Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Curahan Hati Alea


__ADS_3

...***...


Di sisi lain, Iqbal yang sedang asik berjoged, tiba-tiba terhenti usai melihat Alea didekati oleh laki-laki asing dan juga penggoda.


"Ihh, siapa tuh cowok? Berani-beraninya dia ganggu suster," ketus Iqbal seraya menatap tidak suka laki-laki itu dari kejauhan. Tasya yang menyadari akan hal itu, langsung menghentikan tariannya.


"Ada apa, Iqbal?" tanya Tasya.


Iqbal tak merespon. Ia hanya fokus menatap lelaki itu yang nampak berusaha menarik tangan Alea. Sungguh Iqbal tidak suka pemandangan ini.


Tasya yang baru menyadari hal tersebut, segera mengalihkan perhatian Iqbal. Ia tidak ingin Iqbal sampai menghampiri Alea. "Hmm, Iqbal, mendingan kita jogednya ke tempat lain aja, oke," usul Tasya dengan nada lembut.


"Enggak mau," tolak Iqbal. Lalu ia bergegas menghampiri Alea yang tengah diganggu oleh lelaki yang tak dikenal.


Tasya kesal. Sekarang ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun segara mengikuti langkah Iqbal dari belakang.


"Hey, kamu. Lepasin suster," pekik Iqbal seraya mendorong lelaki itu hingga lengan Alea akhirnya terlepas dari cengkraman si cowok br*ngs*k.


Alea tersenyum. Karena tak bisa dipungkiri Iqbal ternyata datang membantunya. Tadinya Alea ingin melakukan sesuatu agar bisa terlepas dari cengkraman lelaki yang tak dikenal, tapi Iqbal terlebih dulu mendorong lelaki itu.


Sekarang Alea mulai merasa gelisah. Ia khawatir akan terjadi keributan, secara saat ini Iqbal berada dalam pengobatan. Tentunya Alea tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Iqbal.


"Sialan!" Lelaki itu merasa kesal dan langsung mencengkram kerah baju Iqbal. "Siapa lo, hah? Lo mau jadi pahlawannya dia?" tanyanya dengan meninggikan nada.


Tubuh Iqbal mulai gemetaran, raut wajahnya seketika berubah menjadi takut saat lelaki itu menekannya dengan perkataan yang cukup kasar. Alea tidak bisa diam saja. Ia harus segera bertindak dengan cara membawa Iqbal secepatnya pergi dari sana.


"Lepasin dia." Alea mendorong kasar lelaki itu hingga terjatuh ke lantai. Alea tak peduli, detik ini ia hanya mencemaskan Iqbal saja.


Sementara itu, Iqbal perlahan berjongkok sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. Tampak tubuhnya semakin bergemetaran. "Jangan bentak Iqbal ... jangan bentakin Iqbal ...," lirihnya terbata-bata.


Kedua mata Alea mulai berair setelah melihat hal itu. Ia segera berjongkok dan memeluk Iqbal sangat erat, tentunya untuk menenangkan lelaki itu


"Sttt ... Iqbal, jangan takut. Suster Alea ada bersamamu," lirih Alea, lalu tangannya perlahan terangkat untuk membelai lembut rambut Iqbal.


Sesekali bola mata Alea mengarah pada Tasya yang hanya diam seraya memasang wajah tak berdosa. Entah terbuat apa hati Tasya ini. Setelah membuat Iqbal ketakutan, sekarang dia malah membisu seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


Siapapun yang punya palu di rumah, tolong kasih pinjam ke Alea. Alea ingin sekali memukul kepala gadis berambut pirang itu supaya dia menyadari di mana letak kesalahannya.


"An*ir, ternyata lo gila ya. Pantesan aja lo takut ngelawan gue. Ke rumah sakit jiwa aja, gih, langsung berobat di sana. Biar gak malu-maluin diri sendiri," umpat lelaki itu dengan tawa kerasnya. Membuat para pengunjung yang sedang berjoged, langsung memilih berkerumun dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Heh, lo semua, lihat! Di klub ini ada orang gila," ucap lelaki itu dengan suara keras, tentunya sambil tertawa.

__ADS_1


Orang-orang yang menjadi penonton itupun langsung ikut tertawa keras melihat tingkah Iqbal yang terus-terusan memukul kepala karena saking merasa takutnya. Mereka tidak menyangka cowok setampan Iqbal ternyata memiliki penyakit gangguan mental.


"Ya ampun, ganteng sih ganteng ... tapi nyatanya dia ...."


"Tadinya gue pengen gebet dia. Tapi gak jadi, deh. Yang ada nanti gue ikutan stres."


"Sangat disayangkan, tampang keren tapi gila."


Begitulah umpatan dari orang-orang yang terlibat menjadi penonton. Lantas hal tersebut membuat amarah Alea mulai memuncak. Ia benar-benar muak dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Iqbal gak gila ... Iqbal bukan orang gila ...." Iqbal kini beralih memukul-mukul kepalanya. Tak segan-segan, Alea langsung menenangkan lelaki yang ada dalam pelukannya saat ini.


"Sttt, Iqbal ... tenanglah. Kamu gak gila, kok." Tangan Alea terus membelai lembut rambut Iqbal.


"Pacarnya ya, Mbak? Kok, mau-maunya sih pacaran sama cowok gila kayak dia," ledek salah satu wanita yang kebetulan menjadi penonton.


Sudah cukup. Sekarang Alea tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia sudah muak dengan umpatan gak guna dari orang-orang kepada Iqbal.


"Kalau iya kenapa? Gue gak malu kok pacaran sama dia. Malahan gue bangga. Dia baik, dia penyayang, dia laki-laki yang kuat, laki-laki yang tangguh. Gak kayak kalian yang pada MUNAFIK, bisanya cuma ngehina orang, ngerasa paling sempurna. Hh, jijik gue orang yang kayak gitu."


Alea menumpahkan segala kekesalannya sesekali tersenyum miris melihat kenyataan di mana orang dengan mudahnya menghina tanpa memikirkan perasaan orang yang dihina.


"Iqbal gak gila ... Iqbal bukan orang gila. Bener 'kan, Sus, Iqbal bukan orang gila?" Iqbal sejenak menatap Alea dengan senyuman, namun, sesaat kemudian ia kembali menangis.


"Iya, Iqbal. Iqbal bukan orang gila, tapi Iqbal adalah cowok yang kuat yang pernah suster temui," timpal Alea dengan lirih.


"Mereka semua jahat ... mereka semua jahat ... Iqbal benci mereka semua," teriak Iqbal, lalu ia mendorong tubuh Alea supaya dirinya terlepas dari pelukan gadis itu.


Iqbal kemudian berlari keluar klub sambil menutup kedua telinganya. Melihat hal itu, Alea tidak akan tinggal diam. Ia beranjak dari tempatnya dan akan mengejar Iqbal.


Namun, sebelum itu, Alea sejenak menatap orang-orang termasuk Tasya secara bergantian dengan tatapan yang sangat tajam.


"Puas lo semua udah bikin pacar gue tertekan. Puas, hah?" bentak Alea dengan emosi yang sudah tak bisa ditahan.


"Sekali lagi gue mendengar kalian menghina pacar gue ataupun salah satu dari kalian ada yang ngelaporin pacar gue ke pihak rumah sakit jiwa, gue gak segan-segan akan bikin perhitungan ke kalian," ancam Alea dengan melototkan matanya saat memandang orang-orang secara bergantian.


"Termasuk lo Tasya." Alea beralih menunjuk ke arah Tasya dengan kasar. "Gue udah muak sama kelakuan lo. Puas lo sekarang udah bikin Iqbal dihina sama orang-orang?" pekik Alea.


Tasya diam, tak merespon. Kepalanya ditundukkan enggan memandang Alea. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, yang jelas Alea sangat membenci Tasya.


"Ck." Sejenak Alea tersenyum miris. "Gue kira lo itu baik. Tapi ternyata perkiraan gue salah. Lo lebih buruk dari yang gue bayangin."

__ADS_1


Tanpa mau berpikir panjang, Alea segera pergi dari sana dan mengejar Iqbal.


"Minggir lo." Alea mendorong kasar tubuh Tasya yang sempat berdiri di hadapannya.


***


"Batu ... gunting ... kertas ...."


Doni tersenyum lebar saat dirinya mengeluarkan gestur gunting, sedangkan lawannya mengeluarkan gestur kertas. Otomatis Doni menang kembali di ronde ketiga, karena di ronde sebelumnya ia juga menang.


"Yesss, menang lagi," girang Doni. Dan ....


Plak!


Doni menampar pipi lawannya yang tak lain adalah lelaki berkaos hitam yang sebelumnya sempat menggoda Alea. Doni sengaja mengajak lelaki itu melakukan suit batu gunting kertas dengannya agar si cowok br*ngs*k tidak mengejar Alea.


Alasan Doni menampar pipi lelaki itu karena aturan mainnya adalah yang kalah harus ditampar.


Sementara itu, Lisa yang sedari tadi hanya menyimak, kini mulai merasa bosan.


"Ya ampun, Don, kenapa lo harus ngajak dia main kayak ginian, sih? Bikin jenuh aja tau gak," ketus Lisa seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sttt, Lis ... mendingan kamu diem aja, aku ngelakuin ini buat ngalihin perhatian dia agar gak goda Alea lagi," timpal Doni dengan suara pelan.


Sekilas Lisa menepuk dahinya. "Tapi gak gini juga kali, Don. Lo 'kan bisa ngalihin perhatian dia pakek otot."


"Waduh, kalau soal pakek otot mah, aku nyerah, Lis. Yang ada aku malah bakal babak belur kalau pakek otot. Makannya aku nantangin dia pakek suit batu gunting kertas, secara aku jago dalam permainan itu. Buktinya sekarang aku menang terus," ujar Doni dengan bangga.


"Cielah, sombong amat lo."


Doni hanya cengengesan. "Hehe, mesti dong. Mumpung dia lagi linglung karena efek minum, aku ajakin aja dia main suit," ucap Doni sesekali memandang ke arah lelaki berkaos hitam yang sedang mengerjapkan matanya berulang kali karena menahan pusing.


Lisa sekilas mengangguk, mengiyakan ucapan Doni. "Hmm, terserah lo aja deh. Yang penting tuh cowok rese gak godain sahabat gue lagi," ujar Lisa.


Kini Doni menghadap ke arah lelaki itu untuk mengajaknya main suit kembali. Namun, tak lama kemudian, Alea muncul dari arah tempat minuman. Baru saja Lisa ingin bertanya, tapi Alea malah berlari melintasinya tanpa mengucap sepatah kata apapun.


"Loh ... loh, Ya. Kok, lo lari, sih? Ya, tungguin gue," teriak Lisa, lalu bergegas mengejar Alea.


"Etdah, kenapa aku ditinggal, sih?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2