Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 88 : Berangkat liburan


__ADS_3

Sore harinya di kediaman Banyu begitu ramai. Orang tua Abimanyu dan orang tua Mika berada di sana untuk mengantar anak-anak mereka.


Arjuna dan juga Nabila mengantar Dio dan membawakan beberapa baju tambahan milik Abimanyu. Mereka juga ingin bertemu dengan besan, setelah beberapa lama tidak bersua.


Para orang tua itu kini sedang berbincang-bincang di ruang keluarga. Mereka terlihat begitu asyik dengan pembahasan yang entah apa. Beberapa cangkir teh dan kopi di hadapan mereka sudah hampir tandas, karena mereka sudah mengobrol cukup lama.


Sementara itu para anak-anak masih sibuk menyiapkan barang mereka. Abimanyu dan Caca menyiapkan makanan untuk mereka bawa nanti. Bia dan Mika masih berada di kamar, bisa dipastikan mereka sedang membuat daftar rencana yang akan mereka lakukan selama di sana. Sedangkan Dio dan Ata berada di ruang tamu. Mereka bermain game online berdua, terdengar begitu berisik meski tidak ada orang lain lagi di antara mereka.


“Bi, pakai mobil ayah aja biar muat untuk kalian berenam,” ujar Arjuna. Pria itu menghampiri putranya yang masih berada di dapur untuk memberikan kunci mobilnya.


“Nanti ayah pulangnya gimana?” tanya Abimanyu. Ia memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


“Ayah bisa pakai mobil kamu,” jawab pria itu. Ia kembali mengangsurkan kunci mobilnya pada sang putra.


Abimanyu mengangguk, ia meraih kunci mobil sang ayah. Kemudian memberikan kunci mobilnya pada pria itu.


“Full kan, Yah?” tanya Abimanyu seraya menaikturunkan alisnya.


Arjuna berdecak. “Iya, tenang aja udah ayah isi tadi,” jawab pria itu. Setelahnya, ia hendak beranjak meninggalkan Abimanyu. Namun, kalimat dari sang putra membuat ia mengurungkan niatnya dan justru memukul bahu pemuda itu.


“Mobil aku jangan lupa diisi bensin, Yah.”


Abimanyu tergelak. Ia mengusap bahunya yang sedikit nyeri akibat pukulan dari sang ayah.


“Udah tua masih kuat aja mukulnya,” gumam Abimanyu saat Arjuna telah meninggalkan dirinya.


“Kenapa, sih?”


Pertanyaan dari arah belakangnya, membuat Abimanyu memutar badan. Pemuda itu hanya tersenyum menatap istrinya. Tidak ada niatan untuk menjelaskan, Abimanyu pun mengajak Caca untuk kembali ke depan dan segera berangkat, karena hari sudah hampir gelap.


Dio dan Ata baru saja selesai memasukkan tas ataupun koper ke dalam bagasi. Mereka berdua menghampiri orang tua mereka yang sudah berdiri di teras rumah.


Ata menggelengkan kepala melihat adiknya yang memeluk sang ayah dengan begitu erat. Seakan tidak mau ditinggal oleh pria itu.

__ADS_1


“Nggak usah ikut Bi kalau nggak mau pisah sama ayah,” celetuk Ata sontak membuat Bia melepaskan dekapannya.


“Sirik aja!” gerutu Bia.


Semua yang ada di sana hanya tersenyum melihat interaksi kedua kakak beradik itu.


“Kamu beneran nggak mau pakai sopir, Bi?” tanya Banyu.


Abimanyu menggeleng. “Nggak usah, Yah. Ribet! Dio bisa gantiin aku nanti,” jawabnya. Dio mengangguk saat tatapan ayah mertua kakaknya tertuju padanya.


“Aku juga bisa gantiin Abi nyetir,” sahut Caca. Semua memicing menatap gadis itu.


“Jangan dong, Sayang. Biar Dio aja,” tolak Abimanyu.


Pemuda itu bukan tidak percaya dengan keahlian sang istri dalam menyetir. Hanya saja, ia tidak mau melihat istrinya kelelahan nanti. Apalagi besok mereka harus menghadiri pesta. Sehingga mereka benar-benar harus menyimpan tenaga mereka untuk esok hari.


“Iya, Ca. Kamu nggak usah nyetir. Biar suami kamu sama Dio aja. Ata juga udah bisa nyetir mobil, kok. Kamu itu perempuan, kamu cukup duduk dan tidur,” timpal Banyu panjang lebar.


Keenam orang itu berpamitan pada orang tua mereka masing-masing. Mereka masuk ke dalam mobil. Abimanyu duduk di balik kemudi dengan Caca berada di sampingnya. Di kursi tengah ada Mika dan Bia dan pada kursi paling belakang diduduki oleh Dio dan Ata.


Setelah semua siap Abimanyu mulai menyalakan mobilnya. Ia melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari halaman rumah Banyu. Abimanyu membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda berpamitan. Begitu juga dengan Caca, Bia, dan Mika. Mereka melambaikan tangan kepada orang tua mereka.


“Berangkat dulu, ya!” teriak Caca dari dalam mobil.


“Hati-hati, Sayang,” jawab Jingga membalas lambaian tangan putri-putrinya.


Lima menit kemudian mobil yang dikendarai Abimanyu sudah sampai di jalan raya. Pemuda itu memfokuskan dirinya pada jalan. Sesekali ia menoleh pada Caca yang terlihat begitu bahagia saat menatap jalan raya.


**


Crystal membanting ponselnya ke atas meja. Gadis itu terlihat begitu kesal, membuat Dean yang duduk di hadapannya bingung.


“Lo, kenapa sih, Crys?” tanya Dean penasaran.

__ADS_1


Crystal memicing kesal pada sahabatnya itu. “Kayaknya gue harus nyalahin lo, De atas kekesalan gue sekarang,” ucapnya sedikit emosi.


Kening Dean terlipat dalam. Ia menatap Crystal penuh tanya seraya menunjuk dirinya sendiri.


“Kok, gue? Salah gue apa?”


“Gara-gara lo, Kak Abi sama Caca nikah. Dan sekarang bukannya Caca menderita dia malah terkesan bahagia,” cecar Crystal dengan lirih.


Tempat mereka saat ini sangat ramai, hingga Crystal tidak berani berucap dengan keras meskipun ingin. Ia masih tahu malu saat di tempat umum seperti ini.


“Sekarang lo lihat ini! Dengan rencana lo yang cuma berhasil sebentar itu justru buat dia ngrebut Kak Abi dari gue!”


Crystal menyalakan kembali ponselnya. Kemudian membuka aplikasi instagram dan memperlihatkan stori milik Dio yang memang ia ikuti. Di sana Dio mengunggah foto di dalam mobil dan fokus foto itu terletak pada tangan Abimanyu dan juga Caca yang saling menggenggam. Tatapan mata Caca juga tak terlepas dari Abimanyu di foto itu. Ditambah kalimat yang Dio tuliskan di sana semakin membuat Crystal meradang.


‘Liburan sama pasangan yang udah nikah mah risikonya gini. Dipameri kemesraan terus. Jadi, pengen nikah'


Melihat foto itu tiba-tiba menyalakan sebuah rasa asing di benak seorang Dean. Ada rasa tak terima melihat sorot mata Caca yang begitu penuh cinta ditunjukkan kepada sepupunya. Seseorang yang selalu ia anggap saingan sejak mereka masih kecil dulu.


Ini cuma karena gue nggak terima cewek itu bahagia, ya cuma itu, batin Dean saat ia merasa bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Dean memasang tampang datar setelah Crystal menurunkan ponselnya. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan tajam dari gadis itu. Baginya semua yang ia lakukan itu sudah cukup untuk menunjukkan pada Crystal betapa ia mencintai gadis itu.


“Cyrs, udah deh. Ketimbang lo urusin mereka berdua mending sekarang lo makan,” ucap Dean seraya mendorong kentang goreng yang tadi ia pesan.


“Tapi, De gara-gara lo–”


“Oke, gue minta maaf, karena nggak membuat satu perhitungan yang tepat,” tukas Dean. Helaan napasnya kembali terdengar.


“Sebagai permintaan maaf gue, gue bakal traktir lo hari ini. Lo boleh belanja apa aja hari ini,” putus Dean. Ia sudah hafal betul dengan perangai Crystal. Gadis itu akan luluh dan lupa dengan marahnya setiap ia mengajak gadis itu berbelanja.


“Beneran?” Binar mata Crystal terlihat begitu jelas. Setelah Dean menjawab dengan satu anggukan semua kemarahan yang tadinya hampir meledak kini tiba-tiba padam.


Dean tersenyum melihat Crystal. Rasanya begitu bahagia melihat gadis yang ia cintai itu tersenyum. Namun, di balik itu entah kenapa ia merasa sebagian hatinya justru berubah kosong.

__ADS_1


__ADS_2