Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Iseng Atau Niat


__ADS_3

...***...


"Apa? Ni--nikah?"


Alea berkata gelagapan. Ia tak habis pikir jika Iqbal akan meminta hal itu kepada Ny. Indah. Lalu apa tanggapan Ny. Indah saat ini? Ia malah terkekeh dan memberi kode kepada Alea untuk mengiyakan permintaan mengejutkan dari Iqbal.


Cepat-cepat Alea menggeleng. Apa Ny. Indah sedang menggodanya saat ini? Oh, ayolah, saat ini usia Alea masih terbilang muda, genap 19 tahun. Ditambah ia tidak mencintai Iqbal.


"Suster mau kan nikah sama Iqbal?" tanya Iqbal dengan mempererat pelukannya di leher Alea.


Alea terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa. Sebenarnya tadi Alea sempat salah tingkah saat Iqbal tiba-tiba minta menikah dengannya. Tapi sekarang Alea tengah dilanda kebingungan saat ditanya langsung oleh Iqbal.


"Hmm, suster ... suster ...." Alea bingung harus mencari alasan apa.


Meski begitu, Iqbal langsung bisa menebak kalau saat ini Alea berusaha ngeles. "Untuk permintaan Iqbal yang ini, suster gak boleh nolak. Suster harus mau nikah sama Iqbal," ucap Iqbal seraya melepas pelukannya.


Alea diam di tempat. Raut wajah Iqbal tentunya berubah menjadi kesal. Ia pun beralih memandang ke arah Ny. Indah yang tampak masih terkekeh.


"Mah, mama janji kan bakal ngabulin permintaan Iqbal?" tanya Iqbal.


Ny. Indah berhenti terkekeh. Ia jadi bingung harus jawab apa. Ny. Indah tidak mungkin membiarkan putranya menikahi Alea dalam keadaan mental yang masih terganggu. Tapi di sisi lain, jika Ny. Indah menjawab tidak, ia khawatir Iqbal akan marah besar.


"Iqbal, Sayang. Pernikahan itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Pernikahan juga bukanlah permainan. Banyak yang harus dilalui setelah menikah nanti. Seperti saling mencintai, saling memberi komitmen, saling menjaga satu satu sama lain, dan masih banyak lagi. Nah, Iqbal kan belum miliki semua itu karena saat ini Iqbal masih sakit. Nanti kalau Iqbal sudah sembuh, baru Iqbal boleh nikahi suster Alea."


Ny. Indah memberi pengertian pada Iqbal. Berharap Iqbal akan mengerti. Namun, nyatanya tanggapan Iqbal malah memasang wajah cemberut.


"Iqbal gak sakit, Mah. Iqbal sehat," ucap Iqbal sambil menunjukan gaya strong-nya.


"Iya, mama tau. Tapi saat ini Iqbal masih sakit. Makannya suster Alea datang ke sini karena dia mau rawat Iqbal sampai sembuh. Nanti kalau Iqbal sudah sembuh, baru Iqbal boleh nikahi suster Alea," timpal Ny. Indah sesekali membelai lembut rambut putranya.


Tampak Iqbal mulai berpikir. "Hmm, baiklah. Iqbal setuju. Nanti kalau Iqbal sudah sembuh, Iqbal akan nikahi suster Alea secepatnya," ucap Iqbal dengan senyum lebarnya.


Ny. Indah tersenyum lega. Iqbal akhirnya mau menuruti ucapannya. Jika tidak, mungkin putranya itu akan terus memaksa dirinya untuk segera menggelar pesta pernikahan.


Sementara Alea, ia termangu sambil menunduk di tempat. Alea memikirkan tentang dirinya yang akan pergi setelah Iqbal sembuh nanti. Tapi ini ... Iqbal malah akan menikahinya setelah sembuh nanti.


Takdir macam apa ini? Apa mungkin takdir menginginkan Alea dan Iqbal bersatu dalam ikatan pernikahan?


"Suster," sebut Iqbal lalu beralih duduk berhadapan dengan Alea.


Alea tersadar. Ia segera mengangkat kepalanya untuk memandangi wajah Iqbal. "Iya, ada apa Iqbal?"


"Hmm, Iqbal ingin suster sembuhin Iqbal secepat mungkin, karena Iqbal udah gak sabar pengen nikahin suster," ucap Iqbal disertai wajah polosnya.


Alea ternganga. Apa Iqbal tengah kebelet nikah? Kenapa harus buru-buru sekali? Ah, bikin salting aja.

__ADS_1


"Sudahlah, Iqbal. Sekarang kamu pergi tidur ya, supaya putra mama ini bisa sembuh dengan cepat. Kan katanya Iqbal pengen nikahin suster Alea secepat mungkin," ucap Ny. Indah sesekali memandang ke arah Alea sambil menahan tawa.


Alea hanya membalas dengan cengengesan, itu pun ditunjukan secara paksa karena saat ini Alea tengah dilanda oleh rasa bimbang.


Antara pergi dari kehidupan Iqbal atau bersedia menikah dengan Iqbal, mana yang harus Alea pilih setelah pekerjaannya selesai?


'Oh, Tuhan, aku harus apa?' batin Alea resah.


***


Di pagi yang cerah ini, seperti biasa Alea akan melatih Iqbal untuk melakukan olahraga. Kali ini Alea akan mengajarkan olahraga lari santai di sekitar taman rumah. Mungkin hanya beberapa keliling saja.


"Suster, Iqbal capek," keluh Iqbal.


"Ya ampun, Iqbal, baru aja dimulai. Ayo, kamu pasti bisa. Suster akan temani kamu lari santai," sahut Alea, lalu bergegas menyamakan larinya dengan Iqbal.


Ketika sedang berlari, Alea sejenak menoleh ke samping, lebih tepatnya pada Iqbal. Bukannya menatap lurus ke depan, tapi lelaki itu terus memandang Alea dengan senyuman. Alhasil membuat yang dipandang jadi salah tingkah.


"Iqbal, fokus ke depan. Bukan ke suster!" tegas Alea, lalu beralih menatap lurus ke depan.


"Enggak mau. Iqbal maunya natap suster terus, entah kenapa wajah suster itu enak dipandang."


Terjadi lagi. Iqbal berhasil membuat Alea kembali salah tingkah. Alea benar-benar bingung sebenarnya apa yang telah merasuki diri Iqbal sampai-sampai lelaki itu selalu membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Selang beberapa menit, Iqbal menghentikan aktivitas larinya karena sudah merasakan lelah. Ia langsung bergegas istirahat di bangku taman, disusul oleh Alea dengan membawa segelas air.


"Nih, minum dulu!"


Dengan cepat Iqbal mengambilnya, lalu meneguknya sampai habis. Setelah itu, Iqbal mulai menyandarkan kepalanya di bahu Alea yang membuat gadis itu membulatkan matanya.


"Suster, Iqbal bosen di rumah terus. Iqbal pengen main keluar, tapi mama malah gak ngizinin karena katanya Iqbal masih sakit."


Alea terdiam. Pikirannya langsung teringat akan kejadian di mana Iqbal keluar dari rumah tanpa sepengetahuannya, hingga akhirnya lelaki itu mengalami kecelakaan akibat kecerobohannya dan juga mental Iqbal yang berfungsi kurang stabil.


Sekilas Alea menggeleng. Ia tidak ingin kejadian mengerikan itu terjadi lagi. Ada baiknya Iqbal stay di rumah, jika tidak, Alea khawatir seseorang melaporkan Iqbal ke pihak rumah sakit jiwa karena kondisi mental Iqbal.


"Iqbal, suatu saat Iqbal akan bisa main keluar rumah, tapi tunggu sampai Iqbal sembuh," ucap Alea dengan nada lembut.


"Tapi kapan, Sus?" Iqbal beralih menegakkan kepala. Setelah itu, ia menghentak-hentakan kakinya karena kesal.


"Waktu itu akan tiba. Sekarang Iqbal hanya perlu bersabar, oke." Alea memberi pengertian pada Iqbal, berharap Iqbal akan mengerti.


Terlihat Iqbal mulai berpikir. "Baiklah. Tapi suster harus janji ya akan bikin Iqbal sembuh secepat mungkin?" Iqbal menunjukan jari kelingkingnya pada Alea.


Alea tersenyum, kemudian ia menangkup punggung tangan Iqbal yang terangkat dengan kedua tangannya. "Suster gak bisa janji. Tapi suster akan berusaha untuk membuat Iqbal sembuh secepat mungkin."

__ADS_1


"Oke."


Alea tersenyum lega. Ia kira Iqbal akan marah setelah mendengar dirinya tidak bisa janji. Tapi nyatanya Iqbal malah menurut. Alea rasa kondisi Iqbal sudah ada kemajuan sekarang.


***


Saat ini Iqbal tengah bermain puzzle di kamarnya. Sedangkan Alea memilih pergi ke dapur untuk membantu Ny. Indah memasak, kebetulan Alea sudah meminta izin pada Iqbal dan tak lupa juga telah mengunci pintu kamar.


"Tante," panggil Alea seraya menghampiri Ny. Indah yang tengah memotong wortel.


"Eh, Alea? Ada apa?" tanya Ny. Indah sempat tersenyum saat melihat kehadiran Alea.


"Alea ingin bantu tante masak," jawab Alea yang kini sudah berdiri di samping Ny. Indah.


"Boleh saja, Alea. Kamu cuci sayuran yang ada di sana ya." Sekilas Ny. Indah menunjuk ke arah sayur bayam yang diletakan di dekat peralatan pisau.


"Oh oke, tante."


Alea segera mencuci sayuran tersebut. Setelah dirasa bersih, Alea kembali berdiri di samping Ny. Indah.


"Oya tante, makanan kesukaan Iqbal apa, ya?" tanya Alea.


"Hmm, Iqbal suka tumis jamur tiram. Emangnya kenapa Alea?" Ny. Indah balik bertanya.


"Enggak kenapa-napa, tante. Alea cuma ingin tau aja. Nanti tante ajarin Alea masak tumis jamur tiram ya. Alea ingin belajar masak makanan kesukaannya Iqbal."


Ny. Indah menghentikan aktivitas memotongnya, lalu ia menatap Alea dengan tatapan heran. "Kok, tumben-tumbenan kamu ingin belajar masak makanan kesukaannya Iqbal?"


Alea terdiam. Ia sendiri juga tidak tau kenapa tiba-tiba ia ingin memasak makanan kesukaan Iqbal. Namun, yang jelas diamnya Alea saat ini membuat Ny. Indah menahan tawa.


"Ohh, tante tau. Kamu pasti ingin belajar jadi calon istri idamannya anak tante kan?" tebak Ny. Indah, sengaja ingin menggoda Alea.


Mata Alea membulat. Ia pun segera menyangkal perkataan Ny. Indah dengan sekilas menggeleng. "Enggak kok, tante. Alea cuma iseng aja pengen masak makanan kesukaannya Iqbal."


"Iseng apa niat?"


"I--iseng, tante." Alea menjawab gelagapan, membuat Ny. Indah yakin kalau Alea sebenarnya memiliki niat untuk memasak makanan kesukaan Iqbal.


"Tante jadi gak sabar deh punya menantu seperti kamu," ucap Ny. Indah sambil tersenyum sumringah.


"Hah?"


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...

__ADS_1


__ADS_2