
...***...
Setelah tiba di Bandara, Alea langsung berlari masuk ke dalam tanpa memperdulikan keadaannya yang berantakan. Justru yang Alea pikirkan sekarang hanyalah Iqbal.
Entah seperti apa perasaan lelaki itu ketika tau bahwa dirinya tidak menepati janji. Apa mungkin Iqbal akan marah padanya?
Sejenak Alea berdiri di tengah-tengah lobi, menatap banyak pengunjung yang berlalulalang ke sana ke mari, berharap Iqbal ada di tengah-tengah mereka.
Namun ternyata hasilnya nihil. Iqbal tidak ada di antara kerumunan tersebut. Akhirnya Alea memutuskan pergi ke pintu gerbang untuk menerobos masuk menemui Iqbal. Tapi sayangnya, penjaga di sana langsung mencegah kenekatan Alea.
"Ehh Mbak ... Mbak, Mbak mau kemana? Kalau Mbak pengen masuk, Mbak harus tunjukin dulu tiketnya ke saya."
"Emm saya gak punya tiket Pak."
"Kalau gak punya tiket, kenapa nekat pengen masuk? Udah, sebaiknya Mbak pulang aja sana!" Tak tanggung-tanggung Penjaga pintu langsung mengusir Alea.
"Aduh Pak, saya mohon izinin saya masuk ya. Ini bener-bener urusan mendesak Pak, saya harus masuk sekarang." Mohon Alea dengan wajah memelas.
"Maaf Mbak, tetap gak bisa. Sebaiknya Mbak pulang lalu mandi!" seru Penjaga pintu.
Alea sekilas melirik pada dirinya sendiri. Benar-benar penampilan yang sangat berantakan. Di sudut bibirnya aja terdapat bekas ileran, bahkan rambutnya masih acak-acakan karena belum tersisir.
Ditambah orang-orang di Bandara sampai ada yang menatap Alea dengan tatapan illfeel. Mereka sempat mengira Alea adalah orang gila yang salah masuk tempat.
"Hihi, saya keliatan jelek ya Pak?" tanya Alea sesekali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mbak sebenarnya cantik. Cuma karena Mbak belum mandi aja makannya Mbak keliatan sedikit jelek." jawab Penjaga pintu terus terang.
Alea kembali cengar-cengir gak jelas. Terlihat seperti orang bod*h menanyakan hal itu pada Penjaga pintu gerbang.
"Saya tetep gak diizinin masuk nih Pak?" tanya Alea lagi.
"Nggak bisa Mbak. Ini sudah menjadi Peraturan Bandara," ujar Penjaga pintu.
Alea menunduk kecewa. Terdapat penyesalan di raut wajahnya karena tidak sempat mengantar Iqbal ke Bandara. Andai saja waktu bisa diputar, Alea pasti tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi.
Maafin aku, Iqbal!
Alea kemudian membuka handphone-nya, memeriksa apakah Iqbal membalas pesannya atau tidak.
Dan ternyata tidak sama sekali. Malah yang ada WA-nya menunjukan centang dua biru, di mana Iqbal hanya me-read pesannya saja. Semarah itukah Iqbal padanya?
__ADS_1
Iqbal pasti marah banget.. Arghh, salah gue juga sih pakek acara bangun kesiangan.
Alea tak berhenti mengumpat menyalahkan dirinya sendiri. Dia mencoba menelpon Iqbal untuk meminta maaf. Tapi Iqbal malah mematikan sambungan telponnya.
Fix sih ini Iqbal marah banget sama gue!
Alea tidak tau harus melakukan apa jika situasinya seperti ini. Menyusul Iqbal? Tidak mungkin. Paspor saja Alea tidak punya.
"Ck. Iqbal angkat dong!"
Berkali-kali Alea mencoba untuk menelpon Iqbal. Tapi panggilannya selalu saja ditolak oleh lelaki itu.
"Arghhh!" Alea merasa geram.
Ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Semuanya sudah terlambat. Iqbal sudah pergi ke Kanada dan sulit untuk diajak komunikasi.
"Gue harus apa dong sekarang?"
Perlahan Alea berjongkok, menenggelamkan wajahnya di sela-sela silangan tangan. Sekarang ini dia benar-benar merasa putus asa. Ingin rasanya Alea menangis, tapi Alea tahan karena saat ini dia sedang ada di Bandara.
Orang-orang yang melintasi Alea pun sampai menatap bingung ke arah Alea.
"Dia kenapa ya?"
"Cewek yang lagi jongkok di sana emang aslinya gak waras atau gimana?"
"Habis diputusin cowok ya Mbak?"
Begitulah pembicaraan setiap orang yang sempat melintas ke arah Alea. Namun, Alea bersikap acuh. Ia tidak peduli dengan omong kosong orang-orang.
Justru yang Alea pedulikan sekarang hanyalah Iqbal.
"Mbak!!"
Seseorang tiba-tiba berjongkok di depan Alea. Namun, Alea tetap pada posisinya. Saat ini Alea tidak ingin suasana hatinya yang sedang sedih diganggu oleh siapapun.
Termasuk si pria yang kini tengah berjongkok di hadapannya.
"Mbak kenapa? Baru diputusin cowok ya?"
Alea langsung memasang wajah kesal. Bisa-bisanya pria di hadapannya ini meledeknya. "Nggak usah kepo deh, Mas. Mendingan Mas pergi aja deh!" usir Alea.
__ADS_1
"Yakin nih Mbak gak mau curhat tentang perasaan Mbak?"
"ENGGAK! PERGI SANA!" pekik Alea dengan emosi yang sudah memuncak karena sedari tadi pria itu tak kunjung pergi.
"Ya udah aku pergi nih."
Sesaat Alea terdiam.
Suara itu ... Seperti suara Iqbal. Ya, suara besar milik pria tadi mendadak berubah menjadi suara khas milik Iqbal yang membuat kepala Alea langsung terangkat menatap lelaki itu.
"Iqbal," sebut Alea tersenyum lebar saat melihat sosok Iqbal sedang berjongkok di hadapannya.
Lantas hal itu membuat bola mata Alea jadi semakin berkaca-kaca hingga tidak bisa menahan tangis karena saking tidak percayanya dengan kehadiran Iqbal.
Iqbal tersenyum manis menatap gadis kesayangannya. "Kenapa nangis hm?" tanya Iqbal seraya membenarkan rambut Alea yang sedikit berantakan.
Alea tak merespon. Dia masih terkejut dengan kehadiran Iqbal. Pasalnya beberapa menit yang lalu Alea mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Iqbal sudah lepas kandas.
Tapi sekarang, secara tak terduga Iqbal tiba-tiba hadir di hadapannya.
"Iqbal, bukannya kamu udah pergi tadi?" tanya Alea dengan suara lirih.
Iqbal terkekeh. "Kata siapa? Pihak bandaranya kali yang salah ngasih info ke suster."
Alea sedikit memicingkan matanya, menaruh rasa curiga pada Iqbal. "Terus kenapa kamu nolak telfon dari aku? Jangan bilang ini siasat kamu buat nge-prank aku lagi?"
"Hmm, kalau iya, suster mau lakuin apa ke aku?" tanya Iqbal sesekali menaik-naikkan kedua alisnya, sengaja ingin membuat gadis itu kesal padanya.
"Ihh Iqbal, kamu tuh ya. Nyebelin banget sih jadi cowok." kesal Alea yang tanpa basa-basi langsung memukul-mukul lengan Iqbal, sesekali mencubitnya.
"Ahh, sakit Sus," ringkis Iqbal.
"Biarin, siapa suruh ngisengin aku lagi," ucap Alea yang terus-terusan mencubit lengan Iqbal tanpa ampun.
"Kita ada di Bandara loh Sus."
"Ya biarin aja. Lagian kamu kan lagi pakek masker sama kupluk, jadi gak akan ada orang yang bakal ngenalin kamu, plus aku bisa leluasa nyubit kamu tanpa ampun." ujar Alea, hendak mencubit Iqbal kembali.
Namun, Iqbal terlebih dulu menarik lengan Alea hingga tubuh Alea jatuh ke dalam pelukannya. "Aku cuma bercanda, Sus. Sebenarnya emang bener kemarin aku mau pergi ke Kanada. Tapi karena aku gak ingin ninggalin kamu, makannya aku suruh Ari buat berusaha keras nyari cara supaya job aku ditunda dulu sampai aku siap pergi lagi. Dan ternyata solusi Ari berhasil."
β’ Bersambung β’
__ADS_1
Hay semua! Maaf ya udah dibikin lama. Jujur nih ya author tuh sibuk kerja makannya gak sempet buat update. Untungnya hari ini author punya waktu dan nyempetin update. βΊπ
Enjoy bacanya ya. See you di part selanjutnya. π€