
...***...
"Ada apa, Alea? Kenapa kamu nangis?"
Cepat-cepat Alea menggeleng. Ia tidak ingin menunjukan kesedihannya di depan Ny. Indah. Apalagi saat ini ia bersedih karena mengingat masa kecilnya dengan Iqbal.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beritau ke tante?" tanya Ny. Indah dengan nada lembut.
Alea terdiam. Ia sendiri bingung harus memberitau ataukah tidak. Alea belum bisa buat keputusan mengenai apa yang akan ia lakukan setelah Iqbal sembuh nanti. Jadi Alea berpikir untuk tidak memberitau dulu mengenai sosok Salsha kepada Ny. Indah ataupun Iqbal.
"Tidak ada, tante," jawab Alea dengan gelengan kepala.
"Ya sudah, tante ke kamar Iqbal dulu. Tante mau bawa dia ke taman supaya gak jenuh di kamar terus. Nanti kamu nyusul ke sana ya," ujar Ny. Indah seraya bangkit dari tempat duduknya.
Alea mengangguk kecil. Sementara Ny. Indah bergegas pergi dari kamarnya. Menyisakan Alea yang tengah dilanda kebimbangan.
"Astaga Alea. Apa susahnya sih buat keputusan. Lagian kamu tuh udah bilang ke Iqbal untuk tidak pergi ninggalin dia, tapi kenapa sekarang kamu malah jadi bimbang gini." Alea bermonolog sambil menggerutu.
Sungguh, Alea benar-benar kesal kepada dirinya sendiri yang malah sulit untuk mengaku kalau sebenarnya ia adalah Salsha yang selama ini Iqbal dan Ny. Indah cari.
***
Alea menghentikan langkahnya di dekat tanaman bunga. Ia ingin memandang terlebih dulu sosok Iqbal yang sedang menggambar dari jarak yang cukup jauh.
Ternyata Iqbal yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Alea kira Iqbal yang dulu pernah ia hibur tidak memiliki kesedihan yang sangat mendalam. Tapi nyatanya ... hidup Iqbal menderita, laki-laki itu tidak bahagia dan sering menangis.
Kenapa dulu Iqbal tidak membagikan kesedihan kepadanya? Dan kenapa Iqbal malah tidak memberitaukan namanya? Kalau saja dulu Alea tau anak itu Iqbal dan tau akan penderitaannya, mungkin saat itu Alea akan selalu menemani hari-hari Iqbal agar lebih berwarna.
Tapi semuanya terlanjur berubah. Iqbal kini mengalami gangguan mental akibat perlakuan tak wajar dari sang Papa. Meski begitu, Alea berjanji akan merawat Iqbal sampai sembuh.
"Alea."
Alea tersadar dari lamunannya saat Ny. Indah sudah berdiri di hadapannya.
"Kok, kamu malah berdiri di sini? Temani Iqbal, gih. Tante mau ambil dulu makan siang untuk Iqbal," ucap Ny. Indah seraya membelai lembut rambut Alea.
"Baik, tante."
Ny. Indah sekilas tersenyum, kemudian ia bergegas masuk ke dalam. Sementara Alea masih berdiri mematung, memandangi Iqbal yang kini tengah bermain dengan bunga melati.
Sejenak Alea berpikir, apakah lelaki itu masih mengingat Salsha? Apakah lelaki itu masih ada keinginan untuk mencari keberadaan Salsha? Sementara Salsha yang selama ini Iqbal cari adalah dirinya sendiri.
"Hey, suster," sapa Iqbal ketika menyadari ada kehadiran Alea di taman. Ia pun segera bangkit dari tempat duduk dan mengode Alea dengan lambaian tangan untuk segera menghampirinya.
Alea mengangguk dengan kedua matanya yang sudah berair. Ia lalu berlari kecil menghampiri Iqbal sambil mengingat pertemuan pertamanya dengan lelaki itu di masa kecil.
Bruk!
Alea langsung memeluk erat tubuh Iqbal, lalu menangis di pelukan lelaki itu. Iqbal yang terkejut akan sikap susternya pun merasa heran.
"Suster kenapa? Kok, nangis?" tanya Iqbal tak mengerti.
Alea tak menjawab. Ia terus meluapkan tangisannya di pelukan Iqbal. Jujur, perasaan Alea saat ini sedang campur aduk. Sedih ... bimbang ... tidak menyangka, semua itu telah tercampur dalam hatinya.
Berhasil sudah cerita di balik Iqbal menyukai bunga melati membuat dirinya menangis. Alea tak peduli jika disebut cengeng. Detik ini ia hanya ingin memeluk teman masa kecilnya, Iqbal.
"Suster," sebut Iqbal dengan kedua tangannya yang mulai terangkat untuk membalas pelukan susternya. "Jangan nangis. Nanti Iqbal ikutan sedih," sambung Iqbal.
"Suster gak nangis." Alea berkata dusta.
"Hah? Gak nangis? Terus ini suara apa?" tanya Iqbal seraya melepas pelukan Alea, lalu menatap gadis itu dengan seksama.
"Tuh kan suster bohong. Katanya suster gak nangis, tapi ini apa coba?" Iqbal mencuil air mata Alea yang terus mengalir membasahi pipi.
"Suster jangan coba nipu Iqbal, ya. Nanti Iqbal ngambek dan gak mau bicara sama suster," ucap Iqbal dengan raut wajah marah tapi menggemaskan jika dilihat oleh netra Alea.
Lantas Alea terkekeh, ia tidak bisa menahan tawa kecilnya jika sudah melihat ekspresi Iqbal yang lucu. Cepat-cepat Alea menghapus air matanya, ia tidak ingin Iqbal tau kenapa tadi menangis.
"Suster, tadi--"
"Stop! Suster tau kamu pasti ingin bertanya kenapa suster nangis. Sekarang suster akan jawab, suster gak kenapa-napa. Tuh liat," potong Alea seraya menunjukan senyum lebarnya.
"Ihh, suster lucu," ujar Iqbal dengan wajah antusias. Sesekali menepuk-nepuk kedua tangannya sambil meloncat-loncat kegirangan.
Alea hanya tersenyum, entah kenapa melihat Iqbal ceria seperti ini, hatinya juga ikut ceria.
"Iqbal, ayo duduk!" ajak Alea seraya menuntun Iqbal menuju bangku taman.
Alea tak henti-hentinya mengulas senyum saat Iqbal kemhali bermain dengan bunga melati. Namun, di tengah-tengah itu, Alea teringat akan sesuatu.
"Hmm, Iqbal, apa kamu akan menuruti perkataan suster?" tanya Alea memastikan sebelum dirinya berbicara pada inti.
__ADS_1
"Tentu saja. Apapun yang suster katakan, Iqbal akan turuti," jawab Iqbal tanpa memandang Alea.
"Apa kamu ingin sembuh secepat mungkin?" Alea bertanya kembali dan dibalas anggukan mantap dari Iqbal.
"Iya, Iqbal ingin sembuh secepat mungkin. Iqbal pengen cepet-cepet nikahin suster," timpal Iqbal, lalu beralih menatap Alea yang sempat salah tingkah karena ucapannya.
Sekilas Alea menarik napas, kemudian membuang napas secara perlahan guna menghilangkan rasa saltingnya dan membuat dirinya untuk bersikap normal kembali.
"Jika Iqbal ingin sembuh, Iqbal harus turuti perkataan suster. Besok kita akan pergi ke dokter," ucap Alea.
Mendengar kata dokter, Iqbal langsung menjatuhkan bunga melati ke sembarang tempat. Setelah itu, Iqbal berjongkok di atas bangku taman sambil menutup kedua daun telinganya, di mana tubuhnya kini mulai gemetar ketakutan.
"Enggak ... enggak mau. Iqbal gak mau pergi ke dokter. Dokter jahat. Semua orang jahat," pekik Iqbal dengan gelengan kepala.
Alea yang melihat hal itu segera mendekati Iqbal, lalu ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Iqbal untuk memeluk lelaki itu sangat erat. Alea merasa bersalah. Ia sudah salah bicara.
Tapi bagaimanapun juga Alea harus membawa Iqbal ke Dokter. Alea tidak bisa menyembuhkan Iqbal hanya dengan merawat saja, Iqbal perlu untuk konsultasi ke Dokter psikolog agar hasilnya bisa maksimal.
"Iqbal, sttt ... tenang ya. Suster tidak bermaksud untuk maksa kamu pergi ke dokter. Tapi cara lain agar kamu bisa sembuh dengan cepat, ya, harus pergi ke dokter." Alea mencoba menenangkan Iqbal sambil memberi pengertian padanya.
Tubuh Iqbal semakin gemetar ketakutan. Lelaki itu terus menolak, enggan pergi ke Dokter. Meski begitu, Alea berusaha akan membujuk Iqbal, itupun ia lakukan demi kesembuhan Iqbal.
"Iqbal gak mau ... Iqbal gak mau pergi ke dokter ...."
"Iqbal, dengerin suster. Iqbal percaya kan ke suster?" tanya Alea seraya membelai lembut rambut Iqbal, tentunya untuk membuat lelaki itu merasa tenang.
Iqbal tak merespon. Ia beralih memukul-mukul kepalanya. "Iqbal ... Iqbal, tenang," ucap Alea, di mana tangannya tak berhenti membelai rambut Iqbal.
"Iqbal, dokter gak jahat. Malah yang ada dokter itu baik, mereka mempunyai niat yang tulus untuk menyembuhkan orang sakit."
Iqbal kini mulai berhenti memukul kepalanya setelah mendengar penuturan dari Alea. "Suster gak bohong 'kan?" tanya Iqbal.
"Untuk apa suster bohong, kan bohong itu perilaku yang gak baik. Iqbal mau 'kan pergi ke dokter besok?" tanya Alea, berharap Iqbal mengiyakan keinginannya.
Perlahan Iqbal menganggukan kepalanya. "Iya, Iqbal mau. Asalkan suster yang temani Iqbal ke dokter. Nanti kalau ada dokter yang berani ngapa-ngapain Iqbal, suster harus lawan, oke?"
"Oke." Alea menyetujui.
Perlahan tangan Iqbal yang awalnya menutup kedua daun telinga, kini beralih melingkari pinggang Alea.
Tampak Alea mulai tersenyum lega. Akhirnya ia berhasil membujuk Iqbal untuk mau pergi ke dokter. Alea yakin Iqbal akan bisa sembuh dengan cepat.
***
Saking merasa bosan, Iqbal melempar mainannya ke sembarang tempat dan beralih duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terus Iqbal maunya main apa?" tanya Alea seraya melangkah menghampiri Iqbal, lalu duduk di sampingnya.
"Iqbal gak mau main," jawab Iqbal ketus.
"Terus Iqbal maunya apa?" Alea bertanya kembali.
"Iqbal maunya nonton." Iqbal menunjuk lurus, lebih tepatnya ke arah televisi yang berukuran cukup besar.
Sekilas Alea mengangguk mengerti. "Ohh, Iqbal pengen nonton. Memangnya Iqbal pengen nonton apa? Kartun?"
Iqbal menggeleng. "Bukan, suster. Tapi film. Iqbal pengen nonton film yang seru, jangan yang membosankan."
Alea mulai berpikir mengenai film yang tidak membosankan saat ditonton. Horor? Ah, tidak. Yang ada genre horor bikin orang jantungan setiap scene-nya, apalagi Iqbal orangnya mudah takut. Romance? No. Yang ada genre romance bikin orang baper, apalagi jika ada scene romantis dikit, Iqbal pasti ingin mencontohkan dengannya.
Humor? Pilihan yang tepat. Lebih baik dibikin ketawa dari pada dibikin baper ataupun jantungan.
Masalah nonton, Alea akan menggunakan flashdisk milik Lisa. Waktu itu Alea sempat meminjam ke Lisa karena harus memindahkan foto-foto penting dan Alea lupa untuk dikembalikan ke pemiliknya.
"Iqbal pengen nonton kan?"
Iqbal membalas dengan anggukan mantap.
"Kalau begitu Iqbal tunggu dulu di sini. Suster mau ambil sesuatu. Enggak akan lama, kok."
Iqbal kembali mengangguk. Setelah mendapat izin, Alea melangkah keluar dari kamar Iqbal dan tak lupa ia juga mengunci pintu kamar tersebut.
***
Alea memasuki kamar yang ada di lantai bawah alias kamar yang saat ini ia tempati. Kemudian Alea mengambil flashdisk milik Lisa di dalam tas selempangnya.
Sebelum beranjak keluar, Alea ingin menelpon Lisa terlebih dulu untuk menanyakan sesuatu.
[Assalamualaikum, Lis.]
[Waalaikumsalam, Ya. Apa kabar lo? Kenapa baru hari ini lo nelpon gue? Lo kerja di mana sih sebenarnya, kok sampai gak pulang?]
__ADS_1
[Pertanyaan lo itu akan gue jawab nanti. Oya, flashdisk lo itu kan masih ada di gue, kebetulan hari ini gue ada di rumah temen. Nah, gue kepengen lo rekomendasiin film bergenre humor yang pernah lo tonton.]
[Aduh, Ya. Sebenarnya koleksi film di flashdisk gue kebanyakan berdosa semua.]
[Maksudnya?]
[Hehe, enggak jadi. Emangnya temen lo itu cowok atau cewek?]
[Cowok.]
[Ohh, cowok. Nanti lo cek aja deh di folder video khusus DK.]
[Itu genre humor, kan?]
[Iya.]
[Oh oke, thanks infonya, Lis. Kalau ada waktu luang, gue bakal balikin flashdisk-nya ke elo langsung. Kalau gitu gue tutup dulu ya. Assalamualaikum.]
[Waalaikumsalam.]
Sambungan dimatikan.
***
Alea kembali memasuki kamar Iqbal dan mendapati lelaki itu sedang memainkan kuku-kukunya. Tanpa berpikir panjang, Alea segera mencolokkan flashdisk tersebut pada port usb di TV.
Setelah dirasa terpasang dengan benar, Alea mengambil remote control TV di atas meja, lalu bergegas duduk di samping Iqbal.
"Yeayyy ... film-nya bentar lagi dimulai," girang Iqbal seraya menepuk-nepuk kedua tangannya.
Alea hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat keantusiasan Iqbal. Ia pun segera menekan tombol USB dan masuk ke folder video khusus DK.
Lantas Alea merasa heran saat melihat ada cukup banyak video yang tersimpan di folder tersebut. Bahkan judul di setiap video hanya bertuliskan angka.
Tak mau membuat Iqbal menunggu lama, akhirnya Alea menekan asal video yang bertuliskan angka dua.
Terlihat Iqbal mengubah posisi duduknya jadi bersila. Alea yang melihatnya hanya tersenyum simpul, lalu ia memilih membuka layar handphone-nya untuk melihat-lihat berita populer.
Ya, sepanjang Iqbal menonton, Alea hanya fokus pada handphone-nya.
Namun, di tengah pemutaran, tiba-tiba Iqbal memegang erat lengan Alea yang membuat kepala gadis itu terangkat.
"Ho." Mata Alea membulat sempurna saat melihat ada scene yang mengejutkan terpampang jelas di layar televisi. Apalagi kalau bukan scene kiss.
Alea yang menyadari akan ada scene tersebut, langsung menutupi wajah Iqbal dengan bantal.
"Ihh, suster, singkirkan bantalnya. Iqbal mau liat," rengek Iqbal dengan polosnya.
"Enggak boleh. Scene yang tadi gak baik untuk kamu tonton." Sekuat tenaga Alea menahan bantal tersebut agar tidak bisa disingkirkan oleh Iqbal.
"Lebih baik ganti film aja, ya." Alea mengusulkan.
"Enggak mau," tolak Iqbal seraya menyingkirkan bantal tersebut dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya bantal yang menghalangi wajahnya, telah tersingkirkan.
Meski begitu, scene yang ada di layar televisi saat ini menampilkan seorang ibu-ibu tengah mengobrol dengan teman seusianya. Lantas Iqbal merasa kecewa karena scene yang tadi telah terlewatkan.
Berbeda dengan Iqbal, justru Alea merasa lega.
"Tuh kan, gara-gara suster, scene yang seru tadi jadinya kelewat," ucap Iqbal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu, Iqbal. Scene yang tadi gak baik untuk kamu tonton," timpal Alea.
Iqbal beralih memandang Alea dengan tatapan tak bisa ditebak. "Kalau gitu scene yang tadi baik dong untuk dilakuin?" tanya Iqbal.
"Hah?"
Alea ternganga tak percaya Iqbal akan menanyakan hal itu kepadanya. Cepat-cepat Alea segera menyangkalnya. "Enggak, itu gak bener. Scene yang tadi juga--"
"Baik untuk dilakuin. Kalau gitu, Sus, kita lakukan scene yang tadi. Pasti menyenangkan," potong Iqbal dengan menggeser posisi duduknya menjadi sangat dekat dengan Alea.
"Hah?"
Alea kembali terkejut hebat. Inilah yang paling Alea khawatirkan jika menonton film genre romance bersama Iqbal, ujung-ujungnya ia sendiri akan terjebak dalam permintaan gila seorang Iqbal.
Apalagi saat ini Ny. Indah sedang keluar rumah. Tadinya Alea ingin mengirimkan pesan pada Ny. Indah untuk cepat-cepat masuk ke kamar Iqbal dan mencegah hal yang tidak diinginkan.
Namun, sepertinya hari ini Alea hanya bisa pasrah jika first kiss-nya diambil oleh Iqbal.
...TBC .......
......Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤......
__ADS_1