
...***...
Setelah lama berpelukan, Iqbal kemudian mendorong pelan tubuh Alea agar terlepas darinya. Alea mengerti, ia pun segera mengatur jarak dengan Iqbal.
"Kenapa suster ada di sini? Lebih baik suster pergi. Iqbal gak mau suster ada di sini," ketus Iqbal, lalu berdiri membelakangi Alea.
Lantas Alea tertawa kecil melihat tingkah lucu Iqbal yang seperti sedang merajuk.
Kini Alea paham jika ada seseorang yang sudah dekat dengan Iqbal dan berbuat salah, Iqbal akan marah namun tidak melukai ataupun menyakiti. Yang ada kemarahan Iqbal akan seperti anak kecil.
"Jadi ceritanya Iqbal marah nih ke suster?" tanya Alea seraya berdiri dan menghampiri Iqbal.
Wajah yang menggemaskan. Begitulah yang ada dalam hati Alea ketika berhadapan langsung dengan Iqbal yang saat itu masih sedang marah padanya.
"Iya ... Iqbal sangat marah. Suster ingkar janji, katanya mau kembali cepat tapi nyatanya suster kembalinya lama. Iqbal benci sama suster," ketus Iqbal, lalu kembali berbalik badan membelakangi Alea.
Alea terkekeh. Kemudian netranya menangkap setangkai bunga melati yang masih ia pegangi. Dan ide untuk meluluhkan hati Iqbal pun tidak perlu dipikirkan lagi.
Karena penawarnya ada di tangan Alea sendiri.
"Suster akui suster salah. Waktu itu suster khilaf. Makannya suster ke sini ingin minta maaf sama kamu," ucap Alea seraya memutar bahu Iqbal agar berhadapan dengannya.
Terlihat ekspresi Iqbal masih sama seperti sebelumnya. Ekspresi marah. Sedangkan bola matanya itu melirik ke sana ke mari enggan melirik Alea.
"Kamu mau 'kan maafin suster?" tanya Alea sambil memperlihatkan setangkai bunga melati tepat di depan wajah Iqbal.
Seketika wajah Iqbal langsung berseri. Alea yakin hati Iqbal sudah luluh saat itu juga. Buktinya Iqbal dengan cepat mengambil bunga melati yang ada di tangannya.
"Jadi? Kamu mau 'kan maafin suster?" Alea bertanya sekali lagi untuk memastikan.
Iqbal sejenak mengangguk-anggukan kepala. "Iya ... Iqbal maafin suster. Tapi lain kali suster jangan buat Iqbal marah lagi. Mengerti?"
"Oke, suster mengerti," timpal Alea.
Bibir Alea mulai membentuk senyuman saat melihat Iqbal kembali ceria, itupun saat Iqbal sedang bermain-main dengan bunga melati.
Alea yakin pasti ada cerita indah mengapa Iqbal menyukai bunga melati, walau di sisi lain mungkin ada cerita buruk juga yang membuat mental Iqbal sampai terganggu.
Tentunya Alea sangat penasaran akan hal itu. Dan kunci jawaban dari semua pertanyaannya itu adalah Ny. Indah.
"Alea."
Panggil seseorang yang membuat si pemilik nama langsung mengalihkan pandangan padanya. Lantas Alea tersenyum saat melihat kehadirannya.
"Tante."
Ya, orang yang memanggil nama Alea barusan adalah Ny. Indah.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ny. Indah dengan wajah datar.
Sekilas Alea menunduk. Karena ia menyadari kalau saat ini Ny. Indah masih menyimpan rasa amarah padanya.
__ADS_1
"Anu Tante ... tadi Alea gak sengaja lewat sini, terus Alea ngeliat Iqbal ketakutan saat suster yang kemarin mendekatinya. Karena khawatir Iqbal kenapa-napa, akhirnya Alea nyamperin Iqbal dan mencoba menenangkannya," jelas Alea, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Ny. Indah hanya diam menatap Alea dengan tatapan tak biasa. Melihat hal itu, Alea jadi tidak enak hati. Alea khawatir Ny. Indah akan menyuruhnya pulang seperti kemarin.
"Tante ... Tante, Alea mohon jangan suruh Alea untuk pulang. Alea ingin tetap di sini menjaga Iqbal. Alea ingin menepati janji Alea yang belum tertepati. Biarkan Alea bantu Tante untuk merawat Iqbal sampai sembuh. Untuk masalah yang kemarin, Alea minta maaf yang sebesar-besarnya Tante. Sungguh, Alea tidak punya sedikit niat untuk membuat Iqbal celaka."
Alea tak henti-hentinya berbicara seraya mengatupkan kedua tangannya di hadapan Ny. Indah. Meski Ny. Indah masih tak merespon, Alea tetap akan memohon.
"Tante ...." Alea beralih meraih tangan Ny. Indah, lalu menggenggamnya dengan erat penuh pengharapan.
Selang beberapa lama, bibir Ny. Indah mulai membentuk sebuah senyuman. Tentunya senyuman yang membuat Alea yakin Ny. Indah pasti akan memaafkan kesalahannya.
"Ya ampun, Alea. Kamu ini ya ... ekspresi Tante tadi cuma dibuat-buat aja. Sebenarnya Tante sudah memaafkan kamu," ujar Ny. Indah seraya membalas genggaman tangan Alea.
"Beneran, Tante?" Alea mulai berekspresi girang.
Sekilas Ny. Indah mengangguk mantap. "Tentu saja, Alea. Semenjak Tante melihat Iqbal meneteskan air mata untuk kamu, semenjak itulah Tante memaafkan kamu. Jujur, Tante merasa bersalah karena telah menggantikan posisi kamu dengan wanita lain. Tidak seharusnya Tante menyuruh kamu untuk kembali pulang. Tapi Tante ini juga seorang Ibu ... seorang Ibu pasti akan langsung bertindak dan tidak peduli hal lain jika sudah menyangkut tentang anaknya. Kemarin Tante sangat takut kehilangan Iqbal setelah mengetahui dia kecelakaan gegara kecorobohanmu. Tante benar-benar terbawa perasaan waktu kemarin, makannya Tante nyuruh kamu pulang. Maafkan Tante, Alea."
Tangan Ny. Indah hampir terangkat untuk memohon maaf kepada Alea. Namun, cepat-cepat Alea menahannya.
"Tidak, Tante. Ini salah Alea, Alea yang seharusnya minta maaf sama Tante. Lain kali Alea akan lebih berhati-hati dalam menjaga dan merawat Iqbal."
Ny. Indah kembali mengulas sebuah senyum. "Ya sudah, begini saja Alea ... kita sama-sama saling memaafkan aja ya," ujar Ny. Indah di akhiri dengan mengusap puncak kepala Alea.
Alea mengangguk. Kemudian ia bergegas memeluk Ny. Indah sangat erat. "Jadi, Tante mengizinkan Alea untuk kembali bekerja sebagai susternya Iqbal?" tanya Alea.
"Iya, Nak. Tante izinkan," jawab Ny. Indah seraya membalas pelukan Alea.
Selang beberapa detik, Ny. Indah melepas pelukan dengan Alea.
"Oya Tante ... Tante nggak usah khawatir, setelah Iqbal sembuh, Alea akan pergi," ucap Alea, yang seolah sudah buat keputusan.
Lantas Ny. Indah terkejut dengan perkataan Alea. Dan ya ... jangan lupakan Iqbal. Dia juga lebih terkejut sampai-sampai menjatuhkan setangkai bunga melati ke sembarang tempat.
"Apa? Pergi?"
Refleks Alea menutup mulut dengan tangannya, tidak seharusnya ia mengatakan hal itu di depan Iqbal. Karena Alea tau Iqbal mudah sensitif jika sudah mendengar hal yang aneh-aneh.
"Hmm, Iqbal ... Iqbal, jangan marah dulu ya. Suster tadi--"
Ucapan Alea terpotong kala Iqbal memeluknya sangat erat. "Suster mau pergi ke mana? Suster gak boleh pergi ninggalin Iqbal. Pokoknya gak boleh." Iqbal mulai merengek seperti anak kecil dalam pelukannya itu.
Alea yang awalnya diam di tempat, langsung menenangkan Iqbal. "Sttt ... Iqbal, tenang ya. Suster gak akan kemana-mana, kok. Suster akan selalu ada untuk Iqbal."
"Beneran ya, suster? Suster pokoknya enggak boleh pergi. Kalau suster sampai pergi, maka Iqbal ...." Sejenak Iqbal melepas pelukannya dengan Alea. Setelah itu, ia memungut sebuah gunting yang sempat ia jatuhkan sewaktu suster asing mendekatinya.
"Iqbal akan melukai Iqbal sendiri ... ya, Iqbal akan melukai diri Iqbal sendiri," ujar Iqbal seraya mengarahkan gunting tersebut pada pergelangan tangannya.
Ny. Indah langsung melotot saat melihat hal itu. Begitupun dengan Alea. Cepat-cepat Alea menghampiri Iqbal, lalu mengambil gunting yang ada di tangannya itu.
"Jangan ... jangan lakuin itu ya Iqbal. Suster gak akan pergi kok, suster akan selalu bersama dengan Iqbal," ucap Alea dengan menunjukan senyum meyakinkan.
__ADS_1
"Benarkah?" Iqbal mulai berekspresi girang. Sedangkan Alea mengiyakan pertanyaan Iqbal dengan anggukan kepala.
"Horeee ... Suster gak akan ninggalin Iqbal ... Suster gak akan ninggalin Iqbal." Iqbal menepuk-nepuk kedua tangannya seraya meloncat-loncat kegirangan layaknya anak kecil yang kesenangan saat melihat mainan baru.
Alea langsung tersenyum lebar melihat tingkah Iqbal yang lucu. Namun sesaat kemudian Alea mengurungkan senyumannya itu secara diam-diam, karena ada sesuatu hal yang mengganjal hatinya.
'Maafin aku, Iqbal. Aku gak bisa janji untuk selalu berada di sampingmu. Setelah kamu sembuh, aku harus pergi.' batin Alea dengan kedua bola matanya yang sudah berkaca-kaca.
'Tapi aku yakin setelah kamu sembuh total, kamu pasti akan mengikhlaskan aku pergi. Karena saat kamu sudah sembuh, kamu akan bisa berpikir jernih kembali seperti cowok normal lainnya.' Alea kembali berkata dalam hati.
Sementara itu, Ny. Indah yang sedari tadi hanya diam, langsung menghampiri Iqbal dan Alea untuk menarik mereka secara lembut ke dalam pelukannya.
"Kemari, Nak!"
Iqbal dan Alea bersamaan memeluk Ny. Indah.
"Alea, Tante minta tolong, kamu jangan tinggalin Iqbal ya. Meski suatu saat nanti Iqbal sudah sembuh total, Tante khawatir Iqbal akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan jika kamu tidak ada di sampingnya. Jadi Tante mohon, tetaplah bersama dengan Iqbal," ujar Ny. Indah yang menaruh harapan pada Alea.
Alea hanya membalas dengan senyuman. Entah kenapa mulutnya terasa kaku untuk mengucap iya ataupun mengucap janji.
Dan di tengah keraguannya itu, Alea sempat terhentak ketika tangan Iqbal tiba-tiba diletakkan di atas punggung tangannya. Sekilas Alea pun melirik ke samping, lebih tepatnya pada Iqbal.
Tampak lelaki itu tengah merasakan kenyamanan di pelukan sang Ibu. Jadi kemungkinan saat ini Iqbal tidak sengaja memegang tangan Alea.
***
Alea meminta Ny. Indah dan Iqbal untuk pulang terlebih dulu. Karena saat ini Alea harus pulang ke rumahnya sendiri untuk mengganti baju dan tentunya meminta izin dulu pada ibunya.
"Ibu," panggil Alea pada Ibunya yang saat itu sedang menjahit pakaian di ruang tengah.
Ibu Alea tersenyum melihat kehadiran putrinya. Ia pun sejenak menghentikan aktivitas menjahitnya. "Eh putri Ibu sudah pulang jogging. Gimana tadi joggingnya?"
Alea duduk di samping Ibunya. "Ya gitu, Bu. Lumayan lelah, tapi alhamdulillah sekarang kondisi Alea sudah lebih baik dari sebelumnya," timpal Alea memberi kepastian pada Ibunya.
Ibu Alea bahagia mendengar hal itu. Sesaat Ibu Alea merasa keheranan melihat putrinya berpenampilan rapi.
"Loh Alea, kamu mau ke mana? Kok kelihatannya putri ibu ini udah rapi?"
"Jadi begini, Bu ...." Alea mulai menceritakan secara detail mengenai kejadian sewaktu di taman kepada Ibunya. Sekilas sang Ibu manggut-manggut mengerti apa yang sudah diceritakan oleh putrinya.
"Kalau kamu ingin membantu Nyonya Indah merawat putranya sampai sembuh, maka pergilah. Ibu tidak akan melarang. Tapi Ibu berpesan padamu, jangan kecewakan Nyonya Indah lagi. Mengerti?"
Alea mengangguk mantap. Kemudian ia segera memeluk Ibunya sebelum pergi ke rumah Ny. Indah. "Makasih ya Bu, udah izinin Alea. Tapi Alea juga perlu do'a Ibu agar Alea bisa merawat Iqbal sampai sembuh," ucap Alea.
"Tentu saja, Nak. Do'a ibu selalu menyertaimu."
...***...
...TBC .......
...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...
__ADS_1