Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Sontak kedua mata Alea membulat sempurna setelah mendengar perkataan Iqbal yang sangat mengejutkan itu.


"Apa? Prank?"


Dengan cepat Iqbal mengangguk.


"Jadi selama ini, Iqbal ...." Alea menjeda ucapannya. Ia benar-benar masih tak menyangka Iqbal sudah membohonginya dengan cara prank.


Sedangkan Iqbal, dia hanya tertawa kecil seolah-olah tak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap Alea. "Iqbal gak amnesia, Sus. Iqbal ingat kok sama suster," ucap Iqbal lembut, dengan kedua tangan yang masih menempel di pipi Alea.


Alea tak bergeming. Ia hanya fokus menatap wajah Iqbal dengan tatapan garang, layaknya seekor harimau yang bersiap memakan mangsanya.


"Jelaskan semuanya!" titah Alea tegas.


Iqbal mengangguk, lalu ia menurunkan kedua tangannya dari pipi Alea.


"Jadi begini ... sebenarnya Iqbal tuh udah punya rencana buat nge-prank suster setelah pulang dari Kanada. Alasan Iqbal ngelakuin itu karena Iqbal ingin kasih surprise ke suster, sekalian Iqbal juga pengen tau seperti apa perasaan suster ke Iqbal di saat Iqbal gak inget sama suster," jelas Iqbal.


Sesaat Alea terdiam sejenak. Setelah itu, ia kembali menatap Iqbal dengan sangat serius. "Lalu?"


"Ya, lalu Iqbal menjalankan rencana nge-prank itu, dan ternyata rencananya berhasil. Sekarang Iqbal sudah tau perasaan suster ke Iqbal seperti apa," jawab Iqbal.


"Seperti apa?" tanya Alea dengan raut wajah serius dan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Seperti rindu, sayang ... cinta mungkin."


"Kemudian?"


Iqbal sekilas menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa heran mengapa Alea terus melempari dirinya dengan pertanyaan singkat. Apa ini waktunya sesi wawancara? Oh, ayolah, Iqbal sudah tidak sabar ingin romantisan dengan wanita kesayangannya itu.


"Kemudian Iqbal berpikir, kenapa Iqbal bisa kepikiran ide nge-prank seperti itu. Ya, jawabannya Iqbal sering ngeliat temen ngelakuin hal gila itu. Tapi intinya, Iqbal gak mungkin dan gak bakalan bisa ngelupain suster. Buktinya saat di Kanada, Iqbal selalu kepikiran suster."


"Terus?"


"Terus Iqbal sadar, gak baik nge-prank orang terlalu lama, apalagi orang itu kesayangannya Iqbal. Tadinya mau nge-prank suster selama satu minggu. Tapi gak jadi, takut suster bakal acuhin Iqbal selama setahun."


Jahil, ngeselin, gak ada akhlak. Begitulah ungkapan yang tersirat dalam hati Alea terhadap Iqbal. Saat ini Alea benar-benar merasa kesal dengan perbuatan yang sudah dilakukan oleh lelaki itu.


"Selanjutnya?" tanya Alea lagi. Jujur, Alea tak merasa lelah sedikitpun menanyakan banyak hal pada Iqbal. Intinya, Iqbal harus bertanggung jawab karena sudah membuat hatinya rapuh.


"Selanjutnya Iqbal bakalan nyesel kalau sampai ngelupain suster beneran. Orang yang selalu menjaga dan merawat Iqbal dengan baik, nggak akan pernah Iqbal lupain gitu aja. Ya ... meskipun dulu orang itu sempat melakukan kesalahan karena ngebiarin tuannya yang gak waras keluar rumah. Tapi bisa dimaklumi, karena dia gak sengaja ngelakuin itu. Kalaupun disengaja, aku sebagai tuan rumah pasti bakalan beri dia pelajaran."


Alea sejenak melototkan mata. Ia tersinggung dengan perkataan Iqbal barusan. Pasalnya orang yang dimaksud Iqbal adalah dirinya. Alea merasa tersindir dengan hal itu.


Ternyata Iqbal masih ingat kejadian di masa lalu. Masa di mana dirinya tak sengaja meninggalkan Iqbal hingga membuat lelaki itu kabur dari rumah.

__ADS_1


Alea kira Iqbal akan lupa karena saat ini kondisinya sudah sembuh, ditambah banyak kesibukan. Tapi nyatanya tidak. Alea benar-benar malu bila harus mengingat hal itu lagi.


"Apa suster tau, orang itu sampai ngungkapin perasaannya karena gak mau jauh-jauh dari tuannya. Dia bahkan rela hujan-hujanan agar bisa diberi satu kesempatan. Ngeliat ketulusannya itu, aku sampai nangis. Padahal waktu itu aku lagi dalam kondisi gila."


"Aneh kan aku. Cowok yang gak bisa berpikir jernih, tapi malah bisa menangis haru karena cewek itu."


Alea terdiam mematung, mencermati perkataan Iqbal yang terdengar sendu. Hingga tanpa sadar kedua bola matanya ikut berkaca-kaca. Alea benar-benar tak menyangka Iqbal pernah menangis haru karena dirinya.


Tapi Alea lebih tak menyangka Iqbal ternyata dulu pernah memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan.


"Sekarang aku tau kenapa waktu itu aku menangis," ujar Iqbal seraya menatap Alea dengan serius.


"Kenapa?" tanya Alea dengan nada pelan. Saat ini Alea sedang terhipnotis oleh tatapannya Iqbal.


Iqbal sedikit melangkah maju lagi, hingga jaraknya dengan Alea sangatlah dekat.


"Karena aku mencintainya."


"Hah?"


Alea tersontak kaget bukan main. Ia tak menyangka Iqbal akan begitu cepat mengungkapkan sebuah perasaan kepadanya secara mendadak. Alea bahkan belum siap untuk mendengar hal itu.


"Me--mencintainya?" tanya Alea terbata-bata.


"Iya. Mencintainya. Dulu, sekarang, bahkan detik ini, aku mencintainya."


"Aku mencintaimu, Alea Salsha Queenza," ungkap Iqbal seraya kedua tangannya kembali menangkup pipi Alea.


Kali ini Alea lebih dibuat haru oleh perkataan Iqbal, karena untuk pertama kalinya lelaki itu menyebut nama lengkapnya bersamaan dengan ungkapan cinta.


"Iqbal, kamu ...."


Alea bingung harus berkata apa. Iqbal sudah berkali-kali membuat banyak kejutan untuknya. Jadi, wajar saja Alea masih syok dengan keadaan yang ada.


"I love you ...."


Tanpa berkata lagi, Iqbal mendekatkan wajahnya pada Alea, lalu mencium pipi kanan gadis itu cukup lama. Alea yang masih syok, ditambah syok lagi dengan perlakuan Iqbal yang mendadak menciumnya.


Tak heran jika kini Alea merasakan jantungnya berdetak lebih cepat karena ulah lelaki itu.


Plisss ... jantung gue ... Jantung gue rasanya mau copot sekarang. Batin Alea, yang entah kenapa ia malah jadi panik sendiri. Padahal yang dicium pipi, bukan bibir.


Usai mencium, Iqbal kembali menarik kepalanya, lalu menatap Alea. Seketika ia terkekeh saat mendapati ekspresi wajah Alea yang syok, namun, menggemaskan.


"Ck." Iqbal sekilas menunduk sambil tertawa. Sangat menyenangkan menggoda susternya itu setelah tiga tahun ia tinggalkan.

__ADS_1


Tampak wajah Alea mulai memerah saat Iqbal kembali mendekatkan wajah padanya. Lantas Alea langsung memejamkan matanya erat-erat, khawatir lelaki itu akan menciumnya lagi.


Tapi ternyata ....


"Jangan tegang gitu, Sus. Nanti Iqbal malah makin suka sama suster," bisik Iqbal tepat di telinga Alea.


Kali ini bukan hanya wajah, tapi telinga Alea juga ikutan memerah. Hal itu membuat Iqbal gemas sendiri dan langsung mengecup telinga Alea sekilas.


"Iqbal!" tekan Alea merasa kesal karena kelakuan Iqbal yang menurutnya berlebihan.


"Udah ngejelasinnya?" tanya Alea dengan menatap Iqbal sangat tajam.


Cepat-cepat Iqbal mengangguk. Ia masih kaget melihat raut wajah Alea yang berubah menjadi galak.


"Bagus kalau gitu." Alea hendak beranjak pergi. Namun, Iqbal terlebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


"Eh, suster mau kemana?" tanya Iqbal.


"Mau pulang," timpal Alea ketus dan tanpa memandang ke arah Iqbal.


"Suster marah?"


"Bukan lagi, marah pakek banget," ketus Alea.


"Udah ah, lepasin. Aku mau pulang," pinta Alea sambil menggerakkan tangannya yang dicekal oleh Iqbal.


"Jangan pulang dulu, Sus. Iqbal 'kan belum ngasih kejutan lainnya ke suster," ujar Iqbal, mempererat cekalannya agar tidak bisa dilepas oleh Alea.


"Lepas atau aku bakal teriak maling?"


Alea tak segan-segan langsung mengancam Iqbal. Saat ini Alea merasa marah dan kesal karena ulah jahil yang sudah dilakukan oleh lelaki itu padanya. Terutama dalam hal nge-prank.


"Silahkan kalau berani!" ucap Iqbal dengan santai, yang seolah-olah tak merasa takut ataupun gelisah dengan ancaman yang diberikan Alea.


Melihat sikap santainya itu, Alea semakin kesal. Iqbal pikir ia tidak akan melakukan apapun, begitu?


"Awww ...." Spontan Iqbal langsung melepaskan tangan Alea saat gadis itu menggigit tangannya cukup kuat.


"Kenapa digigit?" tanya Iqbal, sesekali mengusap lengannya yang terdapat bekas gigitan.


"Ya terserah. Siapa suruh keras kepala," jawab Alea sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sangat puas dengan tindakannya tadi.


Tampak Alea tengah melangkah mundur. Melihat hal itu, Iqbal langsung berjalan mendekati Alea. Bagaimanapun juga Iqbal tidak akan membiarkan Alea pergi begitu saja, apalagi dalam keadaan marah.


"Diam di sana dan jangan deketin aku! Jarak kita hanya satu meter," peringat Alea seraya menatap tajam ke arah Iqbal.

__ADS_1


Lah, memangnya ada kegiatan sosial distancing sampai-sampai harus jaga jarak?!


• Bersambung •


__ADS_2