Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Lelaki Penggoda


__ADS_3

Hey cewek, joged bareng yuk!" Seorang lelaki berkaos hitam mendadak menghadang langkah Alea dari depan.


Sontak mata Alea membulat. Ia ingin melangkah ke samping, namun, lelaki itu selalu saja mencegahnya. "Bisa minggir gak?" tanya Alea dengan ketus.


Lelaki itu menggeleng seraya tersenyum semuringah dan hendak mendekatkan wajah pada wajah Alea. Tapi untungnya Doni langsung melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan lelaki itu.


"Hey, Mas. Aku peringatin kamu, ya, jangan sekali-kali deketin my pacar," ucap Doni sambil menunjuk wajah lelaki itu cukup kasar.


"Ciyus? Dia pacar lo? Ck, kagak mungkin." Lelaki itu tertawa kecil karena tak mempercayai ucapan Doni.


Walau begitu, Doni akan berusaha mengalihkan perhatian lelaki itu agar tidak tertuju pada Alea. Lisa yang sedari tadi hanya menyimak, kini mendekati Alea dan meminta temannya itu untuk segera pergi mencari Iqbal.


"Ya, cepetan lo pergi. Mumpung Doni lagi sibuk nyari perhatian si cowok bre*gs*k," titah Lisa dengan berbisik pada telinga Alea.


"Ya udah, lo di sini aja okey, temenin Doni."


Lisa mengangguk. Sementara itu, Alea langsung melangkah melewati kerumunan orang-orang yang masih sibuk berjoged.


Alea terus mengedarkan pandangan ke segala arah, terutama pada orang-orang yang tengah berpesta gila. Sungguh, saat ini Alea benar-benar mencemaskan keadaan Iqbal. Ia takut kondisi Iqbal malah semakin memburuk setelah dibawa keluar rumah oleh Tasya.


Entah di sudut mana pacar dari Rio itu mengajak Iqbal party. Namun, yang jelas Alea tidak akan pernah berhenti 'tuk mencari keberadaan Iqbal.


Selang beberapa lama, langkah Alea terhenti saat berada di tempat minuman. Alea terkejut hebat begitu melihat ada sosok Iqbal di sana bersama dengan Tasya. Gadis berambut pirang itu terlihat akan memberi minuman b*r ke mulut Iqbal.


Lantas Alea mengepalkan kedua tangannya dengan emosi yang mulai mendidih, ia benar-benar geram kepada Tasya karena sudah berani membawa Iqbal yang sakit ke klub malam.


"Dasar cewek gak tau diri," umpat Alea dan langsung melangkah ke tempat minuman dengan sorotan mata tajam.


Alea menarik Tasya saat gadis berambut pirang itu hampir memberi minuman b*r ke mulut Iqbal. Dan ....


Plak!


Tak segan-segan, Alea menampar pipi Tasya cukup keras. "Br*ngs*k lo." Alea kembali mengumpat karena saking emosinya.


Sementara itu, Tasya ternganga setelah mendapat tamparan dari Alea. Berbeda dengan Iqbal, saat ini ia sibuk berjoged meski berada di tempat minuman.

__ADS_1


"Oh My God. Beraninya kamu nampar aku," ketus Tasya dengan menatap tajam wajah Alea.


"Heh." Alea mencengkram rahang Tasya. "Lo yang udah berani bawa Iqbal pergi. Lo kan udah tau dia lagi sakit, terus kenapa lo bawa pergi, hah?" pekik Alea.


Tasya menampik cengkaraman Alea dengan kasar. "Ya up to me dong. Orangnya aja it's okay, no problem. Kenapa kamu yang ribet? Udahlah, kasihan Iqbal. Cowok seganteng dia masa dikurung mulu di kamar, mendingan aku ajak hangout bareng aja ke sini," ujar Tasya dengan wajah yang tak berdosa.


Alea menghembuskan napas kasar. Kenapa ia harus dihadapkan dengan seorang Tasya yang keras kepala dan pura-pura tak berdosa seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"Capek kalau ngomong sama kaleng kosong, kapanpun juga gak bakalan ngerti," ketus Alea. Sedangkan Tasya ternganga setelah dirinya disamakan kaleng kosong oleh Alea.


"Iqbal, ayo kita pergi dari sini!" ajak Alea seraya menggenggam pergelangan tangan Iqbal dan hendak menariknya. Namun, kala itu Iqbal langsung menahan diri.


"Mau ke mana, suster? Iqbal gak mau pergi, Iqbal masih betah di sini. Mendingan suster gabung party aja bareng Iqbal sama Tasya," ujar Iqbal.


Alea membulatkan matanya, lalu sekilas ia memandang ke arah Tasya yang nampak tersenyum penuh kemenangan. Alea menatap Tasya sangat tajam. Gadis berambut pirang itu sukses membuat Iqbal enggan untuk pergi. Walau begitu, Alea akan berusaha membujuk Iqbal untuk pergi dari tempat yang meresahkan itu.


"Iqbal, tempat ini gak baik untuk kamu. Mendingan kita pulang, main game di rumah," ucap Alea dengan nada lembut.


"Game gak menyenangkan. Iqbal bosen main game terus. Pokoknya Iqbal pengen tetap di sini." Kali ini Iqbal yang keras kepala. Bahkan, ia melepaskan genggaman tangan Alea cukup kasar.


"Tapi, Iqbal---"


"Ayo, Tasya. Kita ke sana, joged bareng." Iqbal menarik tangan Tasya dan membawanya ke tengah kerumunan orang yang sedang menari li*r.


Sejenak Tasya membalikkan badan, lalu ia menjulurkan lidahnya ke arah Alea. Tentu saja Alea semakin geram setelah Tasya meledeknya dan meracuni pikiran Iqbal.


"Tuh cewek bikin emosi gue naik aja," ketus Alea, kemudian bergegas memasuki kerumunan orang-orang dan mencekal pergelangan tangan Iqbal.


"Iqbal, ayo kita pergi dari sini," ajak Alea.


"Ihh, suster. Iqbal gak mau pergi," tolak Iqbal.


"Iqbal, turuti apa kata suster," ucap Alea sedikit membentak.


"Gak mau."

__ADS_1


Iqbal langsung mendorong tubuh Alea hingga tubuh Alea tak sengaja menabrak seorang pelayan yang tengah membawa nampan berisi beberapa gelas minuman bir.


Prang!


Semua gelas yang ada di nampan pecah. Sedangkan Alea terjatuh ke lantai karena hilang keseimbangan. "Awww ...," ringkis Alea ketika telapak tangannya mengenai pecahan kaca hingga berdarah.


Hanya sedikit orang yang memperhatikan Alea saat Alea terjatuh. Yang lainnya sibuk menari. Walau ada yang memperhatikan, mereka tetap kembali pada aktivitas mereka seolah Alea adalah angin.


Terutama Iqbal. Lelaki itu kembali berjoged tanpa menyadari apa yang sudah dilakukannya pada Alea. Lalu Tasya? Dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Ya ampun, hati-hati dong, Mbak." Pelayan itu memperingati Alea seraya memungut pecahan kaca ke atas nampan.


"Maaf ... maaf, Mas," lirih Alea, kemudian ia beralih jongkok untuk membantu pelayan itu membersihkan pecahan kaca.


Sesekali pandangannya mengarah pada Iqbal yang nampak asik berjoged bersama Tasya tanpa memperdulikan dirinya terluka. Alea bisa memaklumi, karena saat ini Iqbal sedang sakit. Tapi Tasya ... sungguh Alea sangat benci pacar dari Rio itu.


Usai membantu pelayan membersihkan pecahan kaca, Alea perlahan bangkit dan berdiri tegap. Kini Alea mulai memikirkan cara untuk bisa membawa Iqbal pergi dari klub.


"Hey cantik."


Alea dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki yang tiba-tiba memegang tangannya dari belakang. Alea sedikit menoleh dan langsung memutar bola matanya malas. Lagi-lagi ada cowok penggoda yang datang menghampirinya.


"Minum bareng yuk!" ajak lelaki itu dengan berbisik di telinga Alea.


"Ogah," tolak Alea seraya menampik pegangan tangan lelaki itu dengan kasar.


Alea hendak beranjak pergi. Namun, tangannya kembali dicekal oleh lelaki itu. "Ihh, lepasin gak." Alea mulai meronta, ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman si cowok br*ngs*k.


"Ayolah, cantik. Masa kamu gak mau temanin aku minum," godanya dengan mendekatkan wajah pada Alea. Namun, cepat-cepat Alea memalingkan wajahnya ke arah lain.


Sekuat apapun Alea meronta, yang ada lelaki itu semakin mencekal tangannya sangat erat dan memaksa dirinya untuk ikut. 'Oh, Tuhan, siapa yang akan menyelamatkanku kali ini?' batin Alea mulai merasa gelisah.


Pasalnya Doni dan Lisa masih berada di sudut lain mengurusi cowok berkaos hitam. Tapi Iqbal? Alea tau Iqbal sedang sakit, namun, setidaknya Alea berharap Iqbal bisa membantunya lepas dari si lelaki penggoda.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2