Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Ingin Berada Di Sampingmu


__ADS_3

...***...


Di luar, hujan tampak sangat deras, bahkan suara petir pun turut menyertai. Namun, hal itu tak membuat Alea menyerah mencari Iqbal.


"Iqbal, kamu di mana?" teriak Alea seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap netranya menangkap sosok Iqbal.


Merasa Iqbal tidak ada di luar klub, akhirnya Alea bergegas mencari Iqbal di tempat lain. Dan tak lama kemudian, langkahnya terhenti saat melihat sebagian orang memakai payung sedang berkerumun di area trotoar.


Tanpa mau berpikir panjang lagi, Alea berlari kecil menuju trotoar, lalu menerobos masuk ke dalam kerumunan. Sontak mata Alea membulat setelah berdiri di paling depan.


"Iqbal," lirih Alea dengan kedua mata yang mulai berlinang saat melihat Iqbal menutup telinganya sambil berteriak ketakutan.


Bahkan di lengan Iqbal ada segores darah yang tak henti-hentinya keluar meski terkena air hujan. Sudah dipastikan lelaki itu melukai dirinya sendiri lagi.


"Astaga, Iqbal."


Alea bergegas menghampiri Iqbal dan duduk bersimpuh di dekat lelaki itu. Cepat-cepat Alea menenangkan Iqbal dengan memeluknya sangat erat.


"Iqbal, kamu gak papa 'kan?" tanya Alea.


Iqbal tak merespon. Malah yang ada teriakan Iqbal semakin keras karena saking takutnya dan telapak tangannya tak henti-henti dibenturkan ke aspal.


"Iqbal, tenanglah. Suster Alea akan selalu bersamamu," ucap Alea seraya meraih telapak tangan Iqbal yang sempat dibenturkan ke aspal, lalu digenggamnya tangan itu sangat erat.


Kini tangisan Iqbal lah yang semakin pecah. Namun, hal itu tak membuat Alea lelah untuk menenangkan Iqbal. Justru Alea semakin mempererat pelukannya pada Iqbal, membiarkan lelaki itu menumpahkan segala kesedihan dalam pelukannya.


Detik berikutnya, bola mata Alea mengarah pada orang-orang yang masih mengerumuni tempat di mana ia dan Iqbal duduk.


"Bubar kalian semua. Bubar ...," titah Alea agak berteriak karena saking kesalnya pada orang-orang yang malah asik jadi penonton.


Orang-orang yang ada di sana itupun langsung beranjak pergi ke arah yang berbeda seraya menggosipi Iqbal dengan rekan mereka, di mana topiknya adalah Iqbal--cowok gila dan aneh. Ya, di mata mereka, Iqbal adalah cowok gila.


Alea mendengar semua itu. Namun, Alea memperdulikan ucapan mereka. Karena di mata Alea, Iqbal adalah makhluk Tuhan yang sempurna.


Sejenak Alea melepas pelukannya dengan Iqbal, lalu ia meraih telapak tangan Iqbal yang berdarah. Setelah itu, Alea menutupi luka di tangan Iqbal menggunakan sapu tangan miliknya yang sempat ia selipkan di saku celananya.


"Kenapa kamu lukai diri kamu lagi, hah? Kamu gak kasihan apa sama suster? Hati suster terluka melihat kamu terluka. Jadi, stop ... jangan lakuin hal-hal yang gegabah," ucap Alea dengan getir.

__ADS_1


"Iqbal takut ... Iqbal takut di sini ... suster, tolong bawa Iqbal pergi. Iqbal gak suka hujan. Iqbal gak suka semua orang," lirih Iqbal tersengal-sengal.


Alea mengangguk. Perlahan ia membantu Iqbal berdiri, lalu memapah lelaki itu secara pelan-pelan menuju tempat berteduh.


Dan setelah kejadian ini, Alea sudah buat keputusan. Ia tidak akan meninggalkan Iqbal. Bahkan setelah lelaki itu sembuh, Alea ingin selalu berada di sampingnya.


Juga ingin menjadi bagian terpenting dalam hidup Iqbal. Egoiskah Alea menginginkan hal itu terjadi?


***


Alea membawa Iqbal ke tempat halte untuk berteduh sementara waktu, karena hujan masih turun dengan derasnya. Saat berteduh, Alea mengeluarkan handphone dari dalam tas selempangnya dan segera memesan taksi online.


Setelah memesan, Alea mendudukan Iqbal terlebih dulu dan menenangkan lelaki itu yang terlihat masih gemetaran karena takut.


"Sttt ... Iqbal, tenang ya. Suster ada di sini," ucap Alea seraya duduk di samping Iqbal, lalu memeluk lelaki itu sangat erat.


"Iqbal takut, Sus. Iqbal takut ada di sini. Iqbal pengen pulang," lirih Iqbal tersengal-sengal.


"Iya, Iqbal. Sebentar lagi kita akan pulang. Kamu tenang, ya." Tangan Alea perlahan terangkat untuk membelai lembut rambut Iqbal.


Dalam hati, Alea masih memendam rasa kesal dengan perlakuan Tasya pada Iqbal. Gara-gara pacar Rio itu, Iqbal sekarang jadi merasa tertekan. Alea pastikan Tasya tidak akan dibiarkan tinggal lagi di rumah Iqbal.


***


Perlahan Alea mendudukan Iqbal di atas ranjang tidur, lalu ia beranjak mengambil handuk dalam lemari.


"Bi, Bibi tolong keringkan tubuh Iqbal dulu, ya. Alea mau ke dapur, buatin Iqbal teh hangat," ucap Alea seraya menyodorkan handuk pada Bi Minah.


"Baik, Non."


Alea tersenyum simpul saat matanya tertuju pada Iqbal yang hanya diam mematung sambil menatap lurus. Tanpa berpikir panjang lagi, Alea bergegas keluar kamar. Namun, saat hendak melangkah, pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal erat oleh Iqbal.


"Jangan pergi. Iqbal ingin suster di sini, temenin Iqbal," ujar Iqbal lirih.


Bola mata Alea berkaca-kaca setelah mendengar hal itu. Bibirnya kemudian mengulas sebuah senyum, sedangkan tangannya terangkat untuk memegang tangan Iqbal.


"Oke, jika itu yang Iqbal inginkan, maka suster akan turuti," balas Alea dengan nada lembut. Setelah itu, ia bergegas duduk di samping Iqbal dan sesekali menatap setiap inci wajah Iqbal yang terlihat pucat.

__ADS_1


Alea merasa sesuatu telah terjadi pada Iqbal. Untuk memastikan itu, tangan Alea perlahan terangkat dan diletakkan pada dahi Iqbal. Ternyata benar dugannya. Iqbal demam.


"Oh, astaga."


"Hmm, bi, handuknya."


Bi Minah langsung menyodorkan handuk pada Alea.


"Bi, tolong buatin teh hangat ya. Sekalian bawa kompresan juga," ujar Alea, yang kemudian dibalas anggukan mengerti dari Bi Minah.


Bi Minah berlalu pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Alea membenarkan posisi duduknya supaya ia tidak kesulitan saat mengeringkan tubuh Iqbal.


Selang beberapa menit, Bi Minah kembali memasuki kamar Iqbal sambil membawa nampan yang berisi kompresan dan juga teh hangat, sesuai dengan perkataan Alea.


"Non, lebih baik Non ganti baju dulu. Nanti masuk angin loh," ucap Bi Minah usai menyadari baju Alea terlihat masih basah kuyup.


Alea yang tadinya tengah sibuk memasang jaket pada tubuh Iqbal, kini beralih memandang ke arah Bi Minah. "Nanti aja, Bi. Alea gak papa, kok. Yang paling penting sekarang Alea harus merawat Iqbal dulu," timpal Alea.


"Non." Bi Minah menyimpan nampan di atas nakas, lalu ia berjalan menghampiri Alea. "Non harus ganti baju dulu. Kalau nanti Non sakit gimana? Siapa yang akan merawat Iqbal Den Iqbal kalau Non sakit? 'Kan Non tau sendiri Den Iqbal maunya dirawat sama Non Alea," jelas Bi Minah.


Alea berpikir, ada benarnya juga ucapan Bi Minah. Lebih baik ia cepat-cepat ganti baju supaya tidak masuk angin.


"Baiklah. Alea akan ganti baju."


"Iqbal." Alea perlahan memegang tangan Iqbal. "Suster ganti baju dulu, ya. Gak apa-apa 'kan kalau Iqbal dibantu pakein baju sama Bi Minah?" tanya Alea memastikan.


Iqbal mengangguk pelan dengan wajah datar dan juga pucat. Alea tersenyum simpul, ia mengerti kalau saat ini Iqbal sedang merasa tidak sehat.


"Suster gak akan lama kok ganti bajunya," ucap Alea, sesekali membelai lembut rambut Iqbal. Dan di tengah-tengah itu, Alea teringat akan Ny. Indah. Ia ingin sekali memberitaukan hal penting kepada Ibu dari laki-laki yang ia rawat saat ini.


"Oya, Bi, apa Tante Indah sudah pulang?" tanya Alea pada Bi Minah.


"Belum, Non. Mungkin sebentar lagi Nyonya pulang, karena tadi Bibi lihat Pak Ujang keluar rumah untuk menjemput Nyonya," jawab Bi Minah.


Alea mengangguk mengerti. Setelah Ny. Indah pulang nanti, Alea akan langsung mengutarakan segalanya mengenai kejahatan Tasya pada Ny. Indah.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2