
...***...
Hari demi hari telah dilewati. Tak sedikit pun Alea menyia-nyiakan waktu untuk tidak merawat Iqbal. Kenyataannya, Alea selalu memperhatikan pola makan Iqbal, kapan Iqbal harus berolahraga, aturan waktu untuk Iqbal meminum obat. Bahkan, Alea tak pernah lupa membawa Iqbal ke Dokter psikiater untuk menjalankan berbagai terapi.
Lelah? Tidak. Justru yang ada Alea sangat bersemangat membantu Iqbal sembuh dari penyakitnya.
Namun, ada sesuatu hal yang membuat Alea heran dan bingung. Setiap kali Alea membawa Iqbal ke Dokter psikiater, pasti jawabannya selalu 'ditunggu aja', 'perlahan-lahan kondisi pasien akan membaik', 'tidak ada yang perlu dicemaskan', 'sedikit demi sedikit pasien akan mengalami perubahan'.
Sungguh, Alea lelah mendengar semua itu. Namun, tetap saja tidak ada perubahan pada Iqbal. Padahal Alea menginginkan Iqbal sembuh secepat mungkin.
Jujur saja, kenyataan bahwa Iqbal belum sembuh sampai sekarang, membuat Alea sedikit kecewa. Ia sudah berusaha keras melakukan berbagai cara supaya kondisi kesehatan Iqbal akan meningkat.
Tapi ... ya, sudahlah. Mungkin ini belum nasib baiknya Iqbal.
Meski begitu, Alea tetap akan ada di samping Iqbal. Menyemangati, mendukung dan berusaha membantu lelaki itu untuk sembuh.
Keep strong, Iqbal Riandara Keanny.
***
Detik ... menit ... jam ... semuanya telah berlalu dengan sangat cepat. Hingga tak terasa sudah tiga bulan lamanya, Alea tinggal di rumah Ny. Indah untuk merawat Iqbal.
Namun, Alea kembali merasa kecewa. Sampai detik ini pun, kondisi kesehatan Iqbal belum ada perubahan juga. Lalu apa jawaban Dokter psikiater saat menanggapi hal itu?
'Saya akan cek lagi alat terapinya. Mungkin kendalanya ada di sana.'
Oke, kali ini Alea akan bersabar. Tapi, jika di hari berikutnya masih saja tidak ada perubahan dengan alasan karena kendala alat terapilah ... inilah ... itulah, maka Alea akan membawa Iqbal ke tempat psikiater yang lain.
***
"Kenapa, Alea?" tanya Ny. Indah saat melihat Alea sedang duduk sendirian di taman rumah seraya menatap lurus ke depan.
Alea yang menyadari akan kehadiran Ny. Indah, langsung tersenyum dan menggeser posisi duduknya, memberi ruang untuk Ny. Indah duduk.
"Enggak kenapa-napa kok, Tante. Alea cuma heran aja kenapa sampai sekarang kondisi kesehatan Iqbal belum ada perubahan juga. Padahal Alea sangat menantikan Iqbal sembuh," jawab Alea agak lirih dan bibirnya berusaha untuk tersenyum. Namun, tak bisa setiap kali dirinya mengingat jawaban dari Dokter psikiater mengenai kondisi Iqbal.
Ny. Indah tersenyum. Ia mengerti akan perasaan Alea saat ini. Ny. Indah pun segera merangkul bahu Alea yang semata-mata untuk menghilangkan kegelisahan gadis itu.
"Alea, Tante juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi kita harus bersabar, mungkin ini belum nasib baiknya Iqbal," ujar Ny. Indah dengan nada lembut.
"Tante benar ... mungkin ini belum nasib baiknya Iqbal. Walau begitu, Alea akan terus merawat Iqbal dan doain yang terbaik juga buat dia," timpal Alea.
__ADS_1
Bibir Ny. Indah kembali menerbitkan sebuah senyuman. Melihat hal itu, Alea pun ikut tersenyum. Kini keyakinannya mengenai Iqbal bisa sembuh cepat telah kembali. Alea akan berusaha sekeras mungkin untuk membantu lelaki itu sembuh dari penyakitnya.
"Apa Iqbal sudah tidur?" tanya Ny. Indah, yang kemudian dibalas anggukan kecil dari Alea.
"Nak Alea," sebut Ny. Indah, lalu sesaat ia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Tante? Apa Tante ingin mengatakan sesuatu pada Alea?" tanya Alea menatap Ny. Indah penasaran.
Ny. Indah sekilas menunduk, lalu perlahan menarik napas dalam-dalam. Setelah merasa yakin apa yang akan dikatakannya pada Alea, barulah Ny. Indah mengangkat kepalanya, menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
Otomatis yang ditatap merasa heran. Kenapa Ny. Indah menatapnya seperti itu? Apa Ny. Indah akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sedih? Ah, tidak. Semoga saja tidak.
"Besok ... tante akan pergi ke luar negeri."
Lantas Alea terkejut. "Apa? Ke luar negeri? Tante mau apa ke sana?"
"Kebetulan Omanya Iqbal sedang sakit parah, makannya Tante harus ke sana untuk menjenguk Omanya Iqbal. Mungkin Tante juga akan tinggal di sana untuk merawat Omanya Iqbal, karena sebelumnya orang yang menjaga Omanya Iqbal sedang sakit."
"Kenapa Tante gak nyuruh Om Galih aja untuk datang menjenguk Omanya Iqbal? Kan saat ini Om Galih ada di luar negeri juga."
"Tempat tinggal Papanya Iqbal sama Omanya Iqbal berbeda. Papa Iqbal di Singapura dan Oma Iqbal di Kanada."
Alea mengangguk mengerti. Dan sesaat kemudian Alea mulai teringat akan Iqbal. "Lalu Iqbal?"
Sontak Alea terkejut hebat. Mulutnya mulai ternganga karena saking tak percayanya Iqbal akan pergi ke luar negeri bersama dengan Ny. Indah.
"Apa? Iqbal juga akan ikut? Tapi Tante ... tante 'kan tau sendiri kondisi Iqbal seperti apa. Masa iya Tante tega ngebiarin Iqbal ke luar negeri dalam kondisi seperti itu," ucap Alea, tak setuju jika Iqbal pergi ke luar negeri. Dan ya ... bukannya sok ikut campur, tapi Alea khawatir jika tiba-tiba nanti di tengah perjalanan, sesuatu yang buruk terjadi pada Iqbal.
"Tante tau itu, tapi Tante juga gak bisa ninggalin Iqbal. Kebetulan Tante sudah konsultasi dengan Dokter psikiater, dan kata Dokter, Iqbal boleh dibawa asalkan dalam penjagaan yang ketat."
"Tadinya Tante ingin ajak kamu juga. Tapi setelah Tante pikir-pikir, keluarga kamu di sini pasti akan lebih membutuhkan kamu. Jadi Tante ajak Pak Ujang saja untuk ikut bersama dengan Tante dan jagain Iqbal."
Alea terdiam. Kedua bola matanya nampak mulai berair. Jujur, Alea sangat sedih saat mendengar Iqbal akan pergi ke luar negeri tanpa dirinya. Ia ingin sekali ikut, tapi apalah daya, Ibu dan Neneknya pasti akan sangat membutuhkannya.
"Apa Iqbal sudah tau hal ini?" tanya Alea, memandang Ny. Indah dengan sangat sendu.
"Iqbal sudah tau. Katanya terserah Mama aja asalkan Iqbal ikut."
Jawaban sudah Alea dapatkan. Kini Alea tidak bisa menahan lagi air matanya untuk keluar. Hatinya terlanjur merasakan sedih yang cukup dalam, mendengar kenyataan Iqbal harus pergi.
Alea tidak bisa melarang lelaki itu untuk jangan ikut ke luar negeri. Itu adalah keinginan Ny. Indah sendiri, dan keinginan Iqbal juga. Alea tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga Iqbal.
__ADS_1
Haruskah Alea mengikhlaskan Iqbal pergi?
***
Alea berjalan gontay menuju kamar Iqbal. Entah kenapa kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Setelah mendengar lelaki itu akan pergi ke luar negeri, Alea jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
Kini hanya tinggal setengah hari lagi untuk Alea merawat Iqbal. Ia tidak tau berapa lama Iqbal akan menginap di Kanada. Alea sangat berharap Iqbal tidak akan lama perginya.
Karena jika sampai lama, Alea mungkin akan merasa sangat sedih.
Saat tiba di kamar, Alea mendapati Iqbal sedang bermain puzzle di atas ranjang tidur dengan wajah ceria. Melihat hal itu, bibir Alea mengulas sebuah senyuman. Apa mungkin ini akan menjadi terakhir baginya melihat Iqbal?
"Suster," panggil Iqbal sambil tersenyum. "Suster kenapa berdiri di situ? Ayo ke sini, temanin Iqbal main," pinta Iqbal dengan menepuk-nepuk tempat duduk kosong di sebelahnya.
Alea tersadar dari lamunannya. Sesegera mungkin ia berjalan menghampiri Iqbal dan duduk di sampingnya.
"Kapan kamu bangun, Iqbal?" tanya Alea.
"Tadi, Sus," jawab Iqbal singkat.
Alea sekilas mengangguk. Setelah itu, tangannya perlahan terulur untuk membelai lembut rambut Iqbal. "Iqbal seriusan akan pergi ke Kanada besok?" tanya Alea dengan kedua bola matanya yang sudah berkaca-kaca.
Kepala Iqbal langsung terangkat memandangi Alea. Lalu detik berikutnya, Iqbal mengangguk-angguk penuh semangat.
"Seriusan, Sus. Mama yang ajak," timpal Iqbal sambil tersenyum lebar.
"Itu berarti Iqbal bakal ninggalin suster, karena nanti Iqbal bakalan pergi jauh dari suster," ucap Alea lirih dan berusaha untuk tidak menangis.
Iqbal menghentikan aktivitas bermain puzzle-nya dan beralih memandangi Alea. Nampak gadis itu meneteskan cairan bening yang membuat tangan Iqbal terulur untuk menghapus air matanya.
"Suster jangan nangis, nanti Iqbal bakal ikutan nangis loh," lirih Iqbal.
Cepat-cepat Alea menggeleng. "Kata siapa suster nangis, suster senyum kok." Dengan cepat Alea menunjukkan senyum lebarnya pada Iqbal, walau sebenarnya hatinya ingin menangis.
"Iqbal bingung, Sus. Iqbal gak bisa jauh dari Mama dan Iqbal juga gak bisa jauh dari suster. Tapi karena Iqbal sayang Mama, jadinya Iqbal memilih ikut bersama Mama."
Alea sekilas tertawa pelan. Sangat bodoh jika ia sampai meminta Iqbal untuk tetap berada di sampingnya. Padahal sudah jelas Iqbal akan menuruti sosok wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
'Maafin aku, Iqbal. Untuk sesaat aku jadi cewek egois yang menginginkanmu tetap di sini bersamaku.'
Perlahan Alea menarik napas dalam-dalam, lalu kembali tersenyum ke arah Iqbal dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Iqbal yang melihat hal itu, langsung membalas dengan senyuman lebar dan menggemaskan seperti anak kecil.
__ADS_1
***
• Bersambung •