
"Ada apa?" tanya Iqbal pada Manager.
"Aku dapat pesan dari Miss Eliza, katanya kamu harus ngisi majalah bertema kerajaan besok lusa," jawab Manager terus terang.
Sontak Iqbal terkejut hebat mendengarnya. "Apa? Besok lusa?"
"Iya, besok lusa. Jadi kita akan naik pesawat ke Kanada pagi ini."
Iqbal terdiam. Kenapa jadwalnya harus mendadak seperti ini. Iqbal kira tidak akan ada jadwal lagi untuknya di Kanada, makannya Iqbal langsung pulang ke Indonesia dan ingin menghabiskan waktu dengan wanita kesayangannya.
Tapi nyatanya perkirannya salah.
"Apa gak bisa diundur? Satu bulan? Atau dua bulan gitu?" tanya Iqbal.
"Enggak bisa. Karena nanti setelah pemotretan, kamu ada jadwal lomba renang di Kanada."
Iqbal mengusap wajahnya kasar. Apa lagi ini? Lomba renang? Iqbal benar-benar merasa frustasi sekarang.
"Aku tau ini berat. Di satu sisi kamu ingin menggapai impian kamu dan membanggakan Mama kamu. Dan di sisi lain kamu gak ingin ninggalin Alea, cewek kesayangan kamu. Tapi aku harus berbuat apa. Sebagai seorang sahabat dan manager, aku ingin impian kamu tercapai, Bal, supaya nanti kamu bisa nunjukin ke Papa kamu kalau kamu ini bukan anak pembawa si*l, tapi anak yang hebat."
Iqbal tidak bisa berpikir jernih lagi. Pikirannya sekarang semakin kacau. Iqbal benar-benar bingung harus memutuskan apa.
"Sekarang kamu harus putusin. Mau pergi atau tidak?"
Sangat sulit untuk memutuskan. Butuh waktu yang lama untuk memikirkan semua ini. Sementara Manager membutuhkan jawabannya sekarang.
Selang beberapa menit berpikir, keputusan sudah Iqbal dapatkan.
Sejenak Iqbal menarik napas dalam-dalam. "Oke, pagi ini kita akan pergi ke Kanada."
Manager tersenyum lega. Sedangkan Iqbal menunduk tak berdaya. Berat rasanya mengatakan hal itu. Bahkan, lebih berat lagi bila harus meninggalkan Alea.
Maafin aku, Al. Aku harus pergi lagi. Tapi aku janji, aku bakal kembali secepatnya. batin Iqbal seraya membungkuk tak berdaya.
Iqbal sekilas menoleh ke samping dan pandangannya mulai berhenti di sana. Ia melihat Alea sedang berdiri dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Bahkan, bunga melati yang Alea pegang tiba-tiba dijatuhkan begitu saja ke atas tanah.
"Alea," lirih Iqbal sambil berdiri tegap.
Manager yang menyadari kehadiran Alea, langsung melangkah mundur dan bergegas pergi. Ia tidak ingin ikut campur dengan urusan temannya itu.
Sementara Iqbal, bergegas mendekati Alea. Ia tidak ingin diam saja saat gadis kesayangannya menangis.
"Suster, hey ...." Iqbal mengusap air mata Alea dengan lembut. "Kenapa nangis?" tanya Iqbal.
Alea tak merespon. Ia terus menatap Iqbal dengan sangat sendu. Entah apa yang Alea pikirkan, namun, yang jelas hati Iqbal sekarang jadi tidak tenang.
"Jangan diem kayak gini, Sus. Please, bicara sesuatu!" pinta Iqbal seraya menangkup kedua pipi Alea.
"Pergilah!"
Iqbal seketika terdiam. Perkataan singkat Alea sukses membuat kedua bola matanya langsung berair.
"Ma--maksud suster apa?" tanya Iqbal terbata-bata.
"Aku udah denger semuanya. Iqbal mau pergi ke Kanada lagi kan? Pergilah. Jangan khawatirkan aku, aku bisa jaga diri kok," jawab Alea getir. Ia berusaha tegar walau kenyataannya sangat berat untuk mengatakan hal itu pada Iqbal.
Sekilas Iqbal menggeleng. Setelah itu, ia mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya. "Enggak ... Iqbal gak mau ninggalin suster lagi. Iqbal bakal cari cara agar bisa tetap di sini bersama suster."
__ADS_1
Iqbal hendak ingin menelpon manager. Namun, tiba-tiba saja Alea merebut handphone dari tangannya.
"Kamu mau apa nelpon manager? Mau batalin jadwal kamu itu? Enggak. Kamu gak boleh ngelakuin itu. Kamu harus maju, Iqbal. Sekarang ini kamu berada di puncak kesuksesan. Kamu harus banggain Mama kamu dan juga fans kamu. Kamu gak boleh mundur gitu aja hanya gara-gara aku."
Iqbal menundukan kepala tak berdaya. Pikirannya sekarang jadi semakin rumit. Hingga tanpa sadar air matanya langsung menetes.
Alea mengerti akan kegundahan yang dirasakan oleh Iqbal. Sejujurnya Alea juga merasakan hal yang sama. Ia tidak ingin Iqbal pergi lagi meninggalkan dirinya.
Namun, Alea harus berbuat apa. Tidak mungkin ia melarang Iqbal untuk jangan pergi. Itu sama saja Alea merusak impian lelaki itu.
"Iqbal." Alea beralih menangkup kedua pipi Iqbal. "Lihat aku!" pinta Alea.
Perlahan kepala Iqbal terangkat. Lalu netranya menatap wajah Alea dengan sendu.
"Kamu adalah bintang, Iqbal. Bintang yang akan selalu bersinar dan gak akan pernah redup. Buatlah orang-orang di sekitarmu bahagia dengan sinarmu itu. Buat juga Papa kamu sama Kakak kamu malu karena selama ini selalu menganggap kamu sebagai anak pembawa si*l. Buat mereka yang dulu pernah menghinamu menyesal. Buat mereka seperti itu, Iqbal."
Lantas bibir Iqbal mulai mengulas sebuah senyuman. Kata-kata Alea benar-benar sangat menyentuh hatinya. Iqbal beruntung bisa mengenal Alea yang selalu menguatkan dirinya di saat lemah.
"Makasih, Al." Iqbal langsung menarik Alea ke dalam pelukannya. "Selama ini kamu selalu ada untuk aku. Nyemangatin aku. Ngelindungin aku. Jagain aku. Pokoknya aku bener-bener beruntung bisa mengenal kamu, Al."
Alea tersenyum. Kemudian kedua tangannya mulai terangkat untuk membalas pelukan Iqbal. "Aku yang beruntung bisa mengenal kamu, Iqbal. Kamu adalah cowok yang kuat yang pernah aku temui selama ini. Kata-kata saja nggak cukup untuk menggambarkan diri kamu yang sebenarnya. Kamu terlalu istimewa buatku. Aku harap kamu selalu bahagia, Iqbal. Aku sayang kamu," batin Alea.
Iqbal mempererat pelukannya pada Alea. Saat ini ia hanya ingin memeluk gadis kesayangannya itu. Apalagi dalam situasi seperti ini.
"Oya, Al." Iqbal hampir melupakan sesuatu. Dengan segera ia pun melepas pelukannya.
"Ada apa?" tanya Alea.
"Aku lupa kasih hadiah ke kamu."
Kalau saja mesin waktu itu nyata, Alea ingin kembali sebentar ke masa lalu. Di mana ia sering menghadapi tingkah Iqbal yang lucu layaknya anak kecil.
"Ck." Iqbal sekilas terkekeh. Setelah itu, ia mendekatkan wajahnya pada Alea. "Suster mau tau?" tanya Iqbal dengan suara paraunya.
Alea mengangguk pelan. Sejujurnya Alea juga sudah penasaran hadiah apa yang akan diberikan Iqbal padanya.
"Kalau gitu tutup mata!"
Alea mengernyitkan dahi. Untuk apa ia tutup mata. Apakah hadiah yang akan Iqbal berikan padanya adalah hadiah yang spesial?
Tak ingin bertambah penasaran, akhirnya Alea menuruti kemauan Iqbal.
Satu detik ... lima detik ... Alea menunggu. Namun, Iqbal tak kunjung bersuara. Bahkan, tidak ada tanda-tanda dari lelaki itu memberikan hadiah padanya.
Apa Iqbal nge-prank dirinya lagi? Ah, semoga saja tidak. Karena jika Iqbal sampai melakukan kegilaan itu lagi, Alea gak akan segan-segan acuhin dia selama sebulan.
"Sebenarnya kamu mau kasih hadiah apa sih, Bal?" tanya Alea dengan kesabaran yang sudah mulai habis.
Lagi-lagi tidak ada sahutan dari Iqbal. Akhirnya, mau tak mau, Alea harus membuka matanya untuk melihat kehadiran lelaki itu.
"Iqbal, kamu---"
Alea hendak membuka mata. Namun, tiba-tiba saja sebuah tangan menutup matanya kembali.
"Suster, jangan buka mata dulu!"
Alea mendengkus napas kesal. Tidak seharusnya Iqbal memperingatinya seperti ini, padahal dia sendiri yang memberikan hadiahnya lama.
__ADS_1
"Iqbal dari mana aja? Katanya mau kasih aku hadiah. Tapi mana?" ucap Alea ketus.
"Sabar, Suster cantik. Ini juga mau."
Benar saja, Alea kini merasakan sesuatu melingkar pada lehernya. Setelah Alea pegang, ternyata sebuah kalung.
"Sekarang suster boleh buka mata!"
Perlahan Alea membuka matanya. Lalu menunduk. Seketika saja Alea terkejut usai melihat kalung yang Iqbal pasangkan ke lehernya adalah kalung liontin berbentuk love.
"Iqbal, ini ...."
Alea tidak tau harus berkata apa. Saat ini ia masih terkejut dengan hadiah yang Iqbal berikan padanya.
"Itu cuma hadiah kecil, Sus. Iqbal harap suster suka sama kalungnya," ujar Iqbal.
"Suka kok. Suka banget malahan," timpal Alea, dengan tak henti-hentinya memandangi kalung liontin dengan senyum mengembang.
Melihat hal itu, Iqbal pun ikut tersenyum. Ia bersyukur karena Alea sangat menyukai hadiahnya.
"Makasih," ucap Alea, lalu direspon oleh Iqbal dengan mengacak-acak puncak kepalanya.
"Oya, di dalamnya ada foto. Buka aja!" seru Iqbal.
Alea baru menyadari kalung liontin yang ia pakai bermodel tutup buka. Karena penasaran, akhirnya Alea membuka liontin berbentuk hati tersebut.
"Loh, ini 'kan ...."
Alea menjeda ucapannya. Saat ini ia tengah fokus menatap foto tersebut. Foto yang menampilkan dirinya yang sedang bergaya konyol dengan memakai dress casual bermotif bunga, juga Iqbal yang sedang bergaya lucu dengan memakai jas blazer berwarna putih.
"Suster masih inget kan pas momen itu?" Iqbal ikut menatap foto yang ada dalam kalung liontin tersebut.
"Masih lah. Momen ini tuh momen yang nggak akan pernah aku lupain. Mau tau kenapa? Karena di momen ini, kamu ...."
Alea langsung menjeda ucapannya. Perasaannya seketika campur aduk saat mengingat masa itu.
"Ah, udahlah lupain. Aku gak mau bahas itu lagi," sambung Alea, memasang wajah datar.
"Yakin gak mau dibahas? Padahal ada cerita lain di balik foto itu," ujar Iqbal sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Dahi Alea langsung berkerut. "Cerita apa?" tanya Alea penasaran.
"Suster mau tau?" Iqbal balik bertanya. Cepat-cepat Alea pun mengangguk mengiyakan.
"Nanti aja deh Iqbal ceritainnya. Karena kalau diceritain sekarang, gak seru."
Alea ternganga. Padahal ia sudah menunggu Iqbal bercerita. "Kok nanti sih? Jangan bilang nanti itu lama lagi," ucap Alea kesal.
Iqbal tampak berpikir. "Hmm, bisa jadi. Mungkin habis pulang dari Kanada."
Alea mengerucutkan bibirnya kesal. Nggak hubungan ... nggak cerita, semuanya Iqbal ghosting. Lama-lama Alea tandai juga Iqbal sebagai tukang ghosting.
"Oke, aku tunggu. Tapi kamu harus janji bakal cerita setelah pulang dari Kanada?" Alea menunjukkan jari kelingkingnya meminta sebuah janji pada Iqbal
Iqbal tersenyum. Lalu menautkan jari kelingkingnya pada Alea. "Aku janji," tandas Iqbal.
• Bersambung •
__ADS_1