Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Ciuman Lembut


__ADS_3

"Nak Iqbal, mampir dulu yuk ke rumah Tante!" ajak Ibu Alea.


"Hmm, lain kali aja ya Tante. Kebetulan Iqbal ada keperluan, jadi Iqbal harus pulang sekarang. Mungkin lain waktu Iqbal mampir ke rumah Tante-nya," timpal Iqbal.


"Ya sudah. Kalau gitu, Tante masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalannya, jangan ngebut." Ibu Alea memperingati.


"Siap, Tante."


Ibu Alea sudah masuk ke dalam rumah. Menyisakan Iqbal dan Alea yang sedari tadi hanya saling diam.


"Bal, ka--kamu marah ya sama aku?" Alea mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Iqbal.


"Menurut Suster?"


Alea mulai berpikir kesalahan yang telah ia perbuat kepada Iqbal sampai-sampai lelaki itu marah padanya. Hmm, salah gue apa ya?.


Tak lama, momen di mana Iqbal meminta ucapan terimakasih muncul di pikirannya. "Ohh, yang itu. Kamu marah gara-gara aku gak ngucapin makasih ke kamu?"


Iqbal tak menggubris. Ia benar-benar kesal karena Alea baru peka sekarang. Dan, lihatlah ... orang yang bersalah dalam hal ini malah tertawa. Bagaimana Iqbal semakin tidak kesal coba.


"Ya ampun, Iqbal. Aku gak nyangka ya kamu marah cuma karena gara-gara ...." Sejenak Alea menjeda ucapannya, lalu tertawa kembali.


Iqbal yang masih kesal, memilih diam tanpa melirik ke arah Alea. Rasa-rasanya ia ingin pulang saat itu juga. Tapi, tidak. Iqbal sudah memutuskan kalau ia tidak akan pulang sebelum Alea meminta maaf padanya.


"Cieee ... ngambek nih ceritanya," goda Alea, sekilas menyenggol lengan Iqbal dengan sikutnya.


"Hishhh ...." Iqbal langsung menjauhkan diri dari Alea karena saking kesalnya.


Melihat hal itu, Alea cepat-cepat mendekat ke arah Iqbal dengan tujuan untuk menenangkannya. Ia tidak ingin membuat lelaki itu kesal lagi.


"Iqbal." Perlahan Alea meraih tangan Iqbal, lalu digenggam dengan erat. "Suster gak bermaksud pengen buat kamu kesal ataupun marah. Sebenarnya suster pengen ngucapin makasih ke kamu itu secara empat mata."


"Hah? Empat mata?" Iqbal langsung mengalihkan pandangannya pada Alea.


"Iya, empat mata. Emangnya Iqbal gak mau apa di-spesialin sama suster?" tanya Alea seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Lantas Iqbal sedikit tercengang. "Hah? Di-spesialin? Ya ma--mau lah ... masa nggak mau," jawab Iqbal, di akhiri dengan merilekskan tenggorokannya yang mendadak terasa kering.

__ADS_1


"Ck." Alea sekilas terkekeh melihat tingkah Iqbal yang seperti berusaha menyembunyikan rasa gengsinya. "Gak usah gengsi gitu juga kali," peringat Alea.


Mendengar hal itu, Iqbal pun langsung merilekskan ekspresinya dan kembali menatap Alea. "Sus, a--aku minta maaf," ucap Iqbal to the point.


Bibir Alea lantas membentuk sebuah senyuman. Dengan cepat, tangan kanannya itu memegang pipi Iqbal.


"Iqbal, kamu gak perlu minta maaf. Harusnya suster yang minta maaf karena udah bikin kamu marah," ujar Alea dengan menatap sendu wajah Iqbal.


"T--tapi, Sus---"


"Stttt ...." Alea meletakkan jari telunjuknya di bibir Iqbal, mengisyaratkan lelaki itu untuk tetap diam.


"Kali ini Iqbal gak boleh bicara. Biar Suster yang bicara," ucap Alea memperingati.


Iqbal hanya menurut.


Sementara Alea kembali memegang pipi Iqbal. "Iqbal ... makasih. Makasih banyak kamu udah bikin aku bahagia dengan kejutan yang kamu kasih ke aku. Ya ... walaupun tadi kejutannya agak sedikit nyebelin, tapi aku bener-bener happy. Saking happy-nya, aku sampe bingung harus ngebales dengan cara apa."


Iqbal sejenak menunduk sambil tersenyum kecil. Setelah itu, ia mengangkat kepalanya, menatap wajah cantik milik Suster kesayangannya.


"Boleh aku bicara sekarang?" tanya Iqbal, yang kemudian dibalas anggukan kecil dari Alea.


"Dengan cara apa?" Alea balik bertanya.


"Tersenyum. Cukup dengan kamu tersenyum, itu udah ngebales semuanya. Jadi jangan sampe bingung, apalagi gelisah. Kecuali kalau kamu gelisah mikirin aku, itu baru boleh," jawab Iqbal di akhiri dengan tertawa kecil.


"Ihh, ngeselin." Alea tak tanggung-tanggung mencubit lengan Iqbal hingga membuat lelaki itu sedikit meringkis.


"Ngeselin tapi suster suka 'kan?" tanya Iqbal dengan menaik-naikkan kedua alisnya, sengaja menggoda suster kesayangannya itu agar mencubitnya lagi.


"Kamu tuh ya selalu aja bisa bikin aku ketawa," ucap Alea sekilas mencubit pipi Iqbal dengan gemas.


"Tugasku emang bikin suster ketawa. Ya walau kadang-kadang aku ini ngeselin, sering jail, terus apa lagi ya? Ah iya, nyusahin suster juga. Tapi aku ... aku akan berusaha membuat suster bahagia."


Bibir Alea kembali melukis sebuah senyuman. Rasanya benar-benar beruntung bisa mengenal Iqbal dan menjadi bagian terpenting dalam hidup lelaki itu. Yang selalu ingat untuk membuatnya selalu tersenyum.


"Terimakasih suster sudah hadir di hidupku," ujar Iqbal disertai dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Cup!


Tanpa babibu, Iqbal langsung menyatukan bibirnya dengan bibir milik Alea. Kali ini ciuman itu cukup lama. Membuat Alea yang merasakannya seketika menegang.


Sementara Iqbal hanya bersikap rileks. Hatinya justru merasa tenang karena gejolak rindu yang sudah ditahan-tahan akhirnya terpenuhi lewat ciuman lembut yang dia berikan untuk wanita kesayangannya.


"Pelan-pelan aja, Sus. Nanti juga terbiasa."


Setelah mendengar hal itu, Alea langsung membuka mata. Tampak lelaki di hadapannya ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh kehangatan.


"Iqbal, kamu tau? Kamu itu cowok nyebelin yang pernah aku kenal di dunia ini. Bisa-bisanya kamu nyium aku di depan rumah aku sendiri. Gimana kalau Ibu aku liat nanti, hah?" tanya Alea dengan meninggalkan cubitan yang cukup keras di lengan Iqbal.


"Ya gak papa, palingan nanti aku bilang ke ibu kamu kalau aku serius sama putrinya yang cantik. Sekalian mau minta restu juga supaya nanti kalau udah nikah, aku gak tanggung-tanggung ngelakuin lebih ke suster."


Iqbal mengakhiri ucapannya sambil tersenyum smirk. Hal itu membuat Alea langsung ber-overthingking yang aneh-aneh tentang ucapan Iqbal barusan.


"Ihh, dasar cowok mes*m!" umpat Alea sekilas memukul lengan Iqbal cukup keras.


"Ahh, sakit." Iqbal berpura-pura kesakitan agar mendapat perhatian Alea.


"Serius? Mana yang sakit?" Alea mulai mengecek lengan Iqbal yang habis dipukul olehnya.


"Ini."


Iqbal meraih tangan Alea lalu diletakan di dadanya. Lantas dahi Alea langsung berkerut. "Kenapa di dada?"


"Karena besok aku harus berpisah lagi sama suster," jawab Iqbal dengan lirih. Bahkan tatapannya kini berubah menjadi sendu.


Alea tersenyum simpul. Dia mengerti dengan suasana hati Iqbal saat ini. Banyak kegelisahan.


"Iqbal, jangan khawatirin aku. Aku baik-baik aja kok di sini. Banyak yang jagain. Ada Lisa, Doni, Ibu, Nenek. Semuanya bakal jagain aku dengan baik. Sekarang Iqbal perlu fokus aja pada karir Iqbal sendiri, jangan mikirin apa-apa. Oke?"


Cukup berat saat mengutarakan hal itu pada Iqbal. Namun, Alea berusaha untuk tegar. Karena bagaimanapun juga karir Iqbal sangat penting untuk dicapai.


Tidak mungkin demi sebuah perasaan Alea menghalangi karir lelaki kesayangannya. Itu sama saja Alea merusak kebahagiaan dirinya sendiri.


"Suster tau? Aku adalah lelaki paling beruntung di dunia ini karena bertemu dengan wanita sebaik suster," ucap Iqbal. Membuat bibir Alea kembali mengulas sebuah senyuman.

__ADS_1


"I Love You." Iqbal menarik tubuh Alea ke dalam pelukannya. Sesekali Iqbal juga mengecup puncak kepala Alea dengan sangat lembut.


• Bersambung •


__ADS_2