Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kejutan Dan Prank


__ADS_3

Iqbal hanya diam, tidak berkata sedikit pun. Seolah-olah ia tak peduli dengan Alea yang terus-terusan menangis karenanya. Selang beberapa detik, kebisuannya itu disambut tawa kecil dari Alea.


"Ck. Kenapa diam? Gak berani ngomong? Lain kali kalau niat pengen baperin fans, jangan padaku, tapi pada orang-orang yang nge-fans berat sama kamu," tegur Alea seraya menatap tajam sosok Iqbal yang masih memasang wajah tanpa ekspresi.


"Maaf. Aku sudah salah mengenali kamu. Seharusnya orang yang kukatakan rindu itu bukan Iqbal yang ini. Tapi Iqbal yang lain," ucap Alea, terpaksa asal bicara.


Sekilas Iqbal menatap ke arah Alea dengan tatapan yang sulit diartikan. Alea yang melihat hal itu hanya bersikap acuh.


Tanpa mau membuang waktu lagi, Alea langsung menghapus air matanya dan bergegas pergi meninggalkan Iqbal.


'Kamu jahat, Iqbal. Bener-bener jahat. Kamu adalah cowok yang paling jahat daripada mantan-mantan yang pernah menyakiti perasaanku,' batin Alea, berusaha untuk tegar.


Sesekali ia juga menyentuh dadanya yang terasa amat sakit karena sikap Iqbal yang berulang kali menyakiti hatinya secara tidak langsung.


***


"Assalamualaikum ...."


"Ibu, Nenek, Alea pulang." Alea memasuki rumah dengan langkah yang sangat lesu.


"Waalaikumsalam ...."


"Ehh, putri Ibu yang cantik sudah pulang." Ibu Alea muncul dari arah dapur, lalu bergegas menghampiri putrinya itu dengan senyuman.


"Loh, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibu Alea saat melihat wajah putrinya ditekukkan seperti sedang menahan rasa sedih.


Alea menggeleng pelan. "Enggak kenapa-napa kok, Bu. Alea cuma lagi gak semangat aja."


"Kenapa gak semangat, hm? Putri ibu lagi ada masalah ya? Cerita sama Ibu," ujar sang ibu seraya membelai rambut Alea dengan sangat lembut.


Alea kembali menggeleng. Kemudian menunjukkan senyum palsunya. "Enggak ada masalah kok, Bu. Semuanya baik-baik aja." Alea terpaksa berkata bohong karena ia tak ingin membuat ibunya khawatir.


"Kalau gitu Alea simpan dulu belanjaannya di dapur," ucap Alea, lalu bergegas pergi ke arah dapur sambil menenteng belanjaan.


Sementara itu, Ibu Alea memasang raut wajah khawatir. Ia merasa putrinya sedang berada dalam masalah. Namun, sulit untuk diceritakan.


***


Di malam yang sunyi ini, sulit bagi Alea untuk tidur. Sudah berulang kali ia berusaha memejamkan mata, tapi tetap saja tidak bisa. Penyebabnya karena Alea terus memikirkan Iqbal.


Astaga, Alea. Kenapa lo malah mikirin Iqbal, sih. Udah tau dia itu cowok jahat, tapi tetep aja lo mikirin dia.


Alea tak henti memaki dirinya sendiri. Ia merasa kesal. Saking kesalnya, Alea memukul kepalanya berulang kali, berusaha menghilangkan sosok Iqbal dari pikirannya.

__ADS_1


Pergi kamu, Iqbal. Pergi dari pikiranku.


Tring!


Sekilas Alea mendengar nada di handphone-nya bersuara. Alea pun menoleh ke samping dan melihat handphone yang dia letakkan di atas nakas tampak menyala.


Tangan Alea kemudian terulur untuk mengambil handphone-nya. Setelah ia cek, ternyata Lisa mengirimkan pesan whatsapp padanya.


Sekilas Alea melihat jam di layar handphone-nya menunjukkan pukul 23.45. Lantas kedua alisnya langsung berkerut, merasa heran mengapa di jam segini Lisa belum tidur. Apa dia begadang lagi demi menonton drama korea?


Tanpa mau berpikir panjang lagi, Alea pun membaca isi pesan yang dikirimkan Lisa.


[Ya, lo udah tidur?]


Alea kemudian membalas pesan Lisa.


[Belum. Memangnya kenapa?]


Terkirim, dan langsung centang dua biru. Saat ini Lisa sedang mengetik. Dan selang beberapa lama, balasan dari Lisa muncul di layar handphone Alea.


[Begini Ya, gue punya kabar buruk, katanya Iqbal mengalami kecelakaan. Barusan gue lihat berita itu di browser.]


Alea terkejut hebat bukan main. Ia langsung melototkan mata begitu melihat balasan dari Lisa. Jemari tangannya mendadak terasa lemas. Alea kini tidak bisa berpikir jernih lagi setelah melihat kabar tersebut.


Alea mulai merasa panik gak karuan. Ia khawatir kondisi Iqbal akan parah karena kecelakaan tersebut. Untuk memastikan kabar itu benar, Alea membuka laman browsernya.


Namun, saat hendak membuka, Alea terlebih dulu mendapat balasan dari Lisa. Cepat-cepat Alea pun membacanya.


[Baru-baru ini, Ya. Iqbal mengalami kecelakaannya di deket taman yang nggak jauh dari rumah lo. Dan penyebabnya ....]


'Astaga!' gumam Alea, merasa kesal sendiri.


Di situasi genting seperti ini, Lisa masih sempat-sempatnya menggantung chatting-an. Bagaimana Alea tidak kesal. Seharusnya Lisa peka, karena saat ini suasa hatinya sedang tidak tenang.


Gue harus ke sana. Iya ... gue harus ke sana buat mastiin.


Untuk menghilangkan kecemasannya itu, Alea memilih akan keluar rumah secara diam-diam. Karena jika ia beritau ibunya, pasti tidak akan dapat izin.


Maafin Alea, Ibu. Alea harus pergi. Nanti Alea pulang lagi, kok. Nggak akan lama.


Demi ingin melihat keadaan Iqbal, Alea akan menanggung resiko apapun itu.


***

__ADS_1


Alea sudah sampai di taman, di mana lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Namun, Alea tidak melihat keramaian. Biasanya jika ada orang yang kecelakaan, orang-orang akan berkerumun untuk membantu. Tapi ini tidak. Malah yang ada suasana di sana tampak sepi, di tambah udara malam hari terasa sangat dingin.


"Shh ... kata Lisa, Iqbal kecelakaan di sini. Tapi kok gak ada ya. Apa jangan-jangan si Lisa bohongin gue lagi?" pikir Alea seraya menahan dingin.


Alea menggeleng, berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Ia akan fokus berjalan.


Jrrtt!


Tiba-tiba saja semua lampu yang menerangi lokasi taman padam. Membuat Alea yang berada di sana merasa sangat terkejut.


"Aaaa, Ibu ...." Alea sekilas meneriaki ibunya. "Kok tiba-tiba padam, sih? Mana bisa gue jalan bener kalau gelap kayak gini," ucap Alea sambil meraba saku celananya.


Alea kemudian melototkan mata, karena sesuatu yang ia cari tidak ada dalam saku. "Astaga! Gue lupa lagi bawa handphone," ujar Alea kesal, setelah itu ia menepuk dahinya.


"Kasihan banget sih lo Alea. Udah disakitin Iqbal, dapat kabar buruk, handphone gak kebawa lagi. Padahal lagi panik-paniknya." Alea meratapi dirinya yang belum mendapati nasib baik.


"Kapan gue bahagianya coba?"


Tiba-tiba saja Alea merasakan buluk kuduknya merinding, seolah-olah seseorang tengah berdiri di belakangnya. Bahkan, telinga Alea terasa geli, seolah-olah seseorang akan berbisik.


"Selamat ulang tahun, suster kesayangannya Iqbal, suster Alea."


Alea langsung melototkan matanya. Suara itu ... seperti suara Iqbal. Apa dia ada di sini? Bukankah dia kecelakaan?


Alea kemudian berbalik badan untuk memastikan. Bersamaan dengan itu, area taman kembali menyala. Kali ini suasana taman lebih terang lagi karena bantuan lampu hias.


"Ho!" Mata Alea mulai membulat sempurna saat melihat sosok Iqbal Riandra Keanny berdiri tepat di depannya sambil tersenyum lebar.


"Iqbal, bukannya kamu ...."


Alea tidak tau harus berkata apa. Saat ini ia sangat terkejut melihat kehadiran Iqbal yang datangnya secara tiba-tiba.


Sementara Iqbal, dia tersenyum ketika memandangi ekspresi kaget Alea yang menggemaskan. Tanpa basa-basi, Iqbal langsung melangkah maju, mendekati wanitanya.


"Suster," sebut Iqbal, lalu menangkup kedua pipi Alea dengan lembut.


Perlahan Iqbal mendekatkan wajahnya pada wajah Alea. Kini ia bisa melihat wajah cantik milik wanitanya yang sudah lama ia rindukan dari jarak yang sangat dekat.


"Iqbal kangen banget sama suster." Iqbal kemudian mencium kening Alea. Mungkin sekitar lima detik Iqbal melakukannya. Setelah itu, ia kembali menatap Alea dengan senyuman.


"Bagaimana perasaaan suster setelah beberapa hari ini Iqbal prank?"

__ADS_1


• Bersambung •


__ADS_2