
Namun saat Alex hendak pergi ke tempat dimana mobilnya berada. Sebuah mobil Audi A8 berwarna hitam berhenti di depannya sambil menerunkan kaca jendelanya. Lalu seorang Pria berpakaian jas berjalan keluar dari mobil mendekati Vivi.
Saat melihat pri itu. Vivi langsung mengepalkan tangan yang di ujung bajunya dengan ekspresi gugup.
Melihat ini, Alex melirik Vivi dan bertanya.
"Kenapa? Kamu mengenalinya?"
Vivi menggertakan giginya dan mengangguk.
"Ya, namanya Geno Aryono. Beberapa waktu lalu, dia pernah membeli pakain di toko. Lalu dia terus menggangguku. Alasan hari ini aku minta cuti juga karena untuk menghindarinya. Tidak di sangka malah bertemu disini.."
Mendengar omongan ini. Mata Alex juga agak menyipit.
Kemudian Alex tersenyum dan berkata. "Kalau begitu, serahkan saja padaku. Aku akan membantumu menyingkirkan orang ini."
"Apa?"
Mendengar omongannya, Vivi agak binggung. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Alex.
Saat ini Geno telah melihat Vivi. Matanya langsung bersinar menunjukan senyuman yang menurutnya , membuatnya sangat tampan. Dia membawa sebucket bunga , lalu berdiri di depan Vivi.
"Vivi, kamu tahu aku datang, jadi sengaja menunggu disini ya? Nih! Bunga untukmu."
Geno melanjutkan nya dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Aku telah memesan meja di restoran Pranci Branch Bistro. Ayo maoan malam bersama! Restoran Prancis ini sangat sulit dipesan dan hari ini juga hari koki nya meluncurkan menu baru. Nanti aku akan pergi menjemputmu!"
Vivi yang mendengar ajakan Geno tidak terlihat senang sama sekali. Malah agak tak berdaya.
"Pak Geno! Aku sudah memberitahumy berulang kali. Aku tidak tertarik denganmu. Bolehkah kamu tidak mengangguku lagi!"
Mendengar kata-kata ini, Geno yang awalnya tersenyum ceria langsung muram. Dan menunjukan tatapan aslinya, Dingin dan angkuh.
"Wanita ******! Aku sudah cape-cape menghabiskan setengah bulan untuk mengerjarmu. Kamu kira kamu benar-benar seberharga itu? Aku beri tahu, hari ini aku tidak peduli kamu bersedia atau tirak, mau tidak mau, kamu harus ikut makan malam dengan ku!"
Geno membentaknya, lalu ingin mendekat untuk menangkap Vivi. Namun Alex yang disebelah Vivi langsung menghentikan pergerakan Geno dan berkata dengan tenang.
"Kenapa? Kamu mau memukul orang di parkiran? Aku peringatkan ya! Parkiran ini ada CCTV."
Geno yang mendengar omongan Alex juga terkejut. Lalu dia melihat ke arah Alex.
"Kamu kira kamu siapa? Beraninya mencampuri urusanku! Enyahlah!"
Alex yang tidak tahan pun ikut mencibir balik dan berkata. "Kenapa? Iamu mau memukul wanita, kenapa aku tidak boleh menghentikanmu?, Lagi pula kamu tidak sadar ya? Dia tidak menyukaimu! Atas dasar apa kamu memaksa orang?"
Setelah mendengar omongannya. Geno melihat dengan tatapan meremehkan. Lalu menunjuk mobil Audi A8 yang ada di belakang dan berkata.
"Huh! Jangan kira kamu punya sedikit uang saja sudah bisa mencampuri urusanku! Sesama manusia masih ada jarak! Lihat mobil yang ada di depanmu ini. Audi A8 orang sepertimu bahkan harus bekerja selama 5-6 tahun dulu baru sanggup membayar uang mukanya! Lagian, ayahku itu direktur Asuransi Jiwa Prabu. Atas dasar itu aku berhak memaksanya!"
Begitu selesai berbicara, wajah Vivi yang di sampinya pun memucat.
__ADS_1
Asuransi Jiwa Prabu! perusahaan yang bernilai 16 triliun! di kota Quarter. Perusahaan sebesar ini masih belum termasuk kategori papan atas. Tapi itu sudah cukup untuk mengintimidasi orang. Meskipun dia tahu mungkin Alex sangat kaya. Tapi seharusnya juga tidak sanggup menghadapi perusahaan semacam itu.
Tib-tiba Vivi merasa pasrah . Namun Alex malah tersenyum.
"Audi A8? Sangat luar biasa? Kalau bicara soal mobil aku juga punya"
Begitu selesai bicara, Geno tertegun sejenak lalu dia mencibir.
"Huh! Aku lupa bilang. Audi A8 ku ini harganya 2,7 miliar! Kamu punya mobil? Coba tunjukan! Lihat saka apa aku berani menghancurkannya di tempat atau tidak!"
Geno berani berkata seperti itu. Karena dia menebak mobil yang Alex miliki hanya punya harga nilai 1 miliar! Mobil kelas segitu. Jangankan satu, hancurkan sepuluh pun tidak masalah! Oleh karena itu dia berani berkata sesombong itu.
Mendengar omongannya, Alex tidak bisa menahan diri untuk menunjukan eskpresi siap menyaksikan pertunjukan seru.
"Kamu yakin?"
"Tentu saja!" Geno menjawab dengan percaya diri.
"Oke! Kamu bilang sendiri, ya!"
Kemudian Alex mengeluarkan kunci mobil dan menekannya pelan.
Tin! Tin!
Lampu mobil Bugattie Centodieci yang berjarak sepuluh meter jauhnya menyala!
__ADS_1
•Jagan Lupa Like, Komen, Vote !