
...***...
Pipi Alea jadi merah merona. Ia tak habis pikir Ibu dari laki-laki yang ia rawat selalu menggodanya belakangan ini.
Sementara itu, Ny. Indah hanya cekikikan setelah melihat ekspresi wajah Alea. "Baiklah, Alea. Nanti tante akan ajarin kamu cara membuat tumis jamur tiram yang paling enak supaya Iqbal suka sama masakan kamu dan kalau perlu orangnya juga Iqbal harus suka."
Orangnya? Apakah itu dirinya? Oh, ayolah. Kapan Ny. Indah akan berhenti menggodanya. Jika hal ini terus terjadi, Alea mungkin akan sulit untuk mengontrol jantungnya yang selalu berdetak tak karuan.
"Oya tante, kalau boleh tau kenapa ya Iqbal suka sekali dengan bunga melati? Setiap kali kita kasih Iqbal bunga itu, pasti kemarahannya akan langsung mereda. Apakah ada cerita di balik semua itu?" Alea mengalihkan pada topik lain.
Ny. Indah menghentikan aktivitas memotongnya. Kemudian ia memandang ke arah Alea dengan senyuman.
"Tentu saja ada Alea. Apa kamu ingin mendengarkannya?" tanya Ny. Indah, lalu dibalas anggukan dari Alea.
"Kalau begitu kita selesaikan dulu masaknya. Nanti setelah itu kamu ikut ke kamar tante. Rasanya kurang enak kalau ceritain di sini," ujar Ny. Indah.
Alea menyetujui. Ia pun segera membantu Ny. Indah menyelesaikan pekerjaan di dapur.
***
Alea kini berada di kamar Ny. Indah, tentunya bersama dengan pemilik kamar. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari Ny. Indah mengenai alasan di balik Iqbal menyukai bunga melati.
"Saat Iqbal akan menginjak usia 7 tahun, di saat itulah dia mulai menyukai bunga melati untuk yang pertama kalinya," ungkap Ny. Indah seraya menyodorkan foto palaroid kepada Alea.
Alea langsung mengambilnya. Terlihat foto palaroid tersebut menampilkan seorang anak laki-laki berparas wajah tampan dan manis tengah bergaya di taman.
Sontak saja Alea terkejut hebat bukan main. Ia mengenali anak laki-laki yang ada dalam foto palaroid tersebut.
"Ta--tante, ini foto Iqbal?" tanya Alea terbata-bata, sesekali pandangannya mengarah pada foto palaroid.
Ny. Indah membalas dengan anggukan, dan seketika itu mata Alea langsung berkaca-kaca karena saking tak percayanya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Lantas Ny. Indah merasa heran saat melihat kesedihan di wajah Alea. "Loh, Alea, kamu kenapa, Nak?"
Alea menggeleng pelan. Kemudian ia menatap Ny. Indah dengan sendu. "Tante, tolong ceritakanlah kenapa Iqbal suka sekali dengan bunga melati," pinta Alea.
"Baiklah, Alea." Ny. Indah membelai lembut rambut Alea.
***
Tiga belas tahun yang lalu, ketika Iqbal berusia 7 tahun dan selalu mendapati pukulan dari sang Papa, lelaki itu tak henti-hentinya menangis di dalam kamarnya.
Sakit rasanya hati Iqbal saat menerima siksaan dari Papanya sendiri. Apa kesalahannya? Apa kekurangannya?
Iqbal juga ingin merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, sama halnya kasih sayang yang diberikan kepada Rio, Kakaknya.
Lalu Rio? Seorang Kakak yang seharusnya menjaga adiknya, tapi malah menjauhinya.
Sebesar itukah kesalahan Iqbal?
Kini dalam kehidupan Iqbal hanya ada sosok Ibu yang begitu menyayangi dirinya. Ibu yang mencintai kedua putranya tanpa pilih kasih. Ibu yanh akan selalu ada untuk anaknya ketika suka satupun duka.
Dialah Indah.
Hati Indah merasakan sakit saat melihat putra bungsunya terus menangis di dalam kamar. Ia tau alasan di balik semua itu.
Tak tega melihat Iqbal terus bersedih, akhirnya Indah memutuskan untuk mengajak Iqbal pergi jalan-jalan keluar rumah.
Kebetulan Indah akan mengajak Iqbal jalan-jalan ke taman, karena menurutnya suasana di sana sangat menyenangkan. Ia berharap Iqbal akan terhibur setelah bermain di taman.
"Iqbal, gimana? Kamu betah kan berada di sini?" tanya Indah pada putranya saat tengah menikmati bersama pemandangan bunga.
Iqbal mengangguk kecil seraya memeluk Indah dari samping. "Iya, Mah. Iqbal suka sekali berada di sini, enggak seperti di rumah," ucap Iqbal jujur.
Indah sekilas tersenyum. Ia pun segera membelai lembut rambut putranya. "Mama mengerti, Iqbal. Kamu tidak betah berada di rumah Papa. Sebenarnya mama ingin sekali membawamu pergi dari sana, tapi mama tidak bisa karena dicegah oleh Papa. Tapi Iqbal tidak perlu takut, mama akan selalu ada untuk Iqbal."
Iqbal mengangguk kecil dalam pelukan sang Mama. Rasanya nyaman sekali berada di pelukan sosok Ibu yang benar-benar menyayangi dan mencintai anaknya tiada batas.
Setelah cukup lama menikmati pemandangan, Indah perlahan melepas pelukannya dengan Iqbal. Ia teringat akan membelikan sesuatu untuk Iqbal karena kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu, ya. Mama mau ke sana sebentar. Enggak akan lama, kok." Indah sekilas menunjuk ke arah timur, lebih tepatnya pada tempat jualan mainan anak.
__ADS_1
Iqbal mengangguk.
"Jangan ke mana-mana, ya." Indah memperingati.
Iqbal kembali mengangguk. Kemudian Indah bergegas pergi menuju tempat yang ingin ia tuju. Sementara Iqbal, beralih memandangi ke arah sekelilingnya di mana orang-orang tengah jalan bersama.
Seketika raut wajah Iqbal berubah menjadi sedih saat melihat seorang pria paruh baya dan seorang anak laki-laki tengah jalan-jalan bersama dipenuhi dengan canda tawa.
Bahagia rasanya jika Iqbal berada di posisi anak laki-laki itu yang bisa merasakan kebahagiaan dari sang Ayah.
Apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Iqbal sangat menginginkan ulang tahunnya bisa dirayakan bersama Papanya, Mamanya dan juga Kakaknya dengan penuh kebahagiaan. Tapi Iqbal merasa hal itu sepertinya tidak mungkin akan terjadi.
Segalanya telah sirna dalam sekejap. Mungkingkah ada cahaya kebahagiaan yang datang dalam hidupnya?
Kepala Iqbal beralih ditekukkan, meratapi buliran air matanya yang terus berjatuhan.
Refleks mata Iqbal membulat saat melihat ada tangan yang tiba-tiba terulur di bawah dagunya, menahan air matanya yang terus berjatuhan.
Perlahan Iqbal mendongakan wajahnya. Tampak sosok anak perempuan cantik yang mungkin berusia 6 tahun tengah tersenyum padanya.
"Kamu kenapa?" tanya anak perempuan itu.
Iqbal menggeleng. Kemudian menghapus matanya segera. "Tidak ada," jawab Iqbal singkat.
Anak perempuan itu kembali tersenyum. Lalu ia bergegas duduk di samping Iqbal dan mengulurkan tangannya di hadapan Iqbal.
"Kenalin nama aku Salsha."
Iqbal hanya membalas uluran tangan anak perempuan itu yang bernama Salsha tanpa menyebutkan nama.
"Tidak masalah jika kamu tidak memberitau nama kamu sendiri. Oya, ngomong-ngomong, kamu kenapa? Kamu lagi sedih, ya?"
Sejenak Iqbal memandang ke arah Salsha dengan tatapan tak bisa ditebak. Ia berpikir haruskah ia menceritakan kesedihannya pada Salsha. Ah, tidak. Lebih baik jangan diberitau dulu.
"Iya, aku lagi sedih," kata Iqbal lirih. "Tapi aku belum bisa beritau kamu. Maaf," sambungnya.
Salsha tersenyum. Kemudian ia menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Iqbal, lalu tangannya mulai merangkul bahu Iqbal.
"Salsha ngerti, kok. Tapi kamu jangan sedih ya. Apapun itu, Salsha yakin kamu bisa menghadapinya dengan keberanian."
Berbeda dengan teman-teman di sekolahnya. Mereka malah menjauhinya karena hasutan sang Kakak dan Sagita yang terkadang datang ke sekolah untuk memperingati teman-temanya agar menjauhinya supaya mereka tidak terkena si*l.
Sungguh, Iqbal merasa sedih akan hal itu.
"Oya, supaya kamu gak sedih lagi, Salsha akan kasih kamu sesuatu." Salsha kemudian mengoreh sesuatu dari dalam kantong kresek yang sempat tadi ia bawa saat menghampiri Iqbal.
"Ta-da." Salsha menunjukan setangkai bunga melati kepada Iqbal.
"Anggap saja ini sebagai hadiah dari seorang teman. Kamu mau kan jadi temannya Salsha?" tanya anak perempuan itu sambil tersenyum manis.
Tanpa mau berpikir, Iqbal langsung mengangguk, mengiyakan permintaan Salsha dengan mengambil setangkai bunga melati yang ada di tangannya itu.
"Kata Ayah, bunga melati ini memiliki arti cinta, kesederhaan dan juga keberuntungan. Salsha do'akan semoga hidup kamu penuh dengan kebahagiaan, sama seperti warna bunga melati ini."
Iqbal tersenyum mengembang. Hatinya benar-benar merasa tenang setelah bertemu dengan Salsha yang kini telah resmi menjadi teman barunya.
"Terimakasih."
Salsha sekilas mengangguk-angguk. Lalu detik berikutnya senyumnya memudar saat melihat ada bekas merah di tangan Iqbal.
"Tangan kamu kenapa?" Salsha meraih tangan Iqbal dan meneliti luka yang dialami oleh anak laki-laki itu.
"Enggak papa, cuma luka kecil."
"Salsha."
Seseorang tiba-tiba memanggil nama anak perempuan itu. Lantas si pemilik nama mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. "Ibu," sebut Salsha seraya melepas lengan Iqbal.
"Ayo, Nak, kita pulang," ajak Ibu Salsha yang kini sudah berada di dekat putrinya.
Salsha mengangguk. Kemudian ia beralih memandang ke arah Iqbal dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Yahh, sayangnya Salsha harus pergi sekarang. Tapi gak papa, meskipun Salsha tidak ada, atau tiba-tiba aja nanti kamu merasa sedih ataupun marah, kamu bisa liat bunga melati pemberian Salsha setiap hari."
Iqbal mengangguk sambil tersenyum simpul. Dalam hati sebenarnya Iqbal tidak ingin anak perempuan itu pergi. Tapi ... ya, sudahlah.
"Eh, tunggu." Iqbal mencekal pergelangan tangan Salsha saat anak perempuan itu hendak pergi.
"Kalau suatu saat kita bertemu lagi gimana?" tanya Iqbal menatap Salsha dengan tatapan tanda tanya.
Salsha mulai berpikir. "Salsha akan main sepuasnya dengan kamu dan tidak akan pergi lagi," ucap Salsha.
Iqbal tersenyum mendengarnya. Iqbal harap ia bisa bertemu lagi dengan Salsha di masa depan.
"Ayo, Nak. Kita harus pulang," ajak Ibu Salsha seraya menarik lembut lengan kiri Salsha secara perlahan hingga lengan kanan yang dicekal oleh Iqbal lepas begitu saja.
Salsha mulai melambai-lambaikan tangannya ke arah Iqbal sambil tersenyum lebar. "Dadah, teman."
Iqbal membalas lambaian tangan Salsha dengan senyum manis. "Dah! Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Aku ingin main sama kamu," teriak Iqbal setelah sosok Salsha sudah menghilang dari pandangannya.
Iqbal kembali duduk, lalu memandangi bunga melati yang dicekal erat oleh tangannya dengan senyuman. Sungguh, kehadiran anak perempuan itu membuat hatinya merasa tenang.
Meski Salsha sudah pergi, tapi Iqbal akan mengenang pemberiannya itu. Bunga melati.
Kini Iqbal telah membuat keputusan. Mulai hari ini, di hari ulang tahunnya yang ketujuh, bunga melati akan menjadi bunga favoritnya. Dan Iqbal tidak akan mengubah kesukaannya itu.
"Iqbal harap kita bertemu lagi nanti," ucap Iqbal seraya tersenyum saat memandangi setangkai bunga melati.
Selang beberapa lama, Indah datang menghampiri Iqbal sambil membawa kado yang sudah dirancang rapi olehnya, spesial untuk putra bungsunya yang tengah berulang tahun.
"Maafkan mama, Iqbal. Tadi mama lama karena bicara dulu sebentar dengan teman mama," ucap Indah seraya duduk di samping Iqbal.
Iqbal tak menjawab. Ia hanya fokus memandangi bunga melati itu. Indah yang baru menyadarinya, langsung merasa heran.
"Loh, itu bunga melati dari siapa?" tanya Indah.
"Dari teman baru Iqbal. Tadi dia datang menghibur Iqbal dan kasih bunga melati ini ke Iqbal sebagai hadiah pertemanan," jawab Iqbal.
"Memang nama teman baru kamu siapa, Iqbal?" Indah kembali bertanya.
"Namanya Salsha. Dia anak yang baik, Mah. Iqbal ingin sekali bertemu lagi dengan dia," timpal Iqbal, beralih menatap sendu wajah sang Mama.
Indah tersenyum. Kemudian ia membelai lembut puncak kepala Iqbal. "Iqbal sayang, mama do'akan di hari ulang tahunmu yang ketujuh, semoga anak mama ini panjang umur, sehat, selalu mendapatkan kebahagiaan dan apa yang diinginkan semoga tercapai."
"Aamiin ... makasih Mama," ucap Iqbal dan langsung memeluk Indah dari samping.
"Sama-sama, sayang. Ini kado untuk kamu dari mama."
Iqbal kemudian mengambil kado dari Indah, lalu ia letakkan di atas pangkuannya. Sedangkan tangannya kini hanya fokus memegang erat setangkai bunga melati pemberian Salsha.
Seperti biasa, Iqbal kembali memandang bunga melati itu dengan senyuman.
Melihat hal itu, Indah mulai merasa yakin Salsha adalah anak yang tepat untuk menjadi temannya Iqbal dan bisa membuat putranya itu selalu tersenyum.
Tapi di mana Indah akan bisa menemukan Salsha, teman baru Iqbal?
***
"Hingga sampai sekarang tante tidak tau di mana Salsha tinggal. Tante ingin sekali mengucapkan terimakasih padanya karena berkat dia, Iqbal dulu pernah tersenyum bahagia di saat hari ulang tahunnya." Ny. Indah mengakhiri cerita tentang alasan di balik Iqbal menyukai bunga melati.
Sementara Alea, ia tidak bisa menahan air matanya untuk keluar begitu saja sepanjang Ny. Indah bercerita.
"Sebelum mental Iqbal terganggu, dia selalu bertanya ke tante, di mana Iqbal harus mencari Salsha, di mana Iqbal harus menemukan Salsha. Katanya Iqbal kangen ... Iqbal ingin bertemu. Tante sendiri juga bingung harus mencari Salsha di mana. Tapi setelah Iqbal mengalami gangguan mental, dia mulai berhenti menanyai keberadaan Salsha, tapi kenangan bunga melati dari Salsha tidak pernah lepas dari ingatannya."
Alea terus meneteskan air matanya, bahkan setelah mendengar penuturan Ny. Indah, buliran air matanya tak berhenti keluar.
'Sebenarnya Salsha itu adalah aku,' batin Alea seraya memandangi foto palaroid yang menampilkan sosok Iqbal kecil.
Ya, jangan lupakan nama lengkap Alea adalah Alea Salsha Queenza. Dulu saat Alea masih kecil, Ibunya sering memanggilnya dengan sebutan Salsha karena diambil dari nama tengah. Tapi sekarang tidak lagi.
Sungguh, Alea benar-benar tak menyangka ia akan bertemu lagi dengan anak laki-laki yang pernah ia hibur dulu. Dan ternyata anak laki-laki itu tak lain adalah Iqbal, cowok yang selama ini sedang ia rawat.
Setelah hal ini, Alea berpikir, haruskah ia mengubah keputusannya untuk tidak pergi setelah Iqbal sembuh nanti? Haruskah Alea memenuhi permintaan Iqbal yang menginginkan menikah dengannya?
__ADS_1
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...