Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kena Tipu


__ADS_3

...***...


"Yeayyy ... sudah."


Alea merasa lega karena akhirnya Iqbal menjauhkan wajahnya darinya. Kini Alea bisa membuang napas secara perlahan setelah sebelumnya ia tahan hampir 30 detik.


"Makasih ya, Iqbal. Sekarang kamu makan lagi ya, sedikit lagi makanannya akan habis," ujar Alea seraya tersenyum. Pikirannya mencoba untuk melupakan kejadian yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat.


Iqbal mengangguk. Kemudian ia menerima kembali suapan dari tangan Alea.


Setelah selesai makan, Alea turun dari bed cover untuk mengambil obat dari dalam laci. Setelah itu, ia kembali duduk di samping Iqbal, lalu memberikan satu tablet obat dan segelas air hangat kepada Iqbal.


"Ini, minum!"


"Apa lagi itu, sus? Tadi suster minta Iqbal makan daun, sekarang minum ini." kesal Iqbal dengan menatap sinis obat yang dipegang oleh Alea.


"Ini obat, Iqbal. Enak kok rasanya kayak permen. Kalau kamu minum ini, kamu akan menjadi orang yang sangat kuat," ucap Alea asal bicara saat menyebut permen. Ia lakukan itu agar Iqbal mau meminum obat.


"Hah? Permen?" Iqbal tampak ragu. Namun sebisa mungkin Alea akan mencoba meyakinkan Iqbal agar mau meminum obat.


"Iya, Iqbal. Obat ini rasa permen. Cobain deh, tapi ingat jangan dikunyah ataupun diemut, Iqbal harus memakannya dengan cara ditelan," timpal Alea.


"Emang ada makan permen dengan cara ditelan ya, Sus?" Iqbal mulai merasa keheranan.


Alea hanya menjawab dengan anggukan disertai senyum canggung. Agak aneh juga Alea menyamakan obat dengan permen. Tapi itu tidak jadi masalah. Yang paling penting Iqbal harus minum obat.


"Sekarang buka mulutmu!" pinta Alea. Dan tanpa harus menunggu lama, Iqbal langsung membuka mulutnya cukup lebar.


Alea pun menempatkan pil di tengah lidah Iqbal dengan sangat hati-hati. Setelah itu ia meminta Iqbal untuk segera meminum air. Kemudian Alea membantu menempatkan kepala Iqbal ke belakang agar pilnya benar-benar masuk ke dalam tenggorokan.


"Selesai! Gimana enak 'kan?" tanya Alea dengan menaik-naikan kedua alisnya.


"Tapi kok rasanya agak aneh ya, sus?"


Alea terkekeh. Dimana-mana obat pasti rasanya akan berbeda. "Mungkin itu hanya perasaan Iqbal aja kali. Obatnya enak kok," ucap Alea asal bicara.


Iqbal menatap Alea penuh curiga. Namun secepatnya Alea segera meminta izin kepada Iqbal untuk keluar kamar mengambil bunga melati yang ada di halaman depan rumah. Alea ingin menepati janjinya itu.


Seperti biasa saat sedang keluar, Alea mengunci pintu kamar Iqbal dari luar. Dikhawatirkan si pemilik kamar akan kabur jika kamarnya dibiarkan terbuka.


Setelah mengambil bunga, Alea kembali memasuki kamar. Terlihat Iqbal tengah berbicara dengan boneka beruang di atas sofa, yang membuat Alea tersenyum lebar saat melihat tingkahnya itu.


"Ini dia Iqbal, bunga melati kesukaanmu," ujar Alea seraya menghampiri Iqbal lalu duduk di sampingnya.


Dengan cepat Iqbal mengambil bunga melati yang ada di tangan Alea, setelah itu ia taruh di dekat boneka beruang. "Ini dia, baby bear. Iqbal persembahkan bunga melati ini untuk baby bear. Semoga baby bear suka dan semoga baby bear mau jadi pacarnya Iqbal."


Alea kembali terkekeh. Ia tidak menyangka kalau Iqbal sempat-sempatnya tau tentang pacar di tengah-tengah kondisi mentalnya yang sedang terganggu.


"Kok Iqbal tau tentang pacar?" tanya Alea to the point.


"Mama yang ngasih tau ke Iqbal kalau pacar itu adalah teman kesayangan. Kata Mama kalau Iqbal sudah sembuh, Iqbal harus punya pacar. Padahal Iqbal itu gak sakit. Suster percaya kan kalau Iqbal gak sakit?" Iqbal memastikan dengan menatap sendu wajah cantik milik Alea.


Alea tersenyum, sekilas ia mengangguk lalu mengacak-acak puncak kepala Iqbal. "Iya, suster percaya."


'Karena aku sendiri yang akan merawatmu sampai sembuh.' batin Alea.


"Nanti kalau Mama ke kamar Iqbal, Iqbal akan kasih tau ke Mama kalau Iqbal itu udah punya pacar."


"Siapa?" Alea sengaja bertanya meski ia sudah tau kalau jawaban Iqbal pasti baby bear.


Sejenak Iqbal memandang boneka beruang dan juga Alea secara bergantian, membuat Alea yang diam di tempat memicingkan matanya tak mengerti dengan gerakan mata Iqbal.


"Suster," timpal Iqbal, diakhiri dengan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seraya tertawa tidak jelas.


Alea tidak terkejut, melainkan ikut tertawa. Karena ia tau Iqbal mengatakan hal itu hanya sekedar gurauan saja. Sementara Iqbal, ia mulai berhenti tertawa.

__ADS_1


"Ihhh, suster kok malah ikut tertawa? Iqbal gak suka. Padahal tadi Iqbal bicara serius."


Alea hanya melipat kedua tangannya di depan dada, penasaran apa yang akan dikatakan Iqbal selanjutnya jika memang benar Iqbal bicara serius.


"Tapi ... boong. Pacar Iqbal sebenarnya baby bear, bukan suster. Yeaa ... suster kena tipu ... suster kena tipu," ledek Iqbal lalu beranjak dari sofa dengan membawa boneka beruang.


Sekilas Alea menggeleng-gelengkan kepala disertai dengan senyum simpul. Alea sudah menduga kalau Iqbal hanya bergurau. Tidak mungkin seorang Iqbal yang mentalnya sedang terganggu akan bisa bicara serius layaknya orang dewasa.


"Suster kena tipu ... suster kena tipu ...." Iqbal terus mengulang kalimat itu seraya melompat-lompat kegirangan di atas bed cover.


Sedangkan Alea hanya tersenyum melihat tingkah Iqbal. Sungguh, tak pernah terpikirkan oleh Alea untuk merawat Iqbal.


Bahkan sampai sekarang ia masih tak percaya jika dirinya akan terlibat dalam kehidupan seorang Iqbal Riandra Keanny sebagai seorang suster dadakan.


'Suatu saat kamu pasti akan sembuh, dan di saat itu juga aku akan pergi. Setelah aku pergi, apa kamu akan mencariku?' batin Alea.


***


Sore hari telah tiba, namun Alea masih duduk di tempatnya. Ya, sudah berjam-jam lamanya, Alea tetap setia menunggu Iqbal yang masih asik bermain.


Jika Iqbal haus, Alea dengan cepat akan memberikannya minum. Jika Iqbal bosan, Alea dengan senang hati akan mengajak Iqbal bermain permainan lain. Begitulah aktivitas yang dilakukan Alea setengah hari ini.


Meski lelah dan sempat merasakan jenuh, namun Alea tetap akan menemani Iqbal bermain.


Kini Iqbal sibuk bermain dengan puzzle-nya. Alea pun memilih untuk duduk kembali dan menyalakan handphone-nya.


Tampak sebuah pesan whatsapp muncul ketika Alea mengaktifkan data. Ternyata dari Adit, Alea segera membacanya.


[Sore kesayangan. Malam ini kamu sibuk nggak? Aku mau ajak kamu dinner.]


Alea mulai bingung. Ia berpikir haruskah ia pulang sore ini juga. Secara Alea merindukan Adit dan ingin jalan berdua dengannya. Tapi di sisi lain, ada Iqbal yang harus ia rawat. Akankah Iqbal mengizinkannya pergi?


'Yaelahh, kenapa gue jadi bingung gini, sih. Ayolah Alea, pikirkan apa yang lo harus lakuin sekarang.' batin Alea.


"Iqbal," panggil Alea, perlahan mendudukkan dirinya di samping Iqbal.


Iqbal tak menoleh ataupun merespon, ia hanya fokus bermain. Meski begitu, Alea akan memberanikan diri untuk berbicara dengan Iqbal.


"Iqbal, suster mau bicara sama Iqbal. Suster minta izin pulang sore ini juga, Iqbal tidak keberatan 'kan?" tanya Alea dengan terbata-bata, ia khawatir Iqbal tidak akan mengizinkan.


Mendengar kata ingin pulang, Iqbal langsung mengangkat kepalanya memandangi Alea. "Emangnya suster mau ke mana?" tanya Iqbal dengan nada sedih.


"Suster mau pulang ke rumah, ada keperluan yang harus suster kerjakan," jawab Alea.


"Apa keperluan suster lebih penting dari pada bermain dengan Iqbal?"


Alea jadi bimbang. Ia tidak tau harus menjawab apa, bagi Alea keduanya sangat penting dan sulit untuk memilih siapa yang harus Alea temani.


"Jadi gini, Iqbal ... di dekat rumah suster ada harimau yang ngeyel pengen masuk ke dalam. Nah suster harus mengusirnya dulu, jadi suster harus pulang sekarang," jawab Alea asal bicara.


Iqbal sempat terkejut setelah mendengar kata harimau, lalu detik berikutnya wajahnya ditekukkan menahan sedih karena Alea harus pulang sekarang.


Alea yang melihat hal itu, langsung menenangkan Iqbal. "Iqbal, jangan sedih ya. Besok suster akan kembali lagi ke sini kok. Suster akan temani Iqbal lagi. Tapi sekarang suster harus pulang. Suster janji deh, besok suster bakal bawa boneka beruang kalau ke rumah Iqbal."


Wajah Iqbal seketika ceria usai mendengar kata boneka beruang. "Beneran, sus? Suster gak bohong 'kan?"


Alea mengangguk mantap. Sedangkan Iqbal mulai menepuk-nepuk kedua telapak tangannya saking girangnya. "Hore ... besok baby bear punya temen baru. Ya sudah, suster boleh pulang sekarang."


Alea tersenyum lega karena akhirnya Iqbal mengizinkannya pulang. "Ya sudah, suster pulang dulu ya."


Alea bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil tas miliknya di atas sofa. Setelah itu ia bergegas keluar kamar dan ....


"Astaga, Tante." Alea terhentak kaget ketika mendapati Ny. Indah berdiri di depan kamar Iqbal. Sedangkan Ny. Indah hanya merespon dengan senyuman.


"Tante kenapa ada di sini?" tanya Alea.

__ADS_1


"Tadi Tante ingin menemui Iqbal. Lalu Tante gak sengaja denger pembicaraan kamu ke Iqbal kalau hari ini kamu akan pulang. Apa itu benar?" Kini Ny. Indah yang bertanya.


Alea langsung menunduk. "I-iya, Tante. Hari ini Alea hanya bekerja sampai sore sebagai susternya Iqbal, karena Alea--"


"Alea, Tante paham apa urusan yang harus kamu kerjakan. Jika itu memang penting, maka pergilah. Lagian Tante dengar Iqbal sudah mengizinkanmu untuk pulang. Dan soal Iqbal, ada Tante yang akan merawatnya," potong Ny. Indah.


Tentu saja Alea senang mendengarnya. "Makasih ya, Tante. Besok Alea bakal datang ke rumah Tante pagi-pagi," ucap Alea seraya memeluk Ny. Indah sangat erat.


"Iya, Alea. Tante akan tunggu kedatanganmu lagi di rumah Tante," timpal Ny. Indah dengan membelai lembut rambut Alea.


***


Alea sudah sampai di rumahnya. Tak lupa ia juga mengucapkan salam ketika masuk ke dalam. Namun, langkah Alea mendadak terhenti ketika melihat ada Lisa sedang memainkan ponsel di ruang tamunya.


"Loh Lis, tumben lo ada di sini? Mau ngapain?" tanya Alea seraya bergegas duduk di samping Lisa.


Lisa segera mematikan layar handphone-nya setelah melihat kehadiran Alea.


"Ya gue pengen main aja ke rumah lo, kebetulan hari ini gue pulangnya cepet karena jadwal kerja gue sampai siang," jelas Lisa.


Alea mengangguk-angguk mengerti.


"Oya, lo habis dari mana? Gue 'kan udah peringatin elo untuk banyak istirahat. Kenapa lo malah keluyuran, kalau lo sakit lagi gimana?" tanya Lisa dengan wajah cemasnya.


"Lo tenang aja, Lis. Sekarang kondisi gue udah lebih baik kok," timpal Alea sesekali menepuk-nepuk bahu Lisa.


"Ya syukur deh kalau gitu. Oya, kata nyokap lo, lo lagi ada di rumah temen. Temen yang mana?" Lisa mengalihkan pembicaraan pada topik lain.


"Hmm, ada deh. Lo gak perlu tau," ucap Alea dengan cekikikan. Lalu ia bergegas pergi ke kamarnya.


"Ihh, kok lo gitu sih, Ya. Gue 'kan pengen tau," ucap Lisa agak berteriak.


***


Di tempat jualan bakso yang ada di pinggir jalan, terlihat Alea dan Lisa tengah menikmati semangkok bakso spesial. Sebelumnya mereka sempat pergi ke Mall membeli sebuah boneka beruang yang cukup besar.


"Ehh Ya, ngomong-ngomong itu boneka buat siapa, sih? Gue kepo nih," ucap Lisa yang sejenak menghentikan aktivitas makannya dan beralih memandangi boneka yang ditaruh di samping Alea.


"Nanti deh gue ceritainnya. Sekarang gue harus buru-buru habisin nih bakso, karena gue harus pulang cepet," ucap Alea.


"Tumben pulang cepet. Mau kemana?"


"Gue mau dinner sama Adit, udah lama juga gue gak dinner bareng dia," jawab Alea.


Lisa mengangguk mengerti. Namun, detik berikutnya ia melototkan matanya karena teringat sesuatu. "Ya ... Ya ... Ya, tadi siang pas gue pulang kerja, gue lihat Adit jalan bareng sama cewek."


Lantas Alea terkejut mendengarnya. "Hah? Yang bener lo?"


"Bener, Ya. Gak mungkin gue salah lihat."


Alea berpikir. Tidak mungkin juga Adit mengkhianatinya. Bisa saja wanita yang dilihat Lisa adalah keluarganya Adit. Bagaimanapun juga Alea tidak ingin berpikir yang aneh-aneh mengenai Adit.


"Ya mungkin tuh cewek sepupunya Adit. Kita positif thingking aja, Lis." Alea menyangkal perkataan Lisa.


"Iya juga sih." Lisa mencoba menjauhkan pikiran negatifnya. Tapi tetap saja ia merasa ada yang aneh.


Untuk membuktikan kecurigaannya salah, Lisa terpaksa diam-diam akan mengikuti Alea ketika dinner nanti. Lisa lakukan itu karena ia sangat mencemaskan sahabatnya, Alea.


Lisa tidak ingin Alea sampai dikhianati oleh siapapun, termasuk Adit sekalipun.


...***...


...TBC .......


...Jangan lupa kasih dukungan buat author ya ❤...

__ADS_1


__ADS_2