
...***...
Esok hari telah tiba. Hari di mana Iqbal akan pergi ke Kanada bersama dengan Ny. Indah dan Pak Ujang. Mungkin hari ini juga menjadi hari yang menyakitkan baginya karena harus berpisah dengan Iqbal.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Ny. Indah pada Bi Minah yang sebelumnya memasukkan koper dan barang-barang yang diperlukan ke dalam mobil.
"Sudah, Nyonya," jawab Bi Minah.
Ny. Indah tersenyum mendengarnya. Setelah itu, ia menghampiri Alea seraya menuntun Iqbal.
"Alea," sebut Ny. Indah dengan lirih dan menatap gadis itu yang tengah menunduk seperti menahan tangis.
"Tante sudah menitipkan uang gaji kamu ke Bi Minah, nanti Bi Minah akan berikan uang itu ke kamu. Sebelumnya Tante ucapkan terimakasih banyak karena kamu mau merawat dan menjaga Iqbal dengan tulus. Tante tidak tau kapan Tante dan Iqbal pulang, tapi semoga aja Tante sama Iqbal pulangnya bisa cepat supaya nanti kita bisa kumpul lagi," ujar Ny. Indah seraya menangkup pipi Alea.
Alea tersenyum simpul, lalu meneteskan air mata. Sangat sulit untuk dirinya menahan tangis saat menghadapi sebuah perpisahan. Meski ini perpisahan sementara, tapi entah kenapa firasat Alea mengatakan perpisahan dengan Iqbal akan terasa lama.
Semoga saja firasatnya itu tidak benar.
"Suster tungguin Iqbal, ya. Pokoknya Suster gak boleh deket sama cowok lain selama Iqbal gak ada," peringat Iqbal dengan ekspresi tegas tapi lucu.
Alea terkekeh. Bisa-bisanya Iqbal membuat kelucuan seperti ini di tengah-tengah akan berpisah. "Okey, suster gak akan deket-deket sama cowok lain," timpal Alea tersenyum.
Iqbal kemudian membalas dengan senyum penuh kegirangan. Sesaat Alea jadi berandai-andai kalau saja Iqbal tidak sakit dan menyaksikan perpisahan ini, mungkin saat itu juga Iqbal akan menangis, sama halnya yang tengah dirasakan Alea saat ini.
"Kalau gitu ... Tante, Iqbal sama Pak Ujang pamit dulu ya, Alea. Kamu jaga diri oke. Setelah ini, kamu langsung pulang ke rumah dan sampaikan salam kami ke keluarga kamu," ucap Ny. Indah, di akhiri dengan membelai lembut rambut Alea.
"Hati-hati ya, Tante, Iqbal, Pak Ujang. Jangan lupa hubungi Alea kalau kalian akan pulang," ujar Alea, yang kemudian dibalas anggukan kecil dari Ny. Indah, Iqbal dan Pak Ujang.
"Itu sudah pasti, Alea."
Kini Alea beralih memandangi Pak Ujang. "Pak Ujang, jaga Iqbal baik-baik, ya. Rawat dia dengan baik juga. Dan pastikan Iqbal harus menerapkan pola kesehatan yang sudah Alea tulis di kertas kecil. Pokoknya Pak Ujang harus mastiin Iqbal gak kenapa-napa."
"Siap, Non Alea. Pak Ujang pastiin Den Iqbal selalu baik-baik saja," timpal Pak Ujang antusias, alhasil membuat Alea tersenyum tipis.
"Sampai jumpa lagi, Alea. Jaga diri kamu baik-baik di sini ya," ujar Ny. Indah, yang kemudian memeluk Alea sejenak.
"Oke, Tante."
Setelah berpelukan dengan Ny. Indah, Alea kini beralih mendekati Iqbal lalu memeluk lelaki itu sangat erat. Seolah tak ingin Alea lepaskan meski ujung-ujungnya hanya berpisah.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Iqbal. Jangan lama perginya, nanti suster kangen sama Iqbal. Pokoknya Iqbal harus kembali lagi ke sini dengan cepat oke," pinta Alea dengan lirih. Bahkan detik ini Alea mulai menangis di pelukan Iqbal, karena sudah tak kuasa lagi menahan segala kesedihannya.
"Oke, Sus. Iqbal perginya gak akan lama. Tunggu Iqbal ya, Sus," balas Iqbal.
Alea mengangguk kecil disertai isak tangisnya. Sesegera mungkin ia melepas pelukannya dengan Iqbal walau terasa berat untuk ia lakukan. Bersamaan dengan itu, Iqbal menghapus air mata Alea dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis, Sus. Nanti Iqbal bakal ikutan nangis," ucap Iqbal seraya memasang raut wajah sedih.
Alea menunduk dan tertawa pelan sejenak. Kemudian ia menunjukan senyum tipisnya pada Iqbal. "Lihat! Suster sudah senyum. Sekarang Iqbal boleh pergi," ujar Alea berusaha untuk tegar.
__ADS_1
Iqbal tersenyum girang melihat sebuah senyuman terlukis di bibir Alea. Sementara itu, Ny. Indah mulai menggenggam tangan Iqbal dan segera menuntun lelaki itu menuju mobil.
"Pamit dulu ya, Non," ucap Pak Ujang pada Alea. Alea membalas dengan anggukan kecil.
Pak Ujang berjalan menyusul Ny. Indah dan Iqbal. Nampak Iqbal kini tengah melambai-lambaikan tangannya ke arah Alea sebelum memasuki mobil. Alea yang melihat hal itu, tak ingin tinggal diam. Ia segera melambai-lambaikan tangannya pada Iqbal seraya menunjukkan sebuah senyuman.
Bukan senyum kebahagiaan. Melainkan, senyum kesedihan.
Sekilas Alea menunduk untuk menghapus air mata. Setelah itu, ia mengangkat kepalanya kembali untuk melihat mobil yang ditumpangi Iqbal. Sontak Alea merasa heran saat Iqbal melangkah mendekatinya dengan senyuman lebar. Ia kira Iqbal sudah masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, Iqbal? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Alea, memandangi Iqbal dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Iqbal lupa."
"Lupa apa?"
Cup!
Iqbal mencium pipi Alea sekilas, membuat sang pemilik pipi terkejut hingga membulatkan mata.
"Dah, Suster. Tunggu Iqbal, ya," teriak Iqbal sambil bergegas pergi memasuki mobil.
Mobil yang ditumpangi Iqbal kini mulai melaju. Namun, Alea masih terkejut di tempat. Nyatanya sampai detik ini Alea belum berkedip karena saking tak percayanya Iqbal akan menciumnya sebelum pergi.
"Aku akan menunggumu, Iqbal," ujar Alea dengan kedua bola matanya yang kembali berair usai mobil yang ditumpangi Iqbal menghilang dari pandangannya.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Setiap saat tak pernah aku lewatkan untuk memikirkan Iqbal. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Hari ini dia sedang apa? Semua pertanyaan yang terlintas dipikiranku itu ingin sekali dijawab langsung oleh Iqbal sendiri.
Tapi aku sadar, Iqbal tidak ada di sini.
Entah kenapa Iqbal perginya begitu lama, apa dia betah berada di Kanada?
Apapun itu, aku ingin Iqbal secepatnya kembali ke sini. Aku merindukannya. Merindukan cara bermainnya. Merindukan senyumannya. Juga merindukan tingkahnya yang lucu.
Kapan dia akan kembali?
Berulang kali aku sudah menghubungi Tante Indah untuk menanyakan kabar mereka. Tapi, nomor Tante Indah malah tidak aktif. Kepada siapa lagi aku akan bertanya? Di handphone-ku hanya ada nomor Tante Indah saja.
Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?
Hampir setiap hari aku mengunjungi rumah Iqbal. Berharap pemilik rumah ada di rumah. Tapi sepertinya harapanku belum terkabul. Kenyataannya sampai sekarang belum ada tanda-tanda Iqbal atau Tante Indah akan pulang.
Aku pernah meminta Bi Minah untuk menghubungi Tante Indah atau Pak Ujang lewat telpon rumah. Tapi tetap saja nomor mereka sulit dihubungi. Dan itu membuatku jadi semakin gelisah.
Ada apa dengan mereka sebenarnya? Apa mereka baik-baik saja di sana?
***
__ADS_1
Sudah tiga tahun lamanya, aku masih menunggu Iqbal. Dan tetap saja, sampai sekarang aku belum tau kabarnya seperti apa. Bahkan, nomor Tante Indah masih belum aktif.
Aku tidak tau mereka ke mana. Aku benar-benar mencemaskan keadaan mereka. Dan pada detik ini pun, hatiku nggak pernah lepas dari rasa gelisah.
Ke mana mereka? Apa mereka baik-baik saja di sana?
Jujur, aku sangat merindukan mereka. Terumata pada Iqbal. Aku tidak tau apakah dia sudah sembuh ataukah belum.
Aku berharap dia baik-baik saja di sana. I miss you, Iqbal. Please, comeback.
***
Di pagi yang cerah ini, aku memilih untuk berdiam diri di kamar. Enggan keluar. Tadinya aku ingin mencoba merefreshkan diri dulu tanpa mau memikirkan apapun. Tapi, tetap saja pikiranku terus memikirkan Iqbal.
Kapan dia akan kembali?
"Alea."
Aku mendengar teriakan Lisa dari luar kamar. Entah kenapa di jam sepagi ini, Lisa datang ke rumahku. Apa dia mau ajak aku olahraga pagi? Ah, semoga saja enggak.
Baru saja aku ingin buka pintu untuk menemui Lisa, tapi dia sudah masuk duluan. "Yaelahh, bikin kaget aja lo," kataku.
"Hehe ... pagi, Alea," sapanya dengan penuh semangat.
"Pagi," balasku sedikit ketus dan berjalan menaiki ranjang tidur dengan langkah lesu.
"Etdah, semangat dikit kek. Dari dulu, lo galau mulu. Kapan bahagianya coba?" ujarnya, lalu duduk di sebelahku.
Aku tertawa pelan mendengar pertanyaannya itu. "Lo nanya kapan gue bahagia? Padahal lo sendiri udah tau, gue hanya akan bahagia setelah tau kabar Iqbal seperti apa," sahutku agak lirih.
Awalnya Lisa diam. Tapi setelah itu, dia merangkul bahuku cukup erat. Mungkin dia ingin menenangkanku. "Ya, udah ya, jangan sedih lagi. Kalau lo begini terus, gue jadi ikutan sedih. Mending gini aja, mulai sekarang lo harus yakin kalau di Kanada sana Iqbal baik-baik saja."
Ada benarnya juga perkataan Lisa. Tapi ya, mau gimana lagi. Hatiku terlanjur merasa sedih saat menerima kenyataan belum ada kabar sedikitpun mengenai Iqbal.
"Atau gini aja ... daripada lo sedih terus, mendingan kita ke Cafe aja, okey? Sekalian kita ajak Doni," usul Lisa.
Sejanak aku berpikir. Mungkin hari ini aku harus keluar rumah untuk merefreshkan diri. "Okey, gue setuju. Gue chat dulu Doni." Aku menyetujui usul yang diberikan Lisa.
"Nah, gitu dong."
Aku bergegas mengambil handphone dari atas nakas. Setelah itu, aku membuka layar handphone dan mengaktifkan data.
Baru saja aku ingin menekan aplikasi whatsapp, tiba-tiba saja notifikasi dari browser yang mendadak muncul dari layar handphone, membuatku terkejut hebat bukan main.
[Breaking news : Iqbal Riandra Keanny, seorang penduduk asal Indonesia berhasil menjadi juara satu dalam kompetisi renang di Kanada.]
"Iqbal Riandra Keanny? Apa orang yang dimaksud di berita ini adalah Iqbal Riandra Keanny yang pernah aku rawat?" Aku bertanya pada diriku sendiri karena saking tak percayanya dengan berita yang aku lihat di pagi ini.
"Itu berarti Iqbal sudah sembuh, dong?"
__ADS_1
• Bersambung •
Jangan lupa kasih dukungan buat author ya 😊 Biar makin semangat buat up-nya 🤗