
...***...
Alea masih duduk bersimpuh di bawah guyuran hujan. Entah sudah berapa kali ia berucap mohon, yang jelas suara Alea sekarang perlahan mulai melemah.
Bahkan kepala Alea mendadak pusing. Tubuhnya terasa lemas karena menahan dingin. Pandangannya mulai gelap. Dan ....
Brukkk ....
Tubuh Alea kini ambruk di atas aspal basah. Ia sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk tetap membuka mata. Kini ia Alea tak sadarkan diri di bawah guyuran air hujan.
***
"Iqbal."
Ny. Indah memanggil putranya yang kini berada di balkon rumah. Ny. Indah heran mengapa Iqbal ada di sana, secara Ny. Indah tau kalau Iqbal takut dengan hujan.
"Iqbal, kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu istirahat di kamarmu."
"Hujan sudah reda ... hujan sudah reda ...." Iqbal berulang kali mengatakan hal itu tanpa memandang Ny. Indah yang berada di sampingnya.
Ny. Indah mengalihkan pandangannya pada udara hampa. Dan ternyata benar apa yang dikatakan Iqbal, hujan sudah reda.
Ny. Indah kembali memandangi putranya. Ia terkejut melihat Iqbal tiba-tiba meneteskan air mata tanpa ada sebab yang jelas.
"Loh Iqbal, kamu kenapa nangis?" tanya Ny. Indah seraya mengusap cairan bening yang menempel pada pipi Iqbal.
Iqbal sekilas menggeleng. "Iqbal tidak tau ... Iqbal tidak tau," sahut Iqbal. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam sambil memukul-mukul kepalanya berulang kali.
Ny. Indah masih merasa heran. Ia tidak tau apa yang sebenarnya dilihat Iqbal sampai-sampai meneteskan air mata.
Ketika ingin berbalik badan, netra Ny. Indah terlebih dulu menangkap sesuatu yang ada di bawah balkon.
Ia melihat seorang laki-laki muda memakai kacamata sedang berusaha keras menggendong Alea yang tak sadarkan diri untuk dibawa keluar gerbang.
"Ya Tuhan, Alea pingsan."
Melihat Alea pingsan, Ny. Indah teringat dengan Iqbal yang tiba-tiba meneteskan air mata tanpa ada sebab yang jelas.
'Apa mungkin Iqbal menangis karena melihat Alea tak sadarkan diri?' begitulah yang ada di pikiran Ny. Indah saat ini. Entah kenapa ia jadi merasa bersalah karena telah mengganti posisi Alea dengan wanita lain.
Meski begitu, rasa kesal masih menyelimuti hati Ny. Indah. Ia terlanjur kecewa karena Alea tidak menjaga Iqbal dengan baik. Namun, di sisi lain hati Ny. Indah juga menyimpan keinginan agar Alea kembali lagi menjadi susternya Iqbal.
Sungguh, malam ini Ny. Indah benar-benar dilanda oleh rasa dilema.
***
Di sisi lain, Alea perlahan-lahan akan siuman. Terlihat dari bola matanya mulai digerakkan oleh Alea sendiri.
Hal itu membuat orang-orang terdekat Alea yang menyaksikannya langsung membentuk senyuman setelah melihat kesayangan mereka mulai sadar.
"Shhh," ringis Alea, menahan rasa pusing yang masih menyelimuti kepalanya.
Perlahan Alea melempar pandangan ke sekelilingnya. Ia sempat mengira kalau dirinya berada di rumah Ny. Indah, tapi ternyata ia berada di rumahnya sendiri.
Pantas saja Alea melihat Ibunya, Neneknya, Lisa, Doni, bahkan Adit--pacar Alea duduk di dekatnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga. Ibu tadi sangat mencemaskan keadaanmu, Ibu kira kamu akan siuman besok," ucap Ibu Alea seraya membelai lembut rambut putrinya.
"Iya nih, Ya, kita semua di sini khawatir sama keadaan lo," sahut Lisa.
"Kamu kok ada di rumah orang lain? Emangnya kamu lagi ngapain di sana? Untungnya Doni tau keberadaan kamu, makannya dia cepat-cepat bawa kamu ke rumah." Adit ikut membuka suara.
"Bener tuh Ya, untungnya aku tau kamu ada di mana. Tapi kamu kok ada di luar, sih, bukannya cepet-cepet pulang?" tanya Doni.
Beberapa pertanyaan mulai dilontarkan kepada Alea. Alea bingung harus jawab apa, secara ia belum siap membeberkan tentang pekerjaannya sebagai seorang suster untuk anaknya Ny. Indah kepada orang-orang terdekatnya.
"Sudah. Kalian jangan dulu berikan banyak pertanyaan kepada cucuku, dia baru sadar, biarkan dia istirahat dulu." Nenek Alea memberikan saran. Ia tidak ingin cucunya dibebankan oleh beberapa pertanyaan.
"Iya, Nak. Sekarang Alea harus istirahat. Lebih baik kalian pulang, ini sudah malam," ucap Ibu Alea.
Lisa, Adit, dan Doni menyetujuinya. Mereka pun pamitan terlebih dulu pada Ibu Alea, Nenek Alea, setelah itu kepada Alea.
"Cepat sembuh ya, Ya. Besok gue ke sini lagi buat ngejenguk lo," ucap Lisa.
"Cepet sembuh, Alea. Harus banyak istirahat okey," tambah Doni.
"Cepat sembuh ya, Alea. Jangan lama-lama sakitnya, nanti aku sedih lagi," ujar Adit, diakhiri dengan menjawil hidung Alea.
Alea sekilas mengangguk, mengiyakan ucapan dari orang-orang yang ia sayangi. "Makasih ya kalian semua udah nemenin aku sampai siuman," ucap Alea, yang dibalas anggukan oleh Lisa, Adit dan Doni.
Mereka pun segera bergegas keluar kamar dengan diantar oleh Nenek Alea. Sementara Ibu Alea memilih untuk duduk di samping Alea, tentunya untuk membantu putrinya itu meminum obat.
__ADS_1
"Alea, minum obat dulu ya!"
Alea mengangguk. Kemudian ia bangkit dari pembaringannya dengan dibantu oleh sang Ibu. Setelah itu, Alea meminum obat yang diberikan oleh ibunya.
"Hmm Ibu, aku ingin jujur pada Ibu mengenai apa yang aku lakukan di rumah orang lain," ucap Alea setelah dipikir-pikir.
"Apa itu, Alea?" tanya Ibu Alea penasaran.
Mungkin ini waktunya bagi Alea menceritakan semuanya pada Ibunya. Ia tidak ingin berlama-lama menyembunyikan sesuatu dari Ibunya.
"Sebenarnya, bu ...."
Alea mulai menceritakan dari awal ia bertemu dengan Ny. Indah, permintaan Ny. Indah yang menginginkan dirinya menjadi suster bagi anaknya, tentang siapa Iqbal sebenarnya, janjinya untuk menjaga dan merawat Iqbal sampai sembuh, kecerobohannya, sampai ke akhir dirinya memohon pada Ny. Indah untuk memberinya satu kesempatan.
Sepanjang Alea bercerita, Ibunya sempat terkejut dan tak percaya putrinya akan melakukan hal senekat itu. Apalagi setelah mengetahui anak Ny. Indah mengalami gangguan mental, Ibu Alea semakin dibuat cemas akan keadaan putrinya.
"Ya ampun, Alea, seharusnya kamu jangan terima pekerjaan itu, Nak. Ibu takut kamu kenapa-napa." Ibu Alea menatap putrinya dengan tatapan sendu.
"Awalnya aku nolak, Bu. Tapi aku teringat pesan almarhum Ayah, makannya aku bantu Tante Indah dengan menerima pekerjaan sebagai seorang suster untuk anaknya. Lagi pula Alea tidak keberatan kok jika bekerja sebagai seorang suster, asalkan Alea bisa menepati janji Alea untuk membantu Tante Indah menyembuhkan anaknya itu. Tapi ... semuanya jadi kacau karena kecerobohan Alea sendiri. Padahal Alea ingin tetap menjaga dan merawat Iqbal sampai sembuh." ungkap Alea dengan lirih.
Dan akhirnya tangisan Alea mulai pecah karena mengingat kembali kejadian di mana Iqbal menghilang lalu kecelakaan. Sang Ibu mengerti akan perasaan putrinya saat ini.
Ia pun segera memeluk dan menenangkan putrinya yang sedang terlarut dalam kesedihan.
"Niatmu membantu Nyonya Indah tidak salah. Tapi kecerobohanmu lah yang salah. Setiap ibu jika sudah menyangkut tentang anaknya, pasti akan bertindak dan tidak peduli akan hal lain. Sama halnya dengan Nyonya Indah. Dia pasti takut kehilangan putranya setelah mengetahui putranya itu mengalami kecelakaan gegara kecerobohanmu. Jadi jangan heran jika Nyonya Indah sampai marah dan memintamu untuk pulang."
Alea menahan tangisnya sejenak. Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya barusan, pasti Ny. Indah marah karena ia takut kehilangan putranya.
Apalagi saat ini Iqbal sedang mengalami gangguan mental, bagaimana jika hal yang tidak inginkan terjadi padanya.
Dalam hal ini kecerobohan Alea lah yang salah, dan Alea sudah menyadari hal itu sejak ia meninggalkan Iqbal seorang diri.
"Lain kali tepati janjimu dan jangan bertindak ceroboh lagi." Ibu Alea memberikan nasihat kepada putrinya. Cepat-cepat Alea menganggukan kepala mengerti.
"Kapan-kapan kalau kamu bertemu dengan Nyonya Indah, langsung minta maaf padanya. Kalaupun Nyonya Indah tidak mau menerimamu lagi sebagai suster bagi putranya, jangan dipaksakan. Lebih baik kamu do'akan saja atas kesembuhan putranya. Ibu yakin jika niatmu baik, Tuhan pasti akan mempermudah jalan keluarnya."
Setelah ibunya memberikan nasihat, hati Alea perlahan mulai tenang. Alea beruntung sekali memiliki sosok Ibu seperti beliau yang selalu ada untuknya dan menghiburnya ketika ia sedih.
"Sudah ya, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya putri ibu hilang loh." Ibu Alea langsung mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya.
"Lebih baik kamu istirahat. Jika butuh apa-apa, panggil ibu ya."
Alea mengangguk. Kemudian ia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Setelah itu, sang ibu segera mencium kening putrinya sebelum beranjak keluar kamar.
Ya, saat ini Alea memikirkan Iqbal. Entah bagaimana keadaannya dan sekarang lagi apa, Alea penasaran akan hal itu.
Di sisi lain Alea juga berharap esok hari adalah hari yang membahagiakan.
***
Matahari mulai terbit dari ufuk timur. Memancarkan cahayanya untuk membangkitkan semangat para insan Tuhan dalam menjalankan aktivitas di pagi hari.
Termasuk Alea. Ia baru saja membuka kelopak matanya setelah mengalami aktivitas tidur semalaman.
Kebetulan juga Alea merasakan tubuhnya kembali bugar dan sehat. Kini ia bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.
"Pagi Alea," sapa Lisa, yang tiba-tiba datang dari balik pintu kamar.
"Eh Lis, pagi juga. Tumben lo ke sini?" tanya Alea seraya mengambil handuk di dalam lemari.
"Lah gue kan udah bilang kemarin kalau hari ini gue bakal ngejenguk lo. Tapi bentar ... bentar ...." Lisa menghampiri Alea yang tengah menutup pintu lemari.
"Kok lo malah jalan-jalan, sih? Harusnya lo istirahat lagi dong," peringat Lisa.
"Alhamdulillah, Lis. Gue udah sehat kok. Rencananya hari ini gue mau joggig biar tambah sehat," timpal Alea.
"Apa? Jogging? Sendirian?" Alea membalas dengan anggukan.
"No ... no ... no, lo gak boleh jogging sendiri. Gue temenin ya." Lisa menawarkan diri.
Alea sekilas menggeleng. "Enggak, sebaiknya lo berangkat kerja aja. Hari ini kan hari kedua lo bekerja di apotek. Jangan sampai lo ambil cuti gara-gara gue."
Lisa sejenak berpikir. "Iya juga, sih. Kalau gitu gue chat Adit ya biar dia nemenin lo jogging," tawar Lisa.
"Ehh jangan, Lis. Adit lagi kerja, lo jangan gangguin dia lagi kerja. Gue bisa kok jogging sendiri, lagian gue gak akan lama lok jogging-nya," ujar Alea.
"Lo yakin?" tanya Lisa memastikan. Cepat-cepat Alea membalas dengan anggukan.
"Yaudah, kalau gitu hati-hati ya. Kalau lo capek, jangan diterusin lagi joggingnya, langsung pulang." Lisa memberi peringatan.
"Okey, siap."
__ADS_1
***
Alea telah berlari mengelilingi kompleks sebanyak 3 putaran. Entah kenapa 3 putaran kali ini terasa lelah, padahal dulu bagi Alea 3 putaran itu tidak terlalu melelahkan.
Mungkin ini efek Alea belum sepenuhnya pulih total. Namun, semaksimal mungkin Alea akan berusaha merawat dan menjaga dirinya sendiri hingga pulih total.
Ya, semoga saja setelah melakukan olahraga, Alea benar-benar sehat.
Kini 4 putaran telah dilewati. Alea istirahat sejenak di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Kebetulan suasana taman hari ini cukup sepi, mungkin orang-orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Lumayan juga gue jogging hari ini." Alea melakukan pendinginan sembari duduk di bangku taman.
Ketika melakukan pendinginan, seorang anak kecil tiba-tiba datang menawarkan Alea untuk membeli bunganya.
"Kak, tolong beli bungaku," pintanya dengan wajah imut, yang membuat Alea tersenyum lebar melihat kehadirannya.
"Baiklah, sebentar ya." Alea mengambil selembar uang dari dalam sakunya.
"Ini uangnya. Kamu simpan baik-baik ya." Alea menyodorkan selembar uang seratus ribu pada anak kecil itu.
"Kak, ini kebesaran uangnya."
"Enggak papa, buat kamu jajan nanti."
Anak kecil itu pun memberikan setangkai bunga pada Alea. "Makasih, Kak, sudah beli bunganya."
"Iya, sama-sama, anak manis."
Anak kecil itu pun langsung pergi meninggalkan Alea. Sementara Alea baru menyadari kalau anak kecil tadi memberinya setangkai bunga melati.
Melihat bunga itu, Alea teringat akan Iqbal yang sangat suka dengan bunga melati. Lantas Alea pun mengharapkan Iqbal akan ada di sekitar sini.
Meski rasanya itu tidak mungkin.
Tapi ternyata Tuhan mengabulkan harapan Alea. Dari taman yang ada di sebrang sana, Alea melihat Iqbal sedang bermain ayunan.
"Iqbal."
Bibir Alea seketika mengulas sebuah senyum usai melihat Iqbal. Namun senyuman kali ini adalah senyum penuh arti. Pasalnya penampilan Iqbal saat itu bikin pangling.
Memakai sweater hoodie merah maroon, celana levis berwarna biru, kaki yang dibaluti sepatu sneakers, jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangannya, serta rambut yang ditata seperti ala-ala idol pria korea. Membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.
Termasuk Alea. Mungkin bagi orang lain yang melihat Iqbal saat itu akan merasa aneh karena penampilan Iqbal berbeda dengan tingkahnya.
Tapi bagi Alea sendiri, Iqbal tetaplah Iqbal. Iqbal tetap tampan dan keren di mata Alea.
Namun, Alea heran mengapa Iqbal bermain sendiri. Kemana Ny. Indah dan suster yang merawatnya itu.
Ny. Indah pasti ada keperluan. Tapi suster yang merawatnya?
Khawatir Iqbal kenapa-napa karena tidak ada pengawasan siapapun, akhirnya Alea memutuskan untuk menghampiri Iqbal.
Namun, Alea berhenti di tengah jalan ketika seorang wanita berumur 30 tahunan menghampiri Iqbal terlebih dulu. Pasti itu suster yang kemarin menggantikan posisinya, begitulah yang ada di pikiran Alea saat itu.
Terlihat suster itu berusaha mengajak Iqbal bermain. Namun, Iqbal seperti ketakutan melihatnya. Apa ini pertama kali Iqbal melihat suster itu?
"Kamu siapa, hah? Pergi dari sini. Pergi." usir Iqbal.
"Iqbal, tenanglah! Aku adalah suster yang akan merawatmu."
"Enggak ... aku enggak mau dirawat. Kamu bukan susterku, kamu orang jahat. Pergi dari sini ... pergi ...," teriak Iqbal, lalu mengarahkan sebuah gunting pada suster itu.
Suster itupun terperanjat kaget. Cepat-cepat ia berlari meninggalkan Iqbal karena takut ia nanti akan dilukai oleh Iqbal.
Iqbal kemudian menjatuhkan gunting yang dibawanya ke sembarang tempat. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. Ia pun berjongkok sembari menutup kedua daun telinganya.
"Mama, Mama di mana? Iqbal takut."
Alea yang sedari tadi hanya menyimak di tempat, langsung berlari menghampiri Iqbal. Setelah itu, Alea melingkarkan kedua tangannya di leher Iqbal untuk memeluk lelaki itu.
"Iqbal, tenang ya. Jangan takut. Ini suster Alea."
Alea kini merasakan bajunya basah karena tangisan Iqbal. Meski begitu, Alea tetap berusaha menenangkan Iqbal dengan memberanikan diri membelai lembut rambut lelaki itu.
"Sttt ... Iqbal, jangan takut ya. Suster Alea bersamamu."
Perlahan tangan Iqbal yang awalnya menutup kedua daun telinga, kini beralih melingkari pinggang Alea.
Tentu saja Alea tersenyum, karena akhirnya ketakutan Iqbal mulai mereda dengan berada di pelukannya.
Pelukan hangat dari Alea Salsha Queenza untuk Iqbal Riandra Keanny.
__ADS_1
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...