
...***...
"Hingga sampai sekarang papa Iqbal enggak ada niatan untuk pulang dan jarang memberi kabar ke tante. Tante tanya ke asistennya, katanya papa Iqbal masih sibuk di sana. Kadang tante suka sedih melihat Iqbal hidup menderita seperti itu. Rasa-rasanya tante seperti seorang ibu yang gagal dalam kebahagiaan putranya. Andai saja papa Iqbal dan Rio tidak memperlakukan Iqbal dengan kasar, pastinya sekarang keluarga kami akan baik-baik saja."
Ny. Indah mengakhiri ceritanya dengan isak tangis. Ia benar-benar tidak sanggup jika harus mengatakan sepatah kata lagi tentang kurang kasih sayangnya seorang Papa dan Kakak pada Iqbal.
Alea mengerti akan kesedihan yang dirasakan Ny. Indah. Sejujurnya Alea turut merasakan kesedihan itu. Buktinya sepanjang Ny. Indah bercerita, Alea tak henti-hentinya meneteskan air mata.
"Tante, sudah ya. Dalam menjalankan tugas seorang ibu, tante tidak pernah gagal. Justru tante terus melangkah maju, berjuang membesarkan Iqbal dan membuat Iqbal bahagia. Meski di depan ada begitu banyak rintangan, tapi tante bisa menghadapinya dengan kekuatan kasih sayang dan juga rasa cinta seorang ibu terhadap Iqbal."
"Jujur hati Alea jadi tersentuh setelah mendengar cerita dari tante. Kalau saja Alea ada di posisi Iqbal, pasti Alea juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Iqbal saat ini. Kurang kasih sayang dari seorang kakak apalagi ayah memang sangat sakit untuk diterima oleh hati." Alea terus mengungkapkan isi hatinya usai mendengar cerita yang cukup panjang dari Ny. Indah.
"Tapi Alea salut sama Iqbal. Iqbal laki-laki yang kuat. Sampai sekarang dia masih bisa bertahan meski dalam keadaan mental yang terganggu. Alea yakin jika Iqbal terus melakukan pola kesehatan setiap hari, dia pasti akan sembuh dengan cepat. Dengan begitu tante akan bisa melihat Iqbal yang ceria. Iqbal yang bahagia. Alea janji akan merawat Iqbal sampai sembuh," ucap Alea dengan mengulas sebuah senyum meski buliran air mata masih menetes membasahi pipi.
Ny. Indah terharu mendengarnya. Ia pun segera memeluk Alea dengan sangat erat.
"Terimakasih ya, Alea. Kamu memang wanita yang sangat baik. Tante beruntung telah mengenalmu. Dan terimakasih juga kamu sudah mau mendengarkan cerita tentang masa lalu Iqbal dan keluarga tante."
"Iya, tante. Alea juga senang bisa mengenal tante, apalagi mengenal Iqbal."
Sungguh, cerita masa lalu Iqbal sangat menguras air mata Alea. Ia hampir terus menangis setiap mendengar tentang luka yang dirasakan oleh seorang Iqbal Riandra Keanny.
Kenapa Iqbal harus menanggung semua itu sendirian? Kenapa Iqbal harus hidup menderita? Andai saja Alea pernah hadir pada kehidupan Iqbal di masa lalu, mungkin Alea akan memastikan Iqbal akan terus bahagia.
***
Setelah cukup lama berada di gudang, Alea bergegas memasuki kamar Iqbal. Netranya mendapati sosok Iqbal tengah terbaring tidur di atas ranjang tidurnya.
Alea tersenyum. Perlahan ia berjalan menuju bed cover milik Iqbal. Setelah itu, ia duduk di bawah kasur, di mana posisinya setara dengan perut Iqbal.
"Kenapa masa lalumu tidak begitu bahagia, hmm? Aku kira kamu mengalami mental terganggu karena hal biasa, tapi ternyata lebih menyakitkan dari apa yang kubayangkan," ucap Alea dengan lirih.
"Jujur, aku gak nyangka papamu akan melakukan kekerasan padamu, sampai-sampai kamu dihina sebagai anak pembawa si*l. Padahal kamu bukan anak seperti itu, kamu adalah laki-laki yang memiliki hati yang sangat baik dan juga membawa keberuntungan."
"Aku tau rasanya sangat menyakitkan bila terus ditekan oleh kakak sendiri, papa sendiri, bahkan orang lain. Aku tau kamu tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja pandangan mereka terhadapmu yang berbeda."
Sepanjang Alea terus berbicara, air matanya sedari tadi terus mengalir membasahi pipi. Bahkan ia mulai menangis terisak karena tak kuasa melanjutkan ucapannya mengenai masa lalu Iqbal.
Sedih rasanya jika harus flashback ke cerita masa lalu Iqbal. Akhirnya Alea memilih untuk diam dan berhenti menangis, ia tidak ingin suara tangisnya membangunkan Iqbal yang sedang tidur nyenyak.
"Kamu laki-laki yang kuat. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini dengan mudah," ucap Alea.
Tangannya mulai terulur untuk menyentuh setiap inci wajah tampan milik Iqbal. Mata indahnya ... hidung mancungnya ... bibir seksinya.
Oh, Tuhan, Alea tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Iqbal sudah sembuh dan laki-laki itu akan keluar rumah dengan gayanya yang keren layaknya anak orang kaya nan tampan yang baru keluar dari istananya.
Alea berpikir jika Iqbal keluar rumah dengan kondisi yang sudah sembuh total, pasti dia akan jadi rebutan setiap wanita. Alea jadi penasaran wanita mana yang akan beruntung menjadi milik Iqbal nantinya.
Alea berharap Iqbal akan memilih wanita yang tepat untuk dijadikan pasangan hidup.
'Ah, ya ampun, Alea.'
Alea menggeleng-gelengkan kepalanya sekilas, menghilangkan pikirannya yang berlebihan tentang masa di mana jika Iqbal nantinya sudah sembuh total.
"Fighting, Iqbal Riandra Keanny. Suster Alea akan selalu ada bersamamu," ucap Alea seraya tersenyum.
Ketika Alea tengah fokus memandang kedua mata Iqbal yang terpejam, tiba-tiba saja ia mulai merasakan kantuk. Alea lupa semalam ia kurang tidur.
__ADS_1
Kini Alea beralih menyilangkan kedua tangannya di atas sprey, lalu menenggelamkan kepalanya di sela-sela silangan tangan. Ia sudah tidak kuat ingin memejamkan matanya.
Hingga akhirnya Alea tertidur pulas di samping Iqbal.
Sementara itu, Iqbal mulai membuka kelopak matanya saat merasakan ada tangan seseorang menindih punggung tangannya.
Setelah Iqbal lihat, ternyata si pemilik tangannya adalah Alea. Iqbal kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Sttt ... Iqbal gak boleh berisik. Suster Alea sedang tidur, Iqbal gak boleh bersuara keras. Kalau gitu, selamat tidur, suster Alea," ucap Iqbal dengan nada pelan.
Setelah itu, Iqbal kembali memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Alea.
***
Drtttt ....
Handphone Alea sekilas bergetar, tentu saja hal itu membangunkan si pemilik HP. Sesegera mungkin Alea mengecek handphone-nya dengan keadaan mata yang masih mengantuk.
"Ibu?" Alea melihat ada message masuk dari Ibunya muncul di layar HP-nya.
Cepat-cepat Alea menegakkan tubuhnya, lalu membaca pesan tersebut dengan seksama.
[Alea, ini sudah sore. Kamu mau pulang atau tidak?]
"Hah? Ini sudah sore?"
Benar saja, ketika Alea melihat jam di ponselnya, ternyata menunjukkan pukul 17.00.
Oh astaga, Alea ketiduran. Entah berapa jam tadi Alea tidur. Lalu Iqbal? Alea teringat akan Iqbal. Pandangannya langsung teralihkan pada bed cover, hasilnya tidak ada sosok Iqbal di sana.
Tapi setelah Alea lihat ke arah pintu kamar, pintu tersebut tetap dalam keadaan tertutup. Lalu di mana Iqbal?
Tanpa berpikir panjang, Alea segera mencari keberadaan Iqbal. Namun, saat ia berdiri, Alea baru menyadari ada selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Alea berpikir apakah Iqbal yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut?
Ceklek
Pintu kamar terbuka dari luar. Ternyata yang membukanya adalah Iqbal. Lantas Alea heran, kapan Iqbal keluar?
Iqbal kemudian masuk ke dalam dengan diikuti oleh Ny. Indah di belakangnya. Tampak penampilan Iqbal sangat rapi dan tampan, apakah dia sudah mandi?
"Hmm, tante. Maaf, tadi Alea ketiduran. Seharusnya Alea enggak tidur tadi, mana Alea tidurnya lama lagi. Maafin Alea ya, tante. Alea jadi gak enak, nih," ucap Alea mulai kehabisan kata-kata untuk meminta maaf.
Ny. Indah tersenyum, kemudian ia berjalan menghampiri Alea. "Tidak apa-apa, Alea. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Lagian Iqbal gak masalah kalau kamu tidur, malahan Iqbal sendiri yang memberimu selimut biar tidak kedinginan," jelas Ny. Indah.
Sudah Alea duga. Tapi kenapa Iqbal begitu perhatian padanya? Ah, bikin salting aja.
"Alea, apa Ibumu mengirim pesan?" Ny. Indah mengalihkan pada topik lain.
"Iya, tante. Ibu tanya Alea mau pulang atau tidak."
Iqbal terkejut ketika mendengar kata pulang. Dengan cepat ia langsung melingkarkan tangannya pada lengan Iqbal. "Enggak. Iqbal gak ngizinin suster pulang. Pokoknya suster harus di sini, nemenin Iqbal."
"Tapi--"
"Gak ada tapi-tapian. Iqbal tetap gak ngizinin suster pulang," tegas Iqbal dengan mempererat gandengannya.
__ADS_1
"Nak Alea, sebaiknya kamu tinggal di rumah tante untuk sementara waktu. Kan saat ini kamu sedang bekerja sebagai susternya Iqbal, jadi alangkah baiknya kamu jangan pulang dulu. Masalah uang, nanti tante akan berikan ke Ibu kamu secara langsung supaya Ibu kamu gak bingung mau cari uang ke mana. Kamu tidak keberatan kan tinggal di rumah tante dulu?" tanya Ny. Indah setelah berbicara cukup panjang.
Alea mulai berpikir, sesekali ia menoleh ke arah Iqbal yang selalu ngotot meminta dirinya untuk tidak pulang.
Selang beberapa menit, keputusan sudah Alea dapatkan.
"Baiklah, tante. Alea akan tinggal di rumah tante untuk sementara waktu. Nanti Alea akan kirim pesan ke Ibu tentang masalah ini."
Ny. Indah tersenyum mendengarnya. Apalagi Iqbal. Lelaki itu langsung meloncat-loncat kegirangan.
"Yeayyy ... suster gak jadi pulang ... suster gak jadi pulang ...," sorak Iqbal penuh antusias. Setelah itu, Iqbal langsung memeluk Alea sangat erat, membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Ingat ya, suster. Suster gak boleh ke mana-mana, suster harus tetap di sini bersama dengan Iqbal," peringat Iqbal.
Alea yang awalnya termangu, kini perlahan membalas pelukan Iqbal. "Iya, Iqbal. Suster gak akan ke mana-mana," timpal Alea.
Lagi-lagi senyuman kembali terukir di bibir Ny. Indah. Kali ini ia mengukir senyum penuh haru. Ternyata dengan kehadiran Alea, Iqbal perlahan bisa bahagia.
Ny. Indah berharap Alea akan selalu bersama dengan Iqbal meski Iqbal sendiri nantinya sudah sembuh total.
***
Malam harinya, Alea dan Ny. Indah tengah menemani Iqbal di kamarnya.
Kebetulan Alea sudah membuatkan segelas susu untuk Iqbal. Sementara Ny. Indah membawa buku cerita dongeng untuk ia ceritakan pada Iqbal ketika sedang minum susu.
"Mama, cepatlah ceritakan!" pinta Iqbal.
"Baiklah."
Ny. Indah langsung menceritakan kisah tentang Beauty and The Beast dengan cukup detail. Tampak Iqbal begitu sangat serius saat menyimak kisah tersebut. Sedangkan Alea hanya berekspresi biasa saja, pasalnya ia sudah tau tentang kisah Belle dan Beast.
"Pada akhirnya sang pangeran dan Belle menggelar pesta perayaan, lalu mereka berdansa dengan bahagia." Ny. Indah langsung mengakhiri cerita tersebut dengan senyuman.
Seketika Iqbal menepuk-nepuk kedua tangannya dengan penuh antusias. "Yeayy ... Belle dan Beast akhirnya bersatu. Iqbal seneng deh kalau endingnya bahagia," ucap Iqbal.
Ny. Indah hanya tersenyum, begitupun dengan Alea. Alea yakin hidup Iqbal juga akan berakhir bahagia, sama seperti cerita Beauty and The Beast.
"Mama, apakah Belle dan Beast nantinya akan menikah?" tanya Iqbal.
"Mama sih kurang tau akan hal itu. Tapi yang namanya pangeran dan putri raja pasti endingnya akan menikah," jawab Ny. Indah.
Tampai Iqbal mulai berpikir. "Hmm, apakah Iqbal boleh minta sesuatu ke mama?"
"Ya tentu boleh, Sayang. Memangnya kamu mau minta apa?" Ny. Indah balik bertanya.
"Iqbal minta ...." Sejenak Iqbal memandang ke arah Alea. Membuat yang dipandang jadi merasa heran.
Tak lama, bibir Iqbal mulai membentuk sebuah senyuman. "Iqbal minta mama nikahkan Iqbal dengan suster Alea," ucap Iqbal seraya melingkarkan kedua tangannya pada leher Alea, tentunya untuk memeluk gadis itu.
Deg!
Seketika jantung Alea seolah ingin berhenti setelah mendengar permintaan Iqbal yang sangat mengejutkan dirinya.
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...
__ADS_1