Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Mimpi Buruk


__ADS_3

...***...


Selesai ganti baju, Alea pergi ke dapur untuk minum tolak angin yang sebelumnya disarankan oleh Bi Minah. Tadinya Alea ingin langsung ke kamar Iqbal, tapi Bi Minah malah mencegahnya dan menyuruhnya untuk segera minum tolak angin.


But, it's okay. Alea juga tak ingin dirinya sakit. Bagaimanapun juga ia harus merawat Iqbal dengan sangat baik.


Dan, ya ... saat Alea tengah meneguk, tiba-tiba saja Ny. Indah datang dengan raut wajah gelisah.


"Alea, apa kamu sudah menemukan Iqbal?Kata Pak Ujang, Iqbal dibawa kabur sama Tasya. Ta--Tasya ... ke mana dia membawa Iqbal, hah?" tanya Ny. Indah dengan sangat panik.


"Tante ... Tante, tenanglah ... Iqbal, dia baik-baik saja. Sekarang ini Iqbal lagi istirahat di kamarnya," jawab Alea, lalu menggeggam tangan Ny. Indah yang semata-mata untuk menenangkan Mama Iqbal.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ny. Indah langsung meninggalkan dapur dan berlari kecil menuju kamar Iqbal. Ny. Indah ingin memeriksa langsung akan kondisi putranya saat ini.


Tak tinggal diam, Alea juga ikut berlari dari arah belakang.


Setibanya di kamar, Ny. Indah melihat Iqbal sedang terbaring tidur di atas ranjang tidurnya. Dan tak tertinggal, Bi Minah juga ada di sana, membereskan beberapa alat kompresan serta gelas yang kosong.


"Bi, Iqbal kenapa?" tanya Ny. Indah setelah melihat kain kompres menempel pada dahi Iqbal.


"Den Iqbal demam, Nyonya."


"Apa?"


Lantas kedua bola mata Ny. Indah langsung berair. Perlahan Ny. Indah berjalan menuju bed cover milik putranya itu, lalu Ny. Indah duduk di samping Iqbal.


"Semua ini pasti karena Tasya," ketus Ny. Indah dengan menekan setiap katanya.


Alea yang sedari tadi hanya berdiri menatap keadaan Iqbal, kini beralih menghampiri Ny. Indah.


"Apa Tante tau bagaimana cara Tasya membawa Iqbal pergi?" tanya Alea.


"Tante hanya tau sebagian, kebetulan Pak Ujang yang menceritakannya ke Tante. Jujur, Tante benar-benar kecewa berat pada Tasya. Dia sudah berani membawa Iqbal keluar rumah tanpa ada izin dari Tante."


"Dan parahnya, Tasya tuh sudah tau Iqbal sakit. Tapi dia malah bersikeras membawa Iqbal pergi ke Klub malam," jelas Alea, merasa kesal sendiri saat mengingat kejadian di mana Iqbal happy-happy bersama Tasya dan juga orang-orang yang ada di klub.


Sontak Ny. Indah terkejut hebat setelah mendengar kata 'klub'. "Apa? Ke klub? Jadi Tasya membawa Iqbal ke klub?" tanya Ny. Indah merasa tak percaya.


Alea mengangguk tanpa ragu. Memang benar gadis berambut pirang itu sudah berani membawa Iqbal pergi ke klub malam.


"Iya, Tante. Alea akan ceritakan semuanya pada Tante sekarang juga. Tapi tidak di sini," ucap Alea, lalu meraih tangan Ny. Indah dan sesekali ia memandangi sosok Iqbal yang sedang terbaring lemah di atas ranjang tidur.


Ny. Indah mengerti maksud perkataan Alea. "Bi, tolong jaga Iqbal dulu ya," titah Ny. Indah.


"Siap, Nyonya."


Ny. Indah kemudian bangkit dari tempat duduk. Setalah itu ia mengikuti langkah Alea dari belakang, sesekali ia juga menoleh ke arah Iqbal dengan tatapan sendu.


Dan tak terasa air mata Ny. Indah keluar begitu saja. Ia benar-benar tidak tega melihat Iqbal dalam kondisi seperti itu.


***

__ADS_1


Ny. Indah nampak terkejut sepanjang Alea bercerita mengenai keburukan Tasya. Sungguh, Ny. Indah benar-benar tidak menyangka di balik wajah Tasya yang cantik, ternyata memiliki hati yang jahat.


"Dasar gadis tak berakhak. Bisa-bisanya dia membawa putraku, Iqbal, ke tempat yang menjijikan. Tante kira Tasya adalah gadis yang baik dan Rio beruntung memilikinya, tapi nyatanya apa? Akhlak dia nol. Tante benar-benar kecewa pada Tasya," ujar Ny. Indah merasa kesal sendiri dengan perbuatan Tasya pada Iqbal.


Sama halnya dengan Ny. Indah, Alea juga merasa kecewa berat pada Tasya. Bahkan bukan hanya kecewa, tapi Alea juga membencinya. Ya ... Alea sangat membenci pacar Rio, Kakaknya Iqbal.


Sekarang Ny. Indah menyesal. Andai saja Ny. Indah tau sifat asli Tasya yang sebenarnya dari awal, mungkin Ny. Indah tidak akan membiarkan gadis seperti Tasya tinggal di rumahnya.


"Sekarang di mana Tasya?"


Sekilas Alea menggeleng tidak tau mengenai keberadaan Tasya. "Terakhir Alea lihat Tasya ada di dalam klub, Tante. Tapi setelah itu Alea gak lihat Tasya lagi karena Alea harus ngejar Iqbal yang lari keluar," jelas Alea.


Ny. Indah mengangguk mengerti. Tadinya ia ingin meneguri Tasya. Tapi berhubung gadis itu tidak ada, akhirnya Ny. Indah harus mengurungkan niatnya itu.


Ini hanya sementara. Setelah Tasya hadir di hadapan Ny. Indah, Ny. Indah akan langsung meneguri Tasya atau bahkan juga memberikan hukuman kepadanya.


***


Alea bergegas memasuki kamar Iqbal usai berbicara cukup lama dengan Ny. Indah. Nampak di atas sofa sana, Bi Minah tengah duduk sambil menahan rasa kantuk. Alea yang melihat hal itu, hanya menggeleng pelan disertai senyum simpul.


"Bi," panggil Alea, lalu berjalan menghampiri Bi Minah.


Menyadari kehadiran Alea, Bi Minah langsung duduk tegap seraya melototkan matanya. "Iya, ada apa, Non?" tanya Bi Minah.


"Alea sudah ada di sini. Jadi mendingan Bibi pergi kamar, lalu tidur," jawab Alea dengan tersenyum.


"Baik, Non." Bi Minah perlahan bangkit dari tempat duduknya.


"Gak apa-apa, Non. Kalau sama Bibi mah nyantuy aja," timpal Bi Minah cekikikan.


Alea kembali tertawa mendengar kata 'nyantuy' dari mulut Bi Minah. Ternyata Bibi yang satu ini benar-benar tidak mau ketinggalan zaman. Selalu ingin update mengenai kata-kata anak muda zaman sekarang.


"Ya sudah, Bibi pergi tidur dulu ya, Non. Non juga jangan lupa tidur." Bi Minah memperingatkan dan Alea hanya membalas dengan anggukan kecil.


Bi Minah kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar. Sementara Alea, ia perlahan duduk di dekat Iqbal seraya menatap sendu kedua mata Iqbal yang terpejam.


"Apa kamu tau Iqbal, aku selalu berdo'a setiap hari untuk kesembuhan kamu. Nah, nanti setelah kamu sembuh, kamu harus tunjukkin ke papa kamu, kakak kamu, dan juga orang-orang yang pernah merendahkanmu kalau kamu bukan lagi cowok yang lemah, melainkan cowok yang kuat."


Bola mata Alea kini mulai berair, melihat Iqbal harus terbaring lemah seperti ini.


"Kamu gak boleh seperti ini terus. Kamu harus bangkit. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua."


"Dan ya, aku akan berusaha supaya kamu bisa sembuh. Dengan kamu sembuh, kamu tidak akan merasa kesepian lagi. Karena nanti kamu akan mempunyai banyak teman atau mungkin banyak pacar. Eh, enggak ... enggak, jangan mentang-mentang kamu ganteng, kamu malah jadi cowok playboy. Jadilah cowok setia, oke."


"Get well soon, Iqbal Riandra Keanny. I will awalys waiting for you to recover."


Alea mengakhiri ucapannya dengan membelai lembut rambut Iqbal. Setelah itu, Alea bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar suara Iqbal mengigau.


"Ampun, Pah ... ampun ... sakit, Pah."


Lantas Alea langsung berbalik badan dan mendapati Iqbal sedang mengigau dengan kepala yang digelengkan ke sana ke mari.

__ADS_1


"Ya ampun, Iqbal." Cepat-cepat Alea melangkah menuju bed cover dan duduk di samping Iqbal.


Bersamaan dengan itu, Iqbal tiba-tiba saja bangkit dari pembaringannya seraya berteriak, "Papa, jangan sakiti aku."


Sekilas Iqbal menoleh ke samping, lebih tepatnya pada Alea yang terlihat panik. "Iqbal, kamu gak apa-apa?" tanya Alea seraya memegang bahu Iqbal.


Iqbal tak merespon. Lelaki itu terus menatap Alea dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. "Iqbal, kamu habis mimpi buruk, ya?" Alea bertanya kembali.


Namun, kali ini Iqbal langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Alea, tentunya untuk memeluk gadis itu. Dan pada detik berikutnya, Iqbal mulai menangis dalam pelukan Alea.


"Iqbal, takut, Sus. Iqbal, takut. Tadi Papa datang ke mimpi Iqbal dan mukul Iqbal lagi."


"Sttt ...." Alea mengusap-usap punggung Iqbal yang semata untuk menenangkan lelaki itu. "Iqbal, tenang. Itu 'kan cuma mimpi. Walaupun nanti Papa kamu ada di sini, suster gak akan biarin Papa kamu mukul kamu lagi."


"Beneran, Sus?" tanya Iqbal dengan lirih.


Alea mengangguk pelan. "Iya, beneran. Sekarang Iqbal jangan nangis lagi, ya. Nanti suster ikutan nangis loh."


Dan benar saja, Iqbal langsung berhenti menangis. Hal itu tentunya membuat bibir Alea mengulas sebuah senyum.


Selanjutnya, Alea melepas pelukan dengan Iqbal. Lalu mengambil segelas air dari atas nakas dan memberikannya pada Iqbal. "Nih, minum dulu."


Iqbal mengambilnya, kemudian ia meneguk air putih itu hingga menyisakan setengah.


"Sekarang Iqbal tidur lagi, ya," titah Alea, yang dibalas anggukan kecil dari Iqbal.


Perlahan Iqbal membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang tidur, tentunya dengan dibantu oleh Alea. Setelah itu, Alea menarik selimut hingga ke atas dada Iqbal, lalu menempelkan kembali kain kompres pada dahi Iqbal.


"Sekarang Iqbal tidur, ya."


"Tapi, Sus, kalau Papa datang kembali ke mimpi Iqbal gimana?" tanya Iqbal merasa cemas.


Alea mulai berpikir. "Hmm, gimana ya ... mungkin Iqbal harus mimpiin suster agar Papa kamu gak datang lagi ke mimpi kamu."


"Emang bisa ya, Sus?"


"Bisa aja, nanti suster akan berdoa kepada Tuhan supaya kamu bisa mimpiin suster."


"Oke." Iqbal langsung memejamkan matanya untuk segera pergi ke alam mimpi. Sedangkan Alea, ia sekilas tersenyum simpul, lalu bergegas menuju sofa dan duduk di atasnya.


Alea mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya, lalu membuka whatsapp untuk melihat status teman se-kontaknya. Rencananya Malam ini Alea tidak akan tidur. Ia ingin berjaga-jaga, khawatir Iqbal mimpi buruk lagi.


Selang beberapa menit, mulut Alea mulai menguap. Menyadari akan hal itu, Alea cepat-cepat merefreshkan diri dengan melakukan senam pemanasan.


Tak cukup dengan senam pemanasan, Alea sejenak pergi ke balkon untuk melihat keindahan di malam hari, sekaligus menghirup udara malam yang terasa cukup sejuk setelah adanya hujan deras.


"Aku berharap Iqbal selalu bahagia di setiap fajar datang."


***


• Bersambung •

__ADS_1


__ADS_2