
"Kalau aku ngotot ke sana gimana?"
"Aku bakal pukul kamu sampai babak belur."
Iqbal melipat kedua tangannya di depan dada. Ia ragu apakah Alea bisa melakukan hal itu padanya. "Serius?" tanya Iqbal memastikan.
Tanpa ingin menjawab, Alea langsung bergegas pergi. Diikuti oleh Iqbal yang mengikuti langkahnya dari belakang sambil berbicara banyak topik dengan harapan hati Alea dapat segera luluh.
"Suster itu cantik, gak baik kalau marah-marah terus."
"Aku tau aku banyak salah. Tapi setidaknya suster maafin aku, suster 'kan orangnya baik."
"Suster, please, dengerin aku dulu."
Diam-diam Alea tersenyum simpul mendengar perkataan Iqbal yang cukup menghibur. Ternyata menjahili balik lelaki itu sangat menyenangkan. Apalagi dalam situasi seperti ini.
"Al, lihat dulu ke belakang!" titah Iqbal dengan nada serius.
Alea mengerutkan keningnya heran, untuk apa ia melihat ke belakang. Apa ada sesuatu di belakangnya itu?
Tanpa berpikir panjang lagi, Alea membalikkan badannya. Dan seketika Alea terkejut melihat beberapa orang yang ia kenal tiba-tiba muncul sambil bernyanyi selamat ulang tahun.
"Happy birthday Alea ... happy birthday Alea ... happy birthday, happy birthday ... happy birthday Alea ...."
Alea menutup mulutnya tak percaya. Lisa, Doni, Manager Iqbal, bahkan sang Ibu ada di sana menyanyikan selamat ulang tahun untuknya dengan wajah ceria. Dan Alea menolak untuk tidak menangis haru melihat semua ini.
"K--kalian? Aku kira kalian bakal lupa hari ulang tahun aku," ucap Alea agak lirih.
"Ya enggaklah, mana mungkin kita lupain gitu aja. Secara hari spesial lo berarti buat kita," timpal Lisa sambil merangkul bahu Alea dengan antusias.
"Bener tuh apa kata Lisa," sahut Doni menyetujui.
Sementara sang ibu hanya tersenyum melihat putrinya bahagia di hari yang spesial ini. Begitupun manager Iqbal yang ikut berbahagia dengan keadaan yang ada.
"Ibu." Alea beralih memandangi Ibunya. "Ibu kok bisa ada di sini sama temen-temen Alea?"
Sang ibu tersenyum kembali. Dengan segera ia hampiri putrinya, lalu dibelai rambut putrinya itu dengan lembut.
"Ibu hanya ikut mereka aja, Sayang. Awalnya Ibu juga gak setuju dengan ide mereka yang ingin memberikan kejutan ke kamu di tengah malam. Ibu khawatir putri Ibu ini kenapa-napa kalau dibiarin keluar rumah sendirian. Tapi karena temen kamu Lisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa sama kamu, jadi ya Ibu izinin aja dengan syarat putri Ibu harus ada yang awasin."
Mata Alea membulat setelah mendengar penjelasan Ibunya. Ia sempat fokus pada kalimat 'Lisa yang menjamin'. Alea curiga Lisa terlibat juga dalam rencananya Iqbal.
"Heh, Lis, jangan bilang lo kerja sama lagi sama Iqbal," tuduh Alea tak tanggung-tanggung. Otaknya kini tak bisa berpikir positif lagi. Alea terlanjur menaruh curiga pada Lisa.
Di tempatnya Lisa tampak cengengesan. "Hehe, sebenarnya Ya, sebelum lo, gue udah tau kalau Iqbal pura-pura lupa sama lo," ujar Lisa terus terang.
"APA?"
***
__ADS_1
15 jam yang lalu sebelum kejutan ....
"Hmm Ya, gue tinggalin lo sendiri di sini dulu gak papa kan? Gue harus beli sesuatu." Lisa meminta izin Alea terlebih dahulu.
"Nggak perlu minta izin gue juga kali, Lis. Kalau lo mau pergi, pergi aja. Gue gak papa kok," timpal Alea seraya tersenyum tipis.
"Oke. Kalau gitu gue tinggal dulu bentar ya. Gak bakal lama kok." Lisa kemudian bergegas pergi meninggalkan Alea.
•••
Kini Lisa tengah berdiri di dekat toko kosmetik. Tujuannya ke sana karena ingin membeli perlengkapan make up untuk nanti diberikan kepada Alea di hari ulang tahun.
Ya ... tinggal menghitung jam, usia Alea akan bertambah. Dan Lisa ingin memberikan kado yang spesial untuk sahabatnya itu.
"Eh, bentar ... bentar ... Alea 'kan gak suka pakek make up, terus ngapain gue ke sini. Yang ada tuh make up dibuang sama dia, kan sayang."
Lisa mulai berkacak pinggang. Ia bingung harus membeli hadiah apa untuk sahabatnya nanti.
"Gue harus ke mana ya? Ayo dong otak, connect dikit napa." Lisa kembali mengoceh. Ia benar-benar bingung memikirkan semua ini. Padahal cuma hadiah.
"Kalau mobil, kayaknya belum mampu deh."
Saking bingungnya, Lisa tidak sadar kalau ia sudah berpikiran jauh. Kalaupun sadar juga, Lisa tidak peduli. Karena bagi Lisa, ngehalu itu menyenangkan. Apalagi kalau udah ngehalu jadi istrinya Jungkook.
"Permisi Mbak."
Seseorang tiba-tiba datang dan mengagetkan Lisa yang tengah berpikir keras. Lantas Lisa pun sedikit kesal karena pikirannya sekarang jadi berantakan gara-gara kedatangan orang itu.
"Mbak, temannya Alea kan?" Lelaki itu balik bertanya.
Sontak pertanyaan tersebut membuat Lisa langsung membulatkan matanya sempurna.
"Orang asing mana lo? Kok tau temen gue? Bahkan lo tau gue lagi. Lo siapa, hah?" tanya Lisa mulai menginterogasi lelaki itu dengan gaya seperti seorang preman.
"Santai dong, Mbak. Saya nanya baik-baik loh," ucap lekaki itu merasa tak nyaman dengan sikap yang ditunjukan oleh Lisa.
"Gue udah santai ya. Lo nya aja yang nethink tentang gue," ketus Lisa.
Lelaki itu memutar bola matanya jengkel. Kenapa ia harus bertemu dengan cewek seperti Lisa yang hanya bikin emosi saja. Kalau bukan karena permintaan teman baiknya, ia ogah mengobrol dengan Lisa, apalagi bertemu.
"Oke gini aja, Mbak-nya tinggal jawab iya atau tidak pertanyaan saya tadi." Lelaki itu memberikan usul agar persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat.
"Iya. Gue temannya Alea. Kenapa? Mau minta nomor whatsapp gue? Atau mau minta tanda tangan gue? Aduh sorry ya, kayaknya gak bisa deh, soalnya itu privasi. Kalau untuk tanda tangan, bisa lah gue kasih. Mana sini kertasnya." Tak tanggung-tanggung Lisa langsung mengulurkan telapak tangannya di hadapan lelaki itu.
Sepanjang Lisa berbicara, lelaki itu hanya memasang reaksi illfeel. Ternyata selain suka ngegas, cewek di hadapannya saat ini memiliki percaya diri yang tinggi.
"Udah bicaranya?"
"Lo gak mau minta tanda tangan gue?"
__ADS_1
Tak mau mendengar ada omongan ngawur lagi, akhirnya lelaki itu memegang telapak tangan Lisa yang terlihat masih terulur. Setelah itu, ia tarik secara paksa.
"Ikuti saya!"
"Eh, kok ditarik? Lo mau bawa gue ke mana, hah? Oh, gue tau ... lo pasti cowok bre*ngs*k 'kan? Ngaku lo!"
•••
Lelaki itu membawa Lisa ke tempat yang cukup jauh dari pasar. Lisa kesal, kenapa lelaki itu mengajaknya pergi cukup jauh, tanpa ada izin lagi.
"Sebenarnya tujuan lo ngajak gue ke sini itu apa?" tanya Lisa, berusaha untuk tidak ngegas dan juga nethink.
Lelaki itu tak menjawab dan memilih melipat kedua tangannya di depan dada. Lantas Lisa pun ternganga melihat sikap santainya itu.
"Helo Mas, saya tadi nanya loh, kenapa gak dijawab?" tanya Lisa sambil mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan wajah lelaki itu.
"Biar aku yang jawab."
Lisa mendengus napas kesal. Pasalnya suara yang ia dengar dari arah belakangnya adalah suara laki-laki. Kenapa harus laki-laki lagi coba? Kenapa gak cewek? 'Kan bisa diajak solid dikit.
Dengan berat hati, Lisa terpaksa membalikan badannya untuk bertatap muka dengan cowok di belakangnya itu.
Sontak Lisa terbelalak melihat cowok yang ada di depannya saat ini adalah cowok sudah tidak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan Iqbal Riandra Keanny yang merupakan seorang atlet renang sekaligus model di Kanada, dan juga mantan pasien sahabatnya.
"I--Iqbal? Yang di depan gue beneran Iqbal?" Saking tak percayanya, Lisa melototkan matanya.
Sekilas Iqbal terkekeh. "Iya, ini aku, Iqbal Riandra Keanny. Cowok kesayangannya suster Alea," timpal Iqbal to the point.
Kali ini Lisa dibuat kaget sekaligus tak percaya oleh perkataan Iqbal barusan. "Kok I--Iqbal tau nama temen gue? Bukannya Iqbal gak inget sama Alea? Atau Iqbal udah inget lagi sama Alea? Aduh, bener gak sih gue nanyanya?" Saking terkejutnya, omongan Lisa jadi rancu.
"Kamu punya waktu gak? Aku pengen ngobrol sebentar sama kamu. Oya, sebelumnya aku mau minta maaf, tadi aku nyuruh Manager buat ngajakin kamu ke sini," ujar Iqbal.
"Iya, gak papa. Gue paham kok," ucap Lisa dengan nada pelan. Pasalnya saat ini Lisa sedang bengong memikirkan perkataan Iqbal yang sangat mengejutkan.
"Kamu punya waktu 'kan?" Iqbal bertanya sekali lagi.
Kali ini Lisa tersadar dari lamunannya. Dengan cepat ia pun menganggukan kepala. "Ehh, sebenarnya gue gak punya waktu sih, lagi nemenin Alea belanja. Tapi it's okay. Karena gue penasaran sama omongan Iqbal yang tadi, jadi cuss kita ngobrol sekarang!" Lisa langsung menyetujui.
"Terus Alea gimana?"
"Gampang." Lisa kemudian mengeluarkan handphone dari tas selempangnya. Setelah itu, ia mengetik sesuatu di aplikasi whatsapp yang tentunya ditujukan untuk Alea.
[Ya, sorry banget, tadi gue pulang tanpa ngabarin lo dulu. Habisnya nyokap nelpon, minta gue buat beli obat di apotek. Makannya gue langsung pergi ke sana.]
Terkirim dan langsung di-read. Lalu beberapa detik kemudian, Lisa mendapat balasan stiker yang bertuliskan 'No Problem'.
"Kata Alea gak masalah. Jadi tunggu apa lagi, kita ngobrol aja sekarang."
Iqbal mengangguk setuju.
__ADS_1
•••
• Bersambung •