
...***...
Galih terus menyeret Iqbal menuju sebuah kamar. Suara tangisan anak malang itu semakin menggema ke segala penjuru rumah, tapi Galih tidak peduli akan hal itu.
Saat ini Galih benar-benar dipenuhi oleh amarah yang besar sehingga ia tidak bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang dialami oleh Iqbal detik ini.
Setelah tiba di kamar yang tak terpakai, Galih langsung menghempaskan tubuh Iqbal yang kecil ke sudut kamar. Lantas Iqbal kecil kembali meringis kesakitan.
"S-sakit, Pah." Perkataan Iqbal jadi terbata-bata karena harus menahan sakit pada punggungnya.
"Rasa sakit itu belum sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan pada kakakmu sendiri," pekik Galih seraya menatap Iqbal penuh dengan kemarahan yang sudah mendidih.
Iqbal menggeleng. Buliran air matanya tak henti-henti mengalir membasahi pipinya. Sedangkan tubuh kecilnya semakin bergetar hebat usai memandang sorotan mata sangat tajam dari sang papa.
"Enggak, Pah. Iqbal tidak melakukan apapun pada Kak Rio. Memang iya tadi Kak Rio terjatuh, tapi Kak Rio nggak terluka sama sekali. Justru tante Sagita sendiri yang mengoleskan darah pada Kak Rio," ungkap Iqbal dengan isak tangisnya.
Iqbal mencoba untuk membela dirinya sendiri. Namun, apa kenyataannya? Kemarahan Galih malah semakin memuncak.
"Pembohong! Beraninya kamu menuduh orang lain. Ingat, sekali kamu bersalah, tetap bersalah. Dan balasannya papa akan menghukum kamu."
Iqbal kembali menggeleng. Ia tak pernah berbohong. Memang benar Sagita yang memulai permainannya, tapi tanpa adanya bukti sulit untuk meyakinkan Galih.
"Enggak, Pah. Iqbal gak pernah berbohong," lirih Iqbal.
"Arghh, papa gak percaya," ucap Galih dengan sangat geram. Kemudian ia berjalan menghampiri Iqbal dengan sorotan mata tajam yang seolah ingin memakan mangsa.
Pl*k
Pl*k
Tangan Galih menamp*r pipi kiri dan kanan milik Iqbal secara bergantian dan dilakukan terus menerus, membuat tangisan Iqbal semakin sangat pecah.
"Aahhh, sakit papa. Sakit."
"Diam kamu." Galih tak menggubris, ia terus menamp*r bahkan mencubit ker*s pipi Iqbal.
"Papa, sakit. Iqbal mohon hentikan."
Lagi-lagi Galih mengabaikannya. Kali ini Galih beralih menyeret Iqbal ke arah sudut lain, lalu memu**l punggung putra keduanya itu dengan sangat ker*s.
"Aaa, ampun, Pah. Sakit ... Ampun ...," jerit Iqbal seraya merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Arghh, dasar anak pembawa si*l." Galih terus memu**li punggung Iqbal sesekali mengumpat. Tak henti-hentinya juga Iqbal menangis keras dan menjerit meminta ampun.
"Papa, ampun, Pah. Ampun, sakit ...."
Iqbal yang malang itu hanya bisa pasrah. Menangis dan menjerit, hanya itu yang bisa Iqbal lakukan saat ini ketika tangan sang papa tega menyakiti dirinya.
Tak kunjung lama, akhirnya Galih menghentikan aksinya itu. Ia tidak ingin membuang waktunya berada di sini. Bahkan Galih tak peduli dengan keadaan Iqbal saat ini.
"Sekali lagi kamu melukai Rio, maka papa gak segan-segan akan menghukum kamu dengan sangat berat," ancam Galih.
Iqbal menggeleng pelan. Tubuhnya kini tengah terkulai lemas di atas lantai dengan posisi tengkurap. Iqbal tak punya kekuatan untuk berbicara sepatah kata apapun, karena harus merasakan nyeri yang luar biasa pada sekujur tubuhnya.
Sementara Galih beranjak pergi meninggalkan tanpa ada rasa peduli ataupun bersalah sedikitpun. Ia menutup pintu kamar dengan sangat keras, lalu ia kunci dari luar.
Di sisi lain, mulut Iqbal berusaha untuk mengatakan sepatah kata meski nanti yang hanya akan mendengarkannya dirinya sendiri.
"I ...."
"I--Iqbal ju--ga anak papa," lirih Iqbal sekilas memejamkan mata, menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Ceklek
Pintu terbuka. Seseorang yang membuka pintu itu langsung berlari menghampiri Iqbal usai melihat kondisi Iqbal yang terkulai lemas. Lalu ia angkat secara perlahan tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Ya ampun, Iqbal. Kamu gak papa kan, Nak?"
Ya ... orang itu adalah Indah, Mama dari Iqbal. Ia sempat terkejut hebat melihat tubuh dan wajah putranya penuh dengan luka merah serta luka memar.
__ADS_1
Indah tau alasan kenapa Iqbal seperti ini adalah perbuatan Galih, suaminya sendiri. Kebetulan pembantu rumah yang memberitau Indah saat ia pulang dari tempat butik.
Indah sempat sangat marah dan langsung menemui Galih. Bahkan Indah melampiaskan kemarahannya dengan memukul-mukul dada Galih dan mengeluarkan kata-kata jahat.
Namun, Galih hanya diam. Indah sangat kesal akan hal itu. Hingga akhirnya Indah mengancam akan pergi dari rumah dengan membawa Iqbal. Tapi Galih melarang.
Malah yang ada Galih kembali mengancam. Jika Indah sampai pergi dari rumah, maka Galih tak segan-segan akan melukai Iqbal.
Tentu saja Indah merasa tak berdaya jika sudah diancam seperti itu. Saat ini yang hanya bisa ia lakukan adalah melindungi dan menjaga putra keduanya dari kekejaman Galih.
***
Hari demi hari telah dilewati. Bulan demi bulan telah dilalui. Tahun demi tahun telah berlalu dengan cepat. Namun, keadaan masih tetap sama.
Iqbal tak pernah lepas melalui hari-harinya dengan penuh tekanan dari sang Kakak, Sagita, termasuk Galih, Papanya sendiri. Itupun mereka lakukan ketika tidak ada Indah.
Bahkan Sagita sempat mengancam Iqbal untuk tidak mengadu domba pada Indah atas apa yang telah dilakukannya.
Sungguh, Iqbal yang malang hanya bisa diam dan menangis saat menerima perlakuan yang tak menyenangkan dari Papanya, Kakaknya, dan Sagita.
'Kapan Iqbal akan bahagia?' Begitulah yang selalu dipikirkan oleh Iqbal setiap saat, bahkan setiap detik.
***
Lima tahun kemudian, saat Iqbal menginjak usia 12 tahun, Iqbal mulai mengalami traumatik yang cukup besar karena perlakuan dari Papanya yang kembali memu**l-muk*l dirinya di kamar tak terpakai sambil menyebut-nyebut anak pembawa si*l, anak tak tau diri, dan umpatan kasar lainnya.
Hal itu dikarenakan Galih telah salah paham atas apa yang sudah dilihatnya.
Saat itu, Galih melihat Indah tak sadarkan diri di bawah tangga dan kebetulan di samping Indah ada Iqbal yang tengah menangis sambil memegang sebotol minyak.
Minyak itulah yang membuat Galih langsung yakin bahwa Iqbal yang telah mencelakai Indah dengan cara menumpahkan minyak ke anak tangga.
Padahal kenyataannya Sagita lah yang sengaja ingin membuat Indah celaka dengan cara menumpahkan minyak pada anak tangga, lalu botol minyak itu ia paksa untuk dipegang oleh Iqbal agar orang yang akan disalahkan nanti adalah Iqbal.
Galih sangat marah atas apa yang telah dilihatnya. Ia langsung bertindak keras pada putranya sendiri tanpa memperdulikan apa akibatnya jika terus memukul seorang anak yang tak bersalah.
"Setelah kamu melukai Rio, sekarang kamu melukai mamamu sendiri. Di mana rasa malumu, hah? Di mana? Sekarang rasakan ini."
Pl*k
Pl*k
"Tidak ada ampun untuk anak pembawa si*l seperti kamu. Tindakanmu kali ini benar-benar melewati batas."
Pl*k
***
Setelah berhari-hari dirawat di rumah sakit, Indah memutuskan untuk pulang ke rumah karena ia khawatir akan kondisi putra keduanya, Iqbal.
Saat bergegas ingin pulang, Indah melihat suaminya datang menghampirinya dengan memakai setelan jas formal.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Indah.
"Aku mau pergi ke luar negeri untuk melakukan bisnis yang sangat penting di sana," jawab Galih.
"Terus perusahaanmu di sini?"
"Aku sudah menyerahkan kontrol pada orang kepercayaanku untuk sementara waktu. Kemungkinan aku akan tinggal di luar negeri cukup lama."
"Apa ada orang lain yang akan ikut bersamamu ke luar negeri?"
"Ada. Beberapa karyawan perusahaan dan sekretaris Sagita akan ikut. Aku juga akan membawa Rio bersamaku ke luar negeri, sekalian aku akan menyekolahkan dia di sana."
"Lalu Iqbal?"
Raut wajah Galih menjadi datar setelah mendengar nama Iqbal. "Kamu urus sendiri anak itu di sini. Masalah uang, aku akan transfer setiap minggunya."
"Tapi, Mas--"
__ADS_1
"Aku pamit." Galih sekilas mengelus pipi Indah. Setelah itu, ia langsung bergegas pergi meninggalkan Indah.
Indah yang sedari tadi hanya termangu karena perkataan Galih, kini beralih duduk bersimpuh di atas lantai dengan kedua bola matanya yang sudah berair.
"Iqbal juga anakmu, Mas," lirih Indah.
***
Indah sudah tiba di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam dan memanggil nama putranya itu. Namun, tak ada sahutan dari si pemilik nama.
Hal itu membuat Indah khawatir dan akhirnya bergegas pergi mencari Iqbal di seluruh sudut rumah. Namun, Iqbal belum ditemukan.
Ketika mencari, Indah teringat akan kamar tak terpakai yang ada di pojok rumah. Indah yakin Iqbal pasti ada di sana.
Setelah Indah lacak ke kamar tersebut, ternyata benar Iqbal ada di sana. Saat itu Iqbal tengah duduk di pojok kamar sambil memeluk kedua lututnya sangat erat. Bahkan suara tangisan dan lirihan dari Iqbal terdengar jelas oleh telinga Indah.
"I--Iqbal bukan anak pembawa si*l."
"I--Iqbal bukan anak seperti itu."
Indah mulai meneteskan air mata saat melihat tubuh anaknya gemetar ketakutan. Ia pun segera menghampiri Iqbal, lalu berjongkok di sampingnya.
"Iqbal."
Kepala Iqbal langsung terangkat. Lantas Indah dibuat syok dan heran dengan sikap putranya yang tiba-tiba menjauhinya dan ketakutan saat melihatnya.
"Kamu orang jahat. Pergi dari sini. Pergi!" usir Iqbal seraya melangkah mundur.
"Nak, ini mama-mu, bukan orang jahat," ucap Indah berusaha menenangkan Iqbal yang mendadak berubah sikap seperti ini.
"Nggak. Iqbal nggak percaya, kamu pasti orang jahat. Pergi dari sini. Pergi!" teriak Iqbal.
Iqbal perlahan berjongkok lalu menutup kedua telinganya dengan gemetaran. "Jangan lukai Iqbal ... jangan sakiti Iqbal ... ampuni Iqbal."
Pertahanan Indah mulai runtuh. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah seketika. Indah kini mengerti kenapa putranya tiba-tiba bersikap ketakutan. Pasti Galih yang sudah membuat kondisi Iqbal menjadi seperti ini.
***
Indah telah memanggil dokter ke rumahnya. Ia ingin tau gejala apa yang sedang diderita oleh putranya saat ini.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Indah.
"Setelah saya periksa tadi, pasien Iqbal ternyata mengalami gangguan mental. Gangguan tersebut sangat memengaruhi emosi, pola pikir dan perilaku pasien saat ini. Hal itu dikarenakan pasien mengalami stres berat akibat peristiwa traumatik. Seseorang mungkin telah melakukan kekerasan padanya karena saya tadi melihat ada begitu banyak luka pada tubuhnya. Saya sarankan pasien harus segera melakukan terapi perilaku kognitif agar terhindar dari depresi yang berkepanjangan."
***
Hari ini Indah akan membawa Iqbal ke rumah sakit untuk melakukan terapi. Namun, Iqbal menolak untuk pergi.
Iqbal bahkan mengancam akan melukai dirinya sendiri jika Indah tetap bersikeras membawa pergi. Akhirnya Indah mengurungkan niatnya itu demi kebaikan putranya.
Meski begitu, kesedihan tak pernah lepas dari wajah Indah saat harus menyaksikan putranya selalu mengalami perubahan suasana hati dalam waktu singkat.
Kadang Iqbal merasa sangat sedih dan marah dalam waktu tertentu, kadang juga sangat senang tanpa alasan atau tertawa-tawa tidak jelas dalam waktu yang lain.
Indah benar-benar sangat bingung apa yang harus dilakukannya untuk menyembuhkan Iqbal. Di sisi lain, Iqbal tak mau melakukan terapi. Di sisi lain, Iqbal juga tidak mau meminum obat yang disarankan oleh dokter.
Dari tahun ke tahun, tidak ada perubahan sama sekali. Kondisi Iqbal masih tetap sama.
Indah pernah meminta bantuan suster di rumah sakit untuk merawat Iqbal, namun, Iqbal malah mengancam akan melukai suster itu. Bahkan Indah juga pernah meminta bantuan wanita lain untuk merawat Iqbal, tapi tetap Iqbal mengancam akan melukai wanita itu.
Tak ada pilihan lain. Indah hampir menyerah. Namun, bagaimanapun juga Indah adalah seorang Ibu, ia tidak boleh menyerah begitu saja untuk kesembuhan putranya.
Indah akan berusaha keras meminta bantuan orang lain untuk merawat Iqbal. Namun, tak ada satupun dari mereka yang mau membantunya karena mereka takut pada orang yang memiliki gangguan mental.
Hingga pada akhirnya, Indah telah menemukan wanita yang mau merawat Iqbal dengan tulus dan penuh kasih sayang.
Dialah Alea Salsha Queenza.
...TBC .......
__ADS_1
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...