
...***...
Pagi telah tiba. Menyapa penghuni bumi untuk selalu semangat dalam menjalankan aktivitas di hari yang cerah. Terlihat Alea tengah bersiap-siap di kamarnya karena hari ini ia berencana akan membawa Iqbal pergi ke Dokter psikiater.
Seharusnya jadwal ke psikiater adalah esok hari. Tapi karena Iqbal mengalami penekanan akibat ulah Tasya, akhirnya Alea harus memajukan jadwalnya menjadi hari ini. Alea tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Iqbal.
***
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Alea.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja. Kebetulan saya sudah meredakan gejala yang dialami oleh pasien dengan menggunakan beberapa terapi. Dan hasilnya cukup baik."
Alea menarik napas lega. Sejujurnya jantung Alea sempat dag dig dug gak karuan, khawatir kondisi Iqbal malah akan makin memburuk. Tapi sekarang Alea sudah merasa lega. Beberapa detik yang lalu, Alea sudah mendapatkan jawaban bahwa Iqbal baik-baik saja.
"Saya ingatkan kembali, anda sebagai orang terdekat pasien harus benar-benar menjaga pasien dengan baik, jangan sampai ada penekanan terhadap pasien. Karena jika hal itu terus terjadi, maka kondisi pasien malah akan semakin memburuk. Jadi saya minta kerjasamanya dengan anda supaya pengobatan pasien berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan."
Alea mengangguk mengerti akan saran yang berikan oleh dokter psikiater.
Kali ini Alea akan lebih berhati-hati dalam menjaga Iqbal. Ia tidak akan membiarkan Iqbal didekati lagi oleh para makhluk jahat, terutama Tasya.
***
Alea menuntun Iqbal masuk ke dalam rumah. Tampak saat melintasi ruang tengah, Ny. Indah sudah menunggu kehadiran putranya.
"Eh, kalian sudah pulang." Ny. Indah langsung berjalan menghampiri Iqbal dan Alea dengan senyuman.
"Apa kata dokter, Alea? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ny. Indah, sesekali tangannya membelai lembut rambut Iqbal.
"Semuanya baik-baik saja, Tante. Kata dokter, kondisi Iqbal baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekarang Alea hanya perlu menjaga dan merawat Iqbal dengan baik. Alea janji Alea gak bakal biarin makhluk jahat seperti Tasya gangguin Iqbal lagi," timpal Alea di akhiri dengan tertawa kecil.
Ny. Indah yang mendengarnya langsung ikut terkekeh. Sedangkan Iqbal hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Lelaki itu belum berbicara sepatah kata apapun sejak Alea membawanya ke dokter psikiater tadi pagi.
"Ya sudah, Alea. Kamu antarkan Iqbal ke kamar ya dan jangan lupa suruh dia untuk istirahat."
Alea membalas dengan anggukan kecil. Dan tanpa berpikir panjang lagi, Alea kembali menuntun Iqbal menuju kamarnya.
***
Bibir Alea mulai mengulas sebuah senyum saat matanya tertuju pada Iqbal yang sedang tertidur nyenyak. Sedangkan tangannya perlahan terulur untuk menyentuh setiap inci wajah tampan milik lelaki itu.
Sungguh, Iqbal benar-benar tampan walau dalam keadaan tidur sekalipun. Seolah-olah lelaki itu seperti berasal dari dunia dongeng kerajaan yang memiliki mimpi yang besar.
__ADS_1
Tapi sayang, pesona yang dimiliki Iqbal harus tertutupi oleh kehidupan pahit dan gelap. Jujur, Alea ingin melihat Iqbal bahagia dengan kehidupan yang normal. Dan untuk itu, ia harus berjuang membantu Iqbal sembuh dari penyakitnya.
'Oke, Alea. Fighting. Kamu pasti bisa.' Alea menyemangati dirinya sendiri. Dan ....
Tring!
Sekilas Alea mendengar nada di handphone-nya bersuara. Pasti ada yang mengirimkan pesan padanya.
Setelah Alea cek, ternyata benar. Ny. Indah mengirimkan pesan whatsapp padanya. Tanpa berpikir panjang lagi, Alea segera membaca isi dari pesan yang dikirimkan Ny. Indah.
[Nak, Alea. Kalau kamu sudah selesai, tolong turun ke bawah ya. Ada Tasya. Dia ingin berbicara hal penting kepada kita.]
Seketika Alea langsung memasang wajah malas. "Mau ngapain sih dia ke sini? Awas aja, kalau sampai tuh ratu drama ngomong yang enggak-enggak mengenai Iqbal, gue bakal beri dia perhitungan yang lebih," ketus Alea sambil mengepal handphone-nya kuat-kuat karena saking merasa kesalnya.
Alea menarik napas, lalu membuangnya secara perlahan. Untuk saat ini, ia tidak ingin menjadi emosional. Ia harus bisa mengendalikan amarahnya.
***
Alea menuruni anak tangga dan mendapati Ny. Indah serta Tasya sedang berdiri saling berhadapan. Menyadari akan kehadiran Alea, membuat sepasang mata Ny. Indah dan Tasya tertuju padanya.
Sekilas Alea memutar bola matanya malas. Melihat wujudnya saja, mood Alea langsung down. Apalagi berbicara. Kalau bukan karena permintaan Ny. Indah, Alea ogah bertemu dengan Tasya. Gara-gara cewek berambut pirang itu, Iqbal jadi tertekan. Untung saja Alea langsung membawa Iqbal ke dokter psikiater untuk segera ditangani.
Tasya menundukkan kepala. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Tasya seperti sedang menahan rasa gelisah. "Aku ke sini ingin minta maaf," jawabnya lirih.
"Ck." Sejenak Alea tersenyum miris. Ia tak menyangka seorang Tasya mendadak meminta maaf seperti ini. "Tumben-tumbenan kamu minta maaf. Kemana aja kamu kemarin."
Tiba-tiba saja, Tasya duduk bersimpuh di hadapan Ny. Indah dan juga Alea. Lalu tak lama setelah itu, ia menangis. Membuat Alea dan Ny. Indah merasa heran.
"I'm stupid. Aku cewek yang bodoh. Apa yang aku lakukan kemarin memang sangat bodoh. Tidak seharusnya aku membawa Iqbal ke klub dan mengajaknya bersenang-senang. Wa--waktu itu ... aku ... aku sangat terobsesi pada Iqbal. Aku ingin memilikinya. Perasaan itu ... perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja, padahal aku punya Rio."
"Aku memang cewek yang gak tau malu. Aku cewek egois. Ingin memiliki segalanya dengan paksaan. Maafin aku. Aku benar-benar menyesal."
Sepanjang Tasya mengungkapkan penyesalannya dengan air mata, ada rasa iba yang menyelimuti hati Alea dan Ny. Indah. Mereka benar-benar tidak tega melihat Tasya menangis seperti ini.
"Tolong maafin aku. I promise, setelah kalian maafin aku, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Aku juga akan merubah diriku menjadi lebih baik lagi. Please, pardon me," lirih Tasya tersedu-sedu seraya kedua tangannya dikatupkan di depan dada.
Alea perlahan berjongkok di hadapan Tasya, lalu menurunkan tangan Tasya yang dikatupkan. "Apa kamu sungguh-sunguh akan berubah menjadi lebih baik?" tanya Alea memastikan.
Cepat-cepat Tasya mengangguk. "Iya, aku sungguh-sungguh. Aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," jawab Tasya dengan lirih.
Sejenak Alea menarik napas, lalu membuangnya secara perlahan. Setelah Alea pikir-pikir, lebih baik ia memaafkan kesalahan Tasya. Karena dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Tasya tulus meminta maaf.
__ADS_1
"Oke, aku akan maafin kamu. Tapi kamu harus janji, jangan ulangi kesalahan yang sama lagi," ucap Alea.
"Aku janji." Tasya kemudian memeluk Alea dengan erat. "Thank you, Alea."
Alea membalas pelukan Tasya. Kemudian ia menenangkan gadis berambut pirang itu untuk berhenti menangis. "Sudah ... sudah, jangan nangis."
Tasya melepas pelukannya dengan Alea. Setelah itu, ia memandang Ny. Indah dengan tatapan sendu. "Tante, Tasya mohon ... maafin Tasya. Tasya tau Tasya salah besar. Tasya telah lancang membawa anak Tante ke klub, padahal Tasya sudah tau Iqbal sedang sakit. Tapi Tasya ... Tasya tetap ngotot bawa Iqbal kabur. Tasya memang cewek gak tau malu. Tolong maafin Tasya, Tante."
Ny. Indah tersenyum simpul. Kemudian ia berjongkok di depan Tasya dan menghapus air mata gadis itu. "Sudah, jangan nangis. Tante sudah maafin kamu, kok. Dan sebagai perwakilannya Iqbal, dia juga sudah maafin kamu. Tapi kamu harus janji, jangan ulangi kesalahan yang sama lagi. Oke?"
Tasya tersenyum, lalu mengangguk. "Oke, Tasya janji."
Setelah mendapatkan maaf, hati Tasya kini merasa tenang. Ia pun segera beranjak dari tempat duduk, kemudian mengusap air matanya.
"Sesuai janji aku tadi, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Anggap saja itu adalah hukumanku. Dan ya, aku juga udah mutusin hubungan dengan Rio."
Sontak Ny. Indah dan Alea terkejut mendengarnya. "Loh, kenapa? Kok putus?"
"Aku gak pantes buat Rio, jadi aku mutusin dia aja. Dan alasan lain aku putusin Rio, karena aku ingin fokus merubah diri aku menjadi lebih baik lagi. So, untuk saat ini aku tidak ingin pacaran dulu."
"Tapi, Tas---"
"Keputusanku sudah bulat. Sampai kapanpun aku tidak akan merubah keputusanku," potong Tasya.
Alea dan Ny. Indah tidak bisa berbuat apa-apa. Jika memang itu yang Tasya inginkan, mereka tidak akan mencegahnya.
Tadinya Alea ingin memberikan hukuman kepada Tasya, begitupun dengan Ny. Indah. Tapi karena Tasya yang sudah terlebih dulu memberikan hukuman pada dirinya sendiri, akhirnya mereka akan membiarkan Tasya menjalani hukuman yang dibuat oleh sendiri.
Alea harap Tasya benar-benar berubah. Bahkan Alea juga berharap air mata yang Tasya teteskan tadi bukan air mata buaya.
***
Setelah cukup lama berurusan dengan Tasya, Alea kembali bergegas memasuki kamar Iqbal dan mendapati lelaki itu masih tertidur dengan sangat nyenyak.
Alea kemudian melangkah menuju ranjang tidur, lalu duduk di samping Iqbal. Nampak di bibirnya mulai terukir sebuah senyuman, karena akhinya Tasya telah pergi dari kehidupannya dan juga kehidupan keluarga Keanny.
"Masalah Tasya sudah teratasi. Sekarang, giliran masalah kamu, Iqbal. Aku akan berusaha membantumu sembuh dari penyakitmu," ujar Alea seraya tangannya terulur untuk membelai lembut rambut Iqbal.
"Don't worry. I will stay with you."
• Bersambung •
__ADS_1