
Kemudian Alex melirik baju di sebelahnya.
"Eh, Rp.8.888.888,-? Aku suka angka ini, yang ini sekalian di bungkus juga"
"Ba-baik"
Kali ini, Vivi sudah sadar. Dia telah bertemu dengan konglomerat yang sebenarnya.
Dari dulu Vivi selalu mendengar rumor kalau orang kaya itu suka berpakaian sederhana, melihat sesuatu yang disukai juga akan langsung beli tanpa menanyakan harga. Waktu itu dia masih kurang memahaminya.Namun sekarang dia sudah mengerti.
Bagaimanapun, baju yang di beli Alex seharga 4 dan 8 jutaan, tapi pelanggan di depan matanya saat ini membeli tanpa mencobanya dulu.
Tidak lama kemudian, Alex telah mengganti pakainnya di dalam ruang ganti toko.
"Ini saja dulu. Tolong hitungkan totalnya berapa"
"Baik pak"
Setelah menghitung semuanya Vivi menyebutkan jumlah biaya yang harus dibayar oleh Alex.
"Total belania anda 78,6 juta. Anda ingin membayar dengan tunai atau kartu?"
Alex membeli banyak baju untuk dirinya, dari pakaian rumah, pakain formal dan pakain untuk liburan.
__ADS_1
"Kartu saja"
Alex menjawab sambil mengeluarkan kartu ATM-nya.
"Baik"
Tidak lama kemudian, pembayaran selesai Alex lanjut berkata kepada Vivi.
"Oh iya! Bagaimana kalau kita bertukar nomor Whatsapp? Nanti jika ada pertanyaan tentang cara pencucian pakain, aku juga bisa langsung bertanya kepadamu"
"Ini..Baiklah" Wajah Vivi sedikit tersipu dan menggangukan kepala.
Setelah bertukar nomor Whatsapp, Alex meninggalkan toko.
Sedangkan di dalam toko Gucci, Pramuniaga lainnya telah berkumpul mengelilingi Vivi. Mereka menatap Vivi dengan selidik.
"Vivi, aku benar-benar iri padamu karena bisa bertemu anak konglomerat"
"Iya! Iya!, Dia sampai meminta nomor Whatsapp-mu.Jangan-jangan dia menyukaimu?"
Semua teman Vivi berpendapat satu demi satu.
"Kalin jangan sembarangan omong. Dia hanya mau tanya-tanya masalah pencucian pakaian!."
__ADS_1
"Huh! Alasan seperti itu pun kamu percaya?, kamu benar-benar naif, Vivi kamu pikir saja. Memangnya ada anak orang kaya mencuci bajunya sendiri?"
"Ini.."
Setelah mendengar perkataan Rekan kerjanya Vivi tercengang.
"Kamu harus mengambil kesempatan ini. Kalau bisa menikah dengan anak konglomerat, kamu akan menjadi orang kaya juga!"
"Jangan bercanda deh Kak Nina, Orang sekaya itu bagaimana mungkin bisa menyukaiku?"
Vivi tersenyum dan menjawab sambil menggeleng. Tanpa disadari, Vivi juga mulai berharap lebih.
Alex tidak tau apa-apa tentang situasi di toko. Kini dia sedang membawa tentengan hasil belanja dan memasukan semua barang belanjaannya kedalam mobil.
Tidak lama kemudia Alex tiba di rumah. Dia langsung berbaring di kasurnya dan menatapi Plafon kamar dengan pikiran kosong. Sekarang dia sudah kaya, tapi siapa yang bisa dia cari untuk berbagi kebahagiaan ini? Lagi pula, dia benar-benar tidak tau dia harus menceritakan kekayaan yang di perolehnya secara tiba-tiba kepada siapa.
"Lupankahlah!, Karena sudah ada uang, aku harus memperbaiki lingkungan hidup orang tuaku. Aku harus menjemput orang tuaku dari desa ke kota. Aku harus mebeli rumah besar dan mobil keluarga untuk alat transportasi"
Sambil berencana di dalam hati, Alex mengeluarkan ponsel dan mulai mengecek harga rumah di sekitarnya.
Dia tidak berencana untuk memberitahu kedua orang tuanya tentang kondisinya saat ini. Lagi pula, dia juga belum menemukan alasan yang cocok untuk menjelaskan sumber kekayaannya yang besar ini.
Waktu berjalan dengan perlahan, langit pun mulai menjadi gelap. Alex hanya makan malam di restoran terdekat, lalu kembali ke kamarnya dan tertidur lelap.
__ADS_1