
...***...
Benar saja, ketika Alea mengedarkan pandangan ke segala arah, ia langsung melihat sosok yang sudah tidak asing lagi sedang berjalan menuju tempat sembako dengan gaya yang sangat keren dan penuh karismatik.
"Iqbal," lirih Alea.
Alea sejenak diam mematung. Lalu tanpa sadar kedua bola matanya mulai berkaca-kaca saat memandangi Iqbal dari kejauhan.
Entah apa yang diinginkan takdir. Di saat Alea ingin menjauhi Iqbal, lelaki itu justru malah ada di dekatnya. Hal inilah yang membuat hati Alea goyah dan membuat pertahanannya runtuh.
Dari kejauhan, Alea bisa melihat raut wajah Iqbal menunjukkan kebahagiaan. Namun, berbeda dengan dirinya, ia merasa tidak bahagia. Hatinya tersiksa setiap kali melihat sosok Iqbal.
Dan tanpa Alea sadari, Iqbal memandanginya dari kejauhan. Iqbal baru menyadari kalau ia bertemu lagi dengan seorang gadis yang ia temui di bandara. Iqbal heran, kenapa gadis itu menangis lagi. Bahkan gadis itu menangis sambil menatap ke arahnya.
Sebenarnya apa salahnya?
Karena bingung, akhirnya Iqbal memilih menghibur gadis yang ada di sebrangnya itu menggunakan kode.
Perlahan Iqbal mengusap pipinya dengan jari telunjuk, meminta Alea untuk segera menghapus air matanya. Setelah itu, bibir Iqbal membentuk sebuah senyuman, meminta Alea untuk tersenyum.
Alea yang menyadari akan kode dari Iqbal, langsung memalingkan wajah ke arah lain. Tanpa Iqbal pinta pun, Alea bisa menghapus air mataya sendiri.
Alea, lo harus kuat. Lo gak boleh lemah kayak gini, batinnya, berusaha menyemangati diri agar tidak merasa rapuh di depan Iqbal.
Tak ingin berlama-lama di sana, Alea langsung memilih kembali sayuran yang harus dia beli, lalu menyerahkannya pada penjual untuk dihitung. "Bu, tolong agak dipercepat ya!" pinta Alea pada penjual, sesekali ia melirik ke arah Iqbal yang tengah menatapnya saat itu.
"Hishh." Alea merasa terganggu dengan tatapan yang Iqbal tujukan padanya.
Sedangkan yang memandang hanya bersikap santai. Melipat kedua tangan di depan dada sambil tertawa kecil. Entah kenapa baginya sangat menyenangkan menggoda gadis asing yang ada di sebrangnya saat itu.
"Ini, Neng." Penjual sayur langsung memberikan kantong yang berisi berbagai macam sayuran kepada Alea. Dengan cepat, Alea mengambilnya, kemudian membayar.
"Makasih ya, Bu," ucap Alea, lalu direspon senyuman dari penjual.
Tanpa ingin berpikir panjang lagi, Alea langsung bergegas pergi. Meninggalkan Iqbal yang masih sempat-sempatnya terkekeh meskipun ia sudah menghilang dari pandangan Iqbal.
***
Kini Alea berada di dekat toilet umum sambil mondar mandir memikirkan kejadian tadi. Kejadian di mana Iqbal memandanginya sangat lama dan sukses membuat perasaannya jadi tak menentu.
"Kenapa gue jadi kepikiran Iqbal, ya?" batin Alea, merasa heran. Padahal saat di rumah, ia sudah memutuskan untuk tidak mengingat lagi hal-hal yang bersangkutan dengan Iqbal. Tapi kenyataannya sekarang, Alea merasa seperti belum bisa move on dari Iqbal.
"Fix sih ini, gue belum bisa move on dari Iqbal. Tapi 'kan gue harus berusaha. Orang Iqbal-nya aja gak inget gue, jadi buat apa gue inget dia," ucap Alea setelah dipikir-pikir kembali.
Lama-lama Alea bisa frustasi jika terus memikirkan Iqbal. Tak ingin hal itu terjadi, akhirnya ia memilih untuk pergi mencari Lisa yang sampai sekarang belum kembali.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba saja Alea berpapasan dengan orang yang tidak ingin ia lihat. Siapa lagi kalau bukan Iqbal. Kala itu Iqbal hendak ingin ke toilet umum. Namun, saat ia bertemu dengan Alea, niat untuk ke toilet ia diurungkan.
"Kamu," ucap Alea, menatap Iqbal cukup sinis.
__ADS_1
"Lohh, kamu cewek yang nangis itu 'kan?" tebak Iqbal.
"Bukan," ketus Alea tanpa memandang ke arah Iqbal.
Melihat hal itu, Iqbal hanya tertawa kecil. Kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku heran sama kamu. Kenapa kamu selalu nangis kalau ngeliat aku?" tanya Iqbal.
"Geer banget sih. Siapa juga yang nangis. Malah aku sebel liat wajah kamu. Ya meskipun kamu itu artis, tapi tetep aja sebel liatnya," jawab Alea dengan memasang wajah sinis.
"Hmm, ternyata ada juga ya orang yang sebel liat wajah Iqbal Riandra Keanny," ujar Iqbal, sesekali tertawa kecil.
"Ya ada lah. Emangnya di dunia ini harus ngefans sama kamu gitu."
Iqbal kembali terkekeh. Pasalnya tingkah gadis yang ada di hadapannya saat ini sangat lucu. Ya walaupun terlihat galak, tapi bagi Iqbal, itu terlihat menggemaskan.
"Oya, kamu ke sini sama siapa?" Iqbal mengalihkan pada topik lain.
"Kepo," jawab Alea singkat.
"Sama pacar ya, Mbak? Eh tapi ... emangnya Mbak punya pacar? Kalau dilihat dari sifat Mbak sih kayaknya nggak punya deh," ujar Iqbal setengah meledek.
Alea melototkan matanya. Ia tau sifat apa yang dimaksud oleh Iqbal. Galak. Padahal Alea hanya galak di depan Iqbal saja.
"Sembarangan kalau ngomong. Aku punya pacar kok," ucap Alea, terpaksa bohong karena tidak ingin diledek lagi oleh Iqbal.
"Serius?"
Alea mengangguk tanpa ragu. "Serius. Kebetulan aku ke sini bareng pacar." Alea kembali berkata bohong.
Alea terdiam seraya memandangi Iqbal dengan sendu. Kata 'pacar' sukses membuatnya jadi teringat akan masa-masa saat di Klub, di mana ia pernah menyebut Iqbal sebagai pacarnya. Waktu itu Alea lakukan supaya Iqbal tidak disakiti oleh orang-orang.
Dan seiring berjalannya waktu, Alea perlahan-lahan mulai menyukai Iqbal, sampai-sampai Alea berharap suatu saat nanti ia bisa menjadi pacar sungguhannya Iqbal Riandra Keanny.
Tapi nyatanya harapan Alea sia-sia saja. Iqbal tak lagi mengingatnya. Hal itu yang membuat hati Alea merasa sakit dan perih.
"Loh kok Mbak-nya malah natap aku? Jangan bilang aku ini pacarnya Mbak lagi," ujar Iqbal, ketika menyadari kalau sedari tadi Alea terus menatapnya.
Lantas Alea tersadar. Cepat-cepat ia menyangkal perkataan Iqbal. "Jangan geer deh. Siapa bilang anda pacar saya. Sorry ya, pacar saya itu ...."
Alea menggantung ucapannya. Mendadak saja ia bingung harus berkata apa pada Iqbal mengenai pacar tidak nyata. Tapi bagaimanapun juga Alea tidak ingin terlihat jomblo di depan Iqbal.
"Pacar saya apa?" tanya Iqbal penasaran.
"Pacar saya itu ...." Alea semakin bingung harus memberikan jawaban apa pada Iqbal. Lalu tak lama kemudian, Alea melihat ada seorang lelaki yang baru saja keluar dari toilet umum.
Pas sekali. Lelaki itu bisa Alea jadikan sebagai pacar palsunya untuk melakukan sandiwara di depan Iqbal.
Lantas Alea tersenyum saat lelaki itu melintasinya dengan senyum simpul. Tanpa berpikir panjang lagi, Alea langsung menarik tangan lelaki itu lalu menggandengnya cukup erat.
"Pacar aku itu tadi lagi di toilet. Iya 'kan, Sayang?" Alea mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Sedangkan yang dipandang hanya memasang raut wajah kebingungan. Cepat-cepat Alea pun mengode lelaki itu dengan kedipan mata agar dia mengiyakan perkataannya.
"Ohh, i--iya," sahut lelaki itu seraya tersenyum.
Di samping itu, Iqbal hanya diam. Ia diam karena sedang memandang lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan lelaki itu yang bisa dibilang seperti cowok cupu membuat Iqbal merasa ragu kalau dia adalah pacar Alea.
"Dia, pacar kamu?" Iqbal menunjuk ke arah lelaki yang ada di samping Alea. Lelaki yang berambut gondrong, berkacamata, berjerawat, dan berwajah kusam.
"Iya. Memangnya kenapa? Dia ganteng kok, baik lagi. Makannya aku pilih dia sebagai pacar aku," timpal Alea seraya mempererat gandengannya dengan lelaki itu.
Sekilas Iqbal terkekeh. "Ck. Ternyata selera kamu bagus juga ya."
"Ya iyalah. Selera aku itu gak main-main," ucap Alea agak ketus.
"Oke, oke. Tapi kalau dilihat-lihat, wajah dia agak mirip loh sama---"
Alea memotong perkataan Iqbal. "Sama siapa? Udah deh, jangan sama-samain wajah pacar aku sama yang lain," ketus Alea seraya mengerucutkan bibir.
"Oke. Sorry, ya, aku gak bermaksud apa-apa. Kalau gitu, selamat." Iqbal kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Alea.
Alea terdiam. Agak ragu baginya membalas uluran tangan Iqbal. Karena uluran tangan itu memberinya ucapan selamat, bukan memberi ucapan pertemuan setelah lama berpisah.
Sejenak Alea memandang ke arah lain untuk menyembunyikan kesedihannya. Ya, Alea tidak boleh menangis di depan Iqbal. Ia harus terlihat bahagia, walau hatinya masih merasakan sakit.
"Thanks." Satu detik sudah cukup bagi Alea membalas uluran tangan Iqbal.
"Kalau gitu, aku pergi dulu," ucap Iqbal, di akhiri dengan tersenyum dan mengedipkan mata sekali.
Alea yang melihat hal itu jadi salah tingkah. Bisa-bisanya saat ingin pergi, Iqbal malah menggodanya.
Huh, dasar cowok nyebelin! umpat Alea dalam hatinya.
Kini Iqbal telah pergi. Menyisakan Alea dan lelaki asing.
"Ekhem." Lelaki itu berdehem. Membuat Alea tersadar dan segera melepaskan gandengan tangan dengan lelaki itu.
"Sorry ya, tadi aku narik tangan kamu tanpa izin. Habisnya aku gak punya pilihan karena harus bersandiwara di depan Iqbal supaya dia percaya kalau aku punya pacar sungguhan," ucap Alea seraya tersenyum ramah kepada lelaki itu sebagai ungkapan terimakasih.
"Nggak papa. Nggak masalah kok. Aku ikhlas bantuin kamu."
"Sekali lagi makasih ya. Dan maaf juga jika ucapanku tadi membuatmu nggak nyaman," ujar Alea, yang kemudian direspon senyuman ramah dari lelaki itu.
"Santai aja."
"Kalau gitu, aku pergi dulu. Buru-buru mau nyari temen."
Lelaki itu hanya menjawab dengan anggukan. Sementara Alea, mulai bergegas pergi sambil membawa belanjaannya.
***
__ADS_1
• Bersambung •