Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 24


__ADS_3

Keramaian sekolah tak membuat Caca terganggu. Gadis dengan rambut diikat rendah itu mengawasi sekitar sembari menunggu teman-temannya menyiapkan beberapa hal untuk acara sosialisasi kampus.


Hari ini merupakan hari terakhir kegiatan tersebut dan sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan, karena sekolah yang Caca kunjungi adalah sekolahnya dulu. Di mana saat ini Ata dan putri teman orang tuanya bersekolah di sana.


Abimanyu yang baru saja selesai menyambungkan laptop pada proyektor menghampiri Caca. Sejak tadi ia mengawasi istrinya yang tampaknya mencari seseorang.


“Nyari siapa?” tanya Abimanyu. Pemuda itu berdiri di samping Caca.


“Ata, katanya mau nyamperin aku. Tadi aku minta dia bawain masakan mama.” Caca kembali celingukan mencoba mencari keberadaan adiknya yang masih belum terlihat batang hidungnya.


“Bukannya Dio sekolah di sini juga?” tanya Caca menatap Abimanyu heran.


“Oh, iya-ya. Lupa, soalnya dulu aku nggak sekolah di sini.”


Caca hanya memutar bola matanya malas. Gadis itu sudah tak sabar menunggu sang adik. Ia pun mengirim pesan pada Ata, bertanya di mana cowok itu sekarang.


“Ca, Bi. Udah pada ngumpul semua nih yang kelas dua belas. Mau dimulai kapan?” Aldi menunjuk pada aula yang ternyata sudah penuh dengan siswa-siswi kelas dua belas SMA tersebut.


“Sekarang aja.” Abimanyu beranjak meninggalkan Caca yang masih menunggu adiknya. Namun, Abimanyu yang ingin bersikap profesional pun menarik gadis itu untuk ikut ke depan dan mengisi acara.


**


“Waktu lo dateng kan pas ada guru di kelas, Kak,” jelas Ata saat sang kakak tampak cemberut sembari memakan bekal yang Ata bawa dari rumah.


Semalam kakaknya mengatakan akan ikut sosialisasi kampus di sekolahnya. Gadis itu berkata meminta dibawakan bekal masakan ayah atau ibunya. Caca merindukan masakan mereka. Sehingga pagi tadi sang ayah memasak untuk putri sulungnya dan dititipkan pada Ata.


Namun, saat hendak memberikan bekal itu pada sang kakak, guru mata pelajaran Ata sudah masuk kelas dan dia sudah tidak mungkin lagi keluar dari sana.


“Kak, jangan diem dong. Udah enak gue bawain juga,” sungut Ata kesal. Cowok itu menatap kesal pada kakaknya yang tengah melahap makanannya dengan tenang.


“Bawel banget sih lo, kayak cewek,” omel Caca di sela kunyahannya.

__ADS_1


Ata menipiskan bibir dan mengusap dadanya. Ia tidak tahu dari mana sifat ketus kakaknya itu menurun.


“Bang Abi mana, Kak?” Dio yang baru saja datang bertanya. Ia duduk di samping Ata, berseberangan dengan Caca juga.


Caca mengedikkan bahunya. “Masih beres-beres kali,” jawabnya tak acuh. Ia masih menikmati makanan favoritnya tadi.


“Lah, lo nggak bantuin?”


“Nggak, males. Ceweknya juga gue doang, kok.”


“Ni orang kalau di rumah juga gitu, Di?” Ata menoleh pada Dio.


Dio tertawa kecil melihat dua bersaudara itu. “Enggak juga, Kak Caca kan jarang di rumah. Tapi, Kak Caca baik sih, sering masakin gue kalau ayah sama bunda lagi pergi.”


Caca tersenyum jemawa menatap adik kandungnya, membuat Ata berdecih seketika.


“Wah pada ngumpul di sini ternyata.”


“Bang, bagi duit dong, laper nih.” Dio mengusap perutnya, menunjukkan pada sang kakak bahwa dia tengah kelaparan.


“Lah, duit lo ke mana?” tanya Abimanyu dengan mata menyipit. Ia mendudukkan diri di samping Caca.


“Penghematan, Bang,” jawab Dio.


Abimanyu menggeleng. Namun, ia menyuruh sang adik memesankan makanan untuk mereka dan ia yang akan membayarnya.


Dio dan Ata pun bersorak riang bisa mendapatkan makanan gratis hari ini.


“Kak Caca!”


Suara heboh seorang gadis membuat fokus keempat orang itu beralih. Mereka melihat gadis itu berjalan menghampiri meja mereka, meninggalkan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


Tanpa permisi gadis itu mengambil kursi dari meja lain dan duduk di samping Caca.


“Ya ampun, Kak. Aku kangen banget sama Kak Caca,” ucap gadis itu sembari memeluk Caca dengan heboh.


“Mika, lepasin gue!” Caca mendorong tubuh putri sahabat kedua orang tuanya itu. Setelah terlepas, Caca memukul tangan Mika pelan.


“Malu kali, Mik,” sungut Caca kesal. Gadis itu menatap tajam pada gadis yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


“Ih, Kak Caca mah gitu,” ucap Mika dengan bibir mengerucut.


Di sebelah Caca, Abimanyu tersenyum melihat kelakuan dua gadis berbeda usia itu. Dalam benaknya berpikir, kenapa Caca suka sekali bertengkar dengan adik-adiknya. Yah, meskipun sebenarnya sorot mata saling menyayangi itu jelas terlihat.


“Eh, ada Kak Abi.”


Abimanyu kembali mengulas senyumnya saat gadis bernama Mika itu menyapanya.


“Nggak usah keganjenan jadi cewek!” Caca mengusap muka Mika dengan tangannya saat gadis berambut sedikit bergelombang itu menatap suaminya dengan malu-malu.


“Hih, Kakak!” rengek Mika dengan bibir mengerucut sebal. Membuat Dio dan Ata terbahak karenanya.


“Kak Abi dulu kenapa sih mau disuruh nikah sama orang kayak Kak Caca? Apa enaknya coba nikah sama cewek galak kayak Kak Caca?” Mika melayangkan sorot mata permusuhan pada Caca. Ia bahkan dengan berani mengangkat dagunya seakan tengah menantang Caca.


Caca meletakkan sendoknya dengan kasar. Ia balik menatap Mika dengan sorot permusuhan pula. “Ngomong kayak gitu lagi gue blacklist nama lo dari kafe,” ancam Caca membuat raut muka Mika berubah seketika.


“Ih Kakak, kan aku cuma bercanda,” ucap Mika sembari mengulas senyumnya yang paling manis dan menggelayuti tangan Caca.


“Kak Caca orangnya baik, kok. Cantik lagi, ya, kan Kak Abi?”


Abimanyu yang sejak tadi memandang Caca tanpa henti tak sadar menjawab, “Iya, cantik.”


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2