Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kehadiran Iqbal


__ADS_3

...***...


Alea berjalan gontay menuju taman dengan pikiran kosong. Entah kenapa kakinya sangat berat untuk dilangkahkan. Setelah melihat kenyataan Iqbal tidak mengenalinya, Alea jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun.


Lisa pun ia tinggalkan di bandara dan memilih pergi ke taman seorang diri menggunakan taksi. Jujur, hati Alea saat ini benar-benar terluka. Ia masih tidak menyangka Iqbal akan melupakannya dan bahkan tidak mengenalinya.


Ingin sekali Alea berteriak di taman sekeras mungkin. Berteriak kalau Iqbal jahat. Haruskah ia lakukan itu?


Alea menunduk, lalu meneteskan air mata. Entah kenapa sulit baginya untuk meneriaki Iqbal jahat. Sangat jahat.


Namun, siapa peduli? Alea telah menunggu Iqbal cukup lama dan Iqbal malah tidak mengenalinya. Jadi gak ada masalah jika Alea berteriak Iqbal jahat. Enggak akan ada yang menegurnya.


Kini Alea menghentikan langkah di dekat air mancur. Setelah itu, ia mengusap air matanya dan bersiap untuk berteriak.


"IQBAL ... KAMU JAHAT. BENER-BENER JAHAT. KAMU TEGA NGELUPAIN AKU."


"ASAL KAMU TAU YA, IQBAL ... AKU SETIA NUNGGUIN KAMU SELAMA TIGA TAHUN INI. TAPI APA BALASAN KAMU, HAH? KAMU NGELUPAIN AKU, DAN BAHKAN GAK NGENALIN AKU. COWOK MACAM APA KAYAK GITU, HAH. COWOK JAHAT TAU GAK. JAHAT KAMU, IQBAL. JAHAT ...."


"IQBAAAL, KAMU BRENGS*K ... BAHKAN KAMU LEBIH BRENGS*K DARI MANTAN AKU, ADIT. ARGHHHH!!!"


Alea mengatur napasnya usai melampiaskan kesedihannya dengan berteriak. Ia tidak peduli teriakannya akan didengar oleh orang lain, yang penting Alea bisa membuat dirinya sedikit lebih tenang.


Dan ya meski Alea belum tau kebenarannya seperti apa, tapi tetap saja Alea merasa kesal dan marah. Wanita mana coba yang tidak sakit hati saat sosok laki-laki yang sudah ditunggu-tunggu cukup lama, malah tidak mengenali.


Perih dan sakit. Lebih sakit dari luka darah.


Alea pun kembali berjalan seraya meneteskan air mata. Namun, saat beberapa langkah, Alea merasakan ujung bajunya ditarik oleh seseorang. Setelah Alea lihat, ternyata seorang anak perempuan imut dan cantik yang melakukannya.


Tak ingin menampakkan kesedihan, Alea pun segera menghapus air matanya. "Ehh, ada anak cantik." Alea kemudian berjongkok di hadapan anak perempuan itu.


"Kak, tolong beli bungaku," pintanya dengan wajah imut, yang membuat Alea tersenyum setelah melihat kehadirannya.


"Okey. Sebentar ya." Alea mengambil selembar uang dari dalam sakunya.


"Ini uangnya. Kamu simpan baik-baik oke." Alea menyodorkan selembar uang seratus ribu pada anak perempuan itu.


"Kak, uangnya kebesaran."

__ADS_1


"Enggak papa, buat jajan kamu nanti."


Anak perempuan itu pun memberikan setangkai bunga pada Alea. "Makasih, Kakak cantik sudah beli bunganya."


"Iya, sama-sama, anak cantik."


Anak perempuan itu pun langsung pergi meninggalkan Alea. Sementara Alea baru menyadari kalau anak perempuan tadi memberinya setangkai bunga melati.


Melihat bunga itu, Alea langsung teringat akan Iqbal yang sangat suka dengan bunga melati. Tentu saja hal tersebut membuat hati Alea kembali merasa sangat gundah.


"Sangat wangi." Alea menghirup aroma bunga melati yang ada di tangannya itu, lalu ia pandangi cukup lekat. "Dan juga indah. Tapi kenapa keindahan bunga melati ini malah berbeda dengan suasana hatiku. Harusnya hari ini menjadi hari yang paling bahagia. Tapi kenyataannya ...."


Alea benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Teramat sakit bila harus flashback di mana Iqbal mengaku tidak mengenalinya. Arghhh ... rasa-rasanya Alea ingin menghilang saja dari muka bumi ini.


Alea bergegas duduk di bangku taman untuk mencurahkan segala kesedihannya. Lalu detik berikutnya, ia menangis. Menangis sejadi-jadinya.


Sudah sangat lama Alea menunggu kehadiran Iqbal, tapi lelaki itu malah tidak mengenalinya. Bahkan Alea mencoba akan membuka hatinya untuk Iqbal, tapi lelaki itu malah melupakannya.


"Kenapa ini harus terjadi padaku?" lirih Alea, meratapi nasibnya saat ini dengan tangisan.


"Mamah, sakit ...."


Alea tidak bisa diam saja. Ia pun segera menghapus air matanya dan membantu anak kecil yang terjadi.


"Oh ya ampun. Dek, kamu nggak papa 'kan?" tanya Alea sambil mengangkat tubuh anak kecil itu yang semula tengkurap, lalu ia dudukkan di atas pangkuannya.


"Mana yang sakit, hm?" Alea mengecek kaki dan tangan anak kecil itu. Untungnya tidak ada yang luka. Hanya saja lututnya kotor, Alea pun segera membersihkannya.


"Cup ... cup ... cup. Jangan nangis ya. Kamu 'kan anak jagoan, masa nangis," ucap Alea berusaha menghibur anak kecil itu yang masih menangis.


Benar saja, tak lama kemudian, anak kecil itu berhenti menangis. Lalu ia memandangi Alea dengan wajah imutnya. "Kakak juga sama. Kenapa Kakak nangis, Kakak 'kan kuat. Nanti cantik Kakak ilang loh kalau nangis terus."


Alea tertawa kecil. Apakah anak kecil itu sedang memujinya atau meledeknya?


"Ck, kamu ini ya. Kecil-kecil tapi udah pinter muji orang," ucap Alea jadi gemas sendiri. Saking gemasnya, Alea mencubit pelan pipi anak kecil itu.


"Ya ampun, Nak." Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang, lalu mendekati Alea dan si anak kecil.

__ADS_1


"Ternyata kamu di sini. Mamah udah cari-cari kamu, Nak." Wanita paruh baya itu langsung memeluk si anak kecil yang sempat berada di pangkuan Alea.


Alea tersenyum. Pasalnya ibu dari anak kecil itu telah datang. Jadi, Alea tidak perlu mencari.


"Lain kali hati-hati ya Bu kalau bawa anak kecil ke taman. Tadi anak ibu jatuh, untungnya gak ada yang luka," ucap Alea memperingatkan.


"Sebelumnya makasih ya Mbak udah nolongin anak Ibu. Lain kali ibu akan lebih berhati-hati lagi."


"Iya bu, sama-sama."


Wanita paruh baya itupun berdiri dan langsung menggendong anaknya. Disusul oleh Alea yang ikut berdiri.


"Sekali lagi makasih ya, Mbak."


Alea hanya merespon dengan senyuman.


"Oya Mbak. Di belakang, pacar Mbak ya?Ganteng banget, kayak artis."


"Hah? Pacar?" Alea jadi merasa heran. Seingatnya tidak ada siapapun yang berada di tempat duduknya, hanya ia saja seorang diri.


Wanita paruh baya itu kemudian pergi bersama dengan anaknya. Sementara Alea, langsung berbalik badan untuk melihat seseorang di tempat duduknya.


Sontak Alea membulatkan matanya saat melihat sosok lelaki yang tidak asing baginya tengah berdiri di depan bangku yang sebelumnya Alea duduki sambil memegangi bunga melati yang sempat Alea simpan di atas bangku ketika ingin membantu anak kecil.


"I--Iqbal."


Ya, lelaki itu adalah Iqbal. Dan seketika saja kedua bola mata Alea langsung berair setelah melihat kehadirannya.


Perlahan Alea melangkah mundur, lalu menunduk dan meneteskan air mata. Entah kenapa ia jadi merasa canggung ketika bertemu dengan Iqbal.


Mungkin setelah Iqbal mengatakan tidak mengenalnya di depan semua orang, di saat itulah Alea jadi malas melihat wajah Iqbal.


Kenapa Iqbal ada di sini?


Alea pun terus melangkah mundur. Melihat hal itu, Iqbal langsung melangkah maju mendekati Alea sambil membawa bunga melati.


• Bersambung •

__ADS_1


__ADS_2