
...***...
Sekitar pukul 2.00 pagi, Alea memutuskan untuk pulang bersama dengan Ibunya karena sebentar lagi hari akan menjelang fajar. Melihat hal itu, Iqbal pun tak ingin tinggal diam. Ia segera menghampiri Alea dan menawarkan diri.
"Aku antar pulang ya, Al."
Alea hanya merespon dengan senyuman. Setelah itu, ia beralih menatap dua sahabatnya secara bergantian.
"Oya, sebelum aku pulang, aku mau ngucapin makasih banyak ke kalian karena kalian udah bela-belain datang ke sini tengah malam, terus ngasih surprise ke aku, bikin aku happy. Jujur, aku terharu banget."
Sejenak Alea menunduk untuk mengusap pipinya yang basah. "Tuh kan malah jadi nangis lagi. Ah, pokoknya kalian berdua bener-bener sahabat aku paling best. Aku beruntung punya kalian. Sekali lagi makasih banyak."
Lisa dan Doni langsung tersenyum. Mereka pun segera menghampiri Alea, lalu mengusap air mata gadis itu secara bersamaan.
"Nggak perlu bilang makasih, Ya. Kita berdua tulus kok datang ke sini, ngasih surprise ke kamu," ucap Doni, yang kini beralih merangkul bahu Alea.
"Bener tuh apa kata Doni. Lagian nih, Ya, dalam persahabatan, kita memang harus saling support, saling solid, saling bantu, saling buat happy. Yang terpenting sih jangan saling khianati. Karena gue pengen persahabatan kita ini selalu utuh sampai kapanpun," sahut Lisa.
Bibir Alea menerbitkan sebuah senyuman. Ia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Lisa dan juga Doni yang selalu ada untuknya sejak masa putih abu-abu.
"Hmm, jadi makin sayang sama kalian." Alea kemudian merangkul bahu dua sahabatnya dengan sangat erat.
Iqbal, Ibu Alea dan sang Manager yang melihat hal itu, hanya bisa tersenyum. Mereka ikut terharu dengan persahabatan yang Alea dan teman-temannya jalin. Kuat serta utuh.
Mereka berharap persahabatan ketiganya akan selalu awet sampai kapanpun.
Setelah memeluk Lisa dan Doni, Alea bergegas mendekati Ibunya. Sejenak Alea menatap wajah sang Ibu dengan tatapan sendu. "Dan untuk Ibu yang sangat Alea sayangi, Alea pengen ngucapin makasih banyak karena Ibu selalu ada untuk Alea. Nguatin Alea. Jagain Alea. Rawat Alea. Dukung Alea. Alea bener-bener beruntung punya Ibu. Ibu selalu jadi hero buat Alea."
Perkataan Alea sukses membuat Ibunya meneteskan air mata. Dan tanpa berpikir panjang lagi, wanita paruh baya itu segera mengulurkan tangan untuk membelai rambut putri kesayangannya.
"Kamu adalah kebanggaan Ibu, Nak. Jadi apapun akan Ibu lakukan asal kamu selalu bahagia," ujar sang Ibu.
Bibir Alea kembali mengulas senyum haru. Dengan cepat, Alea pun membenamkan diri dalam pelukan Ibunya. "Alea sayang banget sama Ibu. Ibu itu segalanya buat Alea."
"Ibu juga sayang sama kamu, Alea. Tetap bahagia ya. Do'a Ibu akan selalu menyertai kamu."
Benar-benar suasana yang sangat menyentuh hati. Begitulah pendapat Iqbal dalam batinnya.
__ADS_1
Di samping itu, Alea mulai menghampiri Manager usai memeluk sang Ibu.
"Dan untuk bapak Manager, saya ucapin makasih banyak karena bapak sudah meluangkan waktunya untuk datang ke sini ngasih surprise ke saya."
"Nggak perlu berterimakasih. Saya senang kok bisa hadir di acara kamu," timpal Manager dengan senyuman.
"Oya, lain kali jangan panggil saya bapak karena umur saya gak beda jauh dari kamu. Panggil saya Ari aja," ujar Manager memperingati.
"Jadi nama lo, Ari?" Lisa bertanya memastikan.
Manager yang bernama Ari itu hanya menggangguk kecil. "Iya, nama saya Ari Wijayanto."
Detik ini ... menit ini ... jam ini, akhirnya Lisa tau siapa nama cowok ngeselin yang pernah ia temui saat dirinya ingin membeli make up untuk Alea.
"Kalau gitu salam kenal ya, Pak. Eh, maksudnya Ari." Alea mulai mengulurkan tangannya di hadapan Ari.
Ari yang hendak ingin berjabat tangan dengan Alea, tiba-tiba saja didahului oleh Iqbal.
"Iya, salam kenal juga, Nona," balas Iqbal dengan tersenyum lebar.
Mulut Alea langsung ternganga. Ia terkejut dengan sikap Iqbal barusan.
"Iya Sus? Ada apa?" tanya Iqbal sambil memasang wajah pura-pura tidak tau.
"Kok jadi kamu yang berjabat tangan dengan suster?"
"Ya gak papa kali, Sus. Lagian aku sama Ari udah kayak saudara. Jadi gak papa dong kalau aku wakilin Ari buat berjabat tangan sama suster," jawab Iqbal ngeles.
Alea hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban Iqbal yang nggak masuk akal. Sementara Ari, bergegas membisikkan sesuatu di telinga Iqbal.
"Ehem, bilang aja lo cemburu."
"Ah, diem lo! Denger ya bapak manager yang terhormat, meskipun bapak adalah Manager saya, tapi saya gak bakal ngizinin bapak buat deket-deket sama suster kesayangan saya. Karena apa? Karena Alea hanya milik saya. Inget itu," timpal Iqbal dengan sedikit menekan setiap kata-katanya.
Alhasil Ari langsung terkekeh. Ia tak menyangka kalau sahabatnya ini memiliki perasaan cemburu yang cukup besar.
Tapi Ari belum puas. Ia ingin melihat kembali reaksi Iqbal saat sedang cemburu.
__ADS_1
"Milik lo bakal gue rebut," bisik Ari sambil menyunggingkan senyum jahilnya.
Lantas Iqbal langsung melototkan mata. Dengan penuh kesal, ia menjitak kepala Ari cukup keras. "R*se lo! Lo mau nyari ribut sama gue."
"Ahh, kualat lo sama Manager sendiri. Tadi gue cuma bercanda," ucap Ari.
"Ya siapa suruh lo isengin gue. Jadi gitu kan akibatnya. Nih, gue ingetin sekali lagi ya. Alea Salsha Queenza itu hanya milik gue. Milik Iqbal Riandra Keanny. Ngerti?"
"Iya, ngerti."
"Bagus." Sekilas Iqbal menepuk-nepuk punggung Ari. Setelah itu, ia bergegas mendekati Alea.
"Ekhem." Iqbal sengaja berdehem agar gadis di sampingnya ini memberikan ucapan terimakasih juga kepadanya secara langsung.
"Ayo Bu, kita pulang."
Mengejutkan. Tiba-tiba saja Alea menarik lengan Ibunya tanpa mengucap sepatah kata apapun pada Iqbal, yang membuat mulut lelaki itu langsung ternganga.
"Loh, Al ... kok aku gak dikasih ucapan makasih juga?"
"Suster tunggu di mobil."
Hanya jawaban itu yang Iqbal dapat. Ngeselin bukan.
"Yang sabar ya, Iqbal. Iqbal 'kan anak baik. Jadi jangan cemberut oke," peringat Ari, di akhiri dengan tertawa kecil.
"Diem lo!" ketus Iqbal, kemudian bergegas menuju mobil sambil mengerucutkan bibir, menahan rasa kesal.
***
Iqbal memberhentikan mobilnya di depan rumah Alea. Setelah itu, ia turun lalu bergegas membukakan pintu tengah mobil.
"Silahkan, Tante!" ujar Iqbal tersenyum ramah kala Ibu Alea turun dari mobil.
Namun, beda halnya ketika Alea turun. Iqbal hanya memasang wajah datar tanpa menatap gadis itu sedikitpun. Lantas Alea jadi heran sendiri melihat tingkah Iqbal yang tiba-tiba aneh.
"Iqbal, kamu marah sama suster?"
__ADS_1
Tak ada jawaban. Lelaki itu hanya fokus memandang ke arah lain sambil bersiul.
• Bersambung •