Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 100 : Jail


__ADS_3

Setelah kejadian siang tadi Abimanyu memutuskan untuk meliburkan diri terlebih dahulu dari pekerjaan kantor sang ayah. Ia memang diberi sedikit kebebasan dengan mengambil libur tiga hari dalam seminggu. Jadi, Abimanyu bisa memanfaatkan itu untuk jalan-jalan dulu hari ini.


Tanpa meminta persetujuan Caca, Abimanyu membelokkan mobilnya ke sebuah taman yang tak jauh dari kampus mereka. Abimanyu ingin mengajak Caca jalan-jalan sebentar agar Caca melupakan kejadian tadi. Meskipun Caca terlihat sangat tegar dan seperti tidak terjadi apa-apa, Abimanyu tetap tahu bagaimana perasaan istrinya yang sebenarnya.


“Mau ngapain ke sini?” tanya Caca heran.


“Aku pengen nikmatin suasana sore ini,” jawab Abimanyu seraya mengulas senyum.


“Kamu nggak kerja?” tanya Caca lagi.


“Libur dulu, capek tahu kerja terus,” jawab Abimanyu dibarengi dengan tawa kecilnya.


Abimanyu melepas sabuk pengamanannya setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Abimanyu buru-buru keluar agar bisa membukakan pintu untuk sang istri.


Tawa Caca menguar begitu saja melihat kelakuan suaminya. Suami Caca itu lantas menggandeng lengannya saat akan masuk ke dalam taman.


Sore itu taman terlihat ramai. Banyak anak kecil berkeliaran di sana. Didampingi oleh orang tua mereka, anak-anak itu terlihat sangat bahagia. Mereka berlarian ke sana kemari. Menikmati matahari sore yang cukup hangat ini.


Di sudut taman ada kursi kosong. Abimanyu menyeret Caca ke kursi tersebut. Namun, sebelumnya mereka sudah sempat membeli jajanan di taman itu. Mereka membeli jajanan yang dulu sangat eksis pada masa kecil mereka.


Caca membeli telur gulung, batagor, siomay, dan dua gelas jus buah berukuran sedang. Caca meletakkan makanannya di antara dirinya dan Abimanyu. Sembari menatap dan menertawakan tingkah para anak kecil yang berkeliaran di taman itu, Caca menikmati sinar matahari senja.


Sore itu langit sangat cerah. Para awan putih berjalan-jalan, menemani para manusia menikmati hari. Matahari juga terlihat masih enggan untuk tenggelam. Seolah memberi waktu lebih lama pada Caca dan Abimanyu untuk bercanda berdua di sana.


“Dulu itu ayah sering banget ajak aku sama adik-adik aku ke taman. Terakhir kali ke taman Bia pernah hampir ketabrak mobil. Untungnya ada orang yang nyelametin Bia,” tutur Caca menceritakan kisah masa kecilnya.


Gadis itu terlihat sangat ceria saat ini. Seperti tidak ada beban yang sedang Caca pikul. Caca selalu bisa menampilkan sifat kuatnya pada orang lain. Meskipun terkadang saat malam hari Caca justru sering menangis, karena terlalu sering overthinking.


“Sebagai ucapan terima kasih ayah karena orang itu udah nyelametin Bia, ayah ngasih orang itu kerjaan,” imbuh Caca seraya memasukkan satu tusuk telur gulung ke dalam mulutnya


“Kenapa gitu?” tanya Abimanyu heran.


“Karena yang nyelametin Bia cuma minta itu doang. Padahal ayah udah nawarin uang dengan jumlah cukup besar, tapi orangnya tetap nggak mau. Katanya, orang itu cuma butuh kerja. Padahal waktu itu dia masih baru lulus SMP. Karena ayah kasihan dan sebagai balas budi akhirnya ayah setuju,” jawab Caca mengingat-ingat kisah itu.

__ADS_1


“Tapi, ternyata orangnya itu pinter banget dan sekarang ayah ngangkat dia sebagai manajer setelah ayah nyekolahin paket-C. Setelah itu ayah juga membiayai kuliahnya, tapi di tengah jalan dia nikah dan akhirnya ayah melepas kakak itu untuk dibiayai suaminya ...”


Cerita Caca masih sangat panjang dan Abimanyu hanya diam mendengarkannya. Abimanyu selalu suka melihat Caca bercerita. Melihat bibir gadis itu bergerak-gerak selalu membuat Abimanyu gemas. Dengan senyum mengembang, Abimanyu menatap wajah Caca. Fokusnya sudah bukan lagi pada cerita Caca, tetapi pada wajah Caca yang semakin hari semakin terlihat cantik.


Dulu, Abimanyu pikir Caca adalah gadis cuek yang tak banyak bicara. Namun, ternyata Abimanyu salah. Caca merupakan seorang gadis yang selalu memiliki bahan pembicaraan saat bersama orang-orang yang Caca kenal.


Abimanyu terkekeh saat mengingat pertemuan pertama mereka ketika masih kecil. Saat Abimanyu masuk rumah sakit setelah diculik oleh seseorang yang katanya teman wanita sang ayah yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kala itu Abimanyu memang tak banyak bicara karena masih trauma bertemu dengan orang baru. Namun, sosok gadis kecil yang memiliki pipi chubby itu tak pernah absen mengajaknya bicara setiap kali mereka bertemu.


Caca kecil memang banyak bicara. Dia memiliki rasa penasaran tingkat tinggi. Maka dari itu Caca tidak pernah lelah bertanya siapa nama anak kecil yang dirawat oleh ibunya itu.


Namun, kala itu Caca tak bisa lagi bertemu Abimanyu setelah beberapa hari mereka bertemu. Caca harus mengikuti kedua orang tuanya ke luar negeri. Saat itu Jingga memang mengambil kuliah spesialis di Singapura.


Abimanyu cukup menyesal karena tidak terlalu menanggapi Caca saat itu. Ia merasa hampa saat tidak ada lagi yang mengganggunya. Bertahun-tahun berlalu dan Abimanyu masih tidak bisa melupakan gadis itu. Hingga mereka bertemu lagi dengan karakter baru yang mereka miliki. Mereka tidak saling kenal dan justru bermusuhan. Namun, saat ini Abimanyu sangat bersyukur karena bisa memiliki Caca seutuhnya.


“Kamu dengerin aku cerita nggak sih?”


Sentakan Caca menarik Abimanyu dari lamunannya. Pemuda itu hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah cemberut.


“Kamu laper nggak? Aku lagi pengen makan bakso,” ucap Abimanyu mengalihkan perhatian.


Senyum Abimanyu kembali mengembang. Ia lantas berdiri, menggenggam tangan istrinya dan menarik gadis itu menuju mobil mereka.


“Aku punya rekomendasi warung bakso di sekitar sini. Kamu harus coba,” tutur Abimanyu membuat Caca semakin ingin menyantap daging berbentuk bulat itu.


**


Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit Abimanyu dan Caca sudah mendapatkan kursi di warung bakso yang kata Abimanyu sangat direkomendasikan. Di sana memang sangat ramai. Mulai dari muda-mudi sampai ibu-ibu banyak yang mengantre.


Caca dan Abimanyu sudah memesan bakso dan minuman mereka. Kini, mereka hanya menunggu pesanan itu disajikan. Tak butuh waktu lama, dua mangkuk berisi bakso yang sangat besar sudah hadir di depan mereka.


Caca sudah hampir mengeluarkan air liurnya hanya dengan menghirup kepulan asap bakso itu. Caca pun segera menuangkan kecap, sambal, dan juga saus ke dalam mangkuknya. Ia mengaduk-aduk isi dalam mangkuk itu agar tercampur rata. Setelah itu, Caca mencicipi kuah bakso tersebut dan rasanya memang tidak mengecewakan.


Lirikan Caca tertarik pada bakso milik sang suami. Entah datang dari mana, tiba-tiba saja ide jail melintas di kepala Caca.

__ADS_1


“Bi,”


“Hm? Kenapa?”


“Kamu mau bakso yang gede nggak?” tanya Caca tiba-tiba.


Dahi Abimanyu mengernyit. Kemudian kepalanya menggeleng.


“Enggak,” jawabnya.


Dan tiba-tiba saja Caca mengambil bakso berukuran paling besar itu dari mangkuk Abimanyu.


“Kok, diambil?” tanya Abimanyu kemudian.


“Katanya kamu nggak mau,” jawab Caca datar.


Abimanyu mendengkus. Tatapannya berubah datar. Namun, tak ayal Abimanyu juga ingin membalas istrinya.


“Yang, kamu mau bakso yang kecil-kecil itu nggak?”


“Mau,” jawab Caca antusias. Tanpa permisi Caca mengambil bakso-bakso berukuran kecil dari mangkuk Abimanyu hingga hanya tersisa tahu dan mi saja.


“Lah, kok diambil?” tanya Abimanyu panik. Ia ingin protes tapi ... ah sudahlah.


“Kan kamu yang tawarin,” jawab Caca dengan enteng.


Berniat membalas istrinya, Abimanyu justru kecele sendiri. Dengan kasar, Abimanyu meletakkan sendoknya ke atas mangkuk hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Caca tergelak rendah melihat suaminya kesal. Tak tega dengan apa yang ia lakukan. Caca pun kembali memesan bakso khusus untuk suaminya.


**


Halo, mau cerita dikit. Yang Caca ceritain itu sebenarnya mau aku jadiin novel. Tapi masih belum tahu ditaruh di mana haha. Kira-kira ada yang penasaran nggak, ya?🤣

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, ya, Guys❤


Follow IG aku juga @an_nisa205


__ADS_2