Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 94 : Perasaan


__ADS_3

Malam semakin larut. Udara semakin dingin, tetapi tidak dapat mendinginkan jiwa seseorang yang saat ini tengah terbakar. Dean mencengkeram erat ponselnya. Rasa sakit itu kembali menghampiri dadanya saat ia kembali melihat foto yang mantan kekasihnya unggah di sosial media.


Berkali-kali Dean mencoba menghilangkan rasa penasaran terhadap setiap kegiatan yang Caca lakukan. Berkali-kali itu juga rasa penasarannya semakin menggelora. Dean jadi bingung sendiri dengan perasaannya.


Kenapa dan kenapa? Pertanyaan itu selalu muncul di kepalanya kala ia mengunjungi akun sosial media Caca. Dulu, akun itu dipenuhi oleh foto mereka. Namun, kini foto mereka sudah tidak tersisa sama sekali.


“Aaarrrggghhh! Bangsat! Bangsat! Bangsat!”


Pemuda itu mengumpat kesal. Ia merasa marah, tetapi tidak tahu marah kepada siapa. Untuk mengurangi rasa panas dalam dirinya, Dean pun menghubungi Crystal. Seseorang yang selalu mampu mengubah suasana hatinya.


“Halo, De? Kenapa?” tanya Crystal setelah telepon mereka tersambung.


Hening sesaat. Suara Crystal membuat Dean sedikit lebih tenang. Ketika Crystal kembali bertanya ada apa, barulah Dean menjawabnya.


“Nggak apa-apa, Crys. Lo udah tidur?” tanya Dean kemudian. Suara Crystal masih cukup segar dan sepertinya gadis itu belum tidur.


“Belum, ini gue lagi ngerjain tugas. Kenapa?”


“Besok lo bisa temenin gue jalan-jalan nggak?”


“Bisa aja, asal lo yang traktir,” jawab Crystal bergurau.


“Gampang. Besok pagi gue jemput lo ke rumah. Kita berangkat ke kampus bareng. Gimana?”


“Oke, gue ada kelas jam 8. Jangan sampai telat.”


Setelah mengatakan ‘oke' Dean memutuskan sambungan telepon mereka. Tak lupa Dean mengucapkan selamat malam kepada Crystal, seseorang yang sejak dulu ia cintai. Seseorang yang ia balaskan dendamnya pada Caca.


Dean mengembuskan napasnya pelan. Ia bersyukur bisa kembali menenangkan pikirannya hanya degan mendengarkan suara Crystal. Dengan begitu, Dean dapat meyakinkan dirinya kembali, bahwa ia sama sekali tidak cemburu kepada Caca dan Abimanyu. Mungkin saja perasannya hanya sebatas tidak suka dengan mereka yang saat ini bahagia.


Keesokan harinya Dean benar-benar menjemput Crystal di rumahnya. Mereka berangkat bersama menuju kampus. Setelah sampai dan selesai memarkirkan mobilnya, Dean dan Crystal berjalan bersama ke kelas mereka masing-masing.


Tepat saat mereka akan menaiki tangga, mereka berpapasan dengan Caca. Sejenak Dean terdiam kala beradu pandang dengan sang mantan kekasih. Setelah insiden beberapa waktu yang lalu mereka memang belum bertemu lagi. Takdir seperti sedang menjauhkan keduanya. Menjauhkan Caca dari seseorang yang mengkhianatinya.

__ADS_1


Langkah Caca terpaku di ujung tangga. Tatapannya berserobok dengan sang mantan kekasih. Ini adalah kali pertama mereka kembali bertemu setelah pengakuan Dean beberapa waktu lalu.


Tidak ada tatapan penyesalan dari Dean kala Caca menyelami tatapan matanya meskipun hanya sebentar. Setitik rasa kecewa tiba-tiba menyeruak begitu saja ke dalam dadanya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ada seseorang yang tega menyakiti orang lain hanya demi membalaskan dendam seseorang yang mereka cintai.


“Lo, ngapain berhenti, sih,” tegur Maya tanpa menatap ke arah depan. Ia sibuk menunduk membenarkan letak jam tangannya.


“Ca, ay–” Ucapan Maya sontak terputus saat tahu penyebab sahabatnya itu diam saja sejak tadi.


Tatapan mata Maya berubah tajam menyorot pada Dean dan Crystal yang sama terdiamnya di tempat mereka. Tanpa menyapa atau memberikan kalimat lain, Maya menyeret lengan Caca dan melewati kedua orang itu dengan santainya. Maya sangat enggan bertemu dengan dua manusia tidak tahu diri itu, sehingga ia memilih untuk melangkah tanpa arah tujuan yang jelas.


Dean tersadar dari keterpakuannya saat Crystal menggoyangkan lengannya. Suasana hatinya tiba-tiba berubah begitu saja setelah pertemuan tak sengajanya dengan Caca. Rasa enggan untuk melanjutkan langkah tiba-tiba saja menghampiri. Membuat senyum Dean sedikit luntur dari wajahnya.


“De, ayo!” Crystal menarik lengan Dean untuk kembali menaiki tangga.


Dean menuruti Crystal tanpa banyak protes. Sungguh, Dean merasa usahanya membangun suasana hatinya hari ini sangat sia-sia, karena nyatanya setelah bertemu dengan Caca dadanya kembali meronta. Kepalanya kembali terisi dengan segala kenangan mereka.


**


Caca mengulum senyumnya mendengar gerutuan Maya yang tak ada habisnya. Sejak bertemu dengan Dean di tangga tadi hingga saat ini mereka berada di kantin, Maya terus saja mengumpati Dean.


“Sumpah, mereka tu nggak tahu malu banget!”


“Ca, lo nggak boleh maafin mereka gitu aja, meskipun sekarang lo bahagia dengan apa yang lo dapet. Mereka itu udah jahat banget sama, lo!”


Suara tawa kecil Caca menarik lirikan sinis dari Maya. Gadis dengan setelan celana kulot hitam yang dipadukan dengan kaus berlengan panjang berwarna dark green itu berdecih sinis. Ia ingin sekali memakan sosok manusia di sampingnya ini. Bisa-bisanya Caca malah tertawa saat ia merasa sangat jengkel.


“Gue peringatin, lo! Kalau sampai lo maafin mereka dengan gampang, gue nggak mau lagi temenan sama, lo!” peringat Maya seraya menunjuk muka Caca dengan jari telunjuknya. Ia menyipitkan mata untuk memperlihatkan ancamannya tidak main-main.


Caca semakin tergelak. Ia menurunkan jari Maya, lantas menggandeng lengan gadis itu untuk ia bawa menuju meja kosong di sebelah kanan mereka.


“Iya, Mayaaa,” jawab Caca masih dengan tawa kecil di bibirnya.


Caca sangat suka melihat tingkah sahabatnya saat seperti ini. Mereka selalu bertindak selayaknya seorang kakak untuk Caca, karena memang sejatinya usia Caca paling muda di antara mereka bertiga.

__ADS_1


“Gue janji, nggak bakal maafin mereka dengan mudah. Setidaknya mereka harus tahu dulu kesalahan mereka,” ucap Caca kemudian.


“Abi juga nggak mungkin biarin mereka masuk lagi ke kehidupan gue. Bagaimanapun juga, Dean emang udah keterlaluan sama gue. Yah, meskipun sekarang gue nerima apa yang sempet terjadi pada hidup gue,” imbuh gadis itu. Di dalam hatinya ia berucap syukur dengan apa yang saat ini ia rasakan. Tak lupa ia juga berdoa pada Tuhan untuk selalu memberinya dan Abimanyu kekuatan apabila nanti mereka diberi cobaan.


Malam harinya setelah makan malam bersama keluarga sang suami, Caca menyusul Abimanyu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam selimut. Caca membaringkan tubuhnya di samping Abimanyu yang sedang fokus dengan tabletnya. Ia memeluk tubuh pujaan hatinya itu dengan ringan, sambil melihat apa yang sedang Abimanyu lakukan.


“Kamu baca apa, sih?” tanya Caca. Ia menyandarkan kepalanya di lengan Abimanyu yang memang sengaja dibuka untuknya.


“Lagi baca sejarah perusahaan ayah, sama mempelajari apa aja yang ada di dalem perusahaan itu,” jawab pemuda itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.


“Tumben, buat apa?”


“Bang Riyo minta aku ngambil alih jabatan dia kalau nanti aku udah lulus S-2. Selama itu juga, Bang Riyo mau merintis perusahaan dia sendiri.”


Abimanyu mematikan tabletnya setelah selesai membaca, kemudian meletakkannya di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Abimanyu memutar badan, memeluk pinggang Caca dengan sangat erat. Tak lupa ia kecupi seluruh wajah Caca, hingga gadis itu merasa kegelian.


“Abi, udah dong!” Caca tertawa kecil. Ia menjauhkan wajah sang suami dengan telapak tangannya yang sangat kecil.


“Geli tahu, Bi!”


“Salah sendiri gemesin banget,” goda Abimanyu.


“Gimana kuliah hari ini?” tanya Abimanyu seraya merapikan anak rambut Caca yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


“Aku tadi ketemu Dean sama Crystal,” aku Caca jujur.


“Mereka sama-sama diem waktu papasan sama aku. Nggak tahu karena mereka merasa bersalah atau karena kaget ketemu aku lagi setelah kejadian di restoran waktu itu,” cerita Caca. Gadis itu menyunggingkan senyumnya yang terasa hambar.


Abimanyu tahu, istrinya pasti merasa sedih. Bertemu kembali dengan mereka–terutama Dean, sama saja dengan membuka kembali lukanya yang masih basah. Abimanyu bisa mengerti perasaan istrinya saat ini. Ia pun kembali mengeratkan dekapannya pada sang istri. Mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Tak lupa Abimanyu sematkan sebuah kecupan kecil di kening gadis itu.


“Udah, nggak usah pikirin dia. Kalau dia sadar dia pasti bakal nyesel karena udah ninggalin kamu dan nyakitin kamu.”


Abimanyu memberikan senyum manisnya pada sang istri untuk memberikan semangat kepada wanita itu. Tangan Abimanyu kembali bergerak untuk menenggelamkan kepala Caca di dadanya seraya berucap,

__ADS_1


“Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Aku nggak bakal larang kamu. Dada aku siap nampung semua air mata kamu.”


Setelah berucap demikian, Abimanyu merasakan tubuh Caca bergetar. Mungkin Caca sejak tadi menahan perasannya sendiri. Abimanyu tak ingin memaksa Caca untuk tetap kuat, karena ia ditakdirkan sebagai seorang suami yang harus bisa menjadi pelindung, penenang, dan tempat untuk mencurahkan segala perasaan istrinya.


__ADS_2