
"Aku pengen nanya, selama aku di luar negeri, Alea pernah gak deketin cowok?" Iqbal bertanya sebelum mengungkapkan alasan dia bisa mengingat Alea.
"Deketin dalam hal apa, nih? Temen atau apa? Kalau temen sih ada. Doni namanya," timpal Lisa.
"Lebih dari teman."
"Pacar maksudnya?"
Iqbal mengangguk mengiyakan.
'"Kalau pacar sih gak ada. Dulu pernah juga ada cowok yang nembak Alea, tapi Alea tolak. Katanya mau jaga hati buat orang yang dia sayang."
Iqbal menunduk sambil tersenyum. Ternyata wanita kesayangannya itu menepati janjinya. Iqbal kira Alea akan mengingkari. Tapi nyatanya tidak. Sesayang itukah Alea padanya?
"Eh, by the way, Iqbal gak amnesia? Kok bisa inget Alea?" Lisa mengalihkan pada topik lain. Sejujurnya ia penasaran dengan topik ini.
"Aku gak amnesia, kok. Aku cuma pura-pura lupa doang. Sebenarnya aku lagi nge-prank Alea." Iqbal berkata terus terang.
Sontak Lisa terkejut hebat bukan main. "Apa? Nge-prank? Jadi selama ini cuma bohongan doang?"
Iqbal mengangguk. "Iya. Alasan aku ngelakuin itu karena aku pengen tau seperti apa perasaan Alea di saat aku gak inget sama dia. Sekalian aku juga pengen kasih kejutan Alea kalau selama ini aku cuma nge-prank dia doang."
"Ya ampun, Iqbal. Bukan cuma Alea doang tau gak yang kena prank, gue juga. Gue kira lo beneran gak inget sama Alea. Gue sampai udah parno duluan, terus kepikiran juga nasib sahabat gue gimana kalau lo beneran lupa sama dia."
"Aku minta maaf. Sebenarnya aku juga gak pengen ngelakuin itu. Tapi temen di Kanada nyaranin aku buat coba nge-prank orang yang kita sayang. Katanya seru buat dilakuin."
"Seru sih seru, tapi bikin nyesek. Buktinya aja noh si Alea, dia sampe nangis bahkan gak semangat ngelakuin apapun. Gue aja sebagai sahabatnya susah buat ngajakin dia happy."
Iqbal kembali menunduk. Sebenarnya hatinya juga sakit saat ia berkata tidak mengenali Alea di depan semua orang. Tapi ya mau gimana lagi, demi ingin buat prank, Iqbal harus menahan rasa sakit itu.
"Iqbal harus tau, sahabat gue itu orangnya setia, dia rela nungguin lo selama tiga tahun lamanya. Sampai-sampai tuh anak galau karena gak dapat kabar sama sekali dari lo ataupun Tante Indah. Bahkan nih ya, hampir setiap hari juga Alea ngunjungin rumah lo buat mastiin lo udah ada di rumah atau belum. Ah, pokoknya gue salut deh sama dia. Kalau gue yang jadi Alea, gue gak bakalan nunggu cowok yang gak ada kabarnya sama sekali. Mending gue tinggalin dan nyari yang baru."
Iqbal terharu mendengar cerita dari Lisa. Ternyata benar juga apa yang pernah Bi Minah katakan padanya lewat telpon, kalau Alea sering mengunjungi rumahnya untuk memastikan dia sudah pulang atau belum.
Ah, sekarang Iqbal tidak bisa berkata apa-apa lagi. Intinya bertemu dengan Alea bukanlah kesalahan dan Iqbal sangat beruntung telah mengenal Alea.
"Terus sekarang lo mau lanjutin prank-nya lagi, begitu?" tanya Lisa.
"Nah, itu dia. Masalahnya aku gak tega kalau nge-prank Alea lama. Tadinya pengen seminggu, tapi kayaknya keterlaluan. Apa aku selesaiin aja ya prank-nya sekarang?" Iqbal meminta pendapat dari Lisa.
"Gue setuju, mending lo selesaiin aja prank-nya sekarang daripada nantinya lo diacuhin sama Alea. 'Kan sakit kalau diacuhin."
"Bener juga sih. Oya ngomong-ngomong, Alea kapan ulang tahunnya?"
"Besok."
Iqbal menjentrikkan jari sambil tersenyum sumringah. Pasalnya ia sudah dapat waktu yang tepat untuk mengutarakan segalanya pada Alea.
"Nanti kamu bantu aku ya!" pinta Iqbal.
"Bantu apa?"
Iqbal mulai berbicara mengenai hal-hal yang harus Lisa lakukan nanti. Lisa yang mengerti, langsung mengangguk setuju.
***
Pukul 00.30
30 menit setelah kejutan ....
__ADS_1
Sepanjang Lisa bercerita, Alea hanya memasang reaksi kaget sekaligus tak percaya jika sahabatnya itu terlibat juga dalam rencana jahilnya Iqbal.
"Ohh, gue ngerti sekarang. Berita tentang Iqbal kecelakaan itu sebenarnya bohong dan sebenarnya berita itu gak ada sama sekali. Kenyataannya Iqbal baik-baik aja dan lo cuma ngada-ngada. Bener 'kan ucapan gue ini?" tanya Alea sambil menahan rasa kesal.
Lisa sekilas mengangguk, lalu cengengesan. Sebenarnya ia tidak ada niat untuk membohongi Alea. Tapi apalah daya, Iqbal yang meminta dan Lisa tidak bisa menolak.
"Tega lo ya!" Dengan kesal, Alea langsung mencubit tangan Lisa cukup keras.
"Ahh, sakit Ya." Lisa pura-pura kesakitan, padahal aslinya cubitan Alea gak sakit sama sekali.
Kini Alea beralih mencubit pinggang Lisa. "Bener-bener tega lo, Lis. Lo tega ngebohongin gue."
"Ahh, ampun, Ya. Sebenarnya gue gak pengen, tapi pacar lo yang maksa gue harus ngelakuin itu," ujar Lisa, menahan geli karena pinggangnya terus dicubit oleh Alea.
"Apa? Lo bilang Iqbal pacar gue? Jangan ngada-ngada deh lo. Iqbal itu bukan pacar gue, tapi---"
"Tapi aku calon suaminya Alea." Seseorang langsung memotong perkataan Alea.
Setelah Alea lihat, ternyata Iqbal yang mengatakannya. Saat ini Iqbal tengah melangkah mendekati Alea sambil membawa kue ulang tahun.
Lisa dan Doni menganga secara bersamaan. Mereka kaget dengan perkataan Iqbal yang tadi. Padahal ada Ibu Alea di sana. Mungkin Iqbal sengaja mengode Ibu Alea agar bisa diberi restu.
"Ck." Iqbal sekilas terkekeh. Ternyata membuat Alea terkejut sangat mudah.
"Selamat ulang tahun, suster," bisik Iqbal di telinga Alea. "Daripada ngelamun terus, mendingan suster tiup lilinnya sekarang," sambung Iqbal.
"Hah?" Alea celingukan seperti orang linglung. Entah kenapa ia jadi seperti ini. Mungkin efek ucapan Iqbal, makannya Alea jadi salah tingkah.
"Eh, Ya, kalau bisa agak cepetan tiup lilinnya. Aku udah ngantuk berat nih, pengen pulang," keluh Doni, berusaha menahan rasa kantuknya.
Suasana berubah menjadi tawa saat melihat mata panda milik Doni. Doni yang merasa malu, hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jangan lupa sebelum tiup lilin, make a wish dulu!" Iqbal memperingati.
"Gak perlu diingetin, udah tau," sahut Alea dengan nada dingin. Sementara raut wajah juteknya membuat Iqbal terkekeh. Ternyata gadis itu masih marah padanya.
Alea perlahan memejamkan mata. Membuat sebuah harapan dan doa dalam hatinya.
"Boleh aku tebak? Suster pasti berharap agar kita selalu bersama."
"Idihh, ngarep!" Alea memperlihatkan wajah juteknya lagi. Namun, setelah itu, ia diam-diam tersenyum karena ada harapan lain yang tidak diketahui oleh Iqbal.
Orang-orang yang ada di sana mulai bertepuk tangan antusias setelah Alea meniup lilin. Lisa pun segera mendekat pada Alea untuk memberikan sebuah pisau.
"Nih, potong kue-nya!"
Alea mengambil pisau tersebut lalu memotong kue yang ada di tangan Iqbal dengan secara perlahan. Setelah itu, Alea melangkah menghampiri Ibunya untuk memberikan suapan pertama.
"Selalu bahagia, sayang." Sang Ibu membelai rambut putrinya dengan lembut. Tak terasa putri kecilnya kini sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menjalani kehidupan yang baru.
"Ayah!" Alea beralih menatap langit malam dengan kedua bola mata berkaca-kaca. "Apa Ayah bisa mendengar Alea? Alea kangen sama Ayah. Hari ini Alea ulang tahun, Yah. Do'akan yang tebaik buat Alea. Alea sayang Ayah. Alea rindu banget sama Ayah. Semoga Ayah selalu bahagia di alam sana ya. I love you, Ayah."
Alea perlahan menunduk, ia tak kuasa menahan air matanya lagi. Kenangan sang Ayah begitu kuat hingga membuat pertahanannya runtuh dan merasa tak berdaya.
Iqbal bisa pahami perasaan Alea saat ini. Gadis itu merasa terpukul. Namun, Alea tidak tau, Iqbal lebih terpukul darinya. Iqbal tak seberuntung Alea yang memiliki Ayah yang begitu penyayang.
Sejak lahir, Iqbal belum pernah merasakan kasih sayang dari sang Ayah. Justru yang ia dapat hanyalah kebencian.
Iqbal sangat sedih bila harus mengingat hal itu lagi. Siksaan yang mencekam dari sang Ayah dan permusuhan yang kuat dari sang Kakak.
__ADS_1
Iqbal selalu berandai-andai keluarganya akan kumpul dengan bahagia. Tidak ada kebencian ataupun permusuhan. Namun, sepertinya harapannya tidak akan terwujud. Api kebencian dari Ayah dan Kakaknya begitu besar hingga sulit untuk dipadamkan.
Benar-benar malang hidupnya ini.
Namun, Iqbal tidak boleh lemah begitu saja. Ia harus terus melangkah maju. Karena sekarang ada banyak orang yang sangat menyayangi dirinya. Terutama di kalangan penggemar.
Iqbal perlahan mendekat dan berdiri di samping Alea. Lalu tangan kirinya merangkul bahu Alea, berusaha menguatkan gadis itu untuk tetap tegar.
"Jangan nangis. Nanti jelek. Kalau udah jelek, bisa-bisa aku bakal ninggalin kamu," bisik Iqbal terdengar jahil.
Alea yang kesal, langsung mencubit pinggang Iqbal dengan gemas. Bibirnya menolak untuk tidak tersenyum. Candaan Iqbal yang cukup menyebalkan telah sukses membuat hati Alea merasa lebih tenang.
"Cieee ... yang gak nangis lagi karena dihibur sama pangerannya," ujar Lisa agak menyindir. "Next suapan kedua mau dikasih ke siapa nih?"
Alea mulai menatap Iqbal, Lisa, Doni, dan Manager secara bergantian. Sebenarnya Alea tidak bingung. Alea hanya iseng saja pandangi mereka agar mereka penasaran.
"Buka mulutmu!" Alea menyodorkan kue ke dekat mulut Iqbal.
Iqbal tersenyum girang. Tidak sia-sia ia bersikap pede duluan kalau Alea akan memberikan suapan kedua padanya.
"Udah gue duga sih." Lisa memaklumi pilihan sahabatnya itu.
"Yahh, malah dikasih ke si cogan lagi. Kenapa gak ke Abang Doni dulu aja?" Doni merasa kecewa. Padahal sudah berharap tinggi.
Ibu Alea yang hanya menyimak, seketika terkekeh melihat tingkah konyol mereka. Dalam hati ia sangat bersyukur karena putrinya tidak salah memilih teman. Ia harap mereka selalu ada untuk Alea di saat suka maupun duka.
"Oya, mana hadiahku?" Tangan Alea mulai terulur untuk menagih sebuah kado dari mereka.
Suasana mendadak hening. Di antara mereka belum ada yang bersuara. Hanya saling tatap lah yang mereka lakukan. Hal itu membuat Alea merasa heran. "Ada apa?"
Sekilas Lisa cengengesan. "Hehe. Sorry banget nih, Ya. Sebenarnya tadi kita ke sini buru-buru, jadinya lupa deh bawa kado masing-masing."
Alea mengerucutkan bibirnya merasa kecewa. "Termasuk kamu juga, Bal?" Alea beralih memandang ke arah Iqbal.
"Hmm, termasuk juga gak ya?" Iqbal mulai berpikir. Hal itu membuat Alea semakin kesal.
"Iqbal, suster serius."
Melihat Iqbal lama berpikir, membuat Alea jadi greget sendiri. Saking gregetnya, Alea tak tanggung-tanggung mencubit lengan Iqbal dengan keras.
"Ahhh ...." Iqbal sedikit meringkis. "Sakit, Al." Iqbal kemudian mengusap-usap lengannya yang memerah akibat cubitan Alea.
Alea menjulurkan lidahnya tak peduli. Siapa suruh lelaki itu berpikir lama.
"Sayang, udah ah, jangan gitu. Masa temannya dicubit terus. Kan kasihan nanti tangannya pada merah." Ibu Alea mulai angkat bicara setelah melihat kelakuan jahil putrinya.
"Biarin aja, Bu. Sekali-kali nih anak harus dikasih pelajaran biar kapok," ucap Alea sambil menatap tajam wajah Iqbal.
"Ya udah oke." Iqbal menyerah. Ia tidak ingin menjahili Alea lebih lama lagi. "Sebenarnya aku---"
"Iqbal," potong sang Manager seraya menghampiri Iqbal. "Bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu."
Iqbal mengangguk. Sebelum pergi, ia membisikkan sesuatu di telinga Alea. "Kamu tenang aja. Aku gak lupa kok bawa hadiahnya. Nanti setelah bicara dengan Manager, aku kasih hadiahnya ke kamu. Dan satu lagi, jangan marah-marah terus. Nanti jelek. Kalau jelek, aku tinggalin kamu."
Alea terbelalak. 'Dasar cowok ngeselin.' umpat Alea dalam hati.
***
• Bersambung •
__ADS_1
Untuk Visual Iqbal dan Alea, ada di cover Noveltoon Suster Alea dan Tuan Gila 😊