Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 84 : Kebahagiaan kecil


__ADS_3

Suara denting sendok menggema di sebuah meja makan. Abimanyu dan keluarganya tampak sedang menikmati sarapan mereka pagi ini. Di tengah kunyahannya, Abimanyu melirik ayah dan ibunya yang sedang melakukan hal yang sama.


“Bun, Yah. Aku sama Caca mau nginep di rumah Ayah Banyu,” ucap Abimanyu setelah menelan makanannya.


Arjuna dan Nabila sama-sama menghentikan aktivitas mereka. Mereka tersenyum kecil, kemudian bertanya berapa hari mereka di sana.


“Mungkin tiga hari, Yah,” jawab Caca. “Boleh kan?” tanyanya kemudian.


Nabila terkekeh. “Boleh, dong Ca. Kalian nginep lebih lama juga nggak papa,” jawabnya.


“Salam buat orang tua kamu, ya Sayang,” imbuh Nabila.


Caca mengangguk. Senyumnya terukir sempurna. Ia bersyukur memiliki mertua yang begitu pengertian. Tidak pernah mengekangnya, tidak pernah memarahinya, dan hanya menegur jika Caca melakukan kesalahan.


“Oh, iya. Nanti kalian mampir ke toko bunda, ya. Bunda titip kue buat orang tua kamu sama adik kamu,” imbuh Nabila membuat Caca kembali mengangguk.


Mereka kembali menikmati sarapan yang sempat tertunda. Sesekali suara Arjuna dan Dio terdengar. Menutup suasana sepi dengan pembicaraan mereka.


Semalam, setelah Abimanyu tertidur, Caca menyiapkan beberapa pakaian suaminya yang akan dibawa menginap di rumah orang tuanya. Sehingga nanti setelah Abimanyu kembali dari kantor, mereka bisa langsung pergi ke rumah orang tua Caca.


Selesai sarapan, Caca dan Abimanyu bergegas kembali ke kamar untuk mengambil tas. Mereka berpamitan pada Arjuna dan Nabila sebelum berangkat ke kampus.


**


Malam harinya Caca dan Abimanyu berangkat ke rumah Banyu. Mereka mampir ke toko kue milik Nabila seperti perintah wanita itu pagi tadi. Abimanyu dan Caca dititipi banyak sekali jenis kue yang ada di toko itu. Bahkan mereka sampai kebingungan harus meletakkan kue itu di mana.


Perjalanan menuju rumah Banyu tidak memakan banyak waktu. Jalanan yang cukup lenggang membuat kedua pasangan itu bisa sampai lebih cepat dari biasanya.


Caca buru-buru keluar setelah Abimanyu menghentikan mobilnya. Gadis itu tampak bersemangat sampai lupa mengajak sang suami masuk ke dalam. Caca setengah berlari memasuki rumahnya yang masih terbuka.


Di tempatnya saat ini, Abimanyu menggelengkan kepala. Ia tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang begitu lucu. Ia tidak menyangka istrinya akan sebahagia itu saat pulang ke rumahnya. Jika tahu seperti ini, sudah sejak dulu Abimanyu akan sering mengajak Caca menginap di rumah mertuanya.


“Ayah, Mama!” teriak Caca dari arah ruang tamu. Gadis itu berlari menghampiri Banyu yang sedang berdiri di ujung tangga dengan perasaan bingung.


“Ayah!” teriak Caca lagi saat memeluk pria paruh baya itu.


Banyu tersenyum. Ia mengangsurkan tangannya untuk membalas pelukan sang putri. Ia membelai kepala gadis itu dengan lembut.


“Kamu sama siapa, Ca?” tanya Banyu.

__ADS_1


Pertanyaan dari Banyu membuat Caca seketika teringat dengan suaminya yang masih ada di luar rumah. Gadis itu melepaskan dirinya dari sang ayah, kemudian pergi begitu saja.


“Aku lupa Abi masih di luar, Yah,” ucap Caca sambil berlalu.


Banyu terkekeh melihat tingkah putrinya. Ia melirik sang istri yang juga sedang menatapnya sambil geleng-geleng kepala. Wanita itu baru saja keluar dari dapur dan kini menghampirinya.


“Anakmu, Yah!” cibir Jingga membuat Banyu semakin tertawa.


Banyu dan Jingga berjalan bersama-sama menghampiri anak dan menantunya. Mereka berhenti di ambang pintu ruang tamu saat melihat kedua anaknya yang lain mengerubungi meja yang entah berisi apa.


“Kalian ngapain ini?” tanya Jingga penasaran.


“Yah, Ma,” sapa Abimanyu seraya menghampiri kedua orang itu. Ia menyalami Banyu dan Jingga secara bergantian.


“Gimana kabar kamu, Bi?” tanya Jingga. Ia mengusap lengan Abimanyu pelan.


“Sehat, Ma,” jawab Abimanyu seraya mengulas senyum.


Jingga dan Banyu mengangguk senang. Mereka kemudian mengalihkan pandangan pada ketiga anaknya yang sejak tadi terdengar ribut. Seperti biasa suara Bia selalu mendominasi di antara mereka.


“Kak Ata, itu punya Bia!” teriak Bia. Gadis remaja itu berusaha merebut kotak kue dari tangan kakak laki-lakinya.


“Ini kalian ributin apa sih?” tanya Jingga lagi. Kali ini semua perhatian tertuju padanya.


“Ini kue banyak banget dari mana?” tanya Jingga heran melihat meja ruang tamunya penuh dengan kue.


“Ini titipan bunda, Ma. Tadi bunda juga titip salam buat Ayah sama Mama,” ucap Abimanyu menjawab pertanyaan sang ibu mertua.


“Ya ampun, repot-repot segala, Bi, bunda kamu. Makasih, ya. Salam juga untuk orang tua kamu nanti,” balas Jingga.


“Ma, Kak Ata nih!” rengek Bia lagi hampir menangis.


“Apa sih, Bi. Lo tu dari tadi udah ngambil banyak. Sisain buat gue juga, dong!” kata Ata seraya mendecakkan lidahnya.


“Kalian ini ribut terus kerajaannya,” ucap Banyu heran. Ia membuang napas kasar, seolah sudah lelah dengan kelakuan kedua anaknya ini.


Bia dan Ata saling lirik. Seolah sedang saling menyalahkan tanpa suara. Tatapan permusuhan mereka sungguh menggelikan.


“Udah-udah, sekarang dibawa ke belakang semua itu kuenya. Nanti dibagi dua. Nggak usah rebutan. Sekarang makan malam dulu. Mama udah selesai masak, nanti keburu dingin,” ucap Jingga menengahi kedua remaja itu. Kemudian meminta Caca dan Abimanyu untuk ikut makan malam juga. Ia yakin kedua orang itu pasti belum makan. Terlihat dari raut wajah mereka yang tampak sangat kelelahan.

__ADS_1


**


“Kamu mau ke sini kenapa nggak bilang dulu, Kak? Kalau bilang kan mama bisa buatin masakan nggak pedes buat Abi.” Jingga bertanya setelah mengambilkan makanan untuk suaminya.


Caca tersenyum lebar, memperlihatkan seluruh deretan giginya. “Aku pengen bikin kejutan buat kalian,” jawab Caca membuat Jingga dan Banyu menyunggingkan senyumnya.


“Kalian nanti nginep atau cuma mau main?” tanya Banyu. Tadi ia sempat melihat Abimanyu membawa tas berukuran cukup besar yang sekarang entah berada di mana.


“Kami mau nginep, Yah. Nggak papa kan?”


“Nggak papa dong, Ca. Ini kan juga rumah kamu,” jawab Banyu. “Sering-sering nginep di sini juga nggak papa,” imbuh pria itu.


“Oh, iya. Kebetulan banget kamu ke sini dan ayah baru inget. Ayah mau minta tolong sama kamu, Ca.” Banyu meletakkan sendoknya ke atas piring. Kemudian menumpukan sikunya pada meja dan menautkan jemarinya.


“Minta tolong apa, Yah?” tanya Caca penasaran.


“Hari Minggu besok ayah dapet undangan pernikahan dari anak kolega ayah. Itu loh, yang menyuplai bahan makanan ke kafe sama restoran ayah, kamu tahu kan?”


Caca mengangguk.


“Nah, tapi ayah udah terlanjur janji mau nemenin mama kamu seminar di hari yang sama. Jadi, ayah minta tolong kamu hadirin, ya? Acaranya di Bogor. Jadi, kalian bisa sekalian liburan. Gimana?”


Caca tampak berpikir. Ia menoleh pada Abimanyu yang kemudian mengangguk.


“Bisa, Yah.”


“Tapi, sekalian sama adik-adik kamu, ya? Ajak Dio sekalian, biar rame. Ayah sama mama agak lama soalnya. Kasihan kalau mereka sendiri di rumah,” pinta Banyu lagi.


“Beneran, Yah boleh ikut?” tanya Bia antusias.


“kalau Kak Caca nggak keberatan boleh-boleh aja,” jawab Banyu sebelum kembali melanjutkan kegiatan makannya.


Bia pun seketika menoleh pada sang kakak, lalu bertanya, “Boleh ikut kan, Kak?”


“Iya, asal jangan nangis aja di sana,” jawab Caca.


“Yeee! Ajak Kak Mika sekalian, ya? Biar Bia ada temannya,” pinta Bia memasang wajah tanpa dosa.


Caca menatap datar pada adiknya. “Iya, ajak sekalian temen-temen sekolah, lo,” ucapnya malas.

__ADS_1


“Ih, Kakak!” rengek Bia.


Dan meja makan itu kembali ramai dengan suara perdebatan antara adik dan kakak. Abimanyu hanya bisa menatap mereka sambil menikmati semangkuk bakso yang Caca belikan sebelum mereka makan malam tadi.


__ADS_2