
...***...
Alea sudah sampai di rumah Ny. Indah. Sesegera mungkin ia harus menemui Iqbal di kamarnya. Alea penasaran apa yang sedang dilakukan lelaki itu hari ini.
"Assalamualaikum, Tante," ucap Alea yang kini berdiri di ambang pintu melihat Ny. Indah sedang menyuapi Iqbal di atas bed cover.
"Wa'alaikumsalam, Alea. Kemari, Nak!" pinta Ny. Indah sempat tersenyum melihat kehadiran Alea.
Alea pun segera melangkah masuk ke dalam kamar, lalu duduk di atas bed cover, lebih tepatnya di samping Ny. Indah. Terlihat saat itu Iqbal sedang fokus memainkan game jelly di handphone. Sementara piring yang berisi nasi dengan sayur bayam itu terlihat masih utuh.
"Loh Tante, kok makanannya masih utuh?" tanya Alea merasa heran.
"Iya nih, Alea. Iqbal gak mau makan sama sayur, katanya gak enak. Padahal sayur itu bagus untuk kesehatan," jawab Ny. Indah.
Alea tersenyum mendengar hal itu. "Ohh gitu ... Tante tenang aja, Alea pastiin Iqbal akan makan sayur ini sampai habis. Lebih baik sekarang Tante istirahat di kamar. Karena Alea sudah ada di sini untuk jagain Iqbal," ucap Alea, kemudian mengambil piring di tangan Ny. Indah.
"Ya sudah, Tante serahkan semuanya sama kamu. Oya, setelah makan, tolong kamu pastiin Iqbal minum obatnya ya. Kebetulan obatnya ada di dalam laci." Ny. Indah memberi peringatan pada Alea.
"Oke siap, Tante."
Sekilas Ny. Indah tersenyum, setelah itu ia bergegas keluar dari kamar. Sementara Alea, ia beringsut untuk duduk berhadapan dengan Iqbal yang masih sibuk bermain game.
"Iqbal, sekarang waktunya makan ya. Suster akan suapin kamu," ucap Alea sambil mengisikan sendok dengan secuil nasi dan bayam.
Iqbal menggeleng. "Enggak mau. Sayur gak enak, Iqbal gak suka. Iqbal gak suka makan daun." tolak Iqbal tanpa memandangi Alea.
"Tapi Iqbal, daun yang ini sudah matang dan enak untuk dimakan. Cobain deh," sahut Alea yang kemudian menyodorkan sendok yang sudah diisi ke dekat mulut Iqbal.
Prang ....
Sendok tersebut jatuh ke sembarang tempat karena disingkirkan oleh tangan Iqbal sendiri. Sontak saja Alea terkejut. Rasa-rasanya Alea ingin mengeluarkan kekesalannya detik itu juga.
Namun, Alea tahan, karena saat ini ia sedang menghadapi orang yang mudah sensitif. Sabar Alea, sabar. Alea pun segera menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan.
Tak punya pilihan, Alea harus mengambil sendok baru di dapur. Untuk itu, Alea harus mengunci kamar terlebih dulu, khawatir Iqbal akan kabur lagi seperti kejadian kemarin.
Alea tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.
Setelah mengambil sendok di dapur, Alea kembali memasuki kamar dan mendapati Iqbal masih asyik dengan permainan jelly. Kesal karena Iqbal terus bermain handphone, akhirnya Alea mengambil paksa handphone tersebut layaknya seorang guru yang menyita handphone milik siswa.
"Berhenti bermain handphone. Suster nggak mau Iqbal terus-terusan main HP. Lebih baik sekarang Iqbal makan," tegur Alea, lalu duduk berhadapan dengan Iqbal.
"Suster, kembaliin HP-nya. Iqbal mau main yang tadi. Permainannya seru banget." Iqbal mulai merengek-rengek.
"Tidak ... tidak ... dan tidak. Kalau suster bilang tidak, ya tidak. Kamu harus nurut, suster lakuin ini demi kebaikanmu. Sekarang makan. Ayo buka mulutmu!" pinta Alea dengan tangan yang sudah memegangi sendok.
"Enggak mau." Iqbal menutup mulut dengan tangannya. "Iqbal mau handphone. Kembaliin handphone Iqbal." Kali ini tangan Iqbal terulur untuk menagih handphone yang disita oleh Alea.
Alea sekilas menggeleng. "Tidak ada handphone. Sekarang makan!" pinta Alea.
__ADS_1
Iqbal tetap menolak. "Pokoknya Iqbal mau handphone. Kembaliin handphone-nya, suster. Suster cantik, deh. Tapi boong. Hahaha ...." Iqbal langsung tertawa lepas, membuat Alea melototkan matanya.
Apa saat ini Iqbal sedang meledeknya? Ahh, apapun itu, Alea tidak akan peduli. Mau Iqbal memuji ataupun meledek, Alea tetap tidak akan peduli.
"Iqbal, makan!" seru Alea dengan menatap Iqbal sangat tajam.
"Ihh, suster kok jadi galak. Iqbal jadi takut," ucap Iqbal, lalu turun dari bed cover sambil tertawa-tawa tidak jelas.
Alea sejenak memijat pelipisnya. Mencoba untuk lebih bersabar ketika menghadapi seorang Iqbal Riandra Keanny yang berbeda dengan yang lain.
Sungguh, ini melebihi merawat 3 orang anak.
"Iqbal, ayo makan dulu yuk!" seru Alea, di mana kali ini nada suaranya dilembutkan untuk meluluhkan hati Iqbal agar mau makan.
"Enggak mau. Iqbal mau handphone." Iqbal tetap pada pendiriannya.
"Main handphone ada waktunya. Sekarang waktunya untuk Iqbal makan," ucap Alea, lalu turun dari bed cover dan berjalan menghampiri Iqbal.
Namun?
"Eitsss ... suster harus tangkap Iqbal dulu."
Alea ternganga. Apa kali ini Iqbal mengajaknya bermain? Oh ayolah, kapan ini akan berakhir coba? Begitulah teriakan Alea dalam hati.
Tak punya pilihan, akhirnya Alea menyimpan terlebih dulu piringnya atas nakas. Setelah itu Alea melipat lengan bajunya sampai sikut, tentunya untuk menantang Iqbal.
"Oke, suster akan menangkap Iqbal. Kalau gitu larilah!" seru Alea.
Perlahan Alea mendekati Iqbal. Namun, kala itu Iqbal langsung berlari menjauhi Alea. Sedangkan Alea segera bergegas mengejar Iqbal.
"Suster gak bisa nangkap Iqbal ... Suster gak bisa nangkap Iqbal, wleee ...." Iqbal meledek Alea dengan menjulurkan lidahnya.
"Awas kamu, ya." Alea tak terima dengan ledekan Iqbal. Ia pasti akan segera menangkap Iqbal.
Iqbal berlari menaiki kasur saat Alea hampir menangkapnya. Setelah itu, Iqbal melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya seperti bantal, guling, selimut ke arah Alea.
Melihat hal itu, Alea dengan cepat menghindari setiap lemparan dari Iqbal.
"Gak kena ... gak kena, wleee ...." Alea tak ingin kalah dari Iqbal. Ia juga bisa meledek balik Iqbal.
Iqbal yang tak terima, langsung menghampiri Alea dengan ekspresi marah. Lantas Alea terkekeh, ternyata usaha meledek balik Iqbal tidak sia-sia. Cara itu cukup ampuh juga untuk menjebak Iqbal ke dalam jaringnya sendiri.
"Hey suster, Iqbal ingetin ya ... jangan ngeledekin Iqbal, Iqbal gak suka itu," ucap Iqbal sambil menunjuk wajah Alea dengan sinis.
Alea mengulum bibirnya menahan tawa. Setelah itu, Alea melingkarkan kedua tangannya di lengan Iqbal agar lelaki itu tidak lari lagi. "Yeayyy ... Iqbal sudah suster tangkap. Sekarang Iqbal tidak bisa lari kemana-mana lagi." girang Alea.
"Yahhh ...." raut wajah Iqbal berubah sedih namun terlihat menggemaskan di mata Alea.
"Sekarang Iqbal harus makan. Enggak ada penolakan. Ayo!" ajak Alea lalu menarik tangan Iqbal menuju bed cover.
__ADS_1
Alea pun menduduki Iqbal di atas bed cover. Setelah itu ia mengambil piring di atas nakas, lalu bergegas untuk duduk berhadapan dengan Iqbal.
"Ayo makan!" seru Alea dengan tangan yang sudah memegangi sendok.
Sekilas Iqbal menggeleng. "Enggak mau. Sayur gak enak."
"Sayur enak kok, Iqbal. Beneran. Suster sendiri sudah pernah mencobanya. Makan ya, nanti suster akan kasih Iqbal bunga melati. Mau nggak?"
Kali ini Iqbal mengangguk-angguk setelah mendengar bunga melati. "Mau ... mau ... mana bunganya?"
"Nanti. Tapi sekarang Iqbal makan dulu. Oke?"
Iqbal tampak tengah berpikir. "Baiklah, Iqbal akan makan."
Alea tersenyum lega. Namun hatinya sedikit menyesal karena ia tidak menawarkan bunga melati dari awal. Kalau saja Alea lakukan itu, pasti ia tidak akan lelah mengejar-ngejar Iqbal.
Tanpa menunggu lama lagi, Alea mulai menyuapi Iqbal, tentunya dengan sangat hati-hati. "Gimana? Enak gak?" tanya Alea memastikan.
Iqbal mengangguk seraya tersenyum lebar. "Iya, enak. Karena suster yang nyuapin Iqbal."
Lantas Alea tersenyum mendengar hal itu.
"Sekarang suster harus cobain juga makanannya," pinta Iqbal.
"Hah? Suster cobain juga? Enggak ... enggak, ini makananmu, Iqbal. Jadi kamu yang harus makan sampai habis," timpal Alea.
"Pokoknya cobain!"
Mau tak mau, Alea harus memakan sesuap nasi dicampur sayur tersebut. Meski dalam hati ia sebenarnya tidak ingin makan karena kekenyangan.
"Ck." Iqbal tiba-tiba terkekeh seperti anak kecil, membuat Alea kebingungan di tempat.
"Ada apa?" tanya Alea.
Iqbal langsung menunjuk-nunjuk sudut bibirnya sendiri. Kini Alea paham apa maksud Iqbal, pasti ada bekas makanan di sudut bibirnya.
Alea pun segera membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya. Namun, ketika tangannya akan diangkat, Iqbal langsung menahannya.
"Biar Iqbal yang bersihkan ... biar Iqbal yang bersihkan ...."
Sontak mata Alea membulat ketika Iqbal mendekatkan wajah padanya. Bahkan jantung Alea mulai berdetak lebih cepat dari dalam sana.
Kini Iqbal mengusap sudut bibir Alea yang kotor dengan jari telunjuknya. Sementara Alea masih terkejut di tempat, pasalnya jarak wajah mereka sangatlah dekat.
Alea bahkan menahan napas dulu karena saking nervous-nya berada di jarak yang sangat dekat dengan Iqbal.
'Plisss Iqbal, cepat menyingkirlah. Aku gak kuat pengen buang napas.' batin Alea dengan perasaannya yang sudah tak menentu.
...TBC .......
__ADS_1
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...