
Caca mematikan ponselnya, kemudian meletakkannya di atas nakas. Ia menatap Abimanyu yang sedang fokus dengan laptopnya. Rasa penasaran Caca tentang hubungan Abimanyu dan Crystal masih menggunung dan seperti tidak mau hilang.
Tidak biasanya Caca seperti itu. Ia bukan tipe orang yang suka penasaran. Jika pun ia penasaran terhadap sesuatu hal pasti akan menghilang dalam waktu beberapa jam saja.
Caca menghela napas, mencoba menepis setiap rasa ingin tahunya yang masih membutuhkan sebuah jawaban. Ia pun merebahkan diri, menarik selimut dan mencoba untuk menutup mata. Namun, semua itu berakhir sia-sia, karena ia tetap tak bisa tertidur juga.
Tiga puluh menit berlalu dan Caca masih terjaga, meski netranya terpejam. Gadis itu bisa merasakan seseorang sedang berbaring di sampingnya. Tak lama kemudian ia membuka mata. Instingnya mengatakan ada seseorang yang sedang mengawasinya dan tentu saja itu adalah suaminya.
“Aku ganggu, ya?” tanya Abimanyu sedikit merasa bersalah. Ia tadi sudah mencoba untuk berhati-hati saat naik ke atas tempat tidur supaya Caca tidak terganggu. Namun, ternyata Caca justru membuka mata.
Caca membenarkan letak kepalanya di atas bantal. Menatap sang suami yang terlihat masih segar.
“Enggak, emang belum tidur,” jawab Caca seraya mengulas senyum.
“Kenapa belum tidur?”
Kening Caca berkerut. Tak mengerti juga harus menjawab apa dan akhirnya ia hanya diam saja.
Hening melanda keduanya. Hanya denting jam yang mengisi ruangan itu. Mereka hanya saling tatap tanpa ada lagi yang bersuara.
__ADS_1
“Udah malem, tidur!” Abimanyu mengulas senyum. Membenarkan letak selimut Caca, kemudian hendak memejamkan mata.
“Bi,” panggil Caca ragu. Ia menatap Abimanyu yang kembali membuka mata.
“Apa?” tanya Abimanyu.
“Kamu udah ngantuk?” Caca balik bertanya. Sedetik kemudian ia merasa konyol dengan pertanyaannya.
Senyum Abimanyu kembali mengembang. “Belum, kenapa?”
Caca menjilat bibirnya. Ia ingin sekali menyuarakan rasa penasarannya pada Abimanyu, tetapi ia malu. Caca hanya ingin tahu sejauh apa hubungan Abimanyu dan Crystal sampai-sampai ibu mertuanya kenal. Bahkan terkesan sangat akrab.
“Kamu udah lama kenal sama Crystal?”
Sepertinya alam bawah sadar Caca benar-benar penasaran hingga ia bertanya tanpa berpikir lagi.
Caca menelan ludahnya susah payah. Ia merutuki dirinya sendiri. Apalagi saat ini Abimanyu memasang senyum mengejek membuat Caca semakin ingin memaki.
Abimanyu mengangkat kepalanya, menyangganya dengan tangan. “Tumben penasaran.”
__ADS_1
Berdecak. Caca benar-benar merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Ia pun menarik selimutnya sampai menutupi kepala, karena terlalu malu.
Abimanyu tergelak begitu saja melihat tingkah Caca. Tanpa ingin membuka selimut sang istri Abimanyu berkata, “Orang tua Crystal itu sahabat ayah sama bunda. Mama Crystal temen bunda dari SMA. Beliau juga yang bantu bunda ngelola toko kuenya sampai sekarang. Makanya, aku sama Crystal terkesan deket banget. Aku sama dia dulu sering main bareng. Jadi, nggak aneh kalau dia sering minta aku nganter dia pulang dan aku nggak keberatan.”
Masih dengan senyumnya yang tak bisa Caca lihat, Abimanyu melanjutkan kalimatnya. “Tapi aku nggak ada rasa apa-apa sama Crystal. Aku udah anggep dia adik aku sendiri. Bahkan kemarin waktu dia nembak aku, aku nggak segan untuk nolak dia.”
Di dalam selimut yang masih membalut tubuhnya Caca melebarkan mata. Bibirnya pun tak kalah terkejut hingga tak bisa mengatup.
Crystal senekat itu? Dan masih percaya diri deketin Abimanyu?
Caca membatin kesal. Sungguh, Crystal adalah perempuan yang paling tidak punya malu yang pernah Caca kenal.
“Kamu nggak pengen tanya kenapa aku nolak dia?” tanya Abimanyu menahan senyumnya. Dan tanpa menunggu pertanyaan itu keluar dari bibir Caca, Abimanyu sudah mengatakannya.
“Aku nolak dia karena aku ingin memperjuangkan seseorang yang sekarang memenuhi kepala aku.”
Caca menelan salivanya. Rasa penasarannya sudah hilang dan kini telah berganti lagi. Pikirannya menerka siapa yang sedang dekat dengan Abimanyu. Bukan! Siapa wanita yang sudah mencuri hati Abimanyu? Siapa yang ada dalam pikiran pemuda itu?
Apa mungkin dirinya? Pikir Caca menerka.
__ADS_1
Caca menggeleng, mengenyahkan pikiran itu. Baginya tidak mungkin Abimanyu menyukainya, karena yang pasti ia bukan tipenya.