Suster Alea Dan Tuan Gila

Suster Alea Dan Tuan Gila
Kembalinya Iqbal


__ADS_3

...***...


Sontak kedua mataku jadi berair setelah melihat berita yang sangat mengejutkan ini. Rasa-rasanya aku ingin menumpahkan semua air mataku karena saking tak percayanya.


Sungguh, berita mengenai Iqbal menjadi pemenang kompetesi renang di Kanada membuatku yakin bahwa Iqbal memang sudah sembuh.


Aku berharap Iqbal yang dimaksud di berita ini adalah Iqbal Riandra Keanny yang pernah aku rawat. Karena jika sampai bukan, mungkin aku bakal sedih lagi.


Penasaran isi laman beritanya seperti apa, akhirnya aku membuka laman browser tersebut dan meng-scroll dari atas sampai bawah dengan sangat detail tanpa terlewat sedikit pun.


Aku kembali kaget. Kini, aku tidak bisa menahan air mataku lagi setelah melihat isi beritanya sama persis dengan kronologis tiga tahun lalu di mana Iqbal harus pergi ke luar negeri bersama dengan Tante Indah.


Aku juga melihat ada nama Tante Indah dan Pak Ujang tercantum di berita sana. Bahkan, meski dalam beritanya hanya tercantum foto seorang cowok perawakan tinggi tengah menghadap ke belakang saja, aku langsung bisa mengenali kalau cowok yang ada dalam foto itu adalah Iqbal.


Berarti ini memang bukan lah mimpi. Iqbal sudah sembuh total. Itupun dia sembuh tanpa sepengetahuanku.


Ah, aku enggak peduli. Yang paling penting saat ini aku ingin bertemu dengan Iqbal. Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya. Dan ya, kebetulan sekali di beritanya tertulis Iqbal Riandra Keanny akan segera tiba di Indonesia hari ini juga. Dia sudah berangkat ke bandara Kanada sejak kemarin pagi.


Astaga, demi apa? Setelah aku baca kalimat itu, aku langsung meneteskan air mata berulang kali karena saking tak percayanya.


"Lis, buruan, temenin gue ke Bandara sekarang juga." Aku sekilas mengusap pipiku yang basah, lalu bergegas mengambil jaket levis di dalam lemari.


"Hah? Bandara? Mau ngapain? Kan rencananya kita mau ke Cafe, kok sekarang jadi ke Bandara, sih? Lo mau ngejemput seseorang?"


"Udah, jangan banyak nanya. Mending sekarang lo temenin gue, cepetan." Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menarik tangan Lisa menuju keluar kamar.


***


POV Author


Sudah tiga tahun lamanya, Alea menunggu Iqbal dengan penuh kesabaran. Meski lelaki itu tak pernah mengabarinya, namun, ia tetap menanti kehadiran Iqbal.


Rindu. Itu sudah pasti. Sosok Iqbal telah berhasil membuat Alea enggan berpaling kepada lelaki lain. Buktinya sampai saat ini, Alea tidak pernah ada niat untuk mencari sosok pendamping hidup, selain Iqbal.

__ADS_1


Ya, Alea sudah jatuh cinta padanya.


Kapan? Di mana? Dan bagaimana? Alea tidak tau akan hal itu. Yang jelas saat ini perasaan Alea terhadap Iqbal telah berubah menjadi perasaan cinta. Hati yang sempat terluka karena cinta lamanya berkhianat, kini telah terobati karena kasih sayang yang tersirat dalam diri Iqbal Riandra Keanny.


Andai saja dulu cowok itu tidak sakit, mungkin saja dia akan bisa memahami perasaan Alea yang sempat disakiti oleh cowok bre*gs*k. Tapi sekarang ... keadaan pasti akan berbeda. Pasalnya Iqbal sudah sembuh dari penyakitnya. Dan hal itulah yang membuat Alea sangat bahagia.


"Ya, sebenarnya di bandara lo mau ngejemput siapa sih? Kok dadakan banget?" Lisa kembali bertanya, karena rasa penasarannya belum terpecahkan hingga sekarang.


"Lo juga bakal tau sendiri saat di bandara nanti," jawab Alea, tanpa memandang ke arah Lisa. Ia hanya fokus menatap ke luar jendela mobil seraya memikirkan Iqbal.


Lisa sekilas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sejujurnya ia masih penasaran siapa orang yang akan Alea jemput. Tapi karena tak ingin membuat Alea kesal, akhirnya Lisa memilih untuk diam.


***


Setibanya di bandara, Alea langsung berlari masuk ke dalam, dengan diikuti oleh Lisa dari belakang. Sejenak Alea berdiri di tengah-tengah lobi saat dirinya melihat begitu banyak pengunjung yang berlalulalang ke sana ke mari.


"Astaga, Alea, kita ngapain sih ke sini? Lo lihat sendiri 'kan, di sini ada banyak orang. Jadi mendingan pergi aja yuk," ajak Lisa, hendak menarik tangan Alea. Namun, Alea segera menahan diri.


"Enggak. Gue mau tetap di sini," ujar Alea dengan nada agak ketus.


Sekilas Alea menarik napas. Kali ini ia tidak ingin membuat Lisa bingung karena sikapnya. "Gue mau jemput Iqbal," jawab Alea, to the point.


"Hah? Iqbal? Maksud lo, cowok yang dulu pernah lo rawat?" tanya Lisa memastikan.


Alea hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Jadi dia mau pulang hari ini?"


Alea kembali mengangguk. "Iya, gue udah lihat beritanya di browser."


"Apa? Browser? Apa hubungannya Iqbal pulang dengan browser? Emangnya Iqbal publik figur apa, sampai-sampai pulangnya diberitain?" ucap Lisa merasa heran, sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Alea tak merespon. Ia lebih memilih untuk mencari tempat duduk, karena hari ini ia ingin menunggu kedatangan Iqbal lebih awal.

__ADS_1


Sementara itu, Lisa yang masih merasa heran, hanya bisa diam dan mengikuti apa yang akan Alea lakukan.


Di tengah-tengah sedang menunggu, Alea dan Lisa tiba-tiba dikejutkan dengan sekumpulan para wanita yang seusia mereka, muncul ke tengah lobi sambil membawa poster bergambar kartun cowok muda yang bertuliskan 'Iqbal Riandra Keanny, we wiil always support you and we love you'.


"Lah, kok mereka datangnya rame-rame? Mana bawa poster lagi. Jangan-jangan mereka mau pada demo. Eh kok, demo sih?" Lisa jadi bingung sendiri. Sejujurnya ia belum mengerti dengan situasi yang ia lihat saat ini.


Alea yang mengerti akan tujuan kedatangan para wanita itu, hanya bisa diam. Dalam hatinya tersirat rasa senang karena sebagian orang akhirnya ada yang mendukung Iqbal, namun, di sisi lain juga, hatinya merasa cemburu karena yang menanti kedatangan Iqbal cukup ramai, ditambah yang menunggu adalah cewek.


Padahal Alea ingin sekali menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan Iqbal. Tapi ... ya, sudahlah. Sosok Iqbal sudah diketahui oleh sebagian publik. So, untuk saat ini, Alea hanya bisa pasrah.


Drtttt ... drtttt ... drtttt ....


Handphone milik Alea mulai bergetar. Alea yang menyadari akan hal itu segera mengeluarkan benda pipih tersebut dari dalam saku celananya. Tampak dari layar handphone, kontak bernama Doni menelponnya.


Tanpa mau berpikir panjang lagi, Alea bangkit dan sedikit menjauh dari tempat duduk untuk mengangkat telpon dari Doni. Karena kebetulan suasana di sana cukup bising.


[Assalamualaikum, Don.]


[Waalaikumsalam, Ya. Jadi gak ke cafe? Aku udah otw nih.]


[Sorry ya, Don. Kayaknya gak jadi deh kita ketemuan di Cafe. Lain kali aja ya.]


[Lah, kok lain kali? Padahal aku udah oke.]


[Ya sorry, Don. Gue ....]


Alea sejenak menggantung ucapannya setelah mendengar teriakan para wanita yang membawa poster bertuliskan Iqbal.


"AAAA ... IQBAL ...."


'Iqbal? Apa dia sudah sampai?' batin Alea seraya menurunkan handphone dari telinganya.


Cepat-cepat Alea mematikan sambungan telpon dengan Doni, lalu berbalik badan untuk melihat situasi.

__ADS_1


"Ho!"


• Bersambung •


__ADS_2