
Alex menatap tajam kearah Tang Fei, lalu dia menemukan sesuatu yang tidak dia pikirkan sebelumnya yaitu.
Keluarga Lin!
"Keluarga Lin, bukankah itu keluarga bibiku Zex?"
Alex bertanya sembari menatap Zex yang berada disamping kanannya.
"Jika sesuai data itu benar, hanya saja saya menemukan sebuah kejanggalan didalam informasi itu, dan saya akan segera memeriksanya!"
Alex hanya bisa menganggukan kepala berharap bukan paman dan bibinya lah musuh yang harus Alex hadapi.
'Apa yang membuat paman dan bibiku seperti ini?'
Alex tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat, dan dia kembali menatap Tang Fei dan berkata. Walaupun begitu tidak ada salahnya Alex tetap waspada kepada mereka karena musuh dalam selimut lebih licik daripada yang lainnya.
"Apa kau serius? Kau tahu kan jika membohongiku maka" Ucap Alex dengan memperagakan tangannya yang menggorok leher.
Tang Fei bergidik ngeri lalu segera berkata dengan terbata-bata.
"Seratus pe- persen saya tidak berbohong Tuan! Jika Anda tidak percaya bisa melacak nomor telepon yang sering di telepon oleh Lin Dimao"
Alex segera memerintahkan Zex untuk memeriksa hal tersebut dengan rinci. Saat ini dirinya sedang merasakan dilema.
Sedangkan Rose yang sedari tadi mengikuti Alex juga cukup terkejut dengan fakta yang dia dengar.
Rose yang saat ini melihat raut wajah Alex yang sudah tidak membaik mulai mendekatinya.
"Alex lebih baik kau istrihat saja, biarkan yang lainnya saja yang mengurus hal ini"
Alex menatap Rose dan akhirnya dia sadar jika sudah berjam-jam rose ikut bersamanya dan belum pulang.
Dia takut jika nanti kakaknya khawatir dengan Rose jadi dia menganggukan kepala.
"Baiklah ayo kita kehotel saja untuk istirahat, sepertinya kau juga sudah capek menungguku berjam-jam, jangan lupa kabari kakakmu agar dia tidak khawatir"
Rose yang mendengar kata 'Hotel' membuat wajahnya memerah seperti tomat dan membuat Alex khawatir.
"Rose sepertinya kau sakit, apa lebih baik kerumah sakit dulu ya?"
Dengan cepat Rose menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak sakit, ayo kita kembali"
Alex hanya pasrah ditarik keluar oleh Rose.
***
Hotel Sky
Salah satu hotel yang dikelola oleh keluarga Qin, dan ini adalah hotel terdekat dari wilayah pelosok ibu kota.
__ADS_1
Jarak yang ditempuh untuk kembali ke wilayah pusat keluarga Qin membutuhkan waktu berjam-jam dan itu akan membuat Rose letih.
Jadi Alex menyarankan untuk menginap di hotel ini semalam saja, lalu ke esokan paginya mulai kembali pulang.
Walaupun lokasinya cukup jauh dari pusat ibukota, tetapi hotel ini selalu ramai pengunjung dan setiap harinya akan ada selalu tuan muda yang datang kemari membawa wanita lacur untuk dinikmati.
Alex dan Rose turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis untuk bertanya.
"Apakah ada kamar kosong untuk semalam saja?"
Resepsionis yang mendengar ucapan Alex segera menjawab.
"Masih ada Tuan, untuk kamar biasa nya satu malam seharga 500rb rupiah sedangkan kamar Vip satu juta rupiah untuk semalam"
Ucap Resepsionis itu dengan sopan karena melihat penampilan keduanya sangat mahal apalagi wajah tampan yang dimiliki oleh Alex.
"Baiklah kalau begitu pesan dua kamar Vip untuk semalam saja"
Resepsionis itu tertegun sejenak lalu segera menganggukkan kepalanya. Sedangkan Rose entah mengapa dia merasa kecewa saat dia harus pisah kamar dengan Alex.
Alex yang menyadari perubahan raut wajah Rose hanya menggelengkan kepala pelan, dia tahu apa yang membuat Rose begitu hanya saja dia tidak ingin melakukannya untuk saat ini mungkin.
Saat Alex akan membayar kamarnya tiba-tiba datang seorang pemuda dengan wanita disampingnya.
"Hei! Aku pesan semua kamar yang ada di hotel ini! Jadi kau pergilah" Ucap pemuda itu dengan sombong. Dia bahkan tidak memandang ke arah Alex dan hanya menatap Rose dengan cabul.
Alex yang melihat itu tentu tidak terima tunagannya ditatap mesum oleh orang lain. Alex saat ini mencoba untuk tidak menggunakan kekerasan.
"Hei berhentilah menatap gadisku, jika tidak!" Ucap Alex mengancam tapo dihiraukan oleh pemuda itu. Pemuda itu malah tertawa kencang saat melihat tingkah Alex.
Alex hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Tuan Muda Po itu, namun tidak bergeraknya Alex disalah tanggapi oleh pemuda tersebut.
"Hahaha! Kau takut bukan?!"
"Untuk apa aku takut padamu?" Alex menatap heran ke arah pemuda itu. Lagian siapa keluarga Po? Tidak kenal.
"Ka-Kauu!!"
Karena tidak ingin dipermalukan oleh bocah yang ada didepannya. Tuan Muda Po itu memerintahkan satpam untuk mengusir Alex
"Hei kau satpam! Kemarilah dan patahkan tangan bocah itu"
Satpam itu menatap Alex lalu menganggukan kepalanya. Dia melakukan itu karena takut dengan keluarga Po.
Sedangkan disisi Alex dia mengernyitkan dahi lalu bergumam.
"Keamanan disini ternyata sungguh jelek! Harus kubenahi dulu sepertiny"
Satpam itu melangkahkan kakinya menuju Alex lalu berkata dengan nada yang tinggi.
"Hei bocah! Segeralah keluar dari sini sebelum aku mematahkan tanganmu itu!"
__ADS_1
Tuan Muda Po tersenyum sinis sedangkan para pengunjung bergerombol untuk melihat adegan menarik.
"Ingin mematahkan tanganku? Bercanda boleh tapi jangan berlebihan dong!"
Karena kesal dan tidak ingin berlama-lama disini Alex segera melesat meninju perut satpam itu hingga terpental sejauh tiga meter.
Brakk.
Semua yang ada disana melebarkan matanya kecuali Rose.
Pihak keamanan yang lain tidak terima rekan kerjanya diperlakukan seperti itu oleh Alex segera melesat maju.
"Kau jangan sombong dulu bocah!" Ucap pria tua yang sepertinya memiliki jabatan keamanan paling tinggi disini.
Alex menahan tinjuan itu hanya dengan satu legannya dan legan satunya lagi Alex gunakan untuk seragan balasan.
Brakk.
Pria tua itu terlempar lebih jauh dari satpam tadi. Lagi-lagi semua orang melotot kan matanya. Tuan Muda po kini merasakan keringat dingin bercucuran didahiny.
Alex menatap dingin keseluruh arah lalu berkata.
"Panggil manajer hotel kalian, Sekarang!!" Teriak Alex dan diangguki oleh resepsionis tadi.
Lima menit berlalu kini terlihar resepsionis itu berlali di ikuti oleh pria botak dibelakangnya.
"Ada apa ini?" Tanya manajer itu kepada semua orang disana
Merasakan kesempatan emas, Tuan muda Po membuat fitnah dan semuanya diarahkan kepada Alex.
Manajer yang mendengar itu geram lalu menatap lekat wajah Alex dengan emosi. Tetapi dirinya segera sadar saat melihat wajah itu tidak asing baginya.
Degg
Jantung Manajer itu berdegup kencang saat melihat Alex, dia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Alex.
Orang-orang disana hanya bisa merasa iba kepada Alex, tetapi kejadian selanjutnya membuat semua orang tertegun.
"Tu-Tuan Muda!"
...****************...
*Mau Curhat aja bonusnya harusnya udah ke up pagi tadi cuma entah masalah jaringan atau NT nya, episodenya ga ke upload-upload dan hanya bertuliskan review selama berjam-jam sampai malem.
Karena aku merasa itu bug/NT nya gangguan jadi episodenya kuhapus dan ku up ulang lagi mungkin besok udah masuk bonus episodenya.
Ini kucoba up ulang satu , kalau ini berhasil berarti bonus episodenya besok bisa masuk.
Btw Chapter selanjutnya mau yang adegan ehem-ehemnya kalau iya komen biar bisa kurevisi dulu wkwk*
(21/06/22)
__ADS_1
...----------------...
Episodenya ditolak lagi anjir :) Ini kucoba up lagi dah.(22/06/22)