Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kasihan


__ADS_3

...***...


Alea berhenti mundur. Entah kenapa kakinya sulit untuk digerakkan ketika Iqbal melangkah mendekatinya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Alea, memandangi Iqbal yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.


Iqbal sekilas tersenyum lebar. "Mendingan aku dulu yang tanya sama kamu. Kenapa kamu nangis di sini? Apa karena gara-gara aku?" tanya Iqbal, meneliti dengan seksama kedua bola mata Alea yang tampak berair.


Alea menghapus air matanya sejenak, lalu tertawa kecil. "Ck. Kata siapa gara-gara kamu? Aku nangis karena terharu aja dengerin cerita dari anak kecil yang tadi aku tolongin," jawab Alea bohong.


Padahal kenyatannya hati Alea berkata lain. Iqbal lah yang sudah membuatnya menangis. Membuatnya patah hati. Membuatnya rapuh. Membuat harapannya tergoyahkan.


Ingin sekali Alea meneriaki semua itu di depan wajah Iqbal. Namun, Alea rasa hal itu akan jadi sia-sia saja. Percuma Alea berteriak, jika ujung-ujungnya Iqbal menyakiti hatinya lagi dengan mengatakan tidak mengenalinya.


Cukup di bandara saja Iqbal mengatakan kata menyakitkan itu. Di taman, Alea tidak ingin mendengarnya lagi. Alea sudah lelah dibuat sakit hati oleh dua orang laki-laki. Pertama, mantan pacarnya, Adit. Kedua, lelaki yang ia sangat sayangi, Iqbal.


Sekarang, Alea tidak akan membiarkan dirinya disakiti lagi oleh lelaki manapun. Ia akan lebih berhati-hati dalam membuka hati untuk seseorang.


"Kembalikan bunga melatiku," pinta Alea sambil mengulurkan tangannya di hadapan Iqbal dan tanpa melihat wajah lelaki itu.


"Kenapa harus aku kembalikan? Lagian aku sangat suka bunga melati," timpal Iqbal seraya memandangi setangkai bunga melati yang ada di tangannya dengan senyuman.


Mendengar Iqbal berkata seperti itu, membuat Alea jadi teringat akan sosok Iqbal yang dulu. Iqbal yang sangat antusias ketika melihat bunga melati. Iqbal yang selalu ceria saat diberi hadiah bunga melati. Iqbal yang sering tersenyum ketika bermain dengan bunga melati.


Alea rindu akan sosok Iqbal yang seperti itu. Iqbal yang sekarang seolah-olah asing di mata Alea.


Perlahan Alea pun mengalihkan pandangannya ke arah Iqbal. Terlihat bibir Iqbal membentuk sebuah senyuman lebar saat memandangi bunga melati.


Melihat hal itu, Alea jadi merasa, Iqbal yang ia pandangi sekarang adalah Iqbal yang sama seperti dulu.


"Sejak kapan kamu suka bunga melati?" tanya Alea, memandangi Iqbal dengan kedua bola mata berkaca-kaca.


Iqbal merespon dengan gelengan kepala. "Aku tidak tau. Mungkin sejak pertama kali aku melihat bunga ini di bangku itu." Iqbal menunjuk pada bangku taman yang sebelumnya diduduki oleh Alea.


"Entah kenapa aku seperti merasa ada hubungan khusus dengan bunga ini," sambung Iqbal seraya menatap sendu bunga melati yang ada di tangannya.

__ADS_1


Alea mengernyitkan dahi. Lalu ia sejenak berpikir, mungkinkah Iqbal benar-benar tidak ingat siapa dirinya? Apa cowok itu amnesia? Apa mungkin selama berada di Kanada, Iqbal mengalami kecelakaan hingga menyebabkan hilang ingatan?


Arghh, Alea benar-benar penasaran akan hal itu. Jika memang iya Iqbal amnesia, itu berarti Alea sudah salah menilai Iqbal yang sebelummya ia duga Iqbal sengaja melupakannya.


"Oya, aku belum jawab pertanyaan kamu. Tadi aku iseng aja pengen jalan-jalan ke taman. Biasa 'kan kalau habis perjalanan jauh, aku tuh suka refreshingin diri di tempat yang sejuk. Nah, terus aku liat kamu lagi nangis di sini. Aku baru inget kalau kamu itu cewek yang sama yang sebelumnya meluk aku di bandara sambil nangis. Ya udah, aku samperin aja kamu buat nyari tau kenapa kamu nangis, karena tadi aku perhatiin kamu nangis mulu, baik di bandara ataupun di taman."


Sepanjang Iqbal berbicara lebar, Alea hanya diam seraya menatap Iqbal cukup sendu. Ternyata Iqbal benar-benar tidak ingat siapa dirinya.


Meski jawaban sudah Alea dapatkan, tapi tetap saja Alea tidak ingin melihat wajah Iqbal dulu. Karena setiap Alea melihatnya, Alea selalu teringat bagaimana lelaki itu terang-terangan tidak mengenalinya di depan semua orang.


"Apa kamu sudah selesai? Sekarang pergilah!" titah Alea seraya merebut paksa setangkai bunga melati dari tangan Iqbal.


"Enggak. Aku pengen tetep di sini, dengerin alasan kenapa kamu nangis."


Sekilas Alea menepuk dahinya. "Tuan Iqbal, tadi aku udah jelasin alasannya ke kamu. Sekarang apa lagi? Jangan sampai image kamu sebagai artis rusak ya hanya karena gara-gara aku," ucap Alea agak ketus.


"Loh, itu kata siapa?" tanya Iqbal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kata manager kamu. Gak usah pura-pura gak tau deh," jawab Alea, sesekali menatap sinis ke arah Iqbal.


'Bukan hanya saling mengenal saja, tapi sudah sangat dekat,' batin Alea, perlahan memejamkan mata, berusaha untuk tegar.


Selang beberapa detik, seorang laki-laki muda berpakaian kekinian datang menghampiri Iqbal. "Kenapa kamu malah ada di sini? Ayo, kita pergi. Masih banyak jadwal yang harus kamu kerjakan hari ini."


Iqbal mengangguk setuju.


Sekilas Iqbal tersenyum ke arah Alea sebagai ucapan selamat tinggal. Setelah itu, ia rangkul bahu managernya dan bergegas pergi meninggalkan Alea sendirian di taman.


"Katanya gak kenal sama cewek yang tadi. Terus kenapa kamu samperin?" tanya manager pada Iqbal.


"Emang gak kenal. Aku cuma kasihan aja liat dia nangis, makannya tadi aku coba tanya dia baik-baik," jawab Iqbal.


Alea diam mematung dengan pikiran kosongnya. Pasalnya tadi Alea sempat mendengar apa yang dibicarakan Iqbal pada manager.


'Kasihan'. Satu kata yang meski singkat, tapi mampu membuat hati Alea sakit.

__ADS_1


Alhasil Alea langsung menjatuhkan bunga melatinya ke atas tanah. Setelah itu, ia duduk bersimpuh sambil menatap kosong ke depan dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ck." Alea tertawa kecil saat mengingat ucapan Iqbal yang hanya sekedar mengasihininya.


Tak tanggung-tanggung, Alea langsung meluapkan segala kesedihannya dengan menangis sejadi-jadinya. Ternyata selain disakiti, Alea juga pantas untuk dikasihani.


'Bener-bener jahat kamu, Iqbal.'


***


Alea memasuki rumah dengan langkah yang sangat lesu. Melihat hal itu, dua sosok wanita penghuni rumah yang berada di ruang tamu langsung menghampirinya. Begitupun dengan Lisa dan Doni yang sedari tadi menunggu Alea pulang.


"Sayang, kamu habis dari mana?" tanya Ibu Alea sambil merangkul pundak putrinya yang nampak diam membisu.


"Nak Alea habis nangis, ya?" Kali ini Nenek Alea yang bertanya usai melihat kedua mata Alea bengkak.


"Lo yang sabar ya, Ya," ucap Lisa pelan, lalu mengusap-ngusap punggung Alea yang semata-mata untuk menenangkan sahabatnya itu. Pasalnya Lisa sudah tau apa permasalahan yang dihadapi oleh Alea saat ini, makannya ia tidak ingin banyak bicara agar kesedihan Alea tidak bertambah.


"Ya, kamu kenapa? Ada yang jahatin kamu, ya? Coba cerita ke abang Doni, siapa yang udah jahatin kamu. Biar abang Doni pukul tuh orangnya sampai babak belur," ujar Doni tegas sambil mengangkat tangannya membentuk kepalan tangan.


"Emang lo bisa?" tanya Lisa pada Doni.


"Bisa lah. Apa sih yang enggak bisa buat Alea," jawab Doni dengan wajah sombongnya.


Ibu dan Nenek Alea hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa kecil melihat tingkah lucu Doni yang mencoba berani dalam melindungi Alea.


Sementara itu, Alea yang sedari tadi hanya diam, kini mulai angkat bicara.


"Aku lelah. Pengen istirahat," ucap Alea pelan. Setelah itu, ia berjalan gontay menuju kamarnya.


"Ya sudah, biarkan Alea istirahat dulu di kamarnya. Dan kalian berdua, jangan dulu pulang. Karena tante mau masak untuk nanti kita makan siang bersama."


"Oke, tante."


***

__ADS_1


• Bersambung •


__ADS_2