Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Ciuman Pertama


__ADS_3

...***...


Alea membulatkan matanya sempurna ketika melihat wajah Iqbal tiba-tiba didekatkan ke arahnya. Sudah ia pastikan Iqbal akan menciumnya.


Alea hanya pasrah. Ia tidak bisa mengelak karena hal tersebut adalah keinginan Iqbal sendiri. Alea sudah terjebak. Suhu tubuhnya mendadak jadi panas dingin saat jarak wajahnya dengan wajah Iqbal sangatlah dekat.


Bahkan, Alea mulai merasakan jantungnya berdetak lebih sangat cepat dari dalam sana dan sulit untuk dikontrol.


Perlahan Alea memejamkan matanya sangat erat. Pasrah jika Iqbal memang ingin mengambil first kiss-nya detik ini juga.


Cup!


Hal yang tidak diinginkan oleh Alea terjadi juga. Iqbal mencium bibirnya. Meski ciuman itu hanya mendarat sekilas, namun, sukses membuat Alea berkeringat seolah habis berolahraga.


"Yeayyy ... sudah. Ternyata kayak gitu ya rasanya cium seseorang di bagian ini," girang Iqbal seraya menunjuk sekilas ke arah bibir Alea.


Alea hanya diam mematung. Merasakan detak jantungnya yang masih berpacu lebih cepat dari dalam sana. Sungguh, rasa-rasanya Alea ingin keluar dari kamar saat itu juga dan berteriak mengenai perasaannya ketika pertama kali dicium oleh Iqbal.


"Ini juga baru pertama kalinya loh, Sus, Iqbal cium perempuan di bagian itu. Biasanya Iqbal suka cium pipi Mama. Tapi gara-gara film yang tadi, Iqbal ingin tau rasanya cium perempuan di bagian bibir. Sekarang keinginan Iqbal sudah terpenuhi," ucap Iqbal terus terang sambil tersenyum girang.


Alea tetap diam. Cara Iqbal mengambil first kiss-nya masih terngiang-ngiang di pikirannya.


"Suster kenapa? Kok, suster malah diem?" tanya Iqbal dengan mengerucutkan bibirnya, kesal karena sedari tadi Alea tidak meresponnya.


Iqbal kini mulai mengentak-entakkan kakinya ke lantai, alhasil membuat Alea tersadar dari lamunan. Menyadari akan kekesalan lelaki itu, Alea pun segera menenangkannya.


"Iqbal ... Iqbal ... maafin suster. Tadi suster lagi ngelamun, makannya suster gak respon ucapan kamu," ucap Alea merasa bersalah karena telah mengabaikan ucapan Iqbal.


"Suster lagi ngelamunin apa, sih? Iqbal gak suka ya kalau suster diem kayak tadi. Sekali lagi suster bikin Iqbal ngambek, Iqbal gak bakalan ngomong sama suster lagi."


Alea sejenak menarik napas, lalu membuangnya secara perlahan. "Baiklah. Suster janji, suster gak akan abaikan perkataan Iqbal lagi. Tapi Iqbal jangan marah, ya?"


Iqbal beralih memandang ke arah Alea dengan tatapan tak bisa ditebak. Memastikan apakah perempuan yang disampingnya berkata sungguh-sungguh atau tidak.


"Oke, Iqbal gak akan marah lagi ke suster," ucap Iqbal usai berpikir.


Alea akhirnya bisa tersenyum lega. Meski begitu, kejadian beberapa menit yang lalu terus menghantui pikirannya. Sukses membuat Alea tidak bisa duduk dengan tenang.


Namun, Iqbal? Lelaki itu justru bermain puzzle dengan santainya seolah-olah tidak tau apa yang sudah ia lakukan pada Alea.


Eh, kenyataannya 'kan Iqbal memang tidak tau apa-apa. Dia kan sedang sakit.


***

__ADS_1


Malam ini adalah waktu santai bagi Alea. Kebetulan Iqbal sudah tidur sejak setengah jam yang lalu. Jadi Alea memilih meluangkan waktunya sebentar dengan mengutak-atik handphone di pinggir kolam rumah sebelum pergi tidur.


Alea membalas chattan Lisa yang tampak memberi sapaan padanya. Bukannya membalas dengan sapaan juga, Alea malah membalas dengan penuh kekesalan.


[Pembohong lo, Lis. Bisa-bisanya lo rekomendasiin film gak ada akhlak. Katanya iya, Ya, ini film bergenre humor. Tapi nyatanya apa? Di luar dugaan. Lo sengaja 'kan ngerekomendasiin yang romance?]


Terkirim, dan langsung centang dua biru. Saat ini Lisa sedang mengetik. Selang beberapa detik, balasan dari Lisa muncul di layar handphone Alea.


[Hehe, maafin gue, Ya. Sebenarnya film yang gue rekomendasiin ke elo adalah drakor favorit gue. Gue memang sengaja ngerekomendasiin drakor romance supaya lo bisa pdkt sama temen lo yang cowok.]


Mata Alea membulat saat melihat balasan dari Lisa. Bahkan ia salfok ke kata 'pdkt'.


[Maksud lo apa, hah? Pdkt? Yang ada temen gue malah ngambil first kiss gue.]


[Kalau gitu bagus dong.]


Alea kembali membulatkan matanya. Bagus? Bagus dari mananya coba? Yang ada hati Alea jadi tidak tenang setelah kejadian siang tadi.


Duduk gak tenang. Makan gak tenang. Diam gak tenang. Bernapas pun Alea gak tenang. Setiap detik, menit, bahkan jam, pikirannya selalu dihantui dengan perilaku Iqbal saat menciumnya.


Ah, ayolah, Alea. Cobalah untuk lupakan.


Tring!


[Eh, what? First kiss lo diambil sama temen cowok lo? Wah, ini bener-bener berita fenomenal. Gue harus sebarin berita ini ke temen-temen kita waktu SMA. Pasti mereka bakal heboh, untungnya gue masih nyimpen kontak mereka.]


Alea tercengang. Apakah Lisa sudah tidak waras? Sebarin ke orang lain? Yang ada Alea bakal nahan malu dan jadi perbincangan hangat di antara teman-teman semasa SMA-nya.


[Gila lo, ya. Awas aja kalau lo sampai nyebarin, gue bakal lupain lo adalah temen gue.]


[Savage amat ancamannya, Ya. Gue 'kan cuma bercanda, masa iya gue tega nyebarin rahasia lo.]


Kini Alea merasa lega. Ia kembali mengingatkan Lisa untuk tutup mulut. Alea tidak ingin orang lain tau akan hal itu.


"Alea."


Seseorang memanggilnya. Alhasil Alea langsung mengalihkan wajah ke arah sumber suara. Tampak Ny. Indah sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman.


"Kok, kamu belum tidur?" tanya Ny. Indah seraya menempatkan dirinya, duduk di sebelah Alea.


Alea sekilas menggeleng pelen. "Alea belum ngantuk, Tante."


"Ohh, belum ngantuk. Tapi tidurnya jangan terlalu malam, ya. Tante khawatir itu akan mengganggu kesehatanmu. Tante gak ingin kamu sakit, kalau kamu sakit, siapa yang akan rawat Iqbal."

__ADS_1


Alea terkekeh. "Tante tenang aja, Alea gak bakalan tidur terlalu malam, kok. Sebentar lagi Alea juga akan tidur."


Ny. Indah tersenyum mendengar hal itu. Lalu tangannya mulai terangkat untuk membelai lembut rambut hitam milik Alea. Entah kenapa setiap kali Ny. Indah memandang Alea, ia merasa gadis itu adalah gadis yang tepat untuk putranya, Iqbal.


Ny. Indah beruntung. Ia tidak salah memilih Alea sebagai susternya Iqbal. Selain cantik, Alea memiliki hati yang baik. Sangat jarang ada orang yang mau membantunya merawat Iqbal. Kebanyakan dari mereka selalu menolak dengan alasan takut inilah, itulah.


Tapi Alea mampu melawan ketakutan Iqbal dengan caranya sendiri hingga lelaki itu nyaman berada di dekatnya.


"Alea, kamu janji kan kamu gak akan ninggalin Iqbal meski nanti Iqbal sudah sembuh?" tanya Ny. Indah memastikan.


Alea terdiam. Kenapa Ny. Indah harus menanyakan hal itu. Ia paling tidak bisa jika harus menjawab mengenai hal yang bersangkutan dengan Iqbal.


Jujur, sampai sekarang Alea belum bisa memutuskan, antara pergi atau tetap bersama dengan Iqbal.


"Maaf ya, Tante. Untuk saat ini Alea belum bisa berjanji," ucap Alea agak terdengar lirih.


"Tidak apa-apa, Alea. Tante paham, kok. Yang paling penting sekarang kamu rawat Iqbal sampai sembuh," ujar Ny. Indah sambil tersenyum.


Mendadak, Alea teringat akan sesuatu. "Hmm, Tante. Kayaknya dengan merawat saja tidak cukup. Alea perlu bawa Iqbal ke dokter psikolog supaya kesembuhannya bisa terjamin. Alea juga memerlukan saran-saran dari dokter mengenai apa yang harus dilakukan selama Iqbal melakukan terapi rutin."


"Tapi kan, Alea. Iqbal--"


"Iqbal sudah setuju, Tante. Tadi siang Alea sudah berhasil membujuk Iqbal supaya mau pergi ke dokter," potong Alea dengan senyuman.


Bibir Ny. Indah membentuk senyuman lebar. Ia tak menyangka Alea akan berhasil membujuk Iqbal yang keras kepala tidak ingin pergi ke Dokter.


"Benarkah? Ya ampun, Alea, Tante senang mendengarnya. Memang kapan rencananya pergi ke dokter?" tanya Ny. Indah.


"Besok, Tante. Mudah-mudahan saja tidak ada halangan apa-apa," jawab Alea.


"Aamiin ... Tante jadi gak sabar nunggu Iqbal sembuh dan berperilaku normal kembali."


"Iya, Tante. Alea juga sudah gak sabar. Tapi Alea malah jadi ngebayangin kalau suatu saat Iqbal sembuh, pasti dia bakal jadi rebutan para cewek. Secara 'kan aura Iqbal kuat," ucap Alea seraya tersenyum saat memikirkan sosok Iqbal ketika pertama kali keluar dari rumah dengan gayanya yang keren.


"Walau jadi rebutan, ujung-ujungnya Iqbal akan milih kamu sebagai pasangan hidupnya," ucap Ny. Indah sambil mencuil hidung Alea.


Alea terdiam. Apa Ny. Indah sedang menggodanya? Mana mungkin Iqbal memilihnya. Setelah sembuh, selera Iqbal mengenai tipe wanita pasti akan berubah.


Itu pasti.


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...

__ADS_1


__ADS_2