Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kehadiran Seseorang


__ADS_3

...***...


Pagi telah tiba. Menyapa penghuni bumi untuk selalu semangat dalam menjalankan aktivitas di hari yang cerah ini. Terlihat Alea tengah bersiap-siap di kamarnya karena hari ini ia akan membawa Iqbal pergi ke Dokter.


"Selesai," gumam Alea, di akhiri dengan menyisir kembali rambutnya yang sedikit berantakan.


Setelah dirasa penampilannya rapi, Alea bergegas meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju kamar Iqbal untuk memeriksa kesiapan lelaki itu.


"Tante," sebut Alea saat sudah tiba di kamar Iqbal dan melihat Ny. Indah sedang memasangkan jaket yang cukup tebal pada tubuh Iqbal.


"Eh, Alea. Kamu sudah siap, Nak?" tanya Ny. Indah sekilas memandang ke arah Alea dengan senyuman.


"Sudah, Tante." Alea kemudian berjalan menghampiri Ny. Indah dan juga Iqbal.


Tampak raut wajah Iqbal menunjukan ketakutan, lelaki itu seolah merasa tidak nyaman untuk pergi ke Dokter. Alea yang menyadari akan ketakutan yang dirasakan oleh Iqbal, langsung menenangkannya.


"Iqbal, percaya ke suster. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu takut, oke?" Alea mengusap-usap punggung Iqbal seraya menunjukan senyum penuh keyakinan.


Iqbal membalas dengan senyum simpul dan terlihat jelas tubuhnya mulai bergemetar karena menahan takut. Alea bisa memaklumi, inipun ia lakukan demi kesembuhan Iqbal.


Alea tidak ingin melihat Iqbal terus-terusan dalam kondisi mental terganggu. Ia ingin Iqbal bahagia dan bisa menjalani kehidupan dengan normal. Tak peduli apapun yang akan terjadi ke depannya, yang jelas melihat Iqbal bahagia, Alea juga ikut bahagia.


"Alea, nanti kamu dan Iqbal dianterin ya sama Pak Ujang. Kebetulan Pak Ujang yang bekerja sebagai supir di rumah ini sudah kembali dari kampungnya tadi subuh."


Alea mengangguk mengerti. Berbeda dengan Iqbal, raut wajahnya seperti akan mengecek nama Pak Ujang. "Mama, apa Pak Ujang yang dimaksud mama itu Pak Ujang yang orangnya baik dan selalu nemenin Iqbal main waktu kecil?" tanya Iqbal memastikan.


"Iya, Iqbal. Pak Ujang yang sudah menganggap kamu sebagai anaknya sendiri," jawab Ny. Indah dengan mengelus pipi Iqbal sekilas.


"Ooo." Iqbal ber-oh ria. Sementara itu, Alea pamitan terlebih dulu pada Ny. Indah sebelum beranjak keluar.


"Hmm, Tante, kita berangkat dulu."


Tangan Alea terulur untuk mencium tangan Ny. Indah. Berbeda dengan Iqbal, ia malah sibuk memandang ke atap rumah. Melihat hal itu, Alea dan Ny. Indah hanya cekikikan, mereka memaklumi mental Iqbal saat ini masih kurang stabil.


"Hati-hati di jalan, ya. Semoga semuanya lancar," ucap Ny. Indah.


"Aamiin ... kita berangkat dulu, Tante. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alea melangkah keluar dari kamar sambil menarik lembut tangan Iqbal. Sekilas Alea menoleh ke arah Iqbal setelah merasakan tangan lelaki itu terasa dingin dan gemetar.


Tanpa ada keraguan, Alea langsung menggenggam tangan Iqbal sangat erat. Berusaha memberi kehangatan dan ketenangan pada lelaki yang saat ini sedang berjalan bersamanya.


***


Sepanjang perjalanan, suasana selalu hening. Belum ada pembicaraan sedikitpun di antara Iqbal, Alea ataupun Pak Ujang selaku supir mobil.


Alea sibuk memandang ke luar jendela mobil. Iqbal yang ketakutan, memeluk erat kedua lulutnya. Sedangkan Pak Ujang fokus menyetir. Namun, selang beberapa detik, Pak Ujang mulai membuka suara.


"Kalau boleh tau, Non namanya siapa?" tanya Pak Ujang ramah sesekali memandang Alea lewat kaca spion tengah.


"Nama saya Alea, Pak."


"Ohh, Non Alea. Apa Non Alea sudah lama bekerja sebagai susternya Den Iqbal?" Pak Ujang bertanya kembali.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya baru bekerja sejak empat hari yang lalu."


Pak Ujang mengangguk mengerti. Kemudian ia kembali fokus menyetir. Sementara Alea, beralih memandang ke arah Iqbal. Tampak lelaki itu masih memeluk erat kedua lututnya dengan tubuh yang gemetaran.


Alea bisa memahami ketakutan Iqbal. Tapi mau digimanakan lagi, Iqbal perlu pengobatan dari Dokter. Hanya itu satu-satunya cara supaya Iqbal bisa sembuh dengan cepat.


"Iqbal, jangan takut, oke. Suster akan selalu bersama dengan Iqbal. Fighting!" Alea menenangkan Iqbal sekaligus menyemangati lelaki itu.


Namun, Iqbal tetap pada posisinya. Ia tidak berkutik sedikitpun. Membuat Alea mulai khawatir akan keadaan Iqbal saat ini. Di sisi lain Alea juga tidak bisa membatalkan rencananya, ia takut kondisi Iqbal semakin buruk jika tidak segera ditangani langsung oleh Dokter.


"Iqbal, tenang ya. Dokter gak jahat, kok. Malah yang ada dokter itu baik banget."


"Bener tuh, Den. Den Iqbal enggak perlu takut, kan ada Pak Ujang sama Non Alea," sahut Pak Ujang.


Iqbal tak merespon. Justru ia semakin erat memeluk kedua lututnya. Alea pun segera membelai lembut puncak kepala Iqbal, tentunya untuk menenangkan lelaki itu.


Setelah Iqbal mulai merasa tenang, Alea mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. Ia memberi Iqbal waktu untuk merilekskan diri. Namun ....


"Astagfirullah, Den."


Pak Ujang tiba-tiba memberhentikan mobilnya di pinggir jalan usai melihat sesuatu yang mengejutkan. Sontak hal itu membuat Alea terperanjat kaget dan langsung mengalihkan pandangan pada Iqbal.


"Ya ampun, Iqbal."


Alea syok melihat ada segores darah di lengan Iqbal. Sudah Alea pastikan lelaki itu telah melukai dirinya sendiri, buktinya benda tajam berupa pisau ada di tangan Iqbal. Dengan cepat Alea mengambil pisau itu, lalu menyerahkannya ke Pak Ujang untuk disimpan di tempat yang aman.


"Apa yang kamu lakukan, hah? Kenapa kamu malah melukai diri sendiri sih, Iqbal?" tanya Alea yang mulai panik dan gelisah tak karuan.


"Ini, Non." Pak Ujang menyodorkan kotak p3k yang disimpan di laci dashboard.


"Iqbal gak mau pergi ke dokter ... pokoknya Iqbal gak mau ...."


Situasi jadi kacau. Alea pun segera memeluk Iqbal sangat erat, membiarkan lelaki itu melampiaskan segala kemarahan dalam pelukannya.


"Dokter itu jahat ... Iqbal gak mau pergi ke sana."


"Iqbal, sttt ... tenang. Apa kata suster tadi, hm? Dokter itu gak jahat. Malah yang ada dokter itu baik banget. Iqbal jangan takut, ya. Kan ada suster yang akan selalu menemani Iqbal," ujar Alea dengan nada lembut, sesekali tangannya membelai rambut Iqbal.


"Kata siapa dokter itu baik? Dokter itu jahat. Nanti yang ada dokter akan nyakitin Iqbal sama kayak Papa. Plak ... plak. Nah, kayak gitu cara Papa mukulin Iqbal. Hahaha ...."


Iqbal mencotohkan dengan memukul lengannya sendiri sambil tertawa tidak jelas. Alea yang di tempatnya hanya bisa menangis, ia benar-benar tak kuat menghadapi kondisi Iqbal yang malah menjadi semakin buruk.


"Non, sebaiknya kita bawa Den Iqbal ke psikiater saja. Kebetulan saya tau tempat klinik psikatri terdekat di sini." Pak Ujang menyarankan di saat situasi semakin tidak bisa dikendalikan.


Alea mengangguk setuju. Saat ini Alea hanya ingin melihat Iqbal tenang, itu saja sudah cukup membuatnya untuk bisa tersenyum kembali.


***


"Bagaimana hasilnya, Dok?"


"Saya sudah meredakan gejala yang dialami oleh pasien dengan menggunakan beberapa terapi. Dan hasilnya cukup baik. Saya sarankan untuk saat ini pasien jangan terlalu ada banyak tekanan selama perawatan sedang berlangsung. Berikanlah pasien banyak dukungan, karena hal itu akan mengurangi gejala yang dialami oleh pasien."


Alea merasa lega usai mendengarkan penjelasan dari Dokter psikiater. Tadinya Alea sempat mengira kondisi Iqbal akan semakin buruk dan sulit untuk ditangani. Tapi ternyata setelah dibawa ke Klinik Psikiatri, kondisi Iqbal perlahan mulai membaik.


"Berapa kali pasien harus melakukan terapi, Dok?"

__ADS_1


"Karena masalah yang dihadapi oleh pasien cukup serius, jadi pengobatannya akan dilakukan seminggu tiga kali supaya bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk waktunya, saya akan beritaukan nanti. Saya harapkan anda sebagai orang terdekat pasien, selalu berikan pasien dukungan dan latihlah pasien ke hal-hal yang positif karena hal itu juga akan mengurangi gejala yang dialami oleh pasien."


Alea mengerti akan penjelasan dan saran yang diberikan oleh Dokter psikiater. Ia akan selalu memberikan Iqbal dukungan, apapun keadaannya.


'Get well soon, Iqbal Riandra Keanny. I will waiting for you to recover.'


***


Pak Ujang memarkirkan mobil di garasi rumah, lalu ia membantu Alea menuntun Iqbal masuk ke dalam rumah. Tampak di ruang tengah, Ny. Indah sudah menunggu kehadiran putranya.


"Eh, kalian sudah pulang." Ny. Indah langsung berjalan menghampiri Alea, Iqbal dan Pak Ujang.


"Ada apa ini, Alea? Apa semuanya baik-baik saja? Apa kata dokter?" Ny. Indah mulai melontarkan beberapa pertanyaan setelah melihat Iqbal hanya memasang raut wajah datar dan juga terlihat membisu.


"Tidak ada, tante. Semuanya baik-baik saja. Kata dokter kondisi Iqbal akan semakin membaik jika terus melakukan terapi rutin dan tentunya ada dukungan dari pihak keluarga," jelas Alea.


"Syukurlah kalau begitu. Tante senang mendengarnya," ucap Ny. Indah seraya membelai lembut rambut Iqbal.


Sejenak Alea menoleh ke arah Iqbal dengan tatapan sendu. Setelah melakukan pengobatan, Iqbal jadi tidak banyak bicara. Tapi tak apa, yang paling penting kondisi Iqbal harus membaik.


"Ya sudah, Alea kamu antar Iqbal ke kamarnya ya dan jangan lupa suruh dia untuk istirahat."


Alea mengangguk mengerti.


"Pak Ujang juga ya, bantu Alea."


"Siap, Nyonya."


Alea dan Pak Ujang kemudian menuntun Iqbal kembali untuk menaiki anak tangga secara perlahan-lahan.


***


Setelah memastikan Iqbal istirahat dengan tenang, Alea berniat untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Namun, saat di ruang tamu, Alea mendapati Ny. Indah seperti sedang menunggu kehadiran seseorang.


Penasaran siapa orang yang ditunggu oleh Ny. Indah, akhirnya Alea memutuskan untuk menghampiri Ny. Indah.


"Tante," panggil Alea.


"Eh, Alea. Sini, duduk di dekat Tante."


Alea mengangguk. Kemudian ia menempatkan dirinya, duduk di samping Ny. Indah.


"Hmm, Tante sedang apa di sini?" tanya Alea.


"Tante sedang menunggu kehadiran seseorang."


"Siapa, Tante?"


Belum sempat Ny. Indah ingin menjawab, tiba-tiba suara seseorang berhasil membuat Alea dan Ny. Indah langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Hello, everyone."


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...

__ADS_1


__ADS_2