
...***...
Setelah cukup lama menemani Iqbal menggambar di taman rumah, kini Alea mengajak lelaki itu untuk melakukan sesuatu di ruangan kosong.
"Suster mau ajak Iqbal ke mana?" tanya Iqbal ketika tangannya terus ditarik oleh Alea.
"Udah, Iqbal diam aja."
Iqbal merasa heran kenapa Alea membawanya ke ruangan kosong. Apa yang akan ia lakukan di sana? Diam seperti patung? Ayolah, bagi Iqbal, bermain di taman lebih menyenangkan daripada diam di ruangan kosong.
"Nah, Iqbal. Hari ini kita akan melakukan olahraga senam, mumpung masih pagi," tutur Alea dengan penuh semangat.
Beda halnya dengan Iqbal, ia ternganga karena tiba-tiba saja Alea mengajaknya senam.
"Kok senam, sih, Sus? Enggak ah, Iqbal gak mau. Iqbal gak suka senam," tolak Iqbal secara to the point.
"Hey, kali ini jangan tolak untuk melakukan senam. Suster lakuin ini supaya kamu semakin sehat. Ayo, jangan males!" seru Alea seraya menarik Iqbal untuk berdiri tegap.
"Suster, sudah Iqbal bilang ... Iqbal gak mau. Iqbal gak mau olahraga," sahut Iqbal agak merengek.
Alea menghela napas kasar. Sungguh, butuh kesabaran extra saat menghadapi seorang Iqbal yang selalu menolak ini itu ketika disuruh, padahal Alea lakuin ini demi kesembuhan Iqbal.
"Iqbal, untuk yang ini jangan nolak, okey. Sekarang ganti jaketmu dengan kaos," titah Alea seraya menyodorkan kaos putih yang sempat ia ambil di kamar Iqbal.
Iqbal menggeleng seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Enggak mau dan enggak akan mau."
"Ya sudah, kalau Iqbal gak mau, berarti big baby bear yang tadi pagi suster kasih ke Iqbal akan suster ambil kembali," ancam Alea dengan santainya.
Mendengar hal itu, Iqbal langsung merebut kaos yang ada di tangan Alea. Tentu saja Alea cekikikan. Ternyata cara agar Iqbal bisa menurut adalah dengan mengancamnya.
"Baiklah, Iqbal akan ganti baju sekarang juga," sahut Iqbal.
Alea tersenyum. Ia segera keluar ruangan untuk mengambil speaker music box yang sempat ia bawa dari rumah. Tak lupa saat keluar, Alea mengunci pintu ruangan. Khawatir Iqbal akan kabur diam-diam.
Setelah mengambil speaker music box, Alea kembali memasuki ruangan dan mendapati Iqbal sedang memainkan kuku-kukunya. Tanpa berpikir panjang, Alea berjalan menghampiri Iqbal.
"Iqbal, sekarang saatnya kita lakukan senam. Nanti Iqbal ikuti gerakan suster, oke," peringat Alea, yang dibalas anggukan kecil dari Iqbal.
__ADS_1
Alea meletakan music box di sudut ruangan, kemudian ia menyalakan musik yang cukup ringan untuk melakukan pemanasan terlebih dulu. Setelah itu, Alea berdiri di depan Iqbal untuk memimpin senam.
"Iqbal, lakukan seperti ini." Alea merentangkan kedua tangannya ke samping. Lalu ia sedikit menoleh ke belakang, ternyata Iqbal mengikuti gerakannya.
Alea beralih melakukan gerakan selanjutnya yakni kepala dimiringkan ke kiri serta ke kanan secara bergantian. Setelah ia lihat, Iqbal masih mengikuti gerakannya.
Sungguh, Alea sangat lega. Ia kira Iqbal tidak akan serius ketika dirinya mempraktikan gerakan senam pada Iqbal untuk diikuti. Tapi ternyata perkiraannya salah.
Sepanjang Alea melakukan gerakan senam, Iqbal tetap mengikutinya dengan cukup serius. Meski terlihat kaku, tapi Alea memaklumi karena mungkin Iqbal baru mempelajarinya.
Namun, di sini poin penting yang akan sering Alea tinjau adalah keseriusan dalam bertindak. Sebab jika Iqbal perlahan-lahan bisa berlaku serius, maka ada kemungkinan Iqbal akan bisa sembuh dengan cepat.
"Nih, minum dulu!" Alea menyodorkan segelas air putih pada Iqbal.
Iqbal mengambilnya, kemudian langsung meneguk air putih itu sampai habis. Sementara Alea, bergegas untuk mematikan speaker music box. Namun, Iqbal menahannya.
"Eh, Sus, Iqbal pengen pinjem benda yang ada di tangan suster. Iqbal pengen dengerin musik yang lain," pinta Iqbal.
Alea menuruti. Ia langsung memberikan music box tersebut pada Iqbal. Tampak Iqbal antusias ketika memegang music box, Alea yakin Iqbal sangat suka mendengarkan musik.
"Ada apa, Iqbal? Kok keliatan seneng gitu? Kamu suka sama lagu disney, ya?" tanya Alea memastikan.
Iqbal mengangguk mantap. "Iya, Iqbal sangat suka. Dulu Iqbal pernah melakukan dansa bersama mama. Kata mama, dansa itu menyenangkan. Makannya Iqbal coba dan akhirnya Iqbal sedikit-sedikit bisa dansa, itupun berkat ajaran mama," ungkap Iqbal.
Alea hanya tersenyum sepanjang Iqbal bercerita. Entah kenapa otaknya jadi travelling setelah mendengarkan kata dansa. Alea sempat mengkhayal kalau Iqbal sembuh, pasti Iqbal akan romantis padanya dan mengajaknya berdansa.
"Suster," panggil Iqbal, yang membuat Alea tersadar dari lamunannya.
"Hmm?"
"Kan dulu Iqbal pernah dansa sama mama, nah, sekarang Iqbal pengen dansa sama suster," ucap Iqbal seraya menatap Alea dengan tatapan penuh arti.
Alea terkejut di tempat. Kenapa khayalannya jadi nyata?
"Suster gak boleh nolak ya, kalau suster nolak, Iqbal bakalan marah sama suster. Pokoknya suster harus dansa sama Iqbal," kukuh Iqbal.
Mendadak Alea jadi gugup, padahal ia baru diajak, belum melakukan sama sekali. Tapi, ya ... namanya juga jantung Alea, tidak bisa diajak kompromi kalau situasinya sudah seperti ini.
__ADS_1
"Tapi, Iqbal--"
"Ayo, suster, sebelum lagunya habis," potong Iqbal, langsung menarik tangan Alea menuju ke tengah-tengah.
Alea hanya bisa menurut. Sebenarnya ia tidak mau melakukan dansa, tapi demi membuat Iqbal senang, Alea akan melakukannya bersama Iqbal meski mungkin nanti dansanya akan terlihat kaku.
Kini Iqbal dan Alea berdiri saling berhadapan. Lantas Alea langsung menunduk, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya itu. Alea tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Oke suster, kita mulai dansanya!" seru Iqbal, dibalas anggukan ragu dari Alea.
Iqbal mulai menempatkan tangan kanannya di pinggang kiri Alea, sedangkan tangan kirinya bergegeas menggenggam lembut tangan kanan milik Alea.
Sementara Alea, lengan kirinya yang mulai gemetaran bergegas untuk ditempatkan di bahu Iqbal.
Kini Iqbal dan Alea mulai melakukan gerakan dansa yang mudah dan ringan, tentunya dengan mengikuti setiap ketukan musik.
"Selain gerakan, apa yang mama ajarkan ke Iqbal mengenai dansa?" tanya Alea.
Iqbal tampak mulai berpikir. "Hmm, mungkin mengobrol santai agar pengalaman dansanya lebih nyaman dan menyenangkan. Oya, mama dan Iqbal juga pernah melakukan ini."
Iqbal mulai mencontohkannya bersama Alea. Sontak Alea terkejut ketika Iqbal mendekatkan wajah padanya, lalu Iqbal menyatukan batang hidung mancung miliknya dengan batang hidung milik Alea.
Otomatis kegugupan Alea bertambah extra. Bahkan, Alea merasakan jantungnya berdetak lebih sangat cepat dari dalam sana. Pasalnya jarak wajah di antara mereka bukan dekat lagi, melainkan sangat-sangat dekat.
'Astaga, kayaknya gue salah nanya, nih.' batin Alea merasa menyesal karena telah bertanya hal itu pada Iqbal, akibatnya Iqbal mencontohkan apa yang diajarkan Ny. Indah dengannya.
Meski begitu, Alea bisa merasakan napas Iqbal dari jarak sedekat ini.
"Tapi, sus, kata mama jika suatu saat Iqbal berdansa dengan pasangan, Iqbal harus menciumnya."
Astaga, cobaan apa lagi ini? Menciumnya? Oh ayolah, yang benar saja. Jika Iqbal sampai mencium bagian bibirnya, maka first kiss yang sudah susah payah Alea jaga akan lenyap begitu saja.
'Tidak ... itu gak boleh terjadi." Begitulah teriakan Alea dalam hati.
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...
__ADS_1